Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 02 Juli 2014

Prayudhi Azwar



 

 


                                    

                                       

 


Prayudhi Azwar

 

Prayudhi Azwar
Pihak TVOne baru saja meminta saya untuk wawancara live pukul 07.45 WIB, Rabu pagi besok, online Perth - Jakarta. Pihak TVOne berniat membahas tulisan-tulisan yang saya tulis di status FB ini sejak tgl 10 Juni 2014 lalu.

Saya semula ingin menolak, namun akhirnya menyetujuinya. Terutama demi menebus ganjalan rasa bersalah di hati saya selama ini, telah salah sangka terhadap Prabowo Subianto.

Semoga ini setidaknya bisa membantu memulihkan kembali nama baik dan kehormatan satu putra terbaik bangsa ini. Juga saya ingin mengajak kita sama-sama aktif menghilangkan segala jenis fitnah yang masih saja bergentayangan di bulan yang mulia ini.

Perth, 1 Juli 2014.

Prayudhi Azwar
~ Aktivis 98: Tragedi Fitnah Terkeji di Indonesia sejak 1998 ~

Perth telah menjadi kota debat. Achmad Room dan Airlangga Pribadi adalah sahabat debat saya di kota romantis ini. Banyak sahabat lainnya coba yakinkan saya agar menerima logika fitnah yang disematkan sejak 17 tahun lalu kpd Prabowo Subianto. Sebelumnya, izinkan saya mengingatkan bahaya fitnah. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Berhati-hatilah. Membunuh 1 manusia = membunuh seluruh umat manusia. Saya tulis ini sebagai penebus rasa bersalah saya. Moment tuduhan satu jenderal bahwa Prabowo gila dan psikopat, adalah moment yang memicu saya mengkaji dan menggugat kebenaran seluruh narasi fitnah yang ternyata tak masuk nalar sehat tersebut.

Akar fitnah 1998 itu sederhana. Tapi digunakan secara sesat sebagai alat propaganda politik. Berawal 18 Januari 1998, terjadi ledakan bom di rusun Tanah Tinggi. Pelakunya Agus Jabo Priyono, anggota SMID dan jaringan PRD (Tempo, google saja). Lalu 9 orang diamankan Tim Mawar karena ada agenda negara SU MPR pada Maret 1998. Perintah penangkapan diberikan komandan Tim Mawar (Mayor Inf. Bambang Kristiono), yang telah disidang di Mahkamah Militer Tinggi bulan April 1999 (Nomer perkara: PUT. 25-16/K-AD/MMT-II/IV/1999).

Sidang tersebut membuktikan Prabowo tidak bersalah. Meskipun begitu dia tidak lari dari tanggung jawab. Selaku komandan Kopasus, dia bersikap ksatria. Andi Arief, aktivis 98 korban penangkapan tegas berkata, “Prabowo dan Tim Mawar bukan penculik. Karena mereka bukan dari kesatuan liar, mereka organ resmi negara!”. Apa kita yg tak pernah ditangkap merasa lebih layak didengar omongannya dari seorang Andi Arief?

Tentang 13 orang yang hilang. Itu tidak melibatkan Tim Mawar, tapi Pangskoops Jaya. Setidaknya ada 4 faksi di TNI-AD yang bertikai saat itu, imbuh Habibie. Jadi zalim bila kita sembarangan menuduhkan semuanya Prabowo. Prabowo lalu memutuskan melepas 9 aktivis dengan pertimbangan rasa kemanusiaan. Tanpa seizing Pangab sehingga dianggap melanggar tindakan subordinasi. Tindakan manusiawi Prabowo ini dikhawatirkan Pangab memperbesar tuntutan reformasi aktivis mahasiswa 98.

Mengetahui ibukota dalam bahaya kerusuhan, Prabowo berusaha mencegah Pangab menghadiri seremoni Pemindahan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PRRC) di Malang yang tidak penting itu. Mestinya Pangab tetap berada di Jakarta mengantisipasi huru-hara yang menelan banyak korban tgl 12-21 Mei 1998 itu. Ironisnya, notulensi rapat terbatas Pangab pada 17 Juli 1998 mencatat usulan agar kepergian perwira TNI ke Malang 12 Mei 1998 dijadikan sebagai alibi cuci tangan sekaligus mengkambinghitamkan Prabowo atas seluruh tragedy kerusuhan Mei 1998, termasuk menjadi tumbal yang disalahkan atas penangkapan para aktivis.

Masih tak puas, Pangab memfitnah Prabowo kudeta, sehingga Presiden Habibie ketakutan. Fitnah kudeta (bukan penculikan) yang menyebabkan tanggal 22 Mei 1998 Prabowo digeser dari jabatan Pangkostrad menjadi Dansesko ABRI di Bandung. Masih belum puas, karena Prabowo belum dipecat, Pangab menggagas DKP (produk cacat hukum) sebagai dasar pembenaran fitnah pemecatan.

Padahal SK Presiden RI No. 65/ABRI/1998 pada 20 November yang mempunyai status hukum jelas telah menyatakan Prabowo Subianto diberhentikan DENGAN HORMAT dan mendapatkan HAK PENSIUN. Bahkan selaku Presiden RI, BJ Habibie mengucapkan terima kasih kepada Prabowo atas jasa-jasanya selama mengabdi di ABRI. Jika Prabowo pernah melanggar hukum, maka tidak akan diberhentikan dengan hormat dan tidak akan diloloskan KPU menjadi wapres Megawati tahun 2009 lalu.

Cobalah kita jernih memahami wisdom Gus Dur yang mengatakan Prabowo adalah tumbal bangsa ini atas tragedi 1998. "Sampai Gus Dur mengatakan orang paling ikhlas untuk bangsa ini Prabowo, artinya apa? Dia siap berkorban, siap dilengserkan dari Pangkostrad, siap dicabut dari kedudukannya, sebab kalau bukan dia siapa lagi tumbalnya," kata Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU.

Karena itulah, setiap anak bangsa, tak terkecuali, saya dan sahabat sekalian, berkewajiban turut aktif membersihkan fitnah yang menodai kesucian ibu pertiwi. Saatnya kita hentikan pembunuhan karakter keji ini. Agar rakyat bisa memilih dengan jernih pemimpin yang diyakini mampu membawa IndONEsia bangkit.

Prayudhi Azwar
Perth, 30 Juni 2014





Prayudhi Azwar
~ Milih Presiden, Kok Kita Repot? ~

Sudah tahu demokrasi itu pesta, kenapa kita tidak bergembira saja? Sudah dari dulu bangsa Indonesia kita dikenal ramah, kenapa sekarang kita harus marah-marah? Sudah tahu calonnya hanya ada dua, pastilah tidak akan berakhir remis. Sudahlah, santailah, mari kita tertawa, bersenang-senang sajalah..hahahaha!

Sudah tahu satu calon bilang copras-capres beliau gak mikir, kok kita yang lebih nyinyir? Sudah jelas beliau berjanji membenahi macet dan banjir kenapa kita dorong terus untuk mungkir? Mumpung beliau masih sangat muda, biarlah fokus membenahi ibukota. Pemilu dijamin konstitusi akan selalu ada tiap 5 tahun, ya toh?

Anak muda itu inginnya tak diganggu jika sedang menuntaskan PR-nya. Apalagi saat menikmati permainan game online yang menarik hatinya. Biarkan kreatifitasnya mengalir menikmati aplikasi online-nya. Agar ketemu sistem yang matang terbukti anti bocor. Agar kelak bisa jadi aplikasi online yang dicontoh daerah lainnya. Bahkan jika perlu kita ajak pemimpin muda kebanggaan kita ini bersama belajar bahasa asing, agar bangsa kita tak pernah terasing. Kita ajak belajar kembali geografi, agar enteng baginya memimpin tiap jengkal luas wilayah Indonesia ini. 5 tahun lagi.

Tertawalah, berbaik sangkalah. Tak perlu kita gelayuti prasangka pada calon yang satunya lagi. Melihat wajah Prabowo, senyum sajalah. Jika ada anak bercita-cita jadi petani hebat, masa kita memintanya menjadi nelayan, hidup di lautan. Sudah kita tahu dia telah bersiap dan berlatih menjadi pemimpin hebat, apa salahnya kita bantu cita-citanya?

Sejak dulu kita tahu sejarah rela matinya di medan laga, pasti kini tetap siap mati bela negaranya. Belasan tahun dia curahkan pemikiran otentiknya, pastilah itu terbaik buat bangsanya. Kita saksikan aneka suku dan agama dalam keluarga besarnya, apa alasannya kita ragukan kualitas toleransinya?

Dia yang digembleng dengan kisah heroik kepahlawanan dua pamannya yang gugur dalam perang kemerdekaan. Dia yang terbiasa berdebat aneka teori dengan bapaknya, begawan ekonomi. Dia yang ditempa disiplin di akademi terhebat di negerinya. Dia yang terbiasa menggembleng karakter pasukannya menjadi kuat dan disegani. Lalu kenapa kita ragukan kemampuannya menghebatkan bangsa yang sangat dicintainya?

Maka bergembira sajalah .
Memilih presiden itu sangat tidak repot kok, ya toh?

Prayudhi Azwar, Perth 27 Juni 2014
7.04 AM, di ceria pagi yang mengembirakan hati.

Prayudhi Azwar
~Arus Besar Perlawanan Narasi Pembunuhan Karakter ~

Melejitnya elektabilitas Prabowo mencengangkan. Tak terbayangkan. FENOMENAL. Tersirat padanya arus besar perlawanan rakyat Indonesia. Arus penolakan atas narasi pembunuhan karakter yang masih terus dijejalkan, sejak 16 tahun lalu oleh sekelompok media mainstream.

Kejelian rakyat Indonesia mendapatkan momentum terbaiknya sepanjang Juni 2014. Dengan cerdas rakyat seolah menegaskan, bahwa kami ingin merdeka dalam arti yang sebenarnya. Merdeka dari segala prasangka, dari plotting media yang itu-itu saja. Merdeka dari tangan-tangan tak terlihat (the invisible hands). Tangan yang tak henti mencari cara mempertahankan hegemoni. Mencengkeram alam bawah sadar bangsa Indonesia.

Nasihat sang pendiri bangsa semakin mendapat tempat di sanubari rakyat. Fenomena menyukai pemimpin yang TIDAK disuka asing dan media mainstream tengah berlangsung. DRAMATIS. “INGATLAH..INGATLAH..INGAT pesanku lagi. Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti atau dicacimaki asing, karena itu yang BENAR. Pemimpin tersebut akan membelamu diatas kepentingan asing itu. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena itu akan MEMPERDAYAIMU!”. Lantang sosok besar Bung Karno berpesan kepada seluruh anak bangsanya, tak terkecuali.

Maka lihatlah fenomena baru itu disekelilingmu. Doktrin 16 tahun yang membunuh karakter satu putra terbaik bangsa itu semakin kehilangan gaungnya. Terasa asing, naïf dan garing. Pribadi yang masih coba menggenggam doktrin itu kian dipandang mengkhianati dan mengabaikan pesan sang pendiri bangsa, pemimpin besar revolusi itu.

Melepas doktrin daur ulang itu membangunkan kesadaran komunal. Kesadaran betapa besarnya kebocoran, kehilangan kekayaan alam Indonesia yang besar. Kesadaran yang coba dikecilkan, dialihkan, dan ditertawakan para pengkhianat itu. Kesadaran betapa kekayaan luar biasa bangsa ini, MESTINYA digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia. Yang dicantumkan founding father sebagai amanat konsitusi, pasal 33 UUD 1945.

Kesadaran komunal telah dibangkitkan. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan segenap elemen bangsa. Bersama melewati tekanan eksternal yang berat. Mencegah kehilangan wilayah strategis yang kaya akan gas, minyak dan tambang. Yang tersebar di wilayah NKRI yang luas. Di Laut China Selatan (Natuna), di Papua, dan di perbatasan-perbatasan.

Kesadaran komunal telah dibangunkan. Agar tak terjadi lagi tragedi penjualan aset-aset bangsa secara memilukan. Kehilangan BUMN strategis, satelit, kapal tanker, gas alam dan kepahitan lainnya adalah pelajaran sejarah yang tak boleh lagi terulangi.

Maka episode tahun 2014 ini adalah momentum kebangkitan. Momentum perlawanan rakyat menolak narasi doktrin pembunuhan karakter atas putra bangsa. Momentum berjuang bersama SATU pemimpin yang paling mengerti pesan bung Karno. Momentum memastikan bangsa ini dipimpin sosok yang diyakini paling mampu menghayati dan melaksanakan amanat konstitusi. Pemimpin yang dipercaya paling ikhlas terhadap rakyat IndONEsia.

Prayudhi Azwar, Perth, 25 Juni 2014
6.45 AM, di terbitnya mentari yang membangunkan hati.

Prayudhi Azwar berbagi foto Kopassus Indonesia.
Disimpan, utk dibaca pas senggang.
Narasi yang berbeda dgn doktrin 16 tahun pembunuhan karakter thd putra bangsa yang terus dijejalkan media mainstream.
ini catatan kecil dari seorang jurnalis tentang salah satu jendral kebanggaan kami Prabowo Subianto, ketahuilah

Prabowo Bikin Mengkeret Amerika

KOMANDO !!!

Catatan Pribadi Ibu Nanik S Deyang (jurnalis)

Gak Australia saja yg kecut, yg paling mengkeret itu ya Amerika. Saya sendiri kalau dengar Prabowo bicara politik luar negeri, sampai bertepuk tangan sambil berucap "hebat". Ia demikian jernih, cerdas, taktis dan cermat dalam mengurai persoalan politik luar negeri. Prabowo mengatakan, ia tdk ingin negara ini didikte oleh negara mana pun..(saya tentu tdk bisa membocorkan apa yg akan dilakukan), hanya prinsipnya, Indonesia tidak akan mau dicekoki hutang lagi dengan berbagai alasan.

Prabowo juga akan jaga keamanan wilayah perbatasan dengan baik, dan memperkuat pertahanan kita dengan peralatan militer yg canggih. Bila Bung Karno pernah dikasih hadiah pesawat tempur Mig 12 biji, bukan tdk mungkin Prabowo juga akan dihadiahi Putin pesawat tempur modern. Juga oleh negara-negara lain yang selama ini beharap Indonesia tdk di bawah keteknya Amerika dan sekutunya yang jadi pemegang saham IMF. Prabowo juga akan bekerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, sehingga Indonesia punya posisi tawar dalam pertarungan pasar minyak dunia.

Sikap Prabowo ini sebetulnya bukan sekarang ini saja muncul, sejak jadi mantunya Pak Harto sudah gerah ketika Pak Harto mulai dipengaruhi Amerika, bahkan ia menjadi penentang keras saat IMF mau memberi pinjaman Indonesia pada saat krisis. Prabowo yg kala Indonesia krisis menjabat sbg Pangkostrad, sudah berani menyampaikan ke Pak Harto utk tdk menandatangi pinjaman dari IMF, karena Prabowo sudah sejak tahun 1997 mengetahui dokumen skenario negara-negara pemegang saham IMF itu, yaitu akan melakukan liberalisasi di semua bidang di negara Indonesia. Bahkan tahun 1997, Prabowo sudah diberitahu temannya para Jenderal di luar negeri, tentang apa yg akan terjadi di bulan mei 1998.

Sayangnya Prabowo yg bolak-balik menghadap Pak Harto mengabarkan hal tersebut, ternyata sang ayah mertua tidak percaya bahwa Amrika dkk akan mempunyai agenda yg dimulai dengan penandatanganan IMF. Pak Harto lebih percaya sahabatnya pegusaha Bob Hasan, yg memang bebeberapa kali bertemu Clinton.

Namun karena Prabowo yakin bahwa IMF ini akan menjadi sumber kehancuran bangsa, ia kembali nekat bicara pada pak Harto untuk mencari dana yg sama yang akan diberikan IMF sebesar 4 miliar Dolar AS. Prabowo mengkontak Najib (sekarang PM Malaysia) untuk bersama-sama pergi keliling ke negara Timur Tengah. Dari gerilya satu minggu di negara-negara Timur Tengah, Prabowo malam dapat kesepakatan pinjaman 7 miliar Dolar As (lebih besar dari yg akan diberikan IMF), dan Najib (untuk Malaysia) dapat 6 miliar Dolar AS. Namun betapa kecewa Prabowo, ia yg ingin membantu negara ini dari jebakan krisis, ternyata pada saat mau kembali ke Indonesia mendapat kabar, bahwa Pak Harto sudag meneken tanda tangan dengan IMF. Dan yg terjadi persisi seperti info yg diterima Prabowo, setelah penandangan IMF tdk berapa lama terjadi kerusuhan yg melengserkan Pak Harto. Pak harto yg percaya Amerika, jatuh pula di tangan Amerika. Dan muncullah era reformasi dimana liberalisasi makin menggila di semua lini, hingga kita yg punya 2/3 laut harus impor garam. Kemiskinan makin meningkat, kita tdk punya basis industri lagi, semua investasi yg tadinya masuk daftar negatif investasi dibuka lebar-lebar. Asingisasi mulai merambah bumi pertiwi.

Sebaliknya Malaysia yg tdk mau teken dengan IMF, dan menggunakan dana pinjaman dari Timur Tengah justr selamat dari krisis, dan perekonomian mereka maju luar biasa, dan juga memiliki basis industr yg hebat. Pengusaha pribumi juga bisa tumbuh sejajar dengan para pendatang.

Prabowo sangat tahu apa agenda barat (negara-negara Neolib) terhadap Indonesia. Itulah sebabnya dia bukan saja dihabisi kariernya, tapi melalu propaganda media, dan juga LSM, Prabowo terus di stigma buruk. "Terlalu banyak yg saya ketahui, sehingga saya dihabisi," ujarnya suatu kali dalam diskusi panjang kami hingga 11 jam dari jam 4 sore hingga pukul 3 dini hari. Saya bersama teman Mas Susetyo Lit, dan Mas Budi Purnomo Karjodihardjo beberapa waktu itu, sampai merinding mendengar apa sebetulnya yg terjadi atas negeri ini. Itu pula yg membuat Prabowo yg sebetulnya hidupnya "sudah selesai" mau repot-repot membuat partai dan mencalonkan diri menjadi Presiden.

Hal yg sama juga diucapkan Prabowo saat beremu para Kyai Besar NU beberapa waktu lalu, "Demi Allah, saya tidak haus atau rakus jabatan. Saya hanya tidak tega melihat bangsa ini hancur. Jadi sy minta mandat rakyat, kalau rakyat tidak memberi mandat sy, bagi saya juga tdk masalah," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Prayudhi Azwar berbagi status Shandy Kevin Setiawan.
~Menelusuri Jejak Ikhlas sang Patriot~

Status satu ini khusus menginventarisir apa yg sdh dilakukan sosok "paling ikhlas untuk rakyat Indonesia" (pernyataan Gus Dur).
Silahkan berbagi info dr yg teman2 ketahui.

#untukkitateladani

Perth, 24 Juni 2014. Dinihari 3:14AM
- Kisah Inspiratif Putra Terbaik Bangsa -

Sekitar 8 tahun yang lalu, ada seorang dokter masih muda kesulitan mencari beasiswa untuk melanjutkan study S3 di luar negeri. ternyata ada seorang dermawan yang membiayainya tanpa pamrih. sekarang dokter tersebut kembali ke tanah air dan giat meneliti. sang dermawan itu sekarang jadi calon presiden. siapakah dia / tak ada yang tau dan mungkin juga tak perlu ada yang tahu.

Sedikit juga yang tahu, karena memang tak pernah ada publikasi guna menarik simpati, bukan dilakukan hanya ketika mau maju nyapres saja. Bahwasanya seseorang dermawan itu juga mempunyai lbh dari 8000 anak asuh di papua. Begitu cintanya beliau pada tanah papua, hingga ingin daerah itu maju krn memilki SDM asli papua yg handal utk mengelola daerah mereka sendiri. Bukan seperti sekarang justru kekayaan mereka didominasi para pendatang bahkan bangsa asing, hingga masyarakat asli terpinggirkan.

sedikit juga yang tahu, bahwa si dermawan ini rela jadi peternak ratusan sapi dan kuda, untuk apa? sudah puluhan tahun si dermawan ini merawat kuda dan sapi/kambing gembalanya untuk mensejahterakan rakyat sekitar. kuda diperuntukkan atlet-atlet pemuda pemudi Indonesia untuk berlatih kuda, sehingga atlet berkuda itu sudah mengharumkan nama Indonesia, sudah berpuluh tahun juga si dermawan ini rela memproduksi susu sapi/kambing untuk dibagikan secara sukarela kepada tetangga dan warganya.

Tapi hebatnya, si dermawan ini walau tak lagi punya istri, dia masih memberi santunan kepada janda-janda veteran, tak satupun kamera menyorot ktifitas sosial beliau karena beliau menolak untuk di sorot kamera. walau dihujat , di hina, di cela sebagai duda tak punya istri, beliau tetap sabar, dan ikhlas, tak satupun dari ucapan beliau untuk membalasnya. dan kini si dermawan itu jadi Calon Presiden. siapakah dia,,, bisa Anda tentukan sendiri dengan cerdas. #SubhannallahCalonPresidenku

Prayudhi Azwar
~Keping Puzzle Pengkhianatan yang Terkuak~

Komandan itu memerintahkan mengosongkan ibukota, menyingkir ke kota Malang. Malangnya justru saat ibukota negara dalam bahaya. Menyisakan capital city tanpa pasukan penjaga. Membiarkan para perusuh leluasa berkuasa.
Itulah kepingan puzzle yang hilang dalam drama pengkhianatan bangsa.

Kerusuhan segera menghebat bulan itu. Menjalar ke segala penjuru. Penjarah leluasa, pemerkosa berkuasa. Ribuan rakyat terluka, terbunuh meregang nyawa. Pranata sosial, ekonomi, politik binasa. Aset bangsa tergadai, BLBI, krisis ekonomi melanda. Menjalar, merembet hingga provinsi termuda, Timor-timur. akhirnya tiada.

Maka jangan pernah salahkan bila darah merah-putihku membara. Lantangku bersuara, “wahai komandan engkaulah PENGKHIANAT BANGSA!. Sedangkan sosok yang kau nista itu adalah sang PATRIOT BANGSA!”

Bernyalinya dia menolak mengikuti perintah mengosongkan pasukan. Tak peduli dia pada karir dan dirinya. Tak rela ia biarkan NKRI membara. Semata karena dihatinya terhujam dalamnya cinta.

Tiada sesal diwajahnya, saat kau cabut lencana kebanggaan dipundaknya. Yang dia raih penuh kehormatan, bersimbah luka dalam pertempuran-pertempran yang mulia. Tak melawan dia padamu. Tak juga dia membantahmu. Semua dipikulnya, demi kehormatan lembaga dan dilandasi jiwa korsa.

“Salah menjabarkan pelaksanaan tugas” enteng nadamu. Tapi tidak bagiku. Karena dia kini menjadi pahlawan, yang mengisi rindu di rongga hatiku.

Kini saksikanlah kembali, rekaman sejarah ini. Saat Kapuspen Hankam saat itu, Mayjen TNI Sudrajad berkata: “Pak Prabowo itu diberhentikan DIPERCEPAT dikarenakan memang beliau dinilai oleh Tatanan Militer bahwa beliau keliru didalam MENJABARKAN PELAKSANAAN TUGAS, jadi itu yang di lihat ini terutama dengan kasus kasus sebelumnya. BUKAN KASUS KERUSUHAN MEI”.

Terang dimataku kini siapa pengkhianat bangsa. Jelas bagiku siapa pembela setia negara. Maka lihatlah perjuangan kami. Demi memastikan sang tauladan memimpin bangsa besar ini.
(video terlampir)

Prayudhi Azwar, 22 Juni 2014
9:28 PM, disela menatapnya bangga pada malam debatnya yang hebat.
Prayudhi Azwar berbagi status Wiwit Sari Handayani.
Distorsi pemberitaan spt ini bentuk fitnah abad modern, yg bila dibiarkan akan merusak harmoni dan memicu konflik horizontal.
Media perlu dicegah agar tidak menjadi benalu fitnah di bangsa ini.

Kita berperan mengembalikan pers pada prinsip (Kovach&Rosenstiel):
(1) Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran.
(2) Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara (rakyat, publik).
(3) Jurnalis harus tetap independen dari pihak yang mereka liput.
(4) Jurnalis harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan.
Nanik S Deyang:

Ada kejahatan baru di dunia politik saat ini, yaitu konspirasi antara orang IT yang hebat dengan media pendukung salah satu Capres. Coba saja lihat kampanye negative yang terus dilakukan pada Pak PS belakangan ini secara masif, mulai dari mengedit video dari apapun gerakan Pak PS, memotong statement Pak PS sehingga terkesan Pak PS suka mendiskritkan pihak tertentu atau untuk menggambarkan seorang Prabowo yang jahat, ini benar-benar luar biasa JAHAT, karena memislidingkan informasi di masyarakat, untuk menciptakan kebencian terhadap pak PS, bahkan bisa menciptakan keresahan, dan bentrok horisontal.

Oke mari kita lihat di dunia pemberitaan portal misalnya, dulu Pak PS ditulis katanya akan merangkul FPI, padahal Pak PS betul-betul tidak mengatakan yg demikian, lha saya ada di sebelahnya. Waktu itu Pak PS hanya menjawab pertanyaan wartawan, "Apakah bapak akan mendukung pernyataan Mendagri yang meminta kepala daerah merangkul FPI? Karena berebutan dengan pertanyaan lain, Pak PS menjawab sepintas saja, "Semua Ormas yg tunduk pada Pancasila akan kita rangkul, kalau tidak tunduk ya tidak kita rangkul," ...eh yg keluar besoknya berita "Prabowo akan rangkul FPI"...demikian berita itu direkayasa sejak Oktober tahun lalu, dan terus di share hingga kini.

Demikian juga pernyataan Pak Prabowo di hadapan kader PKS yg bercerita soal kebodohan (dengan nada bercanda) bangsa ini, karena diam saja melihat kekayaan alamnya dirampok oleh asing dan mengalir terus ke luar negeri...tau-tau besoknya keluar berita "Bangsa Indonesia Bodoh"...

Dan masih banyak lagi, misalnya belakangan katanya Pak Prabowo menyuruh rampok tetangganya yg kaya, atau pernyataan Pak Prabowo saat kampanye di Sulsel katanya mendiskritkan watak orang Indonesia Timur, padahal semua itu BOHONG besar.

Pernyatan yang ditampilkan dalam berita on line atau TV pendukung Capres sebelah itu sudah dalam konteks yg dipotong-potong. Bukan dalam konteks yg utuh. Bagaimana mungkin seorang Prabowo yg sudah dikhianati Jokowi punya kesempatan banyak untuk menjatuhkan Jokowi saat debat, tidak melakukannya, apalagi dia bicara yang seperti itu, rasanya itu FITNAH yang luar biasa yg diciptakan media pendukung kemudian di-back up oleh tim IT untuk dibuat video atau disebarkan kemana-mana.

Demikian juga dalam penyebaran video, soal cipika-cipiki, saya tanya Prabowo dia tdk merasa mau menghindar dari Jokowi, karena Jokowi tdk menyodorkan pipinya, dan dia buru-buru akan menyalami tamu lain di ruangan yang antri di belakang Jokowi. Tapi kemudian dibuat berita seolah Prabowo menghindari cipika-cipiki Jokowi.

Tak berhenti di situ, katanya Prabowo mengumpat KAMPRET di salah satu video yang beredar. Saya berani bersumpah apapun, atau bahkan mungkin seluruh orang yg mengenal Prabowo dengan baik pasti akan berani bersumpah, yg namanya kata "KAMPRET" itu tdk pernah ada dalam kosa kata hidup Prabowo, bahkan mungkin dia mendengar pun tdk pernah.

Marilah kita semua arif menyikapi berbagai isu negatif, tidak harus terprovokasi dan ikut kebakaran jenggot, kita luruskan apa yang bisa kita luruskan. Dan lebih baik kita bicara kebaikkan Pak Prabowo dan program yang akan dilakukan.

Semoga orang-orang yang tiap hari mencetak fitnah tersebut, disadarkan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah kejahatan, karena bila rakyat salah memilih pemimpin, maka rakyat akan menderita selama 5 tahun atau malah lebih lama lagi.

Prayudhi Azwar berbagi foto Tzar Ferdinand.
Mesti ada tulisan ttg isu kebangsaan yang teramat penting ini. Ttg kemampuan mempertahankan kedaulatan NKRI dan penjagaan pulau-pulau yg banyak diminati bangsa lain di sekujur tubuh Indonesia.
Dipimpin Presiden Tak Tegas, Natuna Bisa Lepas

- Keberadaan pulau-pulau di Nusantara kembali menyita perhatian karena kekhawatiran akan lepasnya pulau terluar. Ini terkait dengan calon presiden lima tahun ke depan.

“Saya kira kalau Indonesia ke depan dipimpin orang yang tidak tegas seperti Jokowi, kita akan lebih tidak berdaya. Bisa-bisa pulau seperti Natuna akan lepas, diikuti pulau terluar lainnya.

Kita tahu potensi Natuna sangat banyak khususnya cadangan minyak dan gas bumi ratusan miliar barel, pasti banyak dilirik negara sekitar misalnya Malaysia dan Singapura.

Negara-negara itu sudah tahu soal potensi kekayaan alamnya dan mereka sudah meliriknya. Mei lalu, Natuna ini sudah disoal beberapa media Malaysia. Kekayaan alam itu penting bagi negara-negara lain yang punya kekayaan alam minim," kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, Rabu (18/6/2014).

12 pulau kecil itu adalah Pulau Rondo, Berhala, Nipa, Sekatung, Marore, Miangas, Marapit, Fani, Fanildo, Brass, Batek dan pulau Dana. Pulau-pulau itu berbatasan dengan Negara Malaysia, Singapura dan Filipina.

"Karena itu Indonesia perlu pemimpin tegas agar kedaulatan nusantara ditegakkan. Bukan masalah dikotomi sipil militer tapi semua sifat tegas itu ada di diri Prabowo," tegas Syahganda.

Jika Indonesia dipimpin Jokowi-JK, visi kebangsaan yang kuat itu tidak akan didapat. “Mereka dua-duanya adalah pedagang. Sejak bangun tidur dan mau tidur yang dipikirkan adalah uang-uang, orientasinya adalah keuntungan,” terang Syahganda.

Prayudhi Azwar
~ Saatnya membersihkan hati, menjaga keharmonisan negeri ~

Indonesia telah mengejutkan dunia, dgn tiba-tiba menjadi negara yang begitu demokratis dan damai. Karena kita sebagai elemen utama telah berkontribusi didalamnya.

Kita perlu terus belajar. Dari tokoh-tokoh seperti Jokowi, tentang bagaimana menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat. Dari sosok seperti Prabowo tentang cara negarawan bersikap legowo. Ikhlas melangkah meski fitnah tak kunjung berhenti.

Setiap kita berperan mengikis fitnah yang masih meraja. Cukuplah episode pidato mantan pangab ttg DKP menjadi bentuk pembunuhan karakter yang terakhir. Tidak saja karena DKP kini terbukti produk yang cacat hukum. Juga ini wujud pengkhianatan etika korsa korps TNI. Terus menghembuskan isu daur ulang ini sejatinya mencederai wibawa mantan Presiden RI, Megawati (yang dulu mencawapreskan Prabowo). Mempermalukan JK, yang berarti lalai menuntaskan saat menjadi wapres. Bahkan melecehkan PDIP yang ketuanya membubuhkan tanda tangan di Batu Tulis untuk janji mencapreskan Prabowo 2014 (terlepas alasan mengingkarinya). Mengabaikan release Komnas HAM yang jelas menyangkalnya. Serta menyiratkan rendahnya hormat kita kepada Panglima TNI dan Panglima Tertinggi, Presiden RI, yang menyangkalnya pernah mengkhianati negara.

Saat inilah momentumnya. Melangkah maju menyehatkan demokrasi. Meletakkan kepercayaan kpd lembaga negara – sekaliber KPU. Lembaga yang tim dokter terbaiknya telah memastikan kesehatan jiwa dan psikologi calon-calon pemimpin kita.

Maka tugas kita mereformasi demokrasi dari artifisial menjadi substansial. Ulas dan paparkan kelebihan satu calon dibandingkan yang lain, dilandasi satu cinta, cinta NKRI. Tanamkan dihati, kesetiaan kita kepada negara HARUS diatas kesetiaan kita kepada satu tokoh. Tidak perlu ragu berpindah dari satu tokoh ke tokoh yang lain, begitu hati meyakini ada sosok yang paling pantas memimpin negeri ini.

Diatas segalanya, jangan korbankan persaudaraan dan persatuan bangsa.
Tiada toleransi untuk intimidasi apalagi tindak kekerasan. Itu hanya merendahkan kemanusiaan dan merusak negeri.

Saatnya sama-sama berjuang membersihkan hati. Seraya menatap bening masa depan Ibu Pertiwi.

Prayudhi Azwar, Perth, 21 Juni 2014
13.:34 PM, di teduh siang yang mendamaikan hati.

Prayudhi Azwar berbagi foto Ronni Budiman.
Mmhhh...
WIRANTO HARUSNYA BERTERIMAKSIH PADA PRABOWO.

Saya tadinya tidak ingin bicara soal Wiranto, karena Pak Prabowo melarang untuk bicara apapun soal orang yg mengkhianati dan menyakiti dia. Tapi kok nurani saya gak tahan .
Wiranto tidak akan jadi Jenderal dengan karier yang moncer hingga jadi Pangab (Sekarang Panglima TNI) kalau dia tidak menjadi ADC ( Ajudan) Presiden Suharto 1987 -1991 .
Setelah menjadi ajudan Pak Harto, karier Wiranto melesat bak meteor , melesat dari ajudan ke Kasdam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, KSAD hingga Pangab di jaman Pak Harto. Pertanyaannya SIAPA YG MENDEKATKAN WIRATO dengan PAK HARTO, hingga dipercaya menjadi ajudan Pak Harto??? Manusia itu bernama PRABOWO SUBIANTO.

Ceritanya, Prabowo saat masih tugas di Timor -Timur melihat seniornya, Wiranto sebagai tentara yang berotak cemerlang, dan berprestasi. Kemudian Prabowo berfikir, alangkah sayangnya kalau tentara yg hebat ini tidak memiliki kesempatan untuk dipromosikan. Maka Prabowo pun menulis surat dari Timor _Timur , meminta pada sang mertua agar menjadikan seniornya Wiranto sebagai ajudan sang mertua. Surat pertama tidak digubris Pak Harto, Prabowo menulis surat lagi untuk kedua kalinya , dan ternyata tetap tdk digubris. Tidak pantang menyerah Prabowo menulis surat yg ketiga kalinya pada Pak Harto, untuk kali yg ketiga ini, Prabowo pulang dari Tim-Tim dengan membawa suratnya dan sampai Jakarta ia meminta istrinya, Titiek Suharto untuk menyampaikan langsung suratnya tersebut ke Pak Harto.

Setelah surat yg ketiga itulah, Pak Harto memanggil Prabowo untuk mempresentasikan Wiranto. Dan Pak Harto pun akhirnya kepincut dengan paparan Prabowo soal Wiranto, dan di tahun 1987 itu pula Wiranto masuk Ring 1, dan menjadi orang yang paling dekat dengan Pak Harto, karena ia dipercaya sebagai ajudan Pak Harto . Dari ajudan Pak Harto inilah sebetulnya karier militer Wiranto melesat, kalau tidak percaya baca WIKIPEDIA.

Nah, bisa dibayangkan andaikata Prabowo tidak menulis surat untuk merekomendasikan agar senirornya Wiranto dijadikan ajudan Pak Harto? JAdi apa kira-kira Wiranto? NOTHING! Tentara biasa. Tapi lihatlah pembalasan yang diberikan pada Prabowo…..Sesak nafas saya untuk menulisnya, dia “dihabisi” karier militernya, kehidupan rumah tangganya , dan hampir seluruh hidupnya. Maklum Habibie dan Wiranto menjelang akhir zaman Orba, menjadi orang yang paling dipercaya Pak Harto…….sejak bintang Prabowo mulai cemerlang di TNI berbagai fitnah hingga kini hari ini ditimpakan ke Prabowo.

Saya membayangkan , bila ditulis dalam buku siapa saja orang yang berkhianat dan mendzolimi Prabowo selama ini, mungkin sudah puluhan buku. Mulai dari atasan, kawannya , orang-orang di partai politik, intelektual dll……makanya kadang saya d berfikir “Kok Kuat ya Manusia Ini?” , kalau sy Jadi Prabowo saya sudah lupakan Indonesia , toh hampir setengah kepala Negara di dunia ini kawan-kawannya, dia tinggal berpindah-pindah Negara saja, dan pasti akan ditampung dengan baik kawan-kawannya .Lihalah Sultan Bolkiah-Brunei, hanya karena Prabowo pernah sedikit membantu pasukan perangnya, Pangeran kaya raya ini sangat sayang sama Prabowo, tiap ulang tahun diminta datang ke Brunei, dan Prabowo ditanya minta apa? …. Eh lha kok di Indonesia orang-orang yang kariernya melesat berkat Prabowo jangankan berterimakasih seperti Wiranto dan Jokowi , tapi malah menjadikan Prabowo sebagai musuhnya.

Sebetulnya kalau saya mau tulis hampir semua jenderal yang sekarang berdiri di belakang Jokowi itu semua pernah merasakan ditolong Prabowo, termasuk yang ngomong Prabowo psikopat itu sudah terima tiga mobil dari Prabowo, gak minta duit belakangan ini saja karena sudah terima dari yang lain.. …. .
Waduh sudah ah , nanti saya dimarahi Pak PS kalau ketahuan nulis di FB. Pasti Pak PS kalau saya buka sedikit-sedikit kawannya yang berkhianat akan bilang, ”Sudahlah Mbak , sing becik ketitik , sing olo ketoro,” katanya…Hadeuhhh capek Pak, sebetulnya bukan hanya saya yang gemes untuk nulis, para wartawan yang tadi datang ke tempatnya saja, dan sempat dengar sebagian cerita bagaimana sebetulnya Prabowo didzalimi menjadi sangat gemes dan minta Pak Prabowo mau buka-bukaan…., tapi Pak Prabowo tetap bilang “off the record ya. Gak usah dibuka-buka,”…..Catatan Nanik S Deyang
— bersama Hatta Rajasa Fans dan 50 lainnya.

Prayudhi Azwar berbagi foto Firmansyah Betawi.
Menelusuri jejak fitnah.

Entah kenapa, setiap kali meminta petunjukNya untuk mencari tahu kebenaran atas fitnah-fitnah thd beliau, yg aku temukan justru taburan pesona-pesona pribadinya, yg tak terberitakan media.

Kian terasa benarnya kesaksian alm. Gus Dur ysh hanya Prabowo yang paling ikhlas berbuat untuk Rakyat Indonesia: "kalau orang yg paling ikhlas kepada rakyat Indonesia itu ya Prabowo. Apa yg dia bikin itu menunjukkan betapa ikhlas betul kepada rakyat Indonesia".

Terima kasih Gus, dalam tiadamu pun kau masih menjadi lentera.
Demi Allah..jika ane berbohong,maka batalah agama dan keislaman ane..Kira2 Minggu kemarin tgl 15/06/2014,,ketika ane niat membantu sekaligus membeli nasi uduk buatan ibu ane karena ibu ane berdagang nasi uduk betawi jam 5.30 pagi,,ada pembeli ibu2 yg sudah tua....Kulihat dr pakaiannya beliau seperti org yang deket dgn agama..ane iseng2 tanya,,sambil ibu ane melayani pembeli lainnya...Ibu nanti pilih siapa pilpres nanti?..Beliau jawab,,rame ya pilpres kali ini gk seperti kayak yg kemarin2..tp kali ini sy akan gunakan hak suara sy untuk pilih Pa prabowo..sy tidak akan sia-siakan suara saya selagi sy masih ada umur..jawabnya dengan semangat..Ane jd tertarik menanyakan lagi melihat jawabannya yg begitu semangat..Ane tanya,,koq kayaknya ibu semangat bgt dan suka ama pa prabowo ya..??(Dalam Hati ane,,berarti sama kita bu)..Ane tanya balik,,kenapa gk milih Jokowi bu..??Beliau jawab,,ibu sudah lihat sendiri kebaikan pa prabowo dari dulu de..sebelum beliau maju jd capres..Beliau bilang,,cucu atau keluarga tetangga sebelah rumah beliau (ane kurang jelas waktu itu) menjadi anak asuh bapak Prabowo..Sejak SMA sampai S2 keluar negeri semuanya dibiayain oleh Pa Prabowo...Anak itu pintar,,tp dr keluarga gk mampu..sekarang anak itu lg kuliah di Inggris..lg menyelesaikan Tugas akhir S2nya..Alhamdulillah,,dr keluarga yg gk mampu kini anak itu sudah bisa membiayain keluarga dan saudaranya..Banyak orang yg kaga tau de kalo Pa Prabowo banyak mengambil anak asuh,,ibu dan keluarganya banyak berhutang budi dengan beliau..Ane kaga banyak punya waktu untuk nanya lagi karena si Ibu keburu sibuk beli nasi uduk ibu ane..takut ganggu..Ane sebenarnya pgn tanya darimana anak tersebut dikenal dan dpt beasiswa dari Pa Prabowo..Ane pgn tau linknya karena banyak anak bangsa yg pinter yg gk mampu sekolah..kali ajah bisa dapet informasi..tp ya sudahlah..ane sudah puas dgr cerita si Ibu tua yg ane taksir mungkin umurnya 60 tahun lebih..Allahu Akbar..ternyata dilingkungan rumah ane ada anak asuh Pa Prabowo yang banyak orang kaga tau..Inilah pemimpin sejati yg tidak butuh pencitraan dan tidak butuh sanjungan...Berarti pilihan para ulama tidak salah...Sambil mengucap dalam hati..Bismillah Ya Allah..ane makin mantabs pilih nomor 1....PRABOWO-HATTA...Sumpah ane Atas nama Allah dan Rasul-Nya..Laknat Allah dunia akhirat bila ane berbohong...Firmansyah anak betawi yg cinte agamanya...
— bersama Pati Rembang Blora.

Prayudhi Azwar
~Selubung Fitnah Itu Semakin Terkuak~

Roda sejarah bergulir. Bukan secara kebetulan. Begitu juga sejarah anak manusia.
Seperti sejarah sosok cerdas, pemberani, dan pecinta negeri paling romantis ini.

Telah terjungkal ia, diterjang fitnah, yang tak pernah usang di daur ulang. Dipaksa memikul dosa satu institusi, seorang sendiri. Dipojokkan. Terhina di mata anak bangsa. Terusir dari keluarga mertua. Terpisah dari istri dan ananda tercinta. Sendiri, terbuang jauh ke negeri di ujung sana.

Dalam kehampaan coba ia bertahan. Mengobati raga cedera dari beragam pertempuran agung demi negeri cintanya (@Jerman). Membasuh perih luka jiwa di tanah suci, bersimpuh pada kuasa Tuhannya (@Mekkah). Sebelum akhirnya terdampar ia di istana megah karibnya (@Yordania).

Nanar dia tatap langit yang telah berganti warna. “Sekarang kamu dijadikan sasaran macam-macam. Jangan harapkan teman-teman kamu sendiri akan membantu. Orang yang berhutang budi terhadap kamu pun bakal meninggalkan kamu. Tapi dalam keadaan segelap apapun, niscaya masih ada orang-orang baru yang akan membantu. Jadi harus tabah. Jangan menjadi dendam. Ini kehidupan, hadapilah”.

Bekal wasiat, Soemitro, sang Ayah membaluri luka hatinya. Nasihat ini begitu membekas dikalbunya. Menyatu dalam pergumulan batinnya. Maka istana indah itu tak mampu silaukan-surutkan rindunya. Rindu pada negeri yang selalu memenangi hatinya. Bahkan sejak usia belianya.

Tawaran beasiswa George Washington University yang menjanjikan kemapanan tak mampu menggoda setianya. Baginya, cinta diukur dari kesediaan berkorban untuk yang dicinta. Maka baginya, jalan bakti tertinggi, terbaik dan paling romantis adalah jalan pengorbanan. Jalan ksatria. Maka digembleng ia pada institusi negara. Merintis jalan paman kebanggaannya, Subianto. Yang gugur berkorban di medan tempur pembebasan.

“Bowo, jangan lupa, rakyatmu masih banyak yang miskin” pesan terakhir almarhum ibunda, Dora Sigar menyusupi relung batinnya. Ingin dia membelai, membasuh luka-luka di sekujur raga ibu pertiwi, cintanya. Yang terus dikoyak laku khianat segelintir anak-anak kandungnya.

Maka kepulangannya ketanah air disambut gegap gempita. Bukan dengan kembang api atau bunga tujuh rupa. Tapi oleh ledakan dahsyat bom natal, yang kembali coba menistanya. Memang fitnah adalah bagian hidupnya. Suratan dalam romantika perjuangannya. Fitnah yang membesar setiap ia melangkah mendekati takdirnya. Memimpin kekasih hatinya, Indonesia raya.

Kini tiba masanya, tiada selubung kan lagi mampu tutupi kilaunya. Wangi aroma gelora jiwanya membuka sumbat penciuman rakyatnya. Maka bersiaplah menjadi saksi sejarah, episode terakhir dari sang pencinta memeluk kekasih hatinya.

The best fighter is always a best lover.

Prayudhi Azwar
Perth, 18 Juni 2014
12.08 PM, di sapa mentari yang menerangi hati.
Prayudhi Azwar
Mencari Presiden, bukan Kepala Daerah.

Menghabiskan uang belanja itu mudah, MENCARI uang itu susah.
Banyak pemimpin yg lihai menghabiskan anggaran. Tapi tak banyak pemimpin yang mampu dan mau berpikir keras bagaimana menambah pendapatan dan menambal kebocoran negara secara cepat dan dalam jumlah yang besar.

Banyak sahabat baikku yg terjebak pada persoalan mikro. Menutup mata dari isu kebangsaan yang besar dan strategis. Padahal kita tahu, kepentingan asing di tanah air adalah menguasai SDA. Mereka datang tidak tertarik untuk menguasai SDM kita, kecuali utk sweat shop (belanja keringat upah murah). Bukan berarti SDM tak penting, tapi jangan logikanya terbalik-balik oleh fanatisme. Shg menafikan bangsa ini yang sudah lama menjerit krn kehilangan kekayaan SDAnya yg luar biasa besar.

Menonjolkan isu mikro seperti singkatan TPID, boleh jd bukan karakter negarawan. Instead of cerdas, saya khawatir publik menilainya ada niat jebakan, karena TPID tidak disebutkan secara lengkap. Terlebih jawaban koordinasi inflasi sudah diberikan secara memadai.

Disisi lain, Prabowo memberikan clue yang memudahkan rivalnya menjawab pertanyaannya. Kelemahan rivalnya yang luput memahami OJK (bukan lagi BI) yang berwenang atas pembukaan KC bank, juga tidak dipersoalkan. Mungkin demi menjaga kehormatan negara atas salah satu capresnya.

Juga isu angka kebocoran fantastis yang mengutip angka Ketua KPK, terus digiring media guna menenggelamkan isu penting: visi seorang pemimpin thd implementasi pasal 33, amanat UUD 45.

Mudah-mudahan, mata bathin kita akhirnya bisa melihat. Bahwa, pemimpin yang ikhlas tak perlu malu bertanya, memastikan maksud satu singkatan. Menandakan karakter pribadinya yang terbuka, rendah hati dan tidak sok tahu.

Marilah terus kita belajar bersama, melihat substansi dari debat. Melihat kapasitas pemimpin memaparkan visinya, keluasan wawasan pengetahuan dan kecerdasan emosinya. Agar kita dapatkan pemimpin terpantas buat bangsa yang besar ini.

(# bukalah mata hati. Janganlah terus mau tersihir oleh penggiringan opini palsu dari media-media mainstream, yang bertentangan dgn kepentingan bangsa mendapatkan pemimpin sejati).

Prayudhi Azwar
Romantic City, Perth, 16 Juni 2014.

Prayudhi Azwar
Terima Kasih untuk Bangga yang Kini Kau Sematkan

Membuncah bangga di dada menyaksikanmu malam tadi. Rindu kami terobati. Rindu hadirnya pemimpin yang mampu gelorakan kembali getar kebangsaaan di dada kami. Pemimpin sejati, begitu terlihat di mata kami, dalam debat malam ini.

Pemimpin besar itu menginspirasi. Lantunan kalimatnya membangunkan, mendongkrak kepercayaan diri. Bersamanya, potensi bangsa yang terpendam, meletup kembali. Mengalirkan energi, melahirkan kejayaan negeri.

Telah lama kami menjadi saksi. Betapa banyak anak-anak di negeri kami. Tertatih membangun sebentuk harga diri. Tertatih dalam kondisi kehilangan inspirasi dan kekurangan gizi.

Maka hadir visimu malam ini, bangkitkan kesadaran komunal kami. Betapa kayanya “underground economy” negara kami. Yang meninggalkan luka-luka eksploitasi. Pada tanah-bumi kami, pada hutan-hutan kami, pada laut kami. Kekayaan yang diekspotasi, dilarikan ke luar negeri. Semua terjadi, tepat di depan hidung dan mata kami.

Mimpinya adalah mimpi kami. Mimpi sederhana yang terus menghujami hati. Mimpi pendiri bangsa yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan. Demimengamankan “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kesejahteraan rakyat negeri ini.

Malam ini dia tegap berdiri, menatap mata-mata kami. Menyulut semangat kepahlawanan kedalam hati-hati kami. Bertekad menghentikan pengkhianatan nilai-nilai kebangsaan di negeri kami. Hingga senyum merekah merata di seluruh wajah anak-anak negeri.

Maka semakin jelaslah dimana mestinya kami harus berdiri. Disisi pemimpin sejati. Bersamanya kami akan meretas jalan bagi kejayaan ibu pertiwi.

Maka bersiaplah! Bangkitlah IndONEsiaku!!

Prayudhi Azwar, 16 Juni 2014
7.10 AM, diterbitnya mentari yang menggelorakan hati.

Prayudhi Azwar berbagi tautan.
Shock therapy yg bagus. Bagi rekan-rekan yg terkejut ttg besarnya potensi pendapatan negara (bukan belanja negara) atau kebocoran versi Ketua KPK, terutama dr sektor tambang: http://www.enciety.co/potensi-pendapatan-indonesia-rp-15-000-triliun/

Prayudhi Azwar
Kita semua bisa rasakan, getar kebangsaan itu.
Hati tahu mana pemimpin yg berpikir besar dan strategis.
Great leader for our great NATION!
Bangkitlah IndONEsiaku!!
Prayudhi Azwar
Cara Pandang Aktivis 1998: Simbolik vs Substansial.

Eksponen 98 terbelah pada penyikapan terhadap Orde Baru. Dasar perbedaaan adalah pada cara dan kedalaman melihat. Pada pendekatan Simbolik (artifisial) vs Substansial (isi).

Eksponen 98-simbolik, akan terjebak pada cara pandang seseorang sebagai orba atau tidak tergantung pada figure (lama atau baru). Adapun eksponen 98-substansial melihat hal secara lebih dalam dan tajam pada substansi (isi). Penolakan mereka adalah pada substansi kejahatan Orde Baru, yaitu pelanggaran HAM dan KKN. Seorang tokoh lama dapat menjadi tokoh reformis. Sebaliknya tokoh baru boleh jadi memiliki karakter orba, pelanggaran HAM dan/atau KKN.

Dalam pandangan eksponen 98-substansial, mengusung sentiment orba secara simbolik adalah usang dan telah kehilangan relevansi substansialnya. Sebab Jokowi ternyata diusung oleh partai yang mereka telah anggap gagal menuntaskan keadilan HAM zaman Orba ketika rakyat mempercayakan partai ini menggenggam kekuasaan. Ironisya, partai bahkan merekrut tokoh-tokoh yang terindikasi terlibat pelanggaran HAM di masa lalu dalam pemerintahannya. Kedua, karena di era partai ini berkuasa, tindak KKN tidak berhenti bahkan dinilai sebagian kalangan semakin marak.

Kenyataan ini menyebabkan eksponen 98-substansial menilai agenda reformasi penuntasan HAM dan pemberantasan KKN telah “DIBAJAK” juga oleh tokoh-tokoh yang secara simbolik terlihat baru. Akibatnya, fenomena “penak zamanku tho?” menjadi marak. Fenomena aktivis 98 yang “diamankan” di masa orde baru justru berbalik mendukung Prabowo, yang oleh eksponen 98-simbolik sulit dipahami.

Saya yang mewakili alur pikir eksponen 98-substansial, mengajak seluruh eksponen 98, utk melihat dan mengangkat tema diskusi secara lebih cerdas dan substantif, mendalam dan tajam. Meninggalkan retorika lama dan bergerak dalam konteks demokrasi modern.

Dalam perdebatan agar kita dapat lebih fokus mengulas kapasitas calon pemimpin bangsa sesuai tantangan kekinian bangsa:
keutuhan dan kedaulatan NKRI, kemampuan diplomasi internasional, modernisasi ekonomi, kepemimpinan yang kuat serta berkomitmen tinggi pada kebebasan berpendapat, anti-diskriminasi, penjagaan nilai-nilai kemanusaian dan pemberantasan korupsi.

Prayudhi Azwar, Perth, 15 Juni 2014
5:26 AM, di pagi yang cerah dan mendamaikan hati.

Prayudhi Azwar
Lembut Hatinya telah Ajarkanku

Terhenyak membaca kalimat luhur ini. Yang meluncur lugas dari pribadi yang terbingkai sebagai tak punya hati. Sosok kejam di dalam sejarah bangsaku. Sejarah yang berisikan kisah-kisah agung perjuangan pembebasan. Dari keterjajahan. Dari pengurasan sumberdaya alam. Dari keterpurukan dalam kebodohan dan hilangnya harga diri.

Kalimat agung ini mengalir saat Prabowo memimpin episode pembebasan anak-anak manusia. Terjadi tahun 1996, tepat. 2 tahun sebelum dirinya dinistakan dalam tragedi fitnah terbesar dan terlama yang pernah negeri ini ciptakan untuk satu anak bangsa.

Dalam tatapannya yang dalam penuh makna, lelaki tegar itu menitikkan air mata. “Kita semua adalah ciptaan Tuhan. Kita semua sama. Semua punya keluarga dan sanak famili. Kita punya ibu yang telah melahirkan kita. Kelompok penyandera itu juga punya ibu dan dan keluarga”.
“Karena itu, dalam melaksanakan operasi pembebasan sandera, upayakan jangan ada korban, usahakan ditangkap saja. Apapun yang kita lakukan disini, jangan sampai ada nyawa yang melayang, dari manapun mereka”.
“Jika ada perempuan dan anak-anak disekitar daerah itu, amankan dan kita bina kembali ke masyarakat, karena mereka adalah saudara-saudara kita”. Begitu tegas penuh wibawa sang komandan tempur kepada pasukannya. Sesaat sebelum memulai operasi pembebasan yang mengharumkan nama Indonesia itu.

Baginya, nyawa setiap manusia teramat berharga. Nilai kemanusiaan sangat utama. Meski itu dalam situasi peperangan paling mengerikan dibelantara hutan terlebat sekalipun. Baginya, nilai satu “nyawa” pasukannya setara nilai satu “nyawa” para sandera, dan bahkan satu “nyawa” mereka yang bergabung dalam aksi separatisme Organisasi Papua Merdeka (OPM) sekalipun. Semua dihargai, dijaga, dinilai.

Nilai yang hanya akan terlahir dari pribadi yang memiliki akar kecintaan luar biasa kepada segenap anak-anak bangsanya. Tak peduli dari latar belakang apapun ia berasal. Tidak ada yang membedakan manusia, satu dengan yang lain baginya. Semua sama, setara dihadapan Tuhan yang menciptakannya. Maka sejarah lalu menorehkan satu lagi tinta emas prestasi gemilang. 9 dari 11 sandera itu selamat. Setelah tersandera 129 hari lamanya.

Sejarah seringkali ditutupi oleh kepentingan yang bertentangan dengan nilai kebangsaan. “Saya tahu dibalik itu ada orang lain. Sama seperti saya. Saya victim, korban. Kalau saya bilang, berapa orang saya buka untuk bisa balas dendam. Jadi diam sajalah. Kita kembalikan saja kepada Yang Diatas. Kalau kita bicara dendam, kapan habisnya?” kata mantan Presiden RI, Megawati, 21 Juni 2009.
Kebenaran pasti akan terkuak. Kebusukan walau setitik akan terbongkar. Meskipun Prabowo tidak lantang bersuara membela diri, orang-orang yang tulus hatinya mendekat, membelanya.

Prabowo, boleh jadi seorang psikopat yang gila bagi ketidakadilan, bagi aksi pengkhianatan dan ketidakjujuran di negerinya. Tapi rekam jejaknya adalah inspirasi bagi nurani.

Maka fitnah tak mampu membunuh karakternya. Meski menerpa dalam gelombang seolah symphoni tak berkesudahan. Fitnah itu makin membesar, setiap dirinya mendekat ke jalur kekuasaan. Karena kejujurannya menggetarkan hati para pengkhianat negeri. Keluhuran budinya melelehkan nyali-nyali para anarki. Keteguhannya menjadi inspirasi pagi para pencinta kemanusiaan dan nurani.

Karena itulah, orang-orang yang terbukakan semakin berbaris rapi berjalan mengiringi perjuangannya untuk negerinya. Elemen-elemen yang terserak, dari ujung ekstrim yang satu ke ujung ekstrim yang lain kian merapat kepadanya. Karena setiap kata-katanya mewakili rekam jejak dan kualitas pribadinya.

“Siapa yang mengaku orang Indonesia, yang hidup di Indonesia, yang ingin berkarya di Indonesia, ingin membela Indonesia, adalah SAUDARA saya. Jadi WAJIB saya melindunginya, membantunya, mempertahankan hak-haknya. Ini adalah SUMPAH saya kepada diri saya sendiri dan kepada Tuhan”

Maka saksikanlah. Tak lama lagi, sejarah gemilang negeri ini akan mencatat. Sosok yang tegar diterpa fitnah paling berat, di tempa alam paling keras dan teruji keikhlasan baktinya ini, akan mengantarkan negeri ini ke level peradaban yang belum pernah kita raih sebelumnya.

Maka sudah seharusnya setiap diri kita bertanya, dimana semestinya kita berdiri? Apa yang mestinya yang kita perjuangkan bagi negeri tercinta ini?

Prayudhi Azwar, Perth, 14 Juni 2014
5:48 AM, dilembutnya pagi yang menyapa hati.
Prayudhi Azwar berbagi foto Prabowo Hatta.
Suka sekali dgn org yg suka membaca buku. Artinya cara pandang dan wawasan nya terbuka. Demokratis. Apalagi mampu menguasai 4 bahasa asing (Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman) dan 2 bahasa lokal (Indonesia dan Jawa). Hebat nya, dikuasai ditengah kesibukannya berlatih dan membela negara. Pastilah Ia seorang pembelajar dgn pribadi ulet dan tangguh. Pantas memimpin satu bangsa yg besar.
7 Fakta Menarik Tentang Prabowo

Buku-buku yang membahas tentang Jokowi sangat banyak. Sementara, buku tentang Prabowo sangat sedikit. Beruntung, saya menemukan sebuah buku yang menarik tentang Prabowo di perpustakaan Freedom Institute Jakarta. Judulnya”Prabowo: Dari Cijantung ke Istana” karya Femi Adi Soepeno. Dari buku tersebut, saya mendapatkan beberapa informasi yang menarik tentang Prabowo.

Pertama. Prabowo sangat mencintai buku. Dalam keluarganya dikenal sebagai anak yang paling doyan membaca buku. Dari koleksi perpustakaan milik pribadi di kantor maupun di rumahnya, Prabowo paling menyukai buku sejarah dan militer. Saat ke luar negeri, dia selalu banyak membeli buku. Buku dalam bahasa asing pun ia lumat.

Kedua. Prabowo, selain menguasai bahasa Inggris, dia juga menguasai bahasa Prancis, Jerman dan Belanda. Penguasaan bahasa ini wajar karena Prabowo, pada masa kecilnya dihabiskan di luar negeri. Singapura, Inggris, Hongkong, Swis dll.

Ketiga. Punya otak yang cemerlang. Saat berusia 16 tahun (SMA) di American School di London, UK, dia terkenal rewel di kelasnya. Untuk itu dia “dihukum” dengan dinaikkan kelasnya ke satu level lebih tinggi. Hasilnya, dia lulus lebih muda ketimbang teman-temannya. Kemudian, selepas SMA diterima sebagai mahasiswa di 3 universitas di Amerika Serikat, salah satunya Universitas Colorado.

Keempat. Dilantik jadi Komandan Kopasus pada usia 44 tahun. Pesan ayahnya waktu itu “Sing eling dan jangan lupa daratan, sekarang kamu pengabdi rakyat dan jangan sekali-kali rakyat menjadi pengabdi kamu”

Kelima. Profesional saat menjabat Danjen Kopassus, dia berhasil membereskan pasukannya dari kegiatan-kegiatan yang tidak efisien. Misalnya mengefisienkan latihan-latihan dan melarang perwira-perwiranya main golf. Padahal, permainan ini digemari oleh para Jenderal. Nyatanya, semua tunduk pada Prabowo. Dia juga sangat memperhatikan kesejahteraan anggotanya. Saat menjadi Danjen Kopassus, fakta menunjukkan bahwa kesejahteraan anggota Kopassus lebih baik ketimbang tentara lainnya.

Keenam. Tentang tuduhan pengkhianatan keluarga Cendana. Ayahnya Soemitro bercerita. Empat hari sebelum Soeharto mundur, ketika mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Prabowo ditanya oleh salah seorang anak Soeharto. Pertanyaannya: Mau diapakan mahasiswa bila mereka berdemonstrasi. Jawabnya, mereka tak bisa ditembak. Lalu, apa solusinya? Prabowo mengatakan, Presiden mesti mengundurkan diri. Kemungkinan kedua, Presiden harus melakukan kompromi sedikit dan harus ada perubahan kearah reformasi. “Itu yang dianggap sebagai pengkhianatan oleh Keluarga Cendana” Tegas Soemitro mengomentari tuduhan pengkhianatan puteranya.

Ketujuh. Saat Prabowo Kehilangan jabatan. Tak ada yang peduli terhadapnya. Kecuali (salah satunya) Pangeran Abdullah (sekarang Raja Yordania). Saat kehilangan jabatan itu dan setelah tabokan datang bertubi-tubi kepada Prabowo, Soemitro menasehatinya “Pada hari-hari gelap, jangan pernah berharap kepada orang yang pernah kamu tolong. Tapi akan selalu datang bantuan dari siapa saja. Benar saja, ada telepon dari Amman. Pangern Abdullah bilang “What can I do? You’re my Friend.” Gayung bersambut, telepon dari Pangeran Abdullah ini kemudian menjadi tiket emas bagi Prabowo untuk terbang ke Yordania. Selama di Yordania, Prabowo ditawari untuk bermalam di salah satu istana kerajaan. Tetapi Prabowo menolak. Ia lebih memilih tinggal di apartemen yang berdinding batu gurun warna abu-abu ketimbang berada di istana. Pangeran Abdullah sendiri memandang Prabowo sebagai seniornya. Dia punya cerita bagaimana prajurit Kopassus berhasil mencapai puncak tertinggi di Dunia, Mount Everest, Pangeran Abdullah mengikutinya dengan antusias. Dia terharu ketika mendengar cerita bahwa suara takbir diteriakkan pertama kalinya disitu.

Nah, saya kira, beberapa hal di atas bisa menjadi sedikit referensi dalam menentukan pilihan pada pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Tentu, semua pilihan tergantung Anda (Yons Achmad/Wasathon.com).

anda suka tulisan ini? silahkan share di halamanmu. thanks
— bersama A Go's Go's.

Prayudhi Azwar berbagi tautan.
Pidato akademis yang sangat bernas ini perlu menjadi inspirasi dan contoh bagi kita semua, anak-anak bangsa.

Tampilan yang sangat presidential look, dengan kapasitas diplomasi internasional yang berkelas. Merepresentasikan karakter cerdas, dinamis dan bersemangat dari bangsa Indonesia. Berwibawa tapi tidak kaku.

Penuh gagasan tanpa kehilangan selera humor yang jujur, sehat, tanpa mempermalukan diri. Topiknya meliputi kedaulatan bangsa, ketahanan ekonomi, kesenjangan, solusi bagi kemiskinan dan sangat banyak lagi. Memproyeksikan karakter dan nilai-nilai yang dianut bangsa. Nilai lebihnya: pidato ditampilkan natural tanpa text dengan penguasaan Bahasa Internasional yang sempurna.

Sosok cerdas-tegas-bernas ini apakah yang terpantas memimpin Indonesia ? Adalah keputusan setiap individu kita yang menentukan arah peradaban bangsa yang besar ini.

https://www.youtube.com/watch?v=LKgr0WxAOnA

Prayudhi Azwar berbagi status Shandy Kevin Setiawan.
Disimpan, sbg catatan sejarah Indonesia menuju era demokrasi.
Hanya, sebagai laki-laki ASLI, sy senang ada pemimpin tegar yg tanpa ragu berkata: "Saya pernah bertahun-tahun menjadi prajurit. Saya pertaruhkan jiwa raga saya di daerah yang susah, membela bangsa negara tanpa pamrih. Saya terakhir jadi jenderal, diberi pangkat bukan hadiah. Saya bukan jenderal di belakang meja, bukan jenderal di kota, bukan jenderal korupsi, bukan jenderal yang meninggalkan tugas, bukan jenderal pengecut! " kata Prabowo http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/06/11/172532/2605517/1562/di-depan-ribuan-pendukungnya-prabowo-saya-bukan-jenderal-pengecut?991101mainnews
ini pengakuan mantan Jendral Purnawirawan TNI Letjen (Purn) Johanes Suryo P. atas manuver Jendral senior yg dilancarkan ke Prabowo :
1. Banyak jendral senior yg iri dg kegeniusan Prabowo. saat jd Prajurit dilngkungan TNI, Prabowo lah prajurit yg berprestasi, hingga dikirim utk pembebasan Timor-Timur.
2. Banyak jendral senior yg cemburu dg kesuksesan Prabowo, seperti Agum Gumelar, Wiranto yg jauh kalah populer dg Prabowo. makanya para Jendral Senior memanuver Prabowo dg tuduhan2 tdk mendasar, Pelanggar HAM lah, Prabowo di pecat tidak hormat lah, beredar surat pemecatan yg seharusnya itu jd dokumen rahasia negara, yg disebarkan dr kubu TNI sendiri yg melukai institusi TNI.
3. Aktifis HAM Munir setelah "membeberkan fakta, bahwa Prabowo tidak melanggar HAM, tp para jendral atasannya lah yg harus bertanggung jawab", setelah membuat kesaksian, Munir tewas dg misteri.
4. Para jendral senior takut, bila Prabowo jd Presiden, kelak Prabowo akan membuat buku putih yg isinya membongkar para Jendral yg terlibat dlm kerusuhan 98.
5. Para purnawirawan Jendral TNI yg kini pecah gabung ke kubu Jokowi-JK itu adalah jendral yg tak patuh pada korsa, berjiwa komunis dan tdk berjiwa ksatria. mereka lah yg sejak dulu tak suka dg Prabowo yg jenius dan penuh prestasi.
6. Saya sebagai mantan di tubuh TNI merasa terhina atas beredarnya surat dokumen rahasia yg menuduh Prabowo melanggar HAM dan di pecat tidak hormat,di surat ini tdk ada disebutkan Prabowo melanggar HAM, seharusnya atasan Prabowo lah yg harus bertanggung jawab. soal Prabowo di pecat tidak hormat, itu jg mengada-ngada, Prabowo itu diberhentikan secara hormat. saya kecewa dg teman-teman senior saya yg kini memanuver utk menjatuhkan Prabowo demi kepentingan kelompok politik.

"Di kutip dari dialog bpk Letjen (Purn) Johanes Suryo P."

Prayudhi Azwar berbagi status Cak Ijo.
Hanya yang masa kecilnya hobi baca buku Kho Phing Ho dan pencinta film Kungfu Master yg dipastikan menikmati status ini
Kungfu Master-kah Prabowo?

Yang aku belum tau pasti soal Prabowo Subianto itu... di mana dia belajar kungfu? Sebab dalam menghadapi Pilpres 2014, sepertinya ia sedang menerapkan kombinasi filosofi jurus 9 Matahari, jurus 9 Bulan dan Tai Chi.

Tiga jurus itu, dalam Kungfu merupakan jurus kuno yang langkah karena tergerus jaman. Begitu dahyatnya jurus ini, hanya orang-orang yang konsisten yang mampu mempelajari.

9 Matahari adalah jurus yang mengandalkan energi Yang (panas). Energi panas inilah yang membuat lawan silau, gerah, bahkan melakukan reaksi membabi buta. Dengan demikian lawan akan kehilangan keseimbangan, mati langkah, dan akhirnya bisa dirobohkan semudah kita merobohkan lidi berdiri.

9 Bulan adalah jurus yang mengandalkan energi Yin (dingin). Energi dingin ini yang membuat lawan tidak dapat bergerak, menggigil bahkan beku. Dan pada akhirnya si empunya jurus ini bisa mengalahkan lawan tanpa kekerasan, seperti kita melenyapkan es batu dengan hanya memasukkan dalam segelas teh dan meminumnya sambil bermain catur.

Tai Chi adalah jurus yang mengandalkan keseimbangan Yin-Yang. Ia menunjukkan gerakan-gerakan yang sama sekali tidak mencerminkan ketangguhan. Membuat lawannya geregetan dan pingin menjitak, tetapi ketika menjitak luput. Geregatan pingin mukul, tapi ketika mukul malah salah sasaran kena tembok. Makin geregetan pingin mukul pakai kayu, tapi ketika dilakukan kayunya malah kena teman sendiri. Si lawan akhirnya sibuk bertarung dengan sekutunya sendiri.

Coba deh amati sikap dan gerakan politik Prabowo selama ini, misalkan:

- Dalam konteks jurus 9 Matahari.
Suatu ketika ia terekam kamera naik kuda dengan keris terselip selendang di pinggang. Ketika kubu rivalnya mulai sibuk posting di jejaring sosial dengan kalimat-kalimat sindiran; "Presiden kita skg ga perlu kuda broo...", dst.. dst.., Prabowo malah pamer naik heli. Pendukung rivalnya pun mereaksi dengan memposting foto-foto rivalnya naik sepeda, naik bajaj, dst.. dst.. Eh, baru saja publik dibuat terkesan kesederhanaannya, esoknya beredar foto rival Prabowo malah naik jet mewah. Kesan yang berkembang kemudian adalah: ternyata kesederhanaan rival Prabowo tak lebih pencitraan, karena nyatanya bisa sewa jet mewah dengan nomor lambung istimewa.

- Dalam konteks jurus 9 Bulan
Prabowo memilih diam seribu basa meski menghadapi tuduhan sebagai dalang penculikan mahasiswa 1998, Jenderal pecatan, dst.. dst. Ia cukup menjawabnya, dengan:

Sikap wellcome-nya terhadap Wiranto, mantan Pangab yang diduga mengusulkan pemecatan dirinya kepada Presiden Habibie, bahkan makin menunjukkan keakrabannya dengan mantan Presiden BJ Habibie, yang memberhentikannya dengan hormat dan hak pensiun.

Opini yang berkembang di kubu netral, Prabowo bukanlah yang bertanggung jawab atas penculikan mahasiswa 1998. Tetapi sebaliknya justru sebagai korban politik adu domba saat itu. Ditambah bukti-bukti lain yang menguatkan, ternyata sebagian korban penculikan 1998 malah berada di barisannya bahkan mati-matian membelanya.

Prabowo juga diam ketika menghadapi olok-olok sebagai Capres tanpa istri. Eh beberapa hari setelahnya publik dibuat terharu, ketika membaca berita mantan istrinya juga mati-matian membelanya. Bahkan saat nyekar di makam Soeharto dan Ibu Tien, Prabowo-Mbak Titiek terlihat tetap mesra. Prabowo menjadi sosok bapak luar biasa. Menjadi sosok duda yang menjaga hati mantan istri dan anaknya dengan tidak menikah lagi bahkan masih menjalin kerukunan sebagai bentuk siliahturahim dan menjaga ukkuwah. Begitu juga Mbak Titiek. Rumah-tangga mereka memberi suri tauladan bagaimana seorang bapak dan seorang ibu seharusnya bersabar menghadapi cobaan hidup setelah menjadi korban politik adu domba. Publik bersimpati.

- Dalam konteks jurus Tai Chi
Kepiawaian Prabowo mengelola keseimbangan Yin-Yang membuat rivalnya terpancing makin melakukan serangan. Dan serangan-serangan itu berpotensi menjadi bumerang, misalkan:

Ketika tuduhan-tuduhan sebagai pelanggar HAM tidak berhasil membuat elektabilitas Prabowo menurun, rival Prabowo secara terang-terangan mengangkatnya dalam forum debat capres-cawapres yang ditonton jutaan publik. Prabowo menanggapi 'pasal geregetan' rivalnya ini dengan kalimat pendek: "Bapak silakan tanya kepada atasan saya".

Saat itulah, serangan rivalnya berbalik menjadi peluang untuk mengklarifikasi siapa yang semestinya bertanggung-jawab pada pelanggaran HAM 1998. Prabowo tidak perlu menuduh dan menyakiti mantan atasannya, karena yang dia lakukan hanya menjawab pertanyaan. Dan publik tahu, atasan yang dimaksud Prabowo berada dalam barisan rivalnya.

Akhirul kata, saya hanya kepingin bertanya: Pak Prabowo master kungfu sampeyan siapa. Aku pingin jadi muridnya. Aku jangan disuruh tanya ke mantan atasan sampean lho..

Prayudhi Azwar
Kutatap tulus cinta dimatanya

Reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh diluar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.

Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: "tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009"? Atau bertanya kembali, "kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?"

Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: "tanyalah kepada atasan saya".
Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri.
Usai debat, beliau bukan hanya hangat menyambut memeluk rivalnya. Juga saat ditanya wartawan, dengan ringan dia menjawab: "saya harus mau diserang".

Dia juga tidak keberatan pesaingnya berbangga hati menunjukkan prestasi terpilih menjadi kepala daerah. Padahal kita semua tahu bahwa dialah orang yang pertama mengusungnya.

Sejujurnya, tak banyak saya melihat pribadi dengan karakter yang seikhlas dirinya, saat ini. Bathin saya seolah menangkap kilau kepribadiannya. Kepribadian yang akan mampu menyatukan elemen-elemen yang terserak di negeri ini.

Sejarah telah mencatat pengorbanannya untuk bangsanya. Mempertahankan keutuhan NKRI dengan darah dan nyawanya. Dan itu terjadi berulang kali. Di pertempuran di Timor-Timur, dalam misi impossible pembebasan sandera sipil di Mapenduma, penangkapan 2 agen berkulit putih tahun 1984, yang menyulut disintegrasi Papua, dan dalam berbagai operasi tempur berat lainnya. Dia tak tonjolkan semua bakti yang telah ditorehkan untuk ibu pertiwi yang dicintainya, dengan sepenuh jiwa raganya.

Karena itulah, keteguhan kata-katanya memberi makna yang dalam bagi yang memahami bersih nuraninya. "Saya sekian tahun adalah abdi negara, yang membela HAM. Mencegah kelompok radikal mengancam hidup orang-orang yang tidak bersalah,"

Lalu dimana kita? Dimana nurani?
Kenapa kita rakyat sipil, yang katanya lebih beradab, dan yang telah dijaga hak hidup dan keleluasaan menjalankan berbagai jenis usaha, masih tetap terdorong memojokkannya. Tidak cukupkah kita menyaksikan betapa para jenderal-jenderal senior yang semestinya berjiwa korsa itu terus menuduhnya sebagai psikopat, gila, pelaku bom natal dan membebankan dosa satu institusi TNI tahun 1998 dipundaknya, seorang sendiri.

Tidakkah hati kita tergerak, untuk sekedar menghargai lelaki yang teguh ini? Mudah-mudahan nurani kita pada akhirnya bisa memaknai semua ini.

Perth, 10 Juni 2014
Ditulis dikeheningan winter, 1:27 AM dinihari
 
Prayudhi Azwar berbagi foto El'laa Bafadhal.
Tak kenal maka tak sayang.
Tak dipelajari maka disalahpahami.
Prabowo Sang Fenomenal

Tanya pada seluruh pasukan Kopassus TNI AD, siapa Komandan Jenderal pasukan elite Indonesia yang paling populer dan disegani hingga kini? Jawabnya pasti Prabowo Subianto!

Politisi PKS Fahri Hamzah, dalam akun Twitternya Kamis (22/05/2014) menulis “Kita terlalu mengenal Prabowo…Tapi belum terlalu mengenal Jokowi”.

Pernyataan Fahri ada benarnya. Hujatan miring kepada mantan menantu Presiden Soeharto itu karena memang rakyat Indonesia terlalu sangat mengenal sosok Prabowo, yang dikesankan sebagai sosok temperamental oleh rival-rivalnya.

Namun Stanley A Weiss, pendiri lembaga Business Executives for National Security di Washington, Amerika Serikat, menyebut Prabowo adalah siswa yang cerdas dan paling menonjol yang pernah dilatih di Fort Benning, sebuah lembaga pendidikan pasukan khusus militer di Amerika Serikat, bersama rekannya Raja Abdullah II dari Yordania.

Danjen Kopassus Mayjen Prabowo Subianto dikenal sebagai komandan Kopassus paling fenomenal dan terpopuler hingga kini.

Dalam testimoninya di Huffington Post tahun 2012 silam, Weiss mengatakan, ia mendengar sendiri pengakuan Jenderal Wayne Downing, pelatih utama di Fort Benning, yang menyebut diantara para tentara asing, hanya Prabowo dan Abdullah yang bisa menarik perhatiannya.

“Dia mengatakan pada saya, dari semua tentara asing yang pernah dia latih, kedua orang itu saja yang paling menonjol,” kata Weiss.

"Dua orang itu adalah Abdullah II bin Al-Hussein, kini Raja Yordania dan satunya lagi adalah Prabowo Subianto, mantan komandan pasukan khusus Indonesia dan kini calon presiden Indonesia 2014,” tegas Weiss.

Karir militer “The Rising Star” Prabowo terhenti dengan kisruh politik dalam negeri, dimana ia dituduh terlibat dalam aksi penculikan dan dalang kerusuhan Mei 1998, yang hingga kini tak pernah bisa dibuktikan.

Peristiwa politik kejatuhan Presiden Soeharto turut meredupkan sinar terang dalam karir militer mantan suami Titiek Soeharto ini. Pemberhentian dirinya dari militer dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal, hingga kini tak pernah diselesaikan di pengadilan.

Hingga kini institusi TNI tak pernah secara terbuka menyebut pemberhentian Prabowo karena apa. Hanya dugaan-dugaan buruk yang dialamatkan kepada Prabowo, dalang penculikan aktivis tahun 1997, dalang kerusuhan Mei 1998 dan percobaan kudeta kepada Presiden Habibie.

Tapi, dunia dan Indonesia tak pernah lupa, bahwa prajurit tempur yang kini menjadi calon presiden dari Partai Gerindra itu pernah membuat harum nama negara Indonesia dengan keberhasilannya memimpin operasi “mission impossible” pembebasan sandera tim ekspedisi Lorentz tahun 1996 di Mapenduma, Papua, yang memakan waktu hingga berbulan-bulan.

*sumber: http://www.jurnal3.com/prabowo-subianto-capres-fenomenal-terlalu-dikenal-publik/

Prayudhi Azwar
Saya SUNGGUH KECEWA kpd mantan jubir kepresidenan era Gusdur, Mr. Wimar Witoelar. Dalam wawancara live di televisi ABC (lateline) Australia telah mempermalukan bangsa Indonesia, a.l.:
1. Mempermalukan capres RI (Joko Widodo) sebagai orang yang bodoh kepada pihak asing:
"But to compare him to Obama would be a far stretch of the imagination. Obama is educated, is witty, is smart, is everything that Jokowi is NOT."

2. Menyebarkan berita fitnah di LN (Australia) bahwa capres RI (Prabowo) sbg pelanggar ham. Berarti Wimar telah merendahkan dan men-delegitimasi KPU sbg lembaga negara yang sah dan berkedudukan hukum yang kuat dalam memverifikasi keabsahan Capres RI:
"He has admitted to organising the kidnapping of - I forget what it was, maybe 20 people, and actually having them returned, but there have been about a few more people who have disappeared that he does not take the blame for, but who have not reappeared."

Indonesia memang membutuhkan pemimpin yang cerdas dan berkepribadian kuat serta penuh gagasan otentik utk bawa indonesia ke level negara maju. Tapi MERENDAHKAN kecerdasan satu capres apalagi MENFITNAH capres lainnya di luar negeri adalah tindakan tidak nasionalis dan tidak dapat diterima dalam alam demokrasi yang beradab.
http://www.abc.net.au/lateline/content/2014/s4019860.htm

Sbg catatan, fitnah yg keji juga pernah disematkan ke Prabowo Subianto dgn tuduhan pelaku bom natal, saat Wimar menjabat jubir presiden Gusdur.
https://www.youtube.com/watch?v=7qKSXYP3BXU

Prayudhi Azwar berbagi foto Prabowo Subianto.
Mungkin sy termasuk orang2 sibuk, merasa tahu dan tak menyempatkan waktu meneliti ulang stigma negatif yg dilekatkan (jahat, psikopat, gila) kepada lulusan terbaik TNI dan sosok yg telah berulang kali mempertaruhkan jiwanya utk NKRI selama ini. Alangkah jahat saya tanpa sadar membiarkan diri saya membangun prasangka buruk ttg sosok yg cerdas, yg sangat mungkin berjiwa lebih patriotis dibandingkan diri saya yg belum berbuat banyak utk negeri sendiri.
Foto ini diambil tahun 1993. Tepat 20 tahun yang lalu. Kolonel Prabowo Subianto.

Jika sahabat ingin mengenal saya lebih dekat, sahabat saya Fadli Zon telah membuat sebuah film dokumenter mengenai rekam jejak saya berjudul "Sang Patriot".

Film ini dapat sahabat saksikan di www.SangPatriot.com. Semoga bermanfaat.








Rosululloh SAW Bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya".
(HR. Imam Muslim)

Habib Umar bin Hafidz:"jadikanlah televisi,handphone,internet dan alat-alat lainya sebagai pelayan dan pembantu untuk agamamu ,jika tidak,alat-alat itu akan menghancurkan dirimu sedangkan engkau akan tertawa karena tidak menyadarinya,ia akan merusak hatimu,akalmu,akhlakmu,dan fikiranmu,tanpa engkau menyadarinya,engkau tertawa bahagia padahal alat-alat itu telah merusak hal-hal paling berharga yang kau miliki".

Sayangilah Ibu dan Bapak kita Sampai Akhir Hayat Mereka     

You might also like:
TERJEMAHAN  ALQUR’AN 30 JUZ
3.     SURAT 4. AN NISAA'
5.     SURAT 6. AL AN'AAM
6.     SURAT 7. AL A'RAAF

                                    
                                       

PENTING : jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon do'akan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa Keluarga kami, dan memanjangkan umur keluarga kami dalam ketakwaan pada-Nya. Mohon do'akan juga supaya Allah selalu memberi Keluarga kami rezeki yang halal,melimpah,mudah dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya,
melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

1 komentar:

  1. tulisan prayudhi azwar menyadarkan sy betapa prabowo luar biasa hebat.sy tdk pernah tertarik dg politik sebelumnya.tp ini lain.sy meneteskan air mata berkali2 membacanya.semoga Allah SWT memberi kesempatan prabowo hatta memimpin NKRI tercinta ini.

    BalasHapus