Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 28 Januari 2015

Prayudhi Azwar : Setia itu pada Negara, bukan pada Pelayan Negara



                                    
                                       


Prayudhi Azwar : Setia itu pada Negara, bukan pada Pelayan Negara
~Setia itu pada Negara, bukan pada Pelayan Negara~
Setia membela sampai mati itu:
kepada NEGARA,
kepada BANGSA,
kepada RAKYAT Indonesia yang masih sengsara
.
Bukan kepada Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah. Jangan mengagungkan mereka karena mereka hanyalah PELAYAN rakyat.
HAMBA SAHAYA yang harus tunduk patuh membela kepentingan negara.

Bila mereka ingin memperkaya diri, berhentilah segera menjadi pelayan negara.
Jadilah pengusaha, jadilah karyawan swasta atau lainnya.
Itulah cara ksatria mencari kaya,
bukan cara benalu mengisap inangnya.

Bila mereka melenceng dari amanat konsitusi, khususnya UUD pasal 33,
artinya mereka kumpulan pengkhianat negara.
Bila mereka korup, menguras atau memperdagangkan aset negara,
maka mereka hanyalah kawanan perampok negara.
Bila kebijakan mereka makin memperburuk rakyat yang sudah sengsara,
maka sejatinya mereka penghisab darah, penguras airmata rakyat Indonesia.

Jika penyimpangan itu terjadi,
dan kamu melihatnya,
dan kamu bungkam dan diam,
maka dapat kupastikan,
cintamu pada dirimu menutupi cintamu pada negaramu.

Rasa cinta pada negara dan bangsa,
akan mampukan kamu bernalar dan tajam,
akan sanggupkan kamu berbicara dan kritis,
akan gelorakan semangat bersungguh membenahi dirimu,
untuk kau sumbangkan dalam perjuangan
mengembalikan kehormatan dan harga diri republik ini yang hilang,
memberikan sejahtera pada rakyat bangsamu, yang masih banyak sengsara.

Cinta tulusmu, akan jadi energi yang gelorakan patriotisme-mu.
Perth, 3 Januari 2015
Prayudhi Azwar





Prayudhi Azwar : Saatnya Menghentikan Budaya Money Politik


~Saatnya Menghentikan Budaya Money Politik~
Bukannya kagum, saya justru miris dan sedih melihat fenomena pejabat publik membagi-bagikan uang dijalanan. Selain tidak mendidik juga malah menimbulkan kecemburuan dikalangan rakyat. Bila tidak dilakukan pembuktian terbalik yang memadai, pemerintahan justru dapat diduga melakukan tindak PERSONALisasi dana negara untuk keperluan menggelembungkan citra personal. Dan, tentu ini masuk kategori money politik, yang tidak etis bila dicontoh pejabat lain di daerah-daerah.
Wajib kita ingatkan, bahwa produk pemerintahan itu mestinya berupa kebijakan. Kebijakan yang mestilah bertujuan ganda, meningkatkan pendapatan sekaligus meringankan beban hidup rakyat yang masih miskin, secara merata dan sistematis.
Dana-dana kompensasi dan bantuan sosial mestinya diberikan kepada rakyat secara terstruktur dan sistematis, melalui lembaga negara yang dibentuk secara formal. Disalurkan ATAS NAMA NEGARA, karena itu dana negara dan hanya negara yang punya hak memungut pajak.

Seperti di Australia, semua orang mengenal centerlink. Lembaga negara yang memiliki sistem pendataan yang terus disempurnakan secara sistematis sehingga menjadi sangat akurat tentang statistik dan detil informasi tentang rakyatnya yang miskin. Dana bantuan negara disalurkan melalui sistem perbankan langsung ke rekening-rekening individu rakyatnya yang miskin (Pemerintah dan OJK bisa membuatkan rekening khusus tanpa biaya adminstrasi untuk ini).
Dengan demikian, selain sistematis dan akurat serta tidak ada lagi kasus hak rakyat miskin dipotong aparat, audit atas penyaluran dana bantuan negara ini dapat mudah dilaksanakan karena tercatat dalam sistem perbankan.
Dibandingkan bagi-bagi uang dijalanan, hal fundamental yang mestinya dilakukan pemerintah adalah memutar otak bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat. Daya beli meningkat dengan cara menurunkan biaya hidup bagi rakyat miskin atau menambah pendapatan keluarga miskin. 


Penetapan kenaikan harga (administered price) seperti BBM, TDL, PBB, Tiket Kereta Ekonomi, Gas LPG, dll, secara serentak benar-benar membebani dan menggerus secara dalam keuangan keluarga masyarakat kelas menengah ke bawah, yang justru mayoritas di Indonesia.
Kebijakan seperti ini tidak hanya akan membuat kemiskinan semakin dalam dan persisten. Juga dapat memperpendek umur Pemerintahan. Karena kebijakan BBM sebagai contoh, suka atau tidak suka, memiliki dimensi pelanggaran konstitusi.
Keputusan MK tanggal 15 Desember 2004 terang menolak menyerahkan penentuan harga BBM (dhi. Premium ) ke mekanisme pasar. Sedangkan kebijakan terbaru tanpa konsultasi justru menyerahkan harga kepada mekanisme pasar. Ditambah, ada klausul dalam UU APBN yang melarang kenaikan BBM secara sepihak, saat harga minyak dunia dibawah $105/barrel. Namun yang pubik saksikan, kenaikan premium menjadi Rp8500 (minus Rp900), terjadi saat harga minyak dunia sedang turun ke $85/barel, dan bahkan terus menukik hingga $50/barel.


Jika pemerintah benar-benar peduli dengan nasib rakyat Indonesia, maka wujudkanlah dalam bentuk kebijakan negara yang memihak rakyat. Sudah saatnya bagi-bagi uang negara secara tunai dijalanan untuk disorot media dihentikan, karena sangat tidak elegan dan juga melanggar etika pemerintahan.
Jika Pemerintah ingin menjadi pahlawan, maka jadilah jadilah pahlawan sejati. Tutuplah kebocoran dan berikanlah seluruh konsesi-konsesi tambang yang jatuh tempo ke Pertamina, bukan ke perusahaan asing. Berikanlah project-project infrastruktur kepada BUMN karya. Teruskanlah pembelian alusista ke BUMN stategis: DI, PAL, Inti, Pindad, Dahana, dan lain-lain. 

Jika memang pemerintah mencintai rakyat dan negeri ini, sudah saatnya akrobat populisme diganti dengan pola memerintah yang cerdas dan efektif. Mulailah dengan menghentikan penyebaran budaya dan perilaku money politik. Bangunlah sistem distribusi bansos secara online dan akuntable, bukan personal.
Kalau cinta, pasti mau. Kalau mau, pasti bisa. (Kalau gak bisa, berarti gak mau. Kalau gak mau, berarti tidak punya cinta).
Prayudhi Azwar
Perth, 6 Januari 2015





Prayudhi Azwar : SABAR itu AKTIF
 
~SABAR itu AKTIF~
Sabar bukan diam, pasif dan membiarkan kemarahan bergemuruh dalam hatimu.
Sabar bukan diam, menutup mata, saat kezaliman menerpa dirimu, bangsamu, negerimu.
Sabar itu AKTIF.
Sabar adalah mampu menyuarakan apa yang menggelisahkan hatimu,
Sabar adalah gigih menyampaikan kritik dan nasihat yang memang perlu kamu suarakan,
Sabar adalah proaktif memperjuangkan negara dan kebenaran yang memang harus kamu bela,
TANPA kamu kehilangan kontrol atas emosimu.
Keep talk about what's bothering you, without losing control of your emotions (NAK, 2015).
Itulah sebaik-baik manusia bermanfaat yang dewasa.
Oya, satu lagi. Orang sabar versi yang benar ini biasanya jadi pemenang sejati dalam kehidupan, karena menjalani setiap perjuangannya, dengan rasa bahagia dan lapang hati.
Perth, 8 Januari 2015
Prayudhi Azwar





Prayudhi Azwar : Belajarlah dari Rakyat Jerman, Jepang, Korsel yang Teramat Kritis

~Belajarlah dari Rakyat Jerman, Jepang, Korsel yang Teramat Kritis~
Pelajari kunci sukses rakyat Jepang, Jerman, dan Korsel.
Sebagai konsumen, mereka adalah konsumen yang sangat rewel dalam menuntut produk berkualitas tinggi.
Akhirnya, perusahaan di negara mereka hanya bertahan jika menghasilkan produk berkualitas sangat tinggi. Kualitas produk dipaksa terus membaik, hingga akhirnya merajai pasar dunia.
Sebagai rakyat, mereka adalah rakyat yang sangat rewel menuntut produk (yaitu kebijakan-kebijakan) pemerintah yang berkualitas tinggi.
Akhirnya, pemerintah terpaksa menghadirkan kebijakan berkualitas tinggi, terukur dan mantap. Bila salah, kita lihat pemimpin di Jepang, Jerman dan Korea Selatan, dengan sadar diri mundur dari jabatan.
Hasilnya, negara tertata dengan sangat baik.
Tidak ada kita mendengar pejabat publik memaki-maki bawahannya.
Tidak ada kita dengar pejabat publik membela diri berlebihan, menepis kesalahan (ngeles) apalagi mengkambinghitamkan pihak lain.
Mereka meneladankan sikap-sikap ksatria.
Jantan, profesional, bertangung jawab dan beretika.
Jadi bila kita ingin punya pemerintahan dengan kualitas yang seperti 3 negara itu.
Jadikan diri kita konsumen yang rewel.
Jadikan diri kita rakyat yang kritis.
Tinggalkan sikap saling membully sesama rakyat Indonesia.
Lebih baik saling mengajak berpikir tajam mengkritisi kebijakan publik. Dorong bangsa ini menjadi cerdas dan tajam.
Mari berlomba memastikan negara dikelola dengan kebijakan terbaik.
Itulah wujud kita mencintai negara.
Maka siapapun yang memimpin negeri ini, tidak punya pilihan lain, selain:
- berjuang meningkatkan daya beli tiap keluarga secara merata.
- menurunkan harga-harga dan menambah pendapatan rakyat.
- mencerdaskan dengan pendidikan berkualitas yang terjangkau.
- menyehatkan rakyat dengan perbaikan gizi dan jaminan kesehatan.
- tidak beraksi membungkam kebebasan bersuara, mendengar pakai hati.
- menegakkan keadilan bebas dari tebang pilih.
- memilih pejabat hanya yang berkualitas, bersih, bebas dari balas budi.
- membuktikan komitmen membersihkan negeri dari penyakit korupsi.
- menentang penjualan aset negara dan konsesi tambang.
- cerdas memperhebat kinerja seluruh BUMN tanpa menjualnya.
- mengemban amanat UUD 45 khususnya pasal 33, dengan sepenuh hati.
Jika hari demi hari,
kamu saksikan satu-persatu mimpi indah rakyat itu berguguran,
seperti gugurnya daun-daun yang mengering di musim gugur,
seperti sirnanya air yang ternyata fatamorgana,
jangan pernah salahkan rakyat
yang terlanjur salah menaruh harapannya.
Tegurlah dengan tegas, pemimpin yang lupa hakikat kepemimpinannya.
Dan lakukan itu, semata-mata demi cinta tulusmu pada negerimu, Indonesia-mu.
Perth, 10 Januari 2015
Prayudhi Azwar



Prayudhi Azwar : Moment of Truth of the True Face
 

~ Moment of Truth of the True Face ~
Jika pemimpin gagal membuktikan komitmen dalam pemberantasan korupsi,
maka TRUST rakyat dipastikan hilang.
Jika memimpin dipaksakan berjalan tanpa trust dari rakyat, maka satu-satunya jalan bertahan tersisa hanyalah dengan menjadi rezim fasis.
Jika fasisme jadi jalan tersisa untuk bertahan,
maka kekuasaan akan berakhir dengan ujung yang berdarah, dan pasti tumbang oleh kehendak luhur yang bersatu dengan rakyat.
Setelah calonkan tersangka korupsi sebagai kapolri, kini kisruh kriminalisasi KPK jadi tonggak sejarah, apakah pemimpin ini benar memihak rakyat dan kebenaran atau sebenarnya memihak koruptor dan kezaliman.
Moment of truth of the true face, tengah berlangsung.
Perth, 23 Januari 2015
Prayudhi Azwar






Prayudhi Azwar : Politik, di antara jalan Tuhan dan langkah Syetan
 
~ Politik, di antara jalan Tuhan dan langkah Syetan ~
Jika seseorang bekerja keras,
demi menafkahi anak-anaknya yang masih kecil,
demi orang tuanya yang sudah renta,
demi membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan atau bahkan ,
demi menjaga diri dari meminta-minta,
Tuhan menilai dia sebagai berjuang di jalanNya.
Jika seseorang belajar keras,
demi mematuhi perintah baca (iqra) dalam kitab suci,
demi menjaga diri dari kebodohan,
demi menjadi berilmu untuk dapat membagikan ilmu,
hikmah dan inspirasi, Tuhan memandang dia sebagai berjalan di jalanNya.
Sebaliknya, bila ia keluar untuk bekerja dan belajar,
karena didorong keinginan mendapatkan pujian manusia (riya’) dan membanggakan diri,
maka ia telah terjatuh pada fi sabilisy syaithan (di jalan syetan).
Maka jika seseorang yang telah selesai dengan diri dan keluarganya, lalu berniat ikhlas terjun ke dunia politik yang masih kotor,
demi ikhtiar menegakkan keadilan,
demi perjuangkan rakyat keluar dari himpitan kemiskinan dan belenggu kebodohan,
bagaimana Tuhan tidak menilainya sebagai berjuang di jalanNya.
Sebaliknya,
bila seseorang terjun ke dunia politik,
demi mengais rente kekuasaan,
demi meraup kekayaan,
demi memuaskan dahaganya meraup dunia melalui harta dan kekuasaan,
bagaimana Tuhan tidak golongankan dia sebagai berjalan mengikut langkah-langkah syetan.
Dan, tugas kita adalah,
bagaimana mendorong sebanyak-banyaknya orang-orang ikhlas dan baik, terjun ke dunia politik.
bagaimana mengeluarkan orang-orang tak baik, segera meninggalkan gelanggang politik.
Itulah tugas mulia wujud cinta pada Indonesia kita dan kemanusiaan.
Siapkah kita ikhlas memikulnya?
Perth, 21 Januari 2015
Prayudhi Azwar



Prayudhi Azwar : Jilbab, termasuk kebebasan berekspresi bukan ya?

~Jilbab, termasuk kebebasan berekspresi bukan ya?~
Baru kali ini saya mendapatkan penjelasan begitu gamblang tentang tema berpakaian, yang sudah sangat tua, setua sejarah Adam dan Hawa ini.
Adu argumen tentang topik ini sering menyita fokus kita terhadap hal yang lebih penting.
Ada yang melarang, ada yang tidak menganjurkan, ada juga yang mewajibkan.
Baru kali ini ada jawaban yang sederhana, tapi makjleb, paling mengena di logika.
Jadi, saya keep sebagai pengingat disini. Semoga setelah ini kita bisa fokus ke hal-hal yang lebih substantif:
~Dialog dan Jawaban Telak Dosen dengan Mahasiswi soal Jilbab~
Mahasiswi: apakah ada satu ayat dalam Qur’an yang mewajibkan perempuan berhijab atau berjilbab?
Dr. Jassem al-Mutowi’: perkenalkanlah diri anda terlebih dulu.
Mahasiswi: saya adalah mahasiswa semester akhir di universitas. Sepengetahuan saya bahwa jilbab tidak diperintahkan oleh Allah. Oleh sebab itu saya tidak berjilbab, namun saya tetap sholat alhamdulillah.
Dosen: baiklah, boleh saya bertanya satu soal kepada anda?
Mahasiswi: silakan.
Dosen: jika saya mengulang-ulang satu makna kepada anda tetapi saya ungkapkan dengan 3 kata yang berbeda, apakah yang anda pahami?
Mahasiswi: hmm maksudnya apa ya?
Dosen: jika saya bilang kepada anda, tolong bawakan ijazah universitasmu, atau bawakan kertas hasil kelulusanmu, atau bawakan surat pernyataan hasil akhir dari universitas, apakah yang anda pahami?
Mahasiswi: saya harus membawa bukti ijazah universitas saya, tak ada ruang bagi saya untuk salah memahami ungkapan bapak, karena memang maksud dari ketiga ungkapan (ijazah, kertas, pernyataan) itu satu makna.
Dosen: nah itulah yang saya maksudkan sebelum ini...!
Mahasiswi: tapi apakah kaitannya ungkapan bapak dengan hijab?
Dosen: sebenarnya Allah gunakan 3 istilah di dalam Qur’an untuk mengungkapkan hijab perempuan.
Mahasiswi: (sambil memandang aneh) bagaimana itu bisa?
Dosen: Allah telah mensifatkan pakaian yang menutupi tubuh perempuan dengan istilah hijab, jilbab dan khimar untuk satu makna. Jadi anda pahaminya bagaimana?
Mahasiswi itu terdiam.
Dosen: anda mesti pahami bahwa tema jilbab ini semestinya tidak menimbulkan perbedaan di antara kita seperti halnya 3 ungkapan ijazah untuk makna yang sama kan?
Mahasiswi: bapak telah mengagetkan saya dalam cara berdiskusi seperti ini.
Dosen: sifat pertama, yaitu firman Allah “hendaklah mereka menjulurkan kerudung mereka ke atas juyub (celah-celah pakaian) tubuh mereka”, kedua, ialah firman-Nya “wahai Nabi katakanlah kepada isterimu, anak perempuanmu, dan istri orang-orang beriman untuk mengulurkan jilbab mereka”. Ketiga, ialah firman-Nya “jika kamu meminta suatu barang kepada isteri nabi, maka mintalah dari balik hijab”. Bukankah ini semua menunjukkan wajibnya menutup tubuh perempuan?
Mahasiswi: sungguh bapak telah membuat saya terkejut dengan perkataan ini.
Dosen: baiklah saya jelaskan kepadamu ketiga istilah itu dalam bahasa arab. Khimar adalah kain yang menutupi kepala perempuan, dan menjulurkannya ke atas juyub(celah-celah pakaian) maksudnya mengulurkannya agar bisa menutupi leher dan dada. Jilbab adalah kain baju yang luas dan panjang, menutupi lengan tangan dan kepala, seperti baju tradisional Maroko. Hijab adalah tirai penutup.
Mahasiswi: saya bisa memahami bahwa tidak bisa tidak saya mesti berhijab.
Dosen: ya memang demikian wajib. Jika hatimu dipenuhi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ada dua jenis pakaian. Pertama, pakaian yang menutupi fisik, sebagai kewajiban mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Kedua, pakaian yang menutupi roh dan kalbu, jenis ini lebih baik dari yang pertama. Karena perempuan bisa jadi berjilbab secara fisik, namun ia kehilangan atau lepas dari pakaian takwa. Yang benar adalah perempuan harus memakai dua jenis pakaian itu. Hal ini juga berlaku bagi pakaian yang dikenakan laki-laki.
Mahasiswi: dulu saya mengira bahwa hijab tidak disebutkan di dalam Qur’an.
Dosen: tentu saja hijab telah disebutkan di dalam Qur’an dan juga sunnah, serta disepakati oleh seluruh ulama islam. Kamu harus gemar taqarub kepada Allah dengan mentaati-Nya karena telanjang itu salah satu tujuan syetan untuk menjerumuskan Adam dan Hawa.
Mahasiswi: apa maksud anda?
Dosen: ketika Allah perintahkan Adam dan Hawa memakan buah-buahan sorga, selain satu pohon khuldi, setan langsung membisiki mereka berdua “fa dallaahuma bi ghurur”. Maka ketika mereka berdua melanggar perintah Allah itu dengan memakan buah khuldi tersingkaplah aurat mereka (lihat surah al-A’raf: 22) itulah tujuan setan agar umat manusia telanjang sempurna. Oleh sebab itu Adam dan Hawa bertobat dan segera mencari dedaunan besar untuk menutupi aurat kemaluan mereka. Persoalan pakaian sangat tua seusia penciptaan Adam dan Hawa. Saya sarankan kamu membaca buku “psikologi pakaian” karena pakaian berpengaruh kepada kepribadian kita.
Mahasiswi: terus terang saya tidak mengira persoalan hijab dan pakaian ini sangat besar sekali.
Dosen: apakah sekarang kamu telah memutuskan untuk berhijab atau berjilbab atau berkerudung?
Mahasiswi pun tersenyum dan berkata: sungguh saya telah pahami pelajaran ini dengan baik, tapii, saya akan berhijab kalau sudah tua kelak...
Dosen: hmm, ternyata kamu berfikir dan berencana yang berkebalikan dengan perintah Allah.
Mahasiswi pun kebingungan, “bagaimana kebalikan”?
Dosen: Allah telah beri keringanan kepada perempuan tua untuk melepas hijabnya dalam firman-Nya di surah An-Nur: 60 Allah meringankan kewajiban berjilbab bagi perempuan tua dengan syarat tidak tabarruj dalam berhias.
Mahasiswi: kalau gitu, kami yang masih muda ini artinya haruslah iltizam wajib mengenakannya. Hehe.. (sambil tersenyum).
Dosen: masya Allah kamu cerdas sekali menarik kesimpulan. Nah, bukankah kamu menjaga solat 5 waktu? Apakah ketika solat kamu memakai hijab?
Mahasiswi: tentu saja donk..
Dosen: kalau begitu, kenapa dalam solat wajib dipakai?
Mahasiswi: maaf saya tidak tahu (lalu tersenyum)
Dosen: apakah kamu percaya bahwa Islam memerintahkan perempuan mengenakan pakaian untuk menghadap Allah dalam solat lalu menyuruh ia gunakan pakaian yang lebih pendek dan minimalis ketika menghadapi manusia di luar solat?
Mahasiswi: ya beda kan, yang satu solat kita sedang beribadah, dan yang satu lagi kita sedang bermuamalah dunia..!
Dosen: benar, solat adalah ibadah, dan ia bagian dari kehidupan kita. Sementara hidup kita ini seluruhnya adalah ibadah kepada Allah. Makanya pakaian perempuan di dalam solat itulah pakaiannya di dalam kehidupan ini seluruhnya.
Selesailah dialog antara dosen dan mahasiswinya.
 
(Diceritakan oleh Dr. Jassem al-Muthowi’ yang dikirim oleh sahabat grup Whatsapp. Diterjemahkan oleh Fahmi Salim.)




Prayudhi Azwar : JANGAN Nabok Nyilih Tangan

~ JANGAN Nabok Nyilih Tangan ~
Bukankah bangsa ini ditantang untuk berani jujur memperjuangkan kebenaran? Ironi bila di ruang publik justru yang tampil sikap sebaliknya.
Padahal kita diajari filosofi, Jangan Nabok Nyilih Tangan.
Dalam versi lengkapnya, ada kata OJO, JANGAN.
Ini ajaran penuh budi pekerti dari leluhur kita yang berakhlak luhur.
Lalu kita penggal, kita kebiri dengan menghilangkan kata JANGAN.
Jadilah nabok nyilih tangan.
Cara paling pengecut, tidak elegan, tidak satria.
Cara paling tidak manusiawi dalam membuang, menistakan orang.
Cara paling curang dalam khianati jasa seseorang.
Bagaimana rumusnya bangsa ini bisa bangkit?
Bila pemimpinnya tidak gentlemen dan memilih cara-cara yang culas.
Boleh saja ada orang yang mencari pembenaran itu sebagai cara cerdik,
tapi yang jujur hatinya akan berkata, itu cara yang licik.
Boleh saja bilang itu strategi, tapi itu lebih bermentalkan sengkuni.
Pemimpin memimpin layaknya dengan teladan.
Memberikan contoh yang membangun karakter bangsa sehingga unggul dalam persaingan sehat.
Mempersatukan, menggerakkan, membangkitkan semangat kebangsaan.
Bung Tomo meneladankan karakter gagah berani menyerukan perjuangan.
Bung Hatta menebarkan rasa tenang menyejukkan yang mendamaikan hati.
Jendral Soedirman, yang dikala sakitpun, mengangkat semangat juang bangsanya.
Bung Karno mengajarkan bagaimana kita mampu berdiri tegar diantara kaki-kaki kukuh bangsa lain.
Saya tidak begitu peduli intrik politik, terutama yang rendah teladan morilnya.
saya lebih cemaskan imbas buruknya pada karakter generasi penerus bangsa ini.
saya lebih khawatir tertularnya sifat buruk pada anak-anak muda negeri ini.
Memilih pejabat berstabilo merah dari KPK,
tidak mencabutnya seketika (bukan belakangan) saat ditetapkan tersangka,
menunjukkan wajah asli sang pemimpin,
yang tengah bermain-main dalam menjaga kepercayaan rakyat.
yang terus mengacak-ngacak tatanan dan harmoni berbangsa.
Jika bangsa ini terus dihebohkan oleh segala intrik dan kontroversi tiada henti,
bagaimana bangsa besar ini bisa bangkit dari tidur panjangnya?
Think..think..think..deeply for the sake of our beloved nation.
Perth, 16 Januari 2015
Prayudhi Azwar





============
                                    
                                       

Nasehat Buya Yahya
Silaturahmi jasad yang tidak dibarengi silaturahmi hati hanya akan tambah merusak hati. Alangkah banyak orang bersilaturahmi jasad dan di saat berpisah justru mendapatkan bahan baru untuk menggunjing, menbenci dan mendengkinya buah dari yang dilihat saat bertemu.




Rosululloh SAW Bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya".
(HR. Imam Muslim)

Habib Umar bin Hafidz:"jadikanlah televisi,handphone,internet dan alat-alat lainya sebagai pelayan dan pembantu untuk agamamu ,jika tidak,alat-alat itu akan menghancurkan dirimu sedangkan engkau akan tertawa karena tidak menyadarinya,ia akan merusak hatimu,akalmu,akhlakmu,dan fikiranmu,tanpa engkau menyadarinya,engkau tertawa bahagia padahal alat-alat itu telah merusak hal-hal paling berharga yang kau miliki".

Sayangilah Ibu dan Bapak kita Sampai Akhir Hayat Mereka     

You might also like:
TERJEMAHAN  ALQUR’AN 30 JUZ
3.     SURAT 4. AN NISAA'
5.     SURAT 6. AL AN'AAM
6.     SURAT 7. AL A'RAAF

                                    
                                       

PENTING : jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon do'akan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa Keluarga kami, dan memanjangkan umur keluarga kami dalam ketakwaan pada-Nya. Mohon do'akan juga supaya Allah selalu memberi Keluarga kami rezeki yang halal,melimpah,mudah dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya,
melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus