Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Jumat, 26 November 2010

Gua Hiro, Pilihan Muhammad dalam Bermunajat (1)

Mekkah(MCH)--Siapa bilang orang-orang Arab tidak suka berziarah? Mungkin orang-orang berpakaian Arab yang tidak suka berziarah hanyalah mereka yang tunduk di bawah ketaatan hukum dan ideologi pemerintah Arab Saudi. Sedangkan bangsa Arab selainnya, adalah mereka yang menyukai berziarah, dengan berbagai alasannya masing-masing.

Orang-orang Yaman misalnya, mereka sangat menyukai berziarah, tentu saja termasuk serangkaian kegiatan berdagang dalam perziarahan. Sedangkan orang- orang Syiria dan Suku Kurdi juga sangat menyukai kegiatan berziarah dengan serangkaian petualangannya. Apalagi orang-orang Afganistan, berziarah ke gunung-gunung di Makkah tak ubahnya mengingat kembali kegiatan mereka di tanah airnya sendiri.

Dan meski seperti apa pun pemerintah Arab Saudi melarang atau mempersempit orang-orang berziarah, takkan pernah surut niat mereka untuk mengeksplorasi keinginan mereka dalam perziarahan. Terutama tentu saja tempat-tempat ziarah (pelancongan), spiritual dan yang mengandung unsur pariwisata (hiburan), seperti gunung dan tempat-tempat indah di luar kota.

Salah satu tempat yang memiliki sekaligus ketiga unsur yang dikehendaki oleh orang -orang dalam berziarah, tempat tersebut adalah Jabal Nur (Gunung Nur). Selain tempatnya yang berada cukup jauh dari pusat Makkah (Masjidil Haram), Selayaknya gunung-gunung lain, Jabal Nur juga memiliki pemandangan yang bagus dan nilai spiritual yang sangat tinggi.

Bagaimana tidak, di Gunung inilah sejarah menceritakan bahwa dahulu Muhammad sering menyendiri (berkholwat) untuk meminta petunjuk dari Allah SWT mengenai kondisi umatnya. Di Gunung Nur ini pulalah, Rasulullah SAW menerima jawaban dari Allah SWT dalam wahyu pertama-Nya kepada nabi akhir zaman ini.

Tentu saja sejaraah juga mencatat bahwa, wahyu itu tidak datang begitu saja dan tidak diterima oleh Nabi sambil bersantai-santai saja. Nabi Muhammad harus melewati perjalanan spiritual yang cukup panjang. Menyepi menyendiri dari kaumnya yang sedang dilanda kebobrokan moral. Dan Gua Hiro` menjadi pilihan Muhamamad dalam bermunajat kepada Tuhannya.

Saat ini, Untuk mencapai Gua Hiro yang terletak di puncak Gunung Nur, kita harus menaiki anak tangga berkelok-kelok selama kurang lebih satu jam, jika perjalanan lancar. Namun jika tersendat, maka bisa saja perjalanan anda mendaki akan memakan waktu hingga dua jam lebih.

Ketersendatan ini dikarenakan jalur yang sempit tanpa pemisah digunakan untuk dua arah. Jika ada rombongan yang naik dan turun bertemu, dapat dipastikan akan saling ngotot tidak mau minggir. Akibatnya kemacetan terjadi dan waktu yang dibutuhkan untuk lewat akan semakin lama.

Belum lagi di pinggir sepanjang tangga setapak yang sempit itu, para pedagang asongan beraneka kebutuhan yang telah terlebih dahulu memaksa berbagi dengan para pejalan kaki. Sehingga amat rumitlah keadaan ketika dua rombongan peziarah sedang bertemu. Di mana jamaah Turki dan jamaah-jamaah asal Asia Tengah merupakan favorit rombongan yang akan kita temui sepanjang tangga hingga di titik teratas.

Pemandangan yang ini juga ditingkahi dengan keharuan yang teramat menyayat ketika kita mulai menapaki separuh perjalanan di tangga-tangga Gua Hiro`. Pengemis-pengemis cacat menghiba kepada para peziarah dengan lengkingan yang menusuk perasaan terdalam. Sungguh Anda tidak akan tega melewati mereka kecuali terlebih dahulu mengeluarkan selembar uang recehan senilai minimal 1 Riyal (setara dengan Rp.2500 uang Indonesia).

Kondisi mereka, para pengemis ini sungguh tampak sangat memprihatinkan, Anda yang membawa kamera hampir-hampir tidak akan tega memotret. Dengan pakaian yang compang-camping, mereka tergolek di antara kaki-kaki jamaah, melolong-lolong meminta sedekah. Sebagaimana umumnya pengemis, kebanyakan di antara mereka menonjolkan kekurangan atau cacat tubuhnya. Ada di antara mereka yang tangannya tumbuh sangat kecil, ada yang kakinya buntung dan beraneka kondisi yang menghibakan lainnya.

Namun berangsur-angsur rasa iba ini akan menjadi bebal, karena semakin kita mendaki ke atas, semakin banyak saja mereka berjajar dan meminta sedekah di antara kaki-kaki peziarah. Semakin ke atas kita akan mendengar lolongan mereka semakin keras,dan secara otomatis prasangka kita akan mendorong untuk menduga-duga bahwa mereka memang sengaja memelas.

Bahkan mungkin kita akan merasa jengkel manakala menyaksikan para pengemis ini juga menerima layanan penukaran kembalian. Artinya mereka bisa mempermaklumkan akan memberikan kembalian jika kita memintanya. Misalkan saja, jika kita memberikan uang 10 Riyal kepada salah seorang di antara pengemis itu dan meminta kembalian barang delapan atau sembilan Riyal, maka mereka akan segera memenuhinya. Mereka akan segera mengeluarkan kantong berisi uang recehan dan menyodorkan kembalian yang anda minta. (syaifullah amin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar