Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Sabtu, 06 Juni 2009

ANAKKU SUDAH SIAP SEKOLAH

Pertanyaan itu banyak diajukan orangtua murid menjelang tahun ajaran baru. Jawaban yang tampaknya sederhana, siap atau belum siap, ternyata hanya dapat diberikan secara tepat dan bertanggung jawab bila berdasar pertimbangan yang tidak sederhana. Istilah sekolah sering dimaknai secara berbeda. Ada orangtua yang menganggap kegiatan di kelompok bermain sebagai sekolah, demikian juga taman kanak-kanak (TK).

Maksud semula dari TK sebenarnya adalah tempat anak bermain dan belajar mempersiapkan diri mengikuti pendidikan di sekolah dasar (SD). Jadi, sebenarnya yang seharusnya disebut sekolah adalah kegiatan belajar di tingkat SD dan seterusnya, bukan sebelumnya. Jadi, kita sepakat untuk bicara mengenai kesiapan anak masuk SD.

Secara garis besar, agar dapat mengikuti pendidikan di SD dengan lancar, seorang anak harus memiliki keterampilan sosial, motorik, dan kognitif yang memadai.

Yang Perlu Diamati
1. Kemandirian.
Anak sebaiknya relatif cukup mampu mengurus diri sendiri, seperti mengenakan pakaian sendiri, membawa perlengkapan sekolah, pergi ke toilet, dan ingat barang miliknya. Secara emosional, ia mampu berada jauh dari orangtuanya dan berada sendiri tanpa orangtua di antara orang yang baru ia kenal.

2. Keterampilan sosial adalah bagaimana anak mau berkenalan dengan orang baru, tidak canggung menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial yang baru, mampu berbagi, bersedia mematuhi perintah atau melakukan suruhan guru, dan mampu bertindak mengatasi masalah sehari-hari sesuai norma.

3. Keterampilan berbahasa adalah bagaimana anak mampu memahami perintah atau materi yang disampaikan secara verbal, mampu menyampaikan isi pikiran dan perasaan dengan lancar, kosa kata cukup luas, dan dapat menceritakan kembali hal yang dialami.

4. Mengenal identitas diri dan keluarga. Minimal anak harus tahu namanya, alamat, nama orangtua, nomor telepon, dan tanggal lahir.

5. Koordinasi motorik kasar, yaitu tentang keseimbangan yang baik, dapat berlari, melompat, dan mengayunkan tangan.

6. Koordinasi motorik halus, yaitu dapat menggunakan alat tulis dengan benar, dapat menggambar, mewarnai, dan menulis namanya sendiri.

7. Konsentrasi. Anak harus mampu bertahan menekuni tugas minimal selama 20 menit.

8. Kendali diri. Anak harus mampu menunda pemenuhan atau pelaksanaan keinginan sampai waktu yang tepat, mengikuti aturan, dan mampu menghadapi frustrasi.

9. Memahami konsep dasar, seperti keruangan (misalnya atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang), waktu (sekarang, kemarin, besok, sebelum, sesudah), ukuran (tinggi-pendek, tebal-tipis,besar-kecil), jumlah (minimal dapat menjumlahkan sampai lima, dengan benda konkret), dan warna.

10. Mengenali perasaan sendiri dan mampu berempati. Anak mampu memberitahukan dan mengekspresikan perasaan senang, sedih, sakit, dan lainnya serta mampu mengenali dan ikut merasakan perasaan anak lain berdasarkan observasi terhadap tingkah laku mereka.

Tokoh Panutan
Aspek lain yang perlu terus dikembangkan selama usia sekolah adalah motivasi untuk belajar. Untuk itu, lingkungan rumah dan sekolah perlu dirancang sedemikian rupa agar anak tergelitik rasa ingin tahunya dan terdorong untuk belajar. Orangtua dan guru harus pandai dan kreatif mengaitkan bahan pelajaran dengan praktik atau kenyataan di lapangan agar terasa relevansi dan manfaatnya. Selain itu, sejak dini anak perlu ditumbuhkan minatnya terhadap bahan bacaan dengan berbagai cara.

Orangtua dan guru perlu menjadi tokoh panutan atau model yang juga senang membaca dan memancarkan kegemaran membaca tersebut pada anak, bukan cuma menyuruh anak membaca. Keberhasilan dalam pendidikan berkorelasi tinggi dengan kegemaran membaca. Tidak mengherankan karena diperkirakan 50-60 persen pengetahuan harus dimantapkan anak melalui bacaan. Persentase itu semakin meningkat sejalan dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang dijalani seseorang.

Rasa ingin tahu dan motivasi belajar akan layu dan mati jika anak dibombardir dengan latihan dan PR berlebihan. Kemampuan kognitifnya tidak berfungsi optimal karena anak mengalami lelah fisik dan mental. Hal itu bertambah buruk bila para guru dan orangtua terlalu memusatkan perhatian pada hasil belajar dan hanya menghargai hasil belajar, namun mengabaikan proses belajar dan usaha anak.

Suasana belajar dan sikap pembimbing atau guru yang santai dan menyenangkan namun tetap serius dan tegas kerap kali juga terpinggirkan oleh keinginan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi. Mana sempat? Lebih baik anak di-drill saja agar peringkat sekolahnya juga ikut terdongkrak. Sayangnya, anak-anak lebih banyak dilatih membeo, memberi jawaban yang persis sama dengan yang dikatakan guru atau yang tercetak di buku.

Cukup banyak juga orangtua yang bangga bahwa dalam waktu singkat anaknya mampu berhitung cepat setelah melalui drilling. Tidak banyak yang sadar bahwa recalling atau recognition (mengingat atau mengenali kembali) maupun repetition dan drilling hanya melibatkan proses kognitif yang tarafnya sederhana. Untuk menjadi pencipta, penemu, atau pembaharu, perlu dikembangkan kemampuan kognitif yang lebih canggih. Hal itu baru dapat tercapai apabila anak diberi kesempatan untuk menjelaskan, berargumentasi, berkreasi, termasuk mengemukakan gagasan yang aneh atau luar biasa.

Hasil Karbitan
Guru dan orangtua lupa bahwa dalam jangka panjang, keinginan belajar dan motivasi lebih menentukan keberhasilan ketimbang prestasi tinggi hasil karbitan. Pengetahuan dapat diperoleh dalam waktu relatif singkat, namun hasrat dan motivasi belajar memerlukan waktu banyak agar dapat tumbuh berakar kuat dalam pribadi seseorang. Motivasi tinggi untuk menguasai sesuatu (bukan cuma nilai atau ijazah), ulet, tidak mudah patah semangat, berani berkompetisi, mau cari strategi baru untuk mengatasi kegagalan, terampil bersosialisasi, dan merasa tertantang dalam menghadapi hambatan adalah kualitas yang perlu dikembangkan semasa sekolah, tidak dapat dikarbit melalui nilai mata pelajaran tertentu.

Para orangtua, guru, dan penentu kebijakan pendidikan (termasuk kurikulum dan silabus) perlu lebih waspada dan melakukan instrospeksi diri. Tinjaulah kembali praktik pendidikan yang berlangsung selama ini. Mengapa dalam pengalaman praktik selama setahun terakhir ini (40 persen = 75 dari 300 orang, pada tahun 2000) begitu banyak anak yang mengalami tekanan fisik dan batin berkaitan dengan pelajaran dan prestasi sekolah?

Cukup banyak anak yang dirujuk oleh dokter (10 persen dari 75 anak) karena pada umumnya mengalami berbagai keluhan fisik seperti pusing, penglihatan terganggu, sesak napas, jantung berdebar, sukar tidur, selera makan menurun, sering merasa lelah, sering jatuh sakit, sakit perut atau lambung, dan gatal-gatal. Yang jarang dan unik adalah ada anak yang selalu menduduki peringkat pertama sejak kelas 1 SD sampai saat ini di kelas 2 SMP, namun menderita kecemasan dan ketegangan akibat kekhawatiran tidak dapat mempertahankan prestasinya.

Cukup berhargakah prestasi akademis untuk dipertukarkan dengan kebahagiaan dan kesehatan mental?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.