Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Minggu, 16 Februari 2014

Kisah Hikmah ‘Perselingkuhan’ di Arab Saudi



                                    
                                       


Kisah Hikmah ‘Perselingkuhan’ di Arab Saudi
Ini adalah kisah nyata dan sudah populer, yang terjadi di salah satu kota Kerjaan Arab Saudi.

Kisah ini adalah kisah yang dialami oleh seorang mahasiswa hukum di salah satu Universitas Arab Saudi. Pulang dari kuliah, ia mendapati istrinya sedang berselingkuh dengan lelaki lain. Merasa kepergok, dua orang yang tengah berselingkuh itu ketakutan seakan-akan disambar petir.

Ia berkata kepada lelaki itu: “Kenakan pakaianmu!”

Lelaki itu berkata: “Demi Allah, wanita itu yang membujukku.”

Ia berkata: “Kenakan pakaianmu, semoga Allah menutup aibmu.”

Ia meminta lelaki tersebut untuk meninggalkan rumahnya. Ia marah, namun dapat menahannya, demi mengharapkan pahala dari Allah Swt. Melihat reaksi tersebut, lelaki itu keluar dengan tertawa, karena merasa selamat. Tawanya seakan mengejek suami wanita selingkuhannya tersebut.

Suami yang saleh tersebut hanya dapat berkata: “Hanya kepada Allah aku berlindung dan bertawakkal atas rasa sakit dan sedih yang aku alami. Setiap orang berharap meninggal dunia dan tidak melihat kejadian seperti ini”. Ia mendatangi istrinya dan berkata: “Kemasi pakaianmu, dan seluruh barang milikmu! Aku tunggu di luar kamar. Kita akan ke rumah keluargamu.”

Istrinya duduk sambil menangis, memikirkan apa yang ia alami. Mungkin ia merasa telah terkena perangkap setan. Yang jelas ia hanya diam saja. Sang suami kemudian menceraikannya dengan tiga talak. Dan berkata: “Semoga Allah menutup aibmu, hanya Allah tempat berlindungku dan kepada-Nya aku bertawakkal”. Ia menunggu di luar kamar dan mengantarkan istrinya ke rumah kedua orang tuanya, yang berjarak kira-kira 300 km dari rumahnya.

Ia berkata kepada istrinya: “Semoga Allah menutupi aibmu, bertakwalah kepada Allah. Dia melihat apa yang kamu lakukan, mudah-mudahan Dia memberikan rezeki bagimu”. Istrinya menjawab: “Benar, aku benar-benar tidak pantas menjadi istrimu”. Ia mengatakan hal itu sambil menampar-nampar mukanya sendiri.

Sang suami kemudian mengulangi perkataan itu, lantas pergi ke Madinah. Ia bercerita: “Tahun berganti tahun, hingga aku lulus dari universitas Abdul Aziz di Jeddah. Aku tidak pernah berfikir untuk menghadiri acara apapun yang diadakan oleh tetangga kami. Meski sudah bertahun-tahun, aku tidak bisa melupakan tawa penghinaan dari lelaki itu”.

Ia kemudian menikah dengan perempuan lain dan dikaruniai seorang anak. Ia kemudian diangkat menjadi seorang hakim di pengadilan. Ia bercerita tentang istri keduanya dan apa yang dilakukan istrinya demi dirinya: “Allah Swt telah menggantikan bagiku seorang istri yang tidak pernah terbayang olehku, ia wanita yang sangat mulia.” Istrinya memintanya untuk mengajar di sebuah universitas karena ia berhasil meraih nilai terbaik kedua, namun suaminya menolak dan merasa cukup bekerja di pengadilan.

Ia kemudian meneruskan sekolahnya hingga berhasil meraih doktor di bidang hukum Islam. Akhirnya ia ditugaskan di pengadilan terbesar di Jeddah.

Kemudian ia bercerita: “Aku selalu berdoa kepada Allah Swt  agar dapat melupakan kejadian itu, namun kejadian itu selalu muncul setiap melihat seseorang tertawa. Aku kemudian meminta perlindungan Allah dari setan yang terkutuk. Seperti biasa, suatu hari sampai kepadaku berkas-berkas kasus. Saat itu ada kasus pembunuhan. Kasus yang menjadi obat rasa sakitku dan buah dari kalimat “Hasbiyallahu wa ni’ma al wakil” (cukuplah Allah sebagai penolong dan kepada-Nya aku bertawakal). Ternyata pembunuhan tersebut dilakukan oleh lelaki yang pernah aku temukan di rumahku. Ia telah membunuh seseorang, ia diikat dengan besi, dan kondisinya sangat menyedihkan.

Ketika ia masuk ke kantorku, ia mulai bicara: “Wahai syekh aku mohon pertolongan kepada Allah dan kepadamu”.

Sang hakim berkata: “Kenapa kamu datang ke sini dan apa permasalahanmu?”

Lelaki itu menjawab: “Aku memergoki seorang laki-laki berselingkuh dengan istriku di kamarku, jadi aku membunuhnya”.

Hakim bertanya: “Kenapa kamu tidak membunuh istrimu?”

Lelaki itu menjawab: “Aku telah membunuh laki-laki itu, dan aku tidak sadar”.

Hakim bertanya: “Kenapa kamu tidak membiarkannya pergi dan berkata: “Allah sebagai penolong dan kepada-Nya aku bertawakal.”

Lelaki: “Wahai syekh, apakah kamu rela jika itu terjadi padamu?”.

Hakim berkata: “Ya, aku rela itu terjadi pada aku, dan aku hanya akan mengatakan: “Allah sebagai penolong dan kepada-Nya aku bertawakal”.

Spontan lelaki tersebut mengatakan: “Aku pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya.”

Hakim berkata: “Ya, kamu pernah mendengarnya dariku ketika kamu menggoda istriku saat aku tidak ada di rumah, hingga kamu menjebaknya untuk berzina. Apakah kamu masih ingat ketawamu ketika aku berkata kepadamu: “Semoga Allah menutup aibmu?” Ketika itu kamu pergi dan rasa sakit seakan memotong leherku. Ya, saat itu Allah memberikan waktu bagimu untuk bertobat, namun kamu keras kepala dan terus melakukan kemaksiatanmu hingga Allah Swt ingin membalas perbuatanmu.”

Hakim tersebut kemudian diam sebentar dan berkata: “Kira-kira apa yang bisa aku perbuat untukmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika keluarga korban tidak memaafkanmu. Sekarang aku akan mengeluarkan keputusan hukum syariat Islam untukmu.”

Lelaki itu berkata: “Aku tahu itu, aku hanya minta satu hal darimu”.

Hakim berkata: “Apa itu?”

Lelaki itu berkata: “Aku hanya ingin kamu memaafkanku dan berdoa semoga aku mendapatkan rahmat. Betul, aku telah mengikuti setan, dan ini adalah balasan teringan yang harus aku terima. Allah tahu, bahwa yang dikatakan oleh istrimu adalah benar, akulah yang telah menggodanya dengan berbagai cara. Setiap gagal satu cara, aku datangkan cara yang lain. Inilah hakikat yang sebenarnya. Sungguh, alangkah lebih baik kamu membunuhku waktu itu, hingga aku tidak melihat kejadian ini.”

Hakim berkata: Semoga Allah memaafkanmu di dunia dan akhirat.”

Tidak hanya berhenti di sini, sang hakim berkata: “Kejadian itu bukanlah hal ringan bagiku, jika bukan karena zikir kepada Allah Swt.” Oleh karena itu ia bersama yang lainnya berusaha untuk membujuk ahli waris agar memaafkan lelaki tersebut, sehingga tidak dihukum mati, namun keputusan Allah Swt di atas segalanya. Allah Swt ingin menghukum mati lelaki itu.

(Diceritakan sendiri oleh sang hakim)
Sumber : FP KITAB FATHUL MU'IN

 
 
Sayangilah Ibu dan Bapak kita Sampai Akhir Hayat Mereka     

You might also like:
TERJEMAHAN  ALQUR’AN 30 JUZ
3.     SURAT 4. AN NISAA'
5.     SURAT 6. AL AN'AAM
6.     SURAT 7. AL A'RAAF

                                    
                                       

PENTING : jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon do'akan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa Keluarga kami, dan memanjangkan umur keluarga kami dalam ketakwaan pada-Nya. Mohon do'akan juga supaya Allah selalu memberi Keluarga kami rezeki yang halal,melimpah,mudah dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya,
melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar