Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Jumat, 08 Agustus 2014

Ekspedisi Mount Everest 1997 diprakarsai oleh Danjen Kopasus Mayjen TNI Prabowo Subianto



                                    
                                       



Gunung Everest
Diterima oleh Presiden Suharto bersama tim pendaki yang telah menjaga kewibawaan, menjaga kehormatan bangsa Indonesia dengan mengalahkan Malaysia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengibarkan bendera di puncak tertinggi Gunung Everest



Ekspedisi Mount Everest
Tim Nasional Indonesia ke Puncak Eveerst yang diprakarsai oleh Danjen Kopasus Mayjen TNI Prabowo Subianto telah berhasil mengibarkan Sang Merah Putih di Puncak tertinggi di dunia Mount Everest (8.848m) pada hari Sabtu 26 April 1997 pukul.15.25 waktu Nepal. Informasi keberhasilan tentang pendakian disampaikan langsung oleh koordinator umum Tim Ekspedisi Mount Everest Letkol Inf.Pramono Edhie Wibowo dari Katmandu Nepal. Prestasi gemilang ini menunjukan bahwa Indonesia sebagai negara Asia tenggara pertama yang berhasil mencapai Puncak Tertinggi di dunia, mendahului negara Asia tenggara lainnya yang juga mengirim Tim Ekspedisi ke Mount Everst. Tim pendaki yang terdiri dari Kopassus, Wanadri, FPTI dan Mapala UI berhasil mencapai Puncak Mount Everest melalui jalur selatan Nepal. Setelah berjalan menempuh medan salju selama 46 hari (sejak 12 Maret 1997) anggota Tim Selatan Pratu Asmujiono (25th) telah berhasil pertama kali mengibarkan Sang Merah Putih di Puncak Mount Everest, kemudian oleh Sertu Misirin (30th). Komandan jalur Selatan Lettu Inf. Iwan Setiawan (29th) karena cuaca yang sangat burukterpaksa terhenti disekitar ketinggian 35m menjelang puncak. Sedangkan Tim Utara yang terdiri dari Serda Sumardi, Ogum Gunawan Ahmad  dan Praka Tarmudi sejak tanggal 22 Maret 1997 mulaI mulai mendaki ke Puncak Everest dari sisi utara Tibet China setelah 48 hari pendakian (8 Mei 1997) mereka sudah mencapai ketinggian 8.600m namun karena cuaca yang sangat buruk dan pertimbangan keselamatan pendakian tersebut dihentikan.


Serka (purn) Asmujiono saat perayaan prestasinya ke - 17 tahun bersama Letjen (Purn) Prabowo di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Sabtu (26/4/2014)  



Serka (purn) Asmujiono





ASMUJIONO : 'KORBANKAN' MATA DEMI TAKLUKKAN EVEREST

Dari 3 anggota Kopassus yang berhasil menaklukkan Everest (1997), Prajurit Satu (Pratu) Asmujiono, Sersan Misirin, dan Lettu Iwan Setiawan,  Pratu Asmujionolah yang pertama menjejakkan kaki dan menancapkan Sang Dwi Warna di puncak tertinggi dunia. Ketangguhannya telah teruji hasil tempaan kehidupan sejak ia masih kecil.

Dilahirkan dalam keluarga petani, pria kelahiran Malang (Jawa Timur), 1 September 1971 ini telah kehilangan kedua orang tuanya saat masih kecil hingga terpaksa hidup berpindah-pindah orang tua angkat. Saat SD, kekurangan biaya dan tempat tinggal yang berjarak 4 km dari sekolahnya tak menyurutkan semangat Beliau untuk terus belajar. Setiap Subuh Asmujiono kecil bangun dan berjalan kaki menuju sekolahnya yang berjarak 4 km dari tempat tinggalnya. Dalam tasnya, selain alat tulis dan buku juga dibawa seragam dan alat mandi. Setiba di tujuan, barulah Beliau mandi di kamar mandi sekolah. Ini dilakukan setiap hari hingga lulus SMP. Apalagi, saat SMP jarak Sekolah Beliau lebih jauh lagi: 7 km dari tempat tinggalnya! Padahal sepulang sekolah, Beliau masih bekerja di kebun membantu orang tua angkatnya. Ketiadaan biaya pula yang memaksa Pak Asmujiono berhenti sekolah selama setahun saat duduk di kelas V SD.

Tempaan itu membentuk Pak Asmujiono menjadi pribadi yang kuat sekaligus berkemampuan fisik tangguh. Terbukti, Beliau berhasil menjadi juara numum lomba maraton se-Jawa Timur yang diadakan dalam rangka hari jadi kota Malang. Tidak tanggung-tanggung, Beliau mengalahkan para pelari dari kota-kota lain termasuk Surabaya dan Jakarta. Sejak kecil, anak ke-5 dari 6 bersaudara ini bercita-cita menjadi orang terkenal. Saat duduk di bangku SMA Diponegoro Malang, Beliau mantap bercita-cita menjadi tentara. Sayang, karena kurang informasi, terpaksalah harus menunggu 1 tahun untuk mendaftar sebagai anggota militer. Selama itu, Beliau bekerja sebagai pedagang buah. 2 tahun setelah lulus SMA, barulah Beliau bisa mendaftar ke Kopassus dan diterima! Sempat bertugas di Timor Timur (kini Timor Leste) selama 10 bulan, Pak Asmujiono kemudian lolos seleksi Ekspedisi Mount Everest (1997). Tak tanggung-tanggung, Pak Asmujiono menempati peringkat teratas diantara para peserta seleksi ekspedisi itu.

Semangat pantang menyerah, mental yang kuat, dan fisik yang prima menjadi kunci keberhasilannya menaklukkan Everest. Saking gembiranya waktu mencapai puncak Everest, Pak Asmujiono melepas kaca mata, selang oksigen, dan semua penutup wajahnya waktu itu. Padahal ini telah dilarang pelatih Ekspedisi Mount Everest, Anatoli Boukreev. Ditambah selama pendakian ke puncak Everest, Pak Asmujiono yang waktu itu berusia 25 tahun tidak makan dan minum saking semangatnya. Dampaknya, sepulang dari Everest, kesehatan mata dan fisik Pak Asmujiono terganggu. Bahkan akibat melepas kaca mata ketika di puncak Everest, kornea mata Beliau rusak dan harus diganti kornea palsu hingga kini. Kemunduran fisik ini pula yang membuat Beliau keluar dari Kopassus.(MGH/Foto: Metalanet)







LETKOL (INF) IWAN SETIAWAN : SUKSES PIMPIN PENDAKIAN EVEREST

Kesuksesan Ekspedisi Mount Everest menaklukkan gunung tertinggi di dunia Everest (1997) tak lepas dari peran Letkol (Inf) Iwan Setiawan yang kala itu memimpin Tim Selatan. Dengan semangat baja dan sikap pantang menyerah, Pak Iwan memimpin anggotanya terus mendaki puncak hingga akhirnya berhasil menjejakkan kaki di gunung berjulukan atap dunia bersama Pratu  Asmujiono dan Sersan Misirin. Prestasi ini mengukuhkan ketiganya sebagai anggota militer pertama di dunia yang berhasil menaklukkan puncak Everest.

Kala itu, Pak Iwan masih berusia 29 tahun dan berpangkat Lettu. Lewat seleksi yang sangat ketat, Iwan berhasil masuk anggota Ekspedisi Mount Everest yang disiapkan untuk menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Pak  Iwan bahkan terpilih memimpin Tim Selatan. Sekedar informasi, Ekspedisi Mount Everest memang dibagi menjadi 2 tim: Selatan dan Utara. Sesuai namanya, masing-masing tim mendaki Everest lewat jalur Selatan (Nepal) dan Utara (Tibet). Tim jalur utara dipimpin Richard Pavlowski.

Persiapan ekspedisi terhitung cukup singkat, hanya 3,5 bulan di bawah pengawasan pelatih asal Rusia. Sebelumnya, anggota tim disaring melalui seleksi ekstra ketat antara lain mendaki gunung Gede dan gunung Putri, renang, dan lari sprint naik-turun tangga. Letkol Iwan mengenang, suhu di Everest menyentuh titik -50 derajat celcius saat para anggota ekspedisi melakukan pendakian yang memakan waktu 5 hari itu. Hasilnya, sudah kita ketahui bersama. Merah Putih berhasil dikibarkan di puncak Everest dan seluruh anggota Ekspedisi Mount Everest pulang dengan selamat. Indonesia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang personil militernya sukses menaklukkan Everest! (MGH/Foto: Jess)




Gunung Everest ?

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gunung Everest (bahasa Inggris: Mount Everest) adalah gunung tertinggi di dunia (jika diukur dari paras laut). Rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet; puncaknya berada di Tibet.

Gunung ini mendapatkan nama bahasa Inggrisnya dari nama Sir George Everest. Nama ini diberikan oleh Sir Andrew Waugh, surveyor-general India berkebangsaan Inggris, penerus Everest. Puncak Everest merupakan salah satu dari tujuh puncak di dunia.
Ukuran
Radhanath Sikdar, juru ukur dan pakar matematika dari Bengal, merupakan orang pertama yang menyatakan Puncak Everest sebagai puncak tertinggi melalui perhitungan trigonometrik pada 1852. Perhitungan ini dilakukan menggunakan teodolit dari jarak 150 mil jauhnya di India. Sebagian rakyat India percaya bahwa puncak tersebut semestinya dinamakan menurut Sikdar, bukan Everest.

Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 8.850 m; walaupun terdapat variasi dari segi ukuran (baik pemerintah Nepal maupun Cina belum mengesahkan ukuran ini secara resmi, ketinggian Puncak Everest masih dianggap 8.848 m oleh mereka). Gunung Everest pertama kali diukur pada tahun 1856 mempunyai ketinggian 8.839 m, tetapi dinyatakan sebagai 8.840 m (29.002 kaki). Tambahan 0,6 m (2 kaki) menunjukkan bahwa pada masa itu ketinggian yang tepat sebesar 29.000 kaki akan dianggap sebagai perkiraan yang dibulatkan. Perkiraan umum yang digunakan pada saat ini adalah 8.850 m yang diperoleh melalui bacaan Sistem Posisi Global (GPS). Gunung Himalaya masih terus bertambah tinggi akibat pergerakan lempeng tektonik kawasan tersebut.

Gunung Everest adalah gunung yang puncaknya mencapai jarak paling jauh dari paras laut. Dua gunung lain yang kadangkala juga disebut sebagai "gunung tertinggi di dunia" adalah Mauna Loa di Hawaii, yang tertinggi jika diukur dari dasarnya pada dasar tengah laut, tetapi hanya mencapai ketinggian 4.170 m atas paras laut dan Gunung Chimborazo di Ekuador, yang puncaknya 2.150 m lebih tinggi dari pusat bumi dibandingkan Gunung Everest , karena Bumi mengembung di kawasan khatulistiwa. Bagaimanapun juga, Chimborazo hanya mencapai ketinggian 6.272 m di atas paras laut, sehingga bahkan bukan merupakan puncak tertinggi di Andes.

Dasar terdalam di lautan lebih dalam dibandingkan ketinggian Everest: Challenger Deep, terletak di Palung Mariana, begitu dalam hingga seandainya gunung Himalaya diletakkan di dalamnya, masih terdapat hampir 1,6 km air menutupinya.



Keterangan : Paras laut = Permukaan laut
Permukaan laut ialah rata-rata ketinggian air laut yang dapat diukur di pantai. Kata 'rata-rata' harus digunakan karena ketinggian air laut senantiasa berubah seiring terjadinya pasang surut air laut, yang disebabkan oleh adanya gaya grativasi bulan dan matahari.
Tinggi tempat di darat (pegunungan, negara, dsb.), biasanya diacukan ke "permukaan laut" untuk mengukur ketinggiannya.



Berita Lainnya



Dua pendaki Indonesia, Iwan Irawan dan Nurhuda, berhasil sampai ke puncak Gunung Everest, Nepal, lewat jalur utara, Sabtu (19/5/2012)



Muntah darah di ketinggian 6.500 meter, terkena longsoran salju, kehilangan sembilan dari 12 cadangan oksigen, diterpa dinginnya angin salju menggigit tulang berkecepatan 180 km/jam. Ini "ujian" yang harus dirasakan tim Indonesia 7 Summits Expedition dalam perjalanan menundukan Gunung Everest (8.848 mdpl) pada pertengahan Mei 2012 lalu.

Cobaan ini akhirnya mengalahkan perjuangan Ardeshir Yaftebbi dan Fajri Al Luthfi, dua pendaki yang mencoba jalur selatan, mencapai puncak Everest. Namun, dua rekan mereka lainnya, Iwan Irawan dan Nurhuda, berhasil sampai ke puncak Gunung Everest atau Sagarmatha, Nepal, lewat jalur utara, Sabtu (19/5).

Iwan Irawan dan Nurhuda, menjadi tim Indonesia ketiga yang sukses menjejakkan kaki di Everest sebagai bagian dari ekspedisi 7 Summits menundukan tujuh gunung tertinggi di dunia.

Sebelumnya di tahun 2011, tim Mahitala Universitas Parahyangan yang terdiri dari Sofyan Arief Fesa (29), Xaverius Frans (25), Broery Andrew Sihombing (23), dan Janatan Ginting (23) mencapai puncak Everest tepat pada hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2011. Ekspedisi mereka juga bagian dari pendakian tujuh puncak dunia (Seven Summiters).

Sedangkan tim Indonesia pertama yang berhasil mencapai puncak Everest dicatat oleh Ekspedisi Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus) di tahun 1997 oleh Asmujiono dan Misirin.

"Saya awalnya berhasil aklimatisasi di ketinggian 7.300 meter, tapi kemudian entah terkena virus atau bakteri, saya batuk darah, ngga ada kesempatan untuk pemulihan," cerita Ardeshir yang juga pemimpin tim Indonesia 7 Summits Expedition ketika berbincang dengan National Geographic Indonesia, Selasa (5/6). "Di ketinggian seperti itu, batuk atau flu biasa akan jadi hal luar biasa," kenangnya lagi.

Ditambahkan Ardeshir, jika dari awal mereka memprediksi akan adanya halangan. Maka itu tim tersebut sengaja kami dipecah dua tim (utara dan selatan), untuk mencapai peluang keberhasilan 100 persen mencapai puncak Everest.

Tim ini awalnya terdiri atas enam pendaki. Selain Ardeshir, Iwan Irawan, Nurhuda, dan Fajri Al Luthfi, terdapat juga nama Martin Rimbawan dan Gina Afriani sebagai satu-satu perempuan dalam tim. Namun, dua nama terakhir mengalami kendala kesehatan.

Tapi ini tak menghalangi nama tim Indonesia 7 Summits Expedition untuk masuk dalam jajaran elit seven summiter atau pendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia. Dalam situs 7summits, terdaftar 348 nama pendaki yang sukses sebagai seven summiter.

"Para pemuda ini menjadi pahlawan Indonesia dengan mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi dunia," kata Dubes Indonesia untuk Banglades dan Nepal Zet Mirzal.

Sebelumnya, Ardeshir dan tim sudah berhasil mencapai enam puncak tertinggi di dunia, yaitu Cartenz Pyramid di Papua pada 18 April 2010, Kilimanjaro di Afrika pada 1 Agustus 2010, Elbrus di Rusia pada 19 Agustus 2010.

Sedangkan tiga puncak lainnya, Aconcagua di Argentina pada 7 Desember 2010, Denali/McKinley pada 15 Mei 2011, dan terakhir Vinson Massif pada 6 Januari 2012. Untuk pendakian Everest, keempatnya mulai bertolak dari Tanah Air sejak 29 Maret 2012.

"Ekspedisi ini bukan untuk pribadi, kita ingin menginspirasi masyarakat Indonesia untuk menaklukan "Everest"-nya sendiri. Buat kami mungkin menaklukan Everest yang sesungguhnya. Tapi mungkin untuk seorang guru, "Everest" mereka adalah menjadikan muridnya sebagai seorang profesor. Wujudkan mimpi itu setapak demi setapak," ujar Ardeshir lagi.
(Zika Zakiya. Sumber: Kompas)




Nasehat Buya Yahya
Silaturahmi jasad yang tidak dibarengi silaturahmi hati hanya akan tambah merusak hati. Alangkah banyak orang bersilaturahmi jasad dan di saat berpisah justru mendapatkan bahan baru untuk menggunjing, menbenci dan mendengkinya buah dari yang dilihat saat bertemu.




Rosululloh SAW Bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya".
(HR. Imam Muslim)

Habib Umar bin Hafidz:"jadikanlah televisi,handphone,internet dan alat-alat lainya sebagai pelayan dan pembantu untuk agamamu ,jika tidak,alat-alat itu akan menghancurkan dirimu sedangkan engkau akan tertawa karena tidak menyadarinya,ia akan merusak hatimu,akalmu,akhlakmu,dan fikiranmu,tanpa engkau menyadarinya,engkau tertawa bahagia padahal alat-alat itu telah merusak hal-hal paling berharga yang kau miliki".

Sayangilah Ibu dan Bapak kita Sampai Akhir Hayat Mereka     

You might also like:
TERJEMAHAN  ALQUR’AN 30 JUZ
3.     SURAT 4. AN NISAA'
5.     SURAT 6. AL AN'AAM
6.     SURAT 7. AL A'RAAF

                                    
                                       

PENTING : jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon do'akan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa Keluarga kami, dan memanjangkan umur keluarga kami dalam ketakwaan pada-Nya. Mohon do'akan juga supaya Allah selalu memberi Keluarga kami rezeki yang halal,melimpah,mudah dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya,
melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar