Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Selasa, 02 Juni 2009

BELEKAN TAK SEMBUH DENGAN OBAT WARUNG

Penyakit mata merah alias belekan mewabah di beberapa wilayah sejak triwulan kedua tahun ini. Pangkal sebabnya cukup jelas: virus. Kalau hanya virus memang tidak apa-apa. Tapi ketika virus menyerang seseorang yang sedang lemah kondisi fisiknya, maka infeksinya akan berbahaya karena ditunggangi kuman.
Gara-gara ditunggangi kuman, penyakit mata merah menjadi bengkak, merah membara, disertai rasa nyeri pada bola mata. Ketika menjadi infeksi, produksi tahi mata (belek) bertambah. Saat bangun tidur, penderita bahkan sulit membuka matanya. Banyak kotoran di seputar tepi kelopak mata. Proses ini berlangsung cepat, menyebabkan penglihatan kabur dan terasa ada ganjalan di bola mata.
Sangat menular
Penyakit mata merah sangat menular. Semua alat yang dipakai dan menyentuh mata seperti kaca mata, sapu tangan, handuk, lensa kontak, perias mata, menjadi sumber penular. Tanpa sadar penularan bisa berlangsung lewat jemari tangan yang sudah tercemari kuman atau virus. Orang yang pekerjaannya banyak memegang uang, misalnya kasir, mudah tertular infeksi mata. Kalau salah seorang anggota keluarga ada yang terkena penyakit ini, maka anggota lain dalam keluarga mudah terkena.
Virus penyakit mata merah ini bertebaran di udara dan siap hinggap di tempat-tempat keramaian, seperti pasar, terminal, bioskop, dan sekolah. Itulah sebabnya, pasien penyakit mata merah tidak dianjurkan tetap sekolah atau bekerja. Selain menambah buruk proses penyakitnya, juga membahayakan orang sekitarnya, sekalipun sudah berkacamata.
Tak mempan obat warung
Tidak semua infeksi mata perlu diobati jika penyebabnya virus. Namun, jika penyebabnya kuman, baik sejak awal maupun kuman yang menunggangi kemudian, diperlukan antibiotika. Terlebih jika infeksinya oleh trachoma yang komplikasinya bisa mengakibatkan kebutaan.
Sayangnya, obat tetes mata yang bisa dibeli di warung tidak mampu menyembuhkan. Banyak pasien tertunda penyembuhannya karena mengandalkan obat mata asal warung.
Obat mata warung hanya membersihkan bola mata dari polusi debu dan iritasi, tapi tidak membunuh bibit penyakit. Lebih-lebih jika penyakitnya jamur. Perlu jenis obat khusus, baik yang mengandung antijamur - selain antibiotika baik dalam bentuk salep atau tetes.
Apa perbedaan salep dengan tetes? Untuk penyakit infeksi mata yang berat, daya kerja salep lebih bertahan lama. Sebab, sesuai bentuknya, obat berbentuk salep lebih mudah menempel dan bertahan lama pada selaput lendir mata dibandingkan dengan obat tetes. Obat tetes lekas habis masa kerjanya karena mudah mengalir keluar lagi bersama air mata.
Untuk itu kalau memakai obat tetes, perlu pemberian obat tetes lebih sering dibandingkan dengan pemakaian salep, mungkin setiap 3 - 4 jam sekali. Atau bisa lebih dari itu, sesuai tingkat keparahan infeksinya.
Salep kurang disukai sebab mengganggu pandangan dan memberikan rasa kurang enak di mata, selain kurang sedap dipandang. Lagi pula tidak semua pasien memakai salep mata secara benar. Mereka mengoleskan salep pada selaput lendir merah kelopak mata, bukan langsung pada biji mata, sehingga berlepotan mengenai bulu mata. Caranya mirip dengan cara mengoleskan odol pada sikat gigi. Di depan cermin, salep dioleskan pada sisi dalam kelopak mata bagian bawah dengan cara menarik kelopak mata bawah.
Semua obat infeksi mata harus ditebus dengan resep dokter. Tidak semua penyakit mata merah sama penyebabnya dan sama pula obatnya. Pemakaian obat mata sembarangan bisa membahayakan mata. Untuk infeksi mata yang dinilai parah, dokter mempertimbangkan pemberian obat minum, selain salep atau obat tetes mata.
Ada yang mengandung kortikosteroid
Obat mata yang diresepkan dokter banyak jenisnya. Kandungan obatnya pun beraneka. Selain ada berbagai pilihan jenis antibiotikanya, ada obat mata yang berisi tambahan obat kortikosteroid. Obat ini dipilih untuk membantu mempercepat peradangan.
Namun tidak semua penyakit mata merah boleh memakai obat mata yang mengandung bahan ini. Jika penyakit mata sudah mengenai bagian kornea (hitam mata), obat jenis ini tidak boleh dipakai. Begitu juga jika penyakit mata merah disebabkan oleh virus herpes, ada luka tusukan, atau borok pada kornea. Oleh karena itu, penderita penyakit mata merah yang kelihatannya sama belum tentu boleh memakai obat mata yang sama.
Tidak semua karena infeksi
Benar, tidak semua mata merah disebabkan oleh infeksi. Mungkin juga suatu glaucoma (meningkatnya tekanan di dalam bola mata sehingga merusak pandangan dan berakhir dengan kebutaan). Atau bisa pula alergi mata, peradangan tirai mata, atau akibat penyakit otoimun pada mata.
Bedanya, pada infeksi mata disertai dengan keluhan dan gejala infeksi umumnya, seperti demam, tidak enak badan, rasa nyeri pada mata, ada peradangan pada bola mata dan kelopaknya, disertai dengan bertambah banyaknya kotoran mata. Sedangkan pada bukan infeksi mata, gejala dan tanda infeksi itu tidak ada. Yang terlihat adalah sama-sama merahnya.
Mata merah karena alergi biasanya hilang timbul dan sudah berlangsung lama disertai rasa gatal dan mereda jika tidak berkontak dengan debu, angin, atau serbuk alergen lainnya. Pasien sendiri harus melacak faktor pencetus alergi pada bola matanya, termasuk apakah faktor itu akibat kosmetika perias mata yang tidak cocok.
Pengidap TBC, campak, difteria, cacingan pun dapat memperlihatkan gejala mata merah. Tapi tentu tidak sembuh dengan obat antibiotika karena harus menyembuhkan dulu penyakit yang menjadi akar penyebabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar