Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Jumat, 15 Oktober 2010

BISING BISA TIMBULKAN TULI

Badan kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, tahun 1988 terdapat 8 - 12% penduduk dunia menderita dampak kebisingan dalam berbagai bentuk. Angka itu diperkirakan akan terus meningkat.
Tidak diragukan lagi, kebisingan dapat menyebabkan kerusakan pendengaran, baik yang sifatnya sementara ataupun permanen. Hal ini sangat dipengaruhi oleh intensitas dan lamanya pendengaran terpapar kebisingan. Intensitas bunyi adalah arus energi per satuan luas yang dinyatakan dalam satuan desibel (dB).
Menurut batasannya, kebisingan adalah suara-suara yang tidak dikehendaki. Oleh karenanya, kebisingan sering kali mengganggu aktivitas, apalagi jika kebisingan itu bernada tinggi. Pengaruh kebisingan terputus-putus atau datang secara tiba-tiba dan tak terduga, sangat terasa. Lebih-lebih bila sumber kebisingan itu tidak diketahui.
Penentuan tingkat kebisingan biasanya dinyatakan dalam satuan desibel juga. Sebagai contoh, Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan menyatakan pembagian wilayah dalam empat zona. Zona A adalah zona untuk tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan atau sosial. Tingkat kebisingannya berkisar 35 - 45 dB. Zona B untuk perumahan, tempat pendidikan, dan rekreasi. Angka kebisingan 45 - 55 dB. Yang masuk zona C, antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dengan kebisingan sekitar 50 - 60 dB. Zona D bagi lingkungan industri, pabrik, stasiun kereta api, dan terminal bus. Tingkat kebisingan 60 - 70 dB.
Seharusnya zona-zona ini diterapkan dalam penentuan kembali Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Kota yang memiliki RDTRK perlu melakukan pengawasan secara berkala agar tingkat kebisingan di zona-zona itu tak melebihi nilai ambang batas.

40% petugas call center Tinnitus
Berdasarkan sumbernya, kebisingan dapat dibagi menjadi empat. Yang pertama, kebisingan kontinyu berspektrum luas (misal: mesin, kipas angin, dan dapur pijar). Kedua, kebisingan kontinyu dengan spektrum sempit (contoh: gergaji sirkuler dan katup gas). Kemudian ada kebisingan impulsif, semisal tembakan bedil, meriam. Terakhir, kebisingan impulsif berulang, seperti mesin tempa perusahaan.
Sudah diketahui dan diterima umum, pengaruh utama dari kebisingan kepada kesehatan adalah ketulian progresif. Mula-mula efek kebisingan pada pendengaran sifatnya sementara. Pemulihannya pun terjadi secara cepat sesudah sumber kebisingan dijauhkan atau dimatikan. Tetapi apabila kita terus-menerus melakukan aktivitas di tempat bising, maka kehilangan daya dengar yang terjadi bisa menetap dan tidak pulih kembali. Kehilangan itu biasanya dimulai dari frekuensi tinggi kemudian menghebat dan turun ke frekuensi yang digunakan untuk percakapan.
Pemerintah AS telah menetapkan batas kebisingan dan lamanya terpapar seperti tercantum pada Tabel berikut ini.

Batas Intensitas Kebisingan dan Lama Pemaparan

Batas
suara
(dB) Lama pemaparan tiap har (jam)
80_________ 16
85__________ 8
90__________ 4
95__________ 2
100_________ 1
105 ________ 1/2
110________ 1/4
115________ 1/8

Jadi, apabila Anda bekerja di tempat pemotongan logam/besi dengan intensitas kebisingan 122 dB, Anda hanya boleh memotong logam selama kurang dari 1/8 jam (7,5 menit). Setelah itu Anda harus berhenti beberapa saat, baru kemudian melanjutkan kembali pekerjaan.
Beberapa aktivitas kehidupan modern justru acap menjadikan kebisingan sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Setiap malam jutaan anak muda di seluruh dunia mendatangi diskotek-diskotek yang memperdengarkan musik keras. Royal National Institute For Deaf People (RNID), sebuah lembaga kehormatan Inggris yang meneliti masalah ketulian, mensurvai sejumlah kelab malam yang ternyata tingkat kebisingannya mencapai 120 dB. Telinga anak-anak muda itu terpapar suara yang jauh di atas ambang batas selama berjam-jam. Sampai-sampai RNID memberikan cap pada kelompok itu sebagai generasi muda yang tak acuh dan tuli.
Di tempat kerja pun kebisingan cukup membahayakan. Di pabrik tekstil, misalnya, para karyawan berada di lingkungan mesin-mesin pemintal yang intensitas bunyinya bisa mencapai 90 dB selama rata-rata 8 jam sehari. Kebanyakan tanpa pelindung telinga.
Industri yang kini banyak disorot adalah call center (Media Indonesia, 12-8-1999). Hampir 40% kaum pekerjanya mengidap Tinnitus, yaitu bunyi denging di telinga yang sering muncul tiba-tiba. Meskipun denging itu akan hilang dalam beberapa jam, namun bisa dijadikan sebagai indikator rusaknya pendengaran. Biang keladinya tak lain bunyi gaduh yang terdengar lewat headset saat melayani panggilan pelanggan.
Suara dari walkman juga merupakan sumber kebisingan lain. Kebisingan yang ditimbulkannya setara dengan suara mesin bor yang intensitasnya mencapai 96 dB. Padahal standar suara yang aman 85 dB. Bahkan hasil penelitian di Australia menyebutkan, anak-anak yang sering mendengarkan walkman sejak usia 10-an tahun, kemungkinan akan menderita tuli pada usia 30-an tahun.
Di kota-kota besar kebisingan dari lalu lalang kendaraan pun cukup mengganggu. Bapedal Kodya Bandung melaporkan, tiga sumber utama pencemaran udara adalah NO(x), debu, dan kebisingan (Pikiran Rakyat, 31-8-1999).

Dampak lainnya
Selain bisa menimbulkan Tinnitus, ketulian sementara, dan ketulian permanen, kebisingan juga masih membawa dampak negatif lain; dapat disebutkan: gangguan komunikasi, efek pada pekerjaan, dan reaksi masyarakat.
Gangguan komunikasi mulai dirasakan apabila pembicaraan harus dijalankan dengan berteriak. Gangguan komunikasi ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan mungkin terjadi kesalahan, terutama bila ada karyawan baru.
Banyak jenis pekerjaan membutuhkan komunikasi, baik secara langsung maupun lewat telepon. Intensitas kebisingan antara 50 - 55 dB saja menyebabkan telepon terganggu, dan rapat akan berjalan tidak memuaskan. Sedangkan intensitas di atas 55 dB dapat dianggap sangat bising, tidak cocok untuk kantor, dan sangat tidak nyaman untuk komunikasi telepon.
Begitu pula pekerjaan yang memerlukan perhatian terus-menerus. Jenis pekerjaan semacam ini akan terganggu oleh kebisingan, sehingga tidak jarang tenaga kerja yang bertugas melakukan pengamatan/pengawasan terhadap satu proses produksi dapat membuat kesalahan akibat konsentrasinya terganggu.
Kebisingan juga meningkatkan kelelahan. Pada pekerjaan yang menuntut banyak berpikir, kebisingan sebaiknya ditekan serendah-rendahnya.
Sangat mungkin, masyarakat memberikan reaksi keras terhadap industri yang menimbulkan kebisingan. Suara berisik mesin bisa saja dijadikan alasan oleh provokator untuk menggerakkan masyarakat berdemonstrasi atau malahan membuat kerusakan.
Oleh karena itu pihak industri yang menimbulkan kebisingan harus memperhatikan kapan kebisingan terjadi pada tingkat tertinggi, siang atau malam. Juga bandingkan kebisingan lingkungan yang terjadi pada saat mesin dijalankan dan dimatikan.

Pengendalian kebisingan
Kebisingan terjadi karena ada sumber bising, media pengantar (berbentuk materi atau udara), dan manusia yang terkena dampak. Pengendalian kebisingan dapat dilakukan terhadap salah satu bagian di atas atau ketiga-tiganya.
Tapi sebelum melakukan pengendalian sebaiknya dilakukan dulu pengukuran. Alat yang digunakan biasanya Sound Level Meter. Ada yang manual tanpa memori penyimpan data. Atau, bisa juga menggunakan alat yang canggih dan mampu menyimpan data, noise logging dosimeter. Namun alat ini menuntut keahlian khusus untuk menggunakannya, termasuk untuk menentukan titik pengukuran.
Pengurangan kebisingan pada sumbernya dapat dilakukan dengan memodifikasi mesin atau menempatkan peredam pada sumber getaran. Tetapi alternatif ini memerlukan penelitian intensif dan umumnya juga biaya sangat tinggi.
Sebaliknya pengurangan kebisingan pada media transmisi menghabiskan biaya lebih murah dengan teknologi lebih sederhana asalkan perencanaannya matang. Bahan yang dapat menyerap suara, semisal busa atau ijuk, dapat ditaruh di antara mesin dan manusia.
Apabila sumber kebisingannya lalu lintas, penanggulangannya bisa dengan membuat jalur hijau dan penanaman pohon. Tanaman diyakini dapat mengurangi suara bising, walau sejauh ini belum ada penelitian berapa besar tepatnya penurunan kebisingan oleh sebuah pohon.
Pengendalian kebisingan bisa juga dilakukan dengan memproteksi telinga. Ada tutup telinga, ada juga sumbat telinga. Yang pertama biasanya lebih efektif daripada yang kedua. Kalau tutup telinga bisa menurunkan kebisingan antara 25 - 40 dB, kemampuan sumbat telinga lebih kecil, tergantung bahannya. Sumbat karet dapat menurunkan kebisingan 18 - 25 dB. Apalagi bahan cotton wool yang hanya menurunkan 8 dB. Maka pekerja call centre sebenarnya memerlukan alat pelindung khusus yang disebut micropgones. Sayang sekali alat ini harganya masih cukup tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.