Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Minggu, 28 November 2010

MENOPAUSE & PENGOBATAN


Sumber : Samsuridjal, dr. ( Kompas (22 Agustus 1999))

SAYA seorang wanita berumur 43 tahun. Agaknya dalam waktu dekat ini saya akan memasuki masa menopause. Saya banyak mendengar dari teman-teman sesama anggota klub senam mengenai berbagai keluhan yang timbul sewaktu memasuki menopause.

Salah satu topik hangat yang menjadi bahan pembicaraan adalah osteoporosis. Banyak ibu-ibu yang merasa takut tulangnya keropos ketika memasuki masa menopause. Beberapa teman saya yang telah mengalami menopause menggunakan pengobatan hormon atas anjuran dokter. Mereka tampaknya awet muda, lebih bersemangat, dan tidak mengalami keluhan-keluhan yang biasa dirasakan oleh wanita yang mengalami menopause.

Saya ingin juga menjalani pengobatan hormon seperti teman-teman tersebut, tetapi saya memerlukan informasi yang lebih lengkap mengenai baik-buruknya menggunakan pengobatan hormon di masa menopause. Kepada dokter spesialis apa sebaiknya saya berkonsultasi mengenai pengobatan ini.

Ny Corrie, Medan

Pada masa menopause, ovarium pada wanita tidak lagi menghasilkan hormon estrogen, sehingga kadar hormon estrogen pada masa menopause menurun. Akibatnya, timbullah gejala-gejala rasa panas, keringat malam, dan selaput lendir vagina kering.

Keluhan lain yang mungkin timbul akibat rendahnya kadar hormon estrogen adalah rasa nyeri-nyeri tulang akibat penipisan tulang. Di samping itu hormon estrogen juga bermanfaat untuk mencegah terjadinya aterosklerosis pada wanita. Bila hormon estrogen rendah, risiko penyakit jantung koroner pada wanita mulai meningkat. Untuk menggantikan hormon estrogen, dapat diberikan hormon pengganti baik berupa estrogen maupun progesteron.

Akan tetapi, penggunaan hormon estrogen ditakutkan meningkatkan risiko kanker endometrium (selaput lendir yang melapisi rahim), sehingga lebih banyak digunakan hormon progesteron sebagai pengganti hormon estrogen. Penggunaan hormon estrogen tanpa progesteron biasanya dapat digunakan oleh wanita yang telah mengalami pengangkatan rahim.

Hormon estrogen memang bermanfaat untuk mencegah terjadinya osteoporosis. Oleh karena itu dengan menurunnya kadar estrogen pada wanita yang memasuki masa menopause, risiko osteoporosis meningkat.

Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala. Bila timbul gejala, mungkin dirasakan nyeri di daerah punggung. Selain itu, tulang-tulang yang mengalami osteoporosis lebih mudah patah. Keadaan osteoporosis ini dapat didiagnosis dengan pemeriksaan rontgen. Bila osteoporosis telah terjadi, sulit untuk mengembalikan tulang ke keadaan semula.

Oleh karena itu, yang paling penting adalah mencegah terjadinya osteoporosis. Menurut penelitian, olahraga secara teratur dapat menjaga kekuatan tulang dan mencegah osteoporosis. Diet yang kaya kalsium dan vitamin D juga dapat mencegah osteoporosis. Upaya-upaya pencegahan ini hendaknya dilakukan sejak usia muda dan tidak menunggu masa menopause.

Untuk menggunakan pengobatan hormon, Anda harus berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda, karena sebelum memakai pengobatan ini kesehatan Anda perlu diperiksa termasuk tekanan darah, risiko kemungkinan terkena kanker payudara, serta pemeriksaan pap smear untuk menyingkirkan kanker mulut rahim.

Efek samping pengobatan hormon ini adalah rasa sakit kepala, mual, kembung, nyeri pada daerah payudara serta peningkatan berat badan. Sebaliknya memang cukup banyak wanita yang merasakan kulitnya lebih licin dan hidupnya lebih bergairah.

Pengobatan hormon ini tersedia dalam bentuk tablet maupun suntikan. Jadi sebelum menggunakan obat ini, hendaknya Anda memeriksakan ke dokter kandungan.

OBAT PASCA MENOPAUSE

Sumber : TIME (30/8 1999)

Wanita yang menderita osteoporosis dapat mengurangi resiko patah tulang belakang sampai 59% dengan mengkomsumsi obat raloxifane - salah satu pengobatan alternatif yang mengandung hormon estrogen. Obat ini ditujukan untuk para wanita pasca menopause.

Selain itu menurut data yang keluar 2 bulan lalu, keuntungan lain dari obat ini adalah dapat mengurangi resiko kanker payudara sampai 70%.

HAID TIDAK NORMAL MENJELANG MENOPAUSE

Sumber : Andon Hestiantoro, dr, SpOG. (SWARA (30/9 1999))

SAYA, Ny Mn (45), memiliki dua anak. Pola haid saya terganggu dan tidak normal. Baru saja selesai haid, telah timbul kembali perdarahan, terkadang banyak, terkadang sedikit, selama kurang lebih dua minggu. Kondisi ini sudah berlangsung empat bulan, sangat mengganggu dan membuat saya sangat cemas. Saya belum pergi ke dokter karena saya takut dikuret. Apakah saya menderita kanker?

Perubahan pola haid memang sering dialami perempuan berusia 40-50 tahun atau masa yang biasa disebut sebagai masa menjelang menopause. Perubahan pola haid yang terjadi berupa perdarahan haid tidak normal, yaitu jumlah darah yang banyak dan timbul perdarahan di luar siklus haid yang normal. Sangat sedikit informasi yang diketahui perempuan tentang permasalahan yang mungkin timbul ketika memasuki usia menjelang menopause. Informasi yang diterima seringkali salah dan justru malah menyesatkan. Sudah menjadi tugas seorang dokter menjelaskan hal ini agar permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan baik dan tepat.

Pola siklus haid yang normal pada wanita usia reproduksi terjadi setiap 21-35 hari. Dengan lama haid berkisar 4-7 hari, dan dengan jumlah perdarahan sebanyak 40-60 ml. Pola haid yang teratur tersebut dikendalikan dua hormon penting yaitu hormon estrogen dan pregesteron yang dihasilkan kedua indung telur (ovarium).

Ketika wanita memasuki usia 40 tahun, secara alamiah akan terjadi perubahan produksi dari kedua hormon tersebut. Terjadi kehilangan atau penurunan produksi hormon progesteron sebagai akibat indung telur tidak mampu lagi mengeluarkan sel telur secara teratur setiap bulannya. Hormon estrogen hanya bekerja sendiri tanpa adanya hormon progesteron dan itu pun dengan kadar yang tidak pernah stabil, terkadang tinggi atau terkadang rendah. Akibatnya, pada awal usia menjelang menopause atau sekitar usia 42 tahun, secara normal sering dijumpai siklus haid yang lebih pendek daripada biasanya. Jika sebelumnya haid terjadi setiap 28 hari, maka setelah memasuki usia menjelang menopause haid akan terjadi setiap 24-25 hari. Ketika usia bertambah mendekati usia 50 tahun, akan berubah menjadi siklus haid yang lebih panjang daripada normal, yaitu haid terjadi setelah melampaui 2-3 bulan masa tidak ada haid. Hal tersebut sebenarnya merupakan kondisi yang normal-normal saja.

Pada kondisi yang patologis, pola perdarahan haid pada wanita menjelang usia menopause menjadi tidak normal yaitu jika didapatkan jumlah darah haid lebih banyak daripada biasanya, perdarahan haid yang lebih lama daripada biasanya, dan bila perdarahan haid tumbuh di luar pola siklus haid yang biasanya.

Haid tidak normal

JIKA terjadi perdarahan tidak normal dalam kurun usia menjelang menopause, haruslah diwaspadai beberapa faktor yang dapat menjadi penyebabnya.

Faktor-faktor tersebut antara lain akibat gangguan perubahan keseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron, akibat kehamilan yang mengalami keguguran, polip endometrium, polip di mulut rahim, tumor jinak otot rahim (mioma), selaput lendir rahim yang menebal (hiperplasia), infeksi selaput lendir rahim, infeksi mulut rahim, gangguan pembekuan darah, penyakit hati berat, gangguan kelenjar gondok, kontrasepsi hormonal, alat kontrasepsi dalam rahim (spiral), dan kanker ginekologi seperti kanker mulut rahim, kanker selaput lendir rahim, kanker indung telur, kanker bibir kemaluan/vagina.

Proses kehamilan yang terganggu, baik di dalam rahim maupun di luar rahim, sering merupakan faktor penyebab yang dilupakan karena dianggap pada usia empat puluh tahunan wanita sudah sukar untuk hamil. Pada kenyataannya, walaupun angka kejadiannya kecil, tetapi kehamilan tetap saja mungkin terjadi, terlebih lagi jika si wanita telah meninggalkan kontrasepsi yang biasa dipergunakannya.

Jika pasien datang dengan keluhan perdarahan bercak di luar siklus haid dan perdarahan setelah senggama, kemungkinan disebabkan polip mulut rahim atau infeksi mulut rahim. Jika perdarahannya banyak sekali kemungkinan besar akibat mioma di dalam rahim.

Proses maligna (keganasan) seperti kanker mulut rahim, kanker vagina atau vulva dapat menimbulkan perdarahan yang banyak pula.

Adanya faktor kegemukan dan riwayat infertilitas (sulit punya anak), biasanya terkait dengan kanker dari selaput lendir rahim. Itulah mengapa seorang wanita harus datang ke dokter untuk memeriksakan diri segera jika mengalami kelainan atau perubahan dari pola siklus haid, karena ternyata banyak faktor yang dapat menyebabkan gangguan haid dan memerlukan penanganan cermat dan khusus.

Selain gangguan haid yang abnormal, terdapat keluhan lain yang juga sering dijumpai pada wanita menjelang menopause, terkait dengan mulai menurunnya produksi hormon estrogen oleh kedua indung telur. Gejala yang juga dijumpai adalah adanya keluhan gejolak panas di dada yang menjalar ke leher dan wajah, sering berkeringat pada malam hari, sukar tidur, sukar konsentrasi, sering sakit kepala, rambut mudah rontok, sering infeksi saluran kemih, ngilu pada daerah persendian dan sebagainya.

Diagnosis

JIKA seorang wanita dengan usia menjelang menopause datang ke dokter spesialis ilmu penyakit kandungan karena keluhan gangguan perdarahan haid abnormal, dokter pertama kali akan menanyakan karakteristik gangguan haid tersebut. Antara lain akan ditanyakan tentang pola siklus haid dalam tiga bulan terakhir, berapa banyak jumlah darah haid yang keluar, berapa lama haid berlangsung, perdarahan terjadi bersamaan dengan haid atau diluar siklus haid.

Dokter juga akan berupaya mencari data apakah pasien dapat mengenali atau membedakan sumber perdarahan yang terjadi tersebut berasal dari saluran kemih, saluran vagina atau berasal dari saluran pelepasan atau anus, serta beberapa pertanyaan lainnya yang dianggap berkaitan erat dengan faktor penyebab perdarahan haid abnormal.

Pemeriksaan selanjutnya berkaitan dengan pemeriksaan fisik secara umum, dan tanda khusus seperti anemia atau kekurangan sel darah merah akibat perdarahan yang banyak atau gejala lain seperti mudah lelah, tangan dan kaki yang dingin, kelenjar gondok yang membesar, sebagai tanda gangguan fungsi kelenjar gondok, dan termasuk pengukuran berat badan untuk menilai adanya berat badan yang berlebihan atau tidak. Pada pemeriksaan saluran vagina dan mulut rahim, dokter akan menilai adanya keputihan, tanda infeksi, perlukaan pada mulut rahim, adanya polip di mulut rahim, adanya benang AKDR (spiral), atau adanya kanker mulut rahim. Bila dirasakan perlu, dokter akan melakukan pengambilan percontoh sitologi mulut rahim yang terkenal dengan nama pemeriksaan "Pap smear". Penilaian terhadap besar rahim juga sangat penting untuk mengetahui adanya mioma atau adenomiosis, sekaligus dilakukan penilaian untuk mencari adanya tumor atau benjolan pada indung telur. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan ultrasonografi atau USG, untuk menilai kelainan yang mungkin terletak pada endometrium, seperti mengukur ketebalan endometrium atau selaput lendir rahim, mencari polip endometrium atau mencari mioma yang terletak di sebelah dalam rongga rahim.

Tindakan kuretase atau pengerokan selaput lendir rahim bukanlah pelayanan medis yang rutin dilakukan pada kasus perdarahan haid abnormal. Tindakan kuretase berguna secara terapetik untuk menghentikan perdarahan yang banyak dan sekaligus mengeluarkan polip endometrium, mioma bertangkai dalam rahim atau secara diagnostis untuk menilai gambaran mikroskopik selaput lendir rahim (endometrium), untuk mengetahui adanya gambaran hiperplasia endometrium atau kanker endometrium. Jadi kuretase hanya dilakukan jika terdapat perdarahan yang banyak, jika terdapat kecurigaan lesi jinak, maligna dari endometrium, atau jika terdapat kegagalan pengobatan hormonal.

Bila seluruh pemeriksaan fisik dan ginekologis tidak mendapatkan kelainan, maka dokter akan melakukan pemeriksaan hormon reproduksi dan hormon penting yang terkait.

Pengobatan

PRINSIP pengobatan pada pasien dengan keluhan di atas adalah berkaitan dengan faktor penyebabnya. Jika kelainan itu hanya disebabkan karena gangguan keseimbangan hormonal atau perdarahan disfungsional tanpa ada kelainan organik yang berperan, maka pengobatannya adalah memberikan terapi hormonal. Hormon yang biasa diberikan dapat berupa hormon progesteron saja, atau kombinasi antara hormon enstrogen dan hormon progesteron. Pemberian terapi hormonal bagi wanita di usia menjelang menopause ini di samping dapat mengobati gangguan perdarahan yang terjadi, juga sekaligus dapat bermanfaat untuk mengatasi keluhan akibat menurunnya hormon estrogen seperti gejolak panas, sukar tidur, sering gelisah dan sebagainya.

Selain obat hormon juga terdapat terapi medikamentosa lainnya seperti obat antifibrinolitik (asam traneksamat, asam epsilon-aminokaproat), antiprostaglandin (asam mefenamat).

Pengobatan operatif seringkali juga diperlukan seperti tindakan kuretase, histeroskopi dan pengerokan lapisan endometrium atau jika ada indikasi kuat seperti pengobatan medikamentosa gagal, mioma besar, mioma dalam rahim, lesi maligna, dan sebagainya. Pengobatan pilihan adalah melakukan pengangkatan rahim (histerektomi).

Faktor penyebab perdarahan haid abnormal pada wanita menjelang menopause:

I. Faktor organik:
A. Kelainan pada organ reproduksi
1. Kegagalan kehamilan atau abortus (keguguran)
2. Tumor atau lesi jinak, seperti: mioma, polip, adenomiosis, infeksi, dan sebagainya
3. Tumor atau lesi maligna, seperti
a. Kanker mulut rahim, kanker endometrium, kanker ovarium, dan sebagainya
b. "Lesi prakanker" (hiperplasia endometrium)

B. Penyakit sistemik
1. Gangguan faktor pembekuan darah, seperti penyakit von Willebrand
2. Hipotiroid atau gangguan fungsi kelenjar gondok
3. Penyakit hati yang berat seperti penyakit hati sirosis

C. Penggunaan obat dan alat tertentu, seperti:
1. Obat kortikosteroid atau kontrasepsi hormonal
2. Obat pencegah pembekuan darah
3. Alat kontrasepsi dalam rahim atau spiral
4. Obat-obatan seperti (Phenytoin DilantinR) digitalis dan obat tidur

II. Perdarahan disfungsional atau karena kelainan faktor keseimbangan hormonal semata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar