Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 08 Oktober 2014

Dampak dari Terjadinya Gerhana Bulan



                                    
                                       


Adakah Dampak dari Fenomena Gerhana Bulan?

JAKARTA Fenomena gerhana bulan total akan terjadi pada hari ini, tepatnya pada pukul 17.51 WIB. Beberapa kota di Indonesia dapat menyaksikan fenomena alam tersebut.

Adakah dampak dari fenomena gerhana bulan ini? Menurut Clara Yonoyatini, Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, fenomena gerhana bulan tidak memiliki dampak terhadap Bumi.

“Dampak, saya kira tidak ada dampak. Bulan kemudian menjadi lebih tertutup. Dampak yang besar tidak ada. Gerhana itu terjadi pada saat bulan terbit,” ujar Clara kepada
Okezone melalui percakapan telefon, Rabu (8/10/2014).

Fenomena ini menurutnya bisa terjadi beberapa kali dalam satu tahun. “Bisa gerhana bulan total atau gerhana bulan sebagian. Tempat (menyaksikannya) berbeda-beda, tergantung dari posisi kita di Bumi,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, menyaksikan gerhana Bulan tidak berbahaya, sebab cahayanya tidak terlalu besar seperti matahari. “Tidak perlu alat khusus untuk melihat gerhana bulan. Cahaya tidak terlalu seperti matahari,” jelasnya.

Website Personal.fmipa.itb.ac.id oleh peneliti Observatorium Bosscha F-MIPA ITB, Moedji Raharto menjelaskan, GBT 8 Oktober 2014 dimulai pada saat Bulan memasuki kawasan Penumbra pada jam 15:16 WIB, pertanda tahap gerhana Bulan Penumbra dimulai.

Kemudian, Bulan memasuki kawasan Umbra Bumi pada pukul 16.15 WIB dan seluruh permukaan Bulan memasuki Umbra Bumi, pertanda momen GBT dimulai pada 17.25 WIB.

Momen GBT akan berakhir pada 18.24 WIB, di mana Bulan meninggalkan Umbra Bumi pada pukul 19.34 WIB. Moment GBT ini berlansung selama 59 menit.

Fenomena gerhana bulan ini dapat disaksikan  hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di Banda Aceh. Dua wilayah seperti Sorong dan Jayapura menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan momen gerhana bulan 8 Oktober 2014.
(ahl)
Sumber : OkeZone.Com


Situs Badan Antariksa Amerika Serikat mengungkap fenomena langit tersebut akan diawali fase gerhana sebagian mulai pukul 16.15 WIB, disusul fase total mulai 17.25 sampai 18.24 WIB, dan diakhiri dengan fase gerhana sebagian lagi sampai pukul 19.34 WIB.

"Dari waktu tersebut, jelas hanya Indonesia Timur yang bisa mengamatinya secara penuh," tulis Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin dalam blognya. "Di wilayah Barat Indonesia, ketika Bulan terbit saat maghrib gerhana total sedang berlangsung."

"Seluruh wilayah Indonesia bisa mengamatinya seperti mengamati purnama," tambah ahli astronomi tersebut.

Menurut Thomas, warna 'darah' terjadi karena karena Bulan tertutup oleh bayangan Bumi, namun cahaya matahari terbiaskan hingga menimbulkan kesan kemerah-merahan.
 
 

Pasang Surut Air Laut Akibat Adanya Gerhana Bulan

Banyak orang beranggapan bahwa adanya gerhana bulan yang terjadi tidak memiliki dampak apapun terhadap aktivitas di bumi, terutama pergerakan massa air laut. Akan tetapi hal ini berkebalikan dengan fakta yang ditemukan pada perubahan tinggi dan rendahnya permukaan air laut.
Pada dasarnya gerhana bulan adalah sebuah fenomena alam yang terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Hal ini terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi. Gerhana bulan muncul bila bulan sedang beroposisi dengan matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika, maka tidak setiap pertemuan bulan dan matahari yang terhalang bumi akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan.
Konsep gravitasi antar dua planet di jelaskan oleh hukum ke-3 newton. Anggap ada sebuah titik bermassa m diantara bumi-bulan berjarak h meter dari permukaan bumi dan jarak bumi- bulan H meter, maka besar gaya gravitasi bumi dan gaya gravitasi bulan berturut2 diukur dari pusat bumi-bulan yang dirasakan oleh titik adalah :
Fbumi-titik = G x Mbm x m / (h + Rbm)^2
Ftitik-bulan = G x Mbl x m / (H - h + Rbl)^2
Untuk mengetahui apakah ada beda antara Fbumi-titik dengan Ftitik-bulan, maka perbandingkan. Jika Fbumi-titik : Ftitik-bulan = 1 : 1 , maka kesimpulannya tidak ada pengaruh gravitasi bulan terhadap kekuatan gravitasi bumi.
Fbumi-titik/Ftitik-bulan =[G x Mbm x m / (h + Rbm)^2]/[G x Mbl x m / (H - h + Rbl)^2]
Fbumi-titik/Ftitik-bulan = Mbm/Mbl x [(H - h + Rbl)/(h + Rbm)]^2
karena Mbm > Mbl dan Rbm > Rbl , maka nilai akhirnya tergantung h atau jarak titik-bumi, artinya ada posisi (h0) dimana titik tsb tidak mengalami gravitasi dari keduanya.
Posisi ini terjadi saat Fbumi-titik = Ftitik-bulan ,atau :
[(h + Rbm)/(H - h + Rbl)]^2 = Mbm/mbl
(h + Rbm)/(H - h + Rbl) = akar (Mbm/mbl)
h0 = [(H + Rbl) x akar (Mbm/Mbl) - Rbm]/[1 + akar (Mbm/Mbl)]
Sehingga :
Jika h < h0 ,maka Fbumi-titik > Ftitik-bulan
Jika h > h0 ,maka Fbumi-titik < Ftitik-bulan
Jika h = h0 ,maka Fbumi-titik = Ftitik-bulan
Kesimpulannya :
"Pengaruh gravitasi bulan menyebabkan kekuatan gravitasi bumi semakin berkurang", jadi dapat disimpulkan bahwa pada saat terjadi gerhana bulan maka permukaan air laut akan cenderung mengalami pasang maksimal.
Jika kita kaji, pada saat terjadi gerhana bulan, posisi Bulan-bumi-matahari sejajar maka akan ada titik dimana gravitasi bumi, bulan dan matahari sejajar, kekuatan gravitasi dari ketiga benda langit tersebut berbeda tergantung jarak ketika ketiganya berjajar. Pengaruh dari gaya gravitasi bulan-bumi-matahari inilah yang ikut mempengaruhi naik dan surutnya air laut.
Karena Matahari lebih jauh daripada Bulan, pengaruh pasang surut oleh matahari lebih kecil daripada oleh Bulan. Tetapi, kalau digabungkan pengaruhnya akan lebih kuat dari biasanya. Ini terjadi pada saat bulan sabit atau bulan purnama. Itulah sebabnya pada saat bulan purnama air pasang paling tinggi. Pada saat gerhana bulan, terjadi pasang air laut terbesar, pada saat itu air akan sangat naik, wilayah pantai terbenam dan biota-biota laut akan terbawa ke pantai.


Semua benda sebenarnya tarik menarik dengan gaya gravitasi. Bumi dan matahari saling menarik. Demikian juga antara Bumi dan Bulan. Gaya tariknya tergantung pada jaraknya. Semakin dekat jaraknya, gaya tariknya makin kuat. Bumi terdiri dari bagian yang padat, termasuk daratannya, dan bagian laut. Kedua bagian itu sama-sama mengalami tarikan dari Bulan dan Matahari. Tetapi besarnya gaya tarik pada bagian padat dan lautan berbeda, tergantung jaraknya dari bulan atau Matahari. Akibat perbedaan gaya tarik itu, air laut cenderung bergerak menjauhi bagian padat. Akibatnya akan terjadi pasang, baik di bagian yang menghadap Bulan atau Matahari maupun di bagian sebaliknya. Di bagian lain air laut surut. Karena rotasi Bumi, bagian yang pasang dan yang surut selalu berpindah. Setiap setengah hari akan mengalami keadaan pasang yang bergantian dengan keadaan surut.
Sebenarnya, proses yang terjadi saat berlangsungnya pasang surut air laut adalah terkait dengan gaya tarik gravitasi antara bulan dan bumi, tetapi prosesnya tidak terlalu sederhana karena bumi bukan benda yang homogen, melainkan terdiri atas lautan dan daratan. Air yang terletak di lautan bumi tidak hanya mengalami gaya tarik gravitasi dari bumi, tetapi juga dari bulan meskipun besarnya gaya ini jauh lebih kecil karena bulan cukup jauh dan massa bulan jauh lebih kecil daripada massa bumi. Adanya pasang surut ini terjadi karena yang mendapatkan gaya tarik bukan benda titik, sehingga daerah yang lebih dekat ke bulan mengalami gaya tarik yang lebih besar dibandingkan dengan daerah yang lebih dekat. Peristiwa ini menghasilkan gejala yang disebut sebagai gaya tarik diferensial, dan membuat objek-objek yang mengalami gaya tarik diferensial ini menjadi terdistorsi. Sehingga pada saat terjadi gerhana bulan fase gaya tarik differensial oleh bulan terjadi begitu kuat dan mengakibatkan pasang tertinggi pada bagian tersebut. Sementara, di bagian belahan bumi lainnya mengalami surut terendah.
Oleh karena itu dapat kita pahami bahwa gerhana bulan yang terjadi juga mengakibatkan perubahan pergerakan massa air laut. Sebagai contoh adalah terjadinya pasang maksimum yang terjadi pada daerah yang mengalami gerhana bulan tersebut.


Sholat Gerhana
Sebagian orang menganggap terjadinya gerhana matahari dan bulan sebagai gejala alam biasa, sebagai peristiwa ilmiah yang bisa dinalar. Gerhana sekedar menjadi tontonan menarik yang bisa disaksikan beramai-ramai bersama keluarga dan handai tolan. Namun bagi yang merasa tunduk kepada keagungan Sang Perncipta, Allah SWT, gerhana adalah peristiwa penting yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada kekuatan Yang Maha Agung di luar batas kemampuan manusia; manusia yang paling merasa faham ilmu alam sekalipun. Mereka yang merasa rendah di hadapan Sang Pencipta akan menadahkan muka, menghadap Allah, mengerjakan shalat secara berjamaah. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan untuk itu.
Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah. (HR Bukhari-Muslim)
Sayyidatuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan dan sholat kusuf untuk gerhana matahari.
Imam Maliki dan Syafi’i berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna A’isyah berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua roka'at dengan dua kali ruku’, berbeda dengan sholat Id dan Jum’at. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga terdapat penjelasan serupa, yakni sholat gerhana dikerjakan dua roka'at dengan dua kali ruku’, dan dijelaskan oleh Abu Umar bahwa hadits tersebut dinilai paling shahih.
Maka dengan begitu keistimewaan shalat gernana dibanding dengan shalat sunnah sunnah lainnya terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Apalagi dalam setiap ruku’ disunnahkan membaca tasbih berulang-ulang dan berlama-lama.
سُبْحَانِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Tasbih berarti gerak yang dinamis seperti ketika bulan berrotasi (berputar mengelilingi kutubnya) dan berevolusi (mengelilingi) bumi, bumi berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, atau ketika matahari berotasi dan berevolusi pada pusat galaksi Bimasakti. Namun pada saat terjadi gerhana, ada proses yang aneh dalam rotasi dan revolusi itu. Maka bertasbihlah! Maha Suci Allah, Yang Maha Agung!
Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih
    dahulu. (Sebagai panduan lihat di rubrik IPTEK)
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan,
   
Ash-shalatu jaami'ah.”
4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams)
    atau gerhana bulan (khusufil-qamar),
    menjadi imam atau ma’mum.


أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah
    dan surat kembali
8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang
    daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua,
    bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
    Misalnya rakaat pertama membaca surat Yasin (36)
    dan ar-Rahman (55), lalu raka’at kedua
    membaca al-Waqiah (56) dan al-Mulk (78)
9. Setelah sholat disunahkan untuk berkhutbah. (nam)

Sumber :  http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,9824-lang,id-c,ubudiyah-t,Sholat+Gerhana-.phpx




Nasehat Buya Yahya
Silaturahmi jasad yang tidak dibarengi silaturahmi hati hanya akan tambah merusak hati. Alangkah banyak orang bersilaturahmi jasad dan di saat berpisah justru mendapatkan bahan baru untuk menggunjing, menbenci dan mendengkinya buah dari yang dilihat saat bertemu.




Rosululloh SAW Bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya".
(HR. Imam Muslim)

Habib Umar bin Hafidz:"jadikanlah televisi,handphone,internet dan alat-alat lainya sebagai pelayan dan pembantu untuk agamamu ,jika tidak,alat-alat itu akan menghancurkan dirimu sedangkan engkau akan tertawa karena tidak menyadarinya,ia akan merusak hatimu,akalmu,akhlakmu,dan fikiranmu,tanpa engkau menyadarinya,engkau tertawa bahagia padahal alat-alat itu telah merusak hal-hal paling berharga yang kau miliki".

Sayangilah Ibu dan Bapak kita Sampai Akhir Hayat Mereka     

You might also like:
TERJEMAHAN  ALQUR’AN 30 JUZ
3.     SURAT 4. AN NISAA'
5.     SURAT 6. AL AN'AAM
6.     SURAT 7. AL A'RAAF

                                    
                                       

PENTING : jika Anda merasa website ini bermanfaat, mohon do'akan supaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa Keluarga kami, dan memanjangkan umur keluarga kami dalam ketakwaan pada-Nya. Mohon do'akan juga supaya Allah selalu memberi Keluarga kami rezeki yang halal,melimpah,mudah dan berkah, penuh kesehatan dan waktu luang, supaya kami dapat memperbanyak amal shalih dengannya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya [sesama muslim] tanpa sepengetahuan saudaranya,
melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(Hadits Shahih, Riwayat Muslim No. 4912)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar