Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Sabtu, 19 Februari 2011

Kisah Sultoni, Manusia Tak Bertulang Sudah 25 Tahun Hidup di Tempat Tidur

Sultoni, pria 27 tahun dari Tegal, Jawa Tengah, Indonesia, menderita polio hampir 26 tahun sejak usia 13 bulan sampai sekarang. Tidak seperti remaja lain pada umumnya yang bisa berinteraksi dengan dunia luar, bergaul dengan teman-teman, dan merasa dunia pendidikan, dll, Sultoni hanya dapat berbaring di tempat tidur (papan kayu tanpa bantalan bantal atau kasur) ditemani sebuah radio kecil di sisinya.

Mengharukan!! Kisah Sultoni, Manusia Tak Bertulang sudah 25 Tahun Hidup di Tempat Tidur

Ketika Sultoni berusia 13 bulan, Rasito, ayahnya membawanya ke rumah sakit. Sultoni masih mampu berjalan sampai selang waktu yang cukup lama. Rasito berusaha untuk menyembuhkan anaknya dengan membawanya kembali ke rumah sakit yang sama, RS. Susilo, Slawi-Tegal. Menurut dokter anak yang memeriksa keadaannya, Sultoni mengalami gejala polio.

Tidak ada Akses Kesehatan bagi Orang Miskin Seperti Sultoni

Sertifikat yang menginformasikan mereka adalah keluarga miskin yang diterima oleh Rasito sudah cukup untuk membantu dia untuk mendapatkan bantuan kesehatan gratis, meskipun itu tidak sepenuhnya bebas, karena obat yang dibutuhkan oleh Sultoni tidak tersedia di rumah sakit dan mereka memaksa Rasito untuk membelinya di luar rumah sakit.


Sultoni awalnya ditempatkan di kamar tidur di rumah. Namun karena keluarga tidak tahan bau kotoran, keluarga menaruh Sultoni di dapur, di mana biasanya digunakan ibunya untuk memasak. Sekarang dapur menjadi kamar tidurnya juga. Setiap upaya-upaya telah dilakukan, namun Sultoni masih belum bisa berjalan hingga saat ini.

Potret Keluarga Sultoni
Ayah Sultoni, Rasito adalah lulusan sekolah dasar yang hanya bisa bekerja sebagai kuli di pasar dengan penghasilan rendah sekitar Rp. 12.000 per hari. Rasito akhirnya hanya bisa pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk hidupnya dan anak-anak menderita. Pada tahun 1989, Rasito berusaha mengubah nasibnya dengan beralih pekerjaan sebagai tukang becak. Bahkan untuk becak saja ia harus membeli dengan kredit.

Bantuan Untuk Sultoni
Rasito memiliki empat anak termasuk Sultoni, Sandi, Bowo & Luki. Setelah memiliki 4 anak, istrinya meninggal. Sandi, anak kedua, tidak memiliki pekerjaan tetap sampai sekarang dan ia hanya bekerja sebagai salah satu buruh bangunan.

Kadang-kadang ia juga bekerja sebagai asisten sopir di satu perusahaan transportasi. Bowo, anak ketiga Rasito, dipercayakan kepada Panti Asuhan sejak sekolah dasar sampai sekarang karena kurangnya biaya untuk membesarkannya.

Nasib Bowo lebih beruntung dari saudara-saudaranya. Dia sekarang kuliah di Trans Jaya dibiayai oleh perusahaan Teh Botol Sosro sebanyak 50%, sedangkan sisanya 50% dibiayai oleh orang tua yang harus mencari utang di mana-mana untuk ongkos sekolah anak-nya.

Luki, anak terakhir yang dipercayakan kepada adiknya yaitu bibi Jamilah sejak usia 8 bulan sampai sekarang. Saat Luki duduk di kelas 6 SD. Keluarga Sultoni adalah potret kehidupan keluarga dalam keadaan kemiskinan. Mereka tidak dapat mengakses layanan pendidikan, kesehatan, dan terisolasi dari dunia luar.

Harap menyebarkan berita ini untuk membantu Sultoni menemukan kesembuhannya atau anda juga dapat berbagi dengan keluarga sultoni dengan langsung mendatangi kediamannya.

Sumber : http://bacaananda.blogspot.com/2011/01/manusia-tanpa-tulang-bertahan-hidup.html

Bentrok Antardesa Pakai Meriam Rakitan

Warga dua desa bertetangga, Kotapulu dan Kotarindau, di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bentrok, Sabtu (19/2/2011) sekitar pukul 00.30 Wita.

Dua kelompok warga terlibat saling lempar batu di perbatasan kedua desa. Selain itu, mereka juga menggunakan meriam rakitan (dum-dum) dalam bentrokan itu.

Bunyi meriam rakitan yang melontarkan potongan besi dan pecahan kaca itu saling bersahutan di tengah bentrokan. Mereka bentrok di jalan, perkampungan, bahkan dekat kantor kecamatan di wilayah perbatasan kedua desa.

Lampu-lampu di rumah dan jalan di sekitar lokasi kejadian dipadamkan. Aksi saling lempar batu dan menyalakan meriam rakitan dapat diatasi setelah aparat desa masing-masing dibantu tokoh masyarakat setempat turun mengamankan warganya.

Pimpinan Desa Kotarindau dan Kotapulu berdiri di tengah-tengah, lalu meminta warganya mundur. Aparat dari Polsek Dolo dan Polres Donggala juga turun untuk mengamankan situasi.

Dengan menggunakan pengeras suara, polisi bersama aparat desa meminta warga mundur. "Jangan hanya kami diminta mundur, mereka juga harus mundur," teriak salah satu warga dari salah satu kelompok yang mengendap di tempat gelap.

Usaha aparat keamanan dan kepala desa belum membuahkan hasil karena kedua kubu kembali saling lempar batu bahkan mengenai atap kantor kecamatan setempat yang berada di lokasi bentrokan.

Sekitar pukul 02.40 Wita, situasi kembali tegang karena kedua kelompok bentrok dengan memakai meriam rakitan. Bahkan, mereka memasang barikade di jalan yang berfungsi sebagai tameng dari serangan kubu lain.

Mereka juga saling melontarkan kata-kata cacian di tengah aksi saling lempar batu. Pukul 03.15 Wita, polisi yang dipimpin Kapolres Donggala AKBP I Nengah Subagia bisa memaksa mundur kedua pihak dengan melepas tembakan ke udara.

Setelah situasi aman, Kapolres bersama Camat Dolo Azhar Latjinala dan kepala desa dari desa tersebut meminta warga masuk rumah. Polisi membubarkan para warga yang masih bergerombol di jalan.

Puluhan polisi kini disiagakan di perbatasan kedua desa untuk mengantisipasi bentrokan susulan. Situasi baru dapat dikendalikan sekitar pukul 04.00 Wita.

Bentrokan itu tidak menyebabkan korban luka atau meninggal dunia. Hingga kini penyebab bentrokan belum diketahui.

Warga Kotapulu menuduh warga Kotarindau memprovokasi dengan cara melempar batu hingga mengenai kantor kecamatan setempat. Sementara itu, warga Kotarindau menuduh warga Kotapulu yang memprovokasi dengan membunyikan meriam rakitan. Kedua warga pernah bentrok pada tahun 1997 lalu seusai pertandingan sepak bola.

Sumber:http://regional.kompas.com/read/2011/02/19/06433791/Bentrok.Antardesa.Pakai.Meriam.Rakitan

Safee Ternyata "Wong Jowo"













Pesepak bola asal Malaysia, Safee Sali (tengah) sesaat sebelum mengikuti sesi latihan di Kompleks POR Pelita Jaya, Sawangan, Depok, Kamis (17/2/2011). Safee Sali, striker timnas
Malaysia resmi memperkuat Pelita Jaya.


Indonesia bukanlah sesuatu yang asing bagi penyerang tim nasional Malaysia yang juga penyerang anyar Pelita Jaya, Mohd Safee Sali. Sebab, ternyata ia masih memiliki hubungan darah dengan Indonesia, lebih tepatnya orang Jawa (Wong Jowo).

Hal itu diungkapkan ayah Safee, Mohamid Sali. Kepada Kompas.com, Mohamid yang tengah menemani Safee menjalani latihan perdana bersama Pelita di POR Pelita Jaya, Sawangan, Depok, Kamis (17/2/2011) pagi, membeberkan, Safee memiliki nenek moyang orang Jawa.

"Kakek-kakek saya dulu berasal dari Medan atau Jawa. Kakek saya berasal dari Jawa. Sementara kakek istri saya, kemungkinan dari Medan, juga keturunan Jawa. Bapak saya Jawa. Ma pun Jawa. Namun, semua sudah meninggal. Dulu kami gunakan bahasa Jawa di rumah. Saya rugi anak-anak saya tidak pandai bahasa Jawa," papar Mohamid yang mengaku fasih berbahasa Jawa.

"Nenek moyang saya berasal dari sini. Orangtua saya bisa ngomong Jawa. Saya tak bisalah. Darah Indonesia ada dalam darah daging saya juga," tutur Safee Sali.

Keputusan Safee berlabuh di Pelita Jaya tidak terlepas dari adanya keterikatan emosi dengan Indonesia. Bahkan, ia tidak menampik, bermain di Indonesia merupakan salah satu impian top scorer Piala AFF 2010 itu.

"Impian saya bermain di luar daripada Malaysia terutama di Indonesia. Bagi saya bermain di Indonesia merupakan penghargaan yang bagus. Saya pun boleh menjalankan persahabatan dengan Indonesia," beber penyerang berusia 27 tahun itu.

Terlepas dari itu, safee memiliki misi mulia di balik keputusannya bermain di Indonesia. Pemain yang telah dikarunia dua putri tersebut berharap kedatangannya bisa meningkatkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia.

Sumber:http://bola.kompas.com/read/2011/02/18/07393625/Safee.Ternyata.Wong.Jowo

Rizieq: Dakwah Jangan Pakai Kekerasan

Ketua Front Pembela Islam (FPI)

Habib Rizieq berceramah di depan ribuan

jamaah Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar,

Sulawesi Selatan, Jumat (18/2/2011) malam.

Sebagian di antara jemaah yang hadir adalah

anggota FPI Makassar yang baru saja dilantik oleh Rizieq.

FPI Makassar diketuai oleh Al-habib Muhammad Reza bin Nukhsin Al-Hamid. Rizieq di Makassar untuk menghadiri Musyawarah Besar FPI Sulsel yang menetapkan kepengurusan baru.

Rizieq dalam ceramahnya memberikan metode-metode dakwah yang sesuai dengan Al-quran dan hadist. Ia juga menganjurkan agar anggota FPI jangan berdakwah dengan kekerasan, melainkan dengan hikmah dan kebijaksanaan.

Sebelumnya, saat khotbah Jumat di masjid yang sama, Rizieq menyatakan, Islam tidak menolak pluralisme sepanjang tidak mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran lain.

"Islam sangat toleran, sangat jelas mengajarkan bagaimana menghargai orang lain. Islam tidak menolak pluralitas, kemajemukan, keberagaman. Yang penting jangan mencela ajarannya, Qurannya dan keyakinanya," katanya.

Namun begitu, katanya, pluralisme bukan lahir dari agama Islam, sehingga haram hukumnya bagi umat Islam untuk mengikutinya. "Islam selalu menghargai agama lain, bahkan Yahudi. Tetapi kalau Ahmadiyah baru ada, dan hanya menjiplak agama Islam," ucapnya.

Sumber:http://regional.kompas.com/read/2011/02/19/0442001/Rizieq.Dakwah.Jangan.Pakai.Kekeras