Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Jumat, 18 Februari 2011

Di Depan Akademisi Cambridge, Mantan Pastor Itu Berkisah Kenapa Pilih Islam

REPUBLIKA.CO.ID, "Bukan saya yang mencari Islam, Islam yang menemukan saya," kata Idris Tawfiq.

Ia berbicara di depan akademisi dan keluarga besar universitas papan atas Inggris, Cambridge. Di perguruan tinggi ini tengah dihajat acara tahunan Experience Islam Week, acara untuk pengenalan Islam dan toleransi.

Ia mengaku, tak ada masalah dengan masa lalunya. "Saya mencintai pekerjaan dan masa lalu saya, namun hati saya seperti dipandu memilih Islam," katanya. "Setelah menjadi Muslim, saya menemukan kedamaian yang tak pernah saya temukan sebelumnya."

Menurutnya, keputusannya memilih Islam adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia masih melakukan pelayanan, ketika kemudian hatinya berbicara lain. Sampai suatu saat, timbul keberanian untuk menyatakan behenti dan mundur. "Saya merasa sendiri setelah itu," katanya.

Pertama kali, ia menyatakan berhenti menjadi pastor. Namun, ia tetap memegang kayakinan lamanya, sambil terus belajar Islam. "Saya tidak bermaksud mengubah iman saya itu bukan bagian dari rencana saya sama sekali," katanya.

Ia menyatakan, tinggal dan besar di Inggris selama 40 tahun, ia punya pandangan stereotip tentang Muslim. Tapi saat liburan di Mesir, ia bertemu dan berteman dengan banyak orang Muslim, dan mengatakan bahwa ia mulai menyadari persepsi tentang keyakinan Islam.
"Keyakinan lama saya perlahan luntur, dan Islam menjadi lebih menarik perhatian saya," katanya.

Menurutnya, ajaran Islam sebenarnya sangat indah
. "tak benar Islam mengajarkan kekerasan. "Jika Anda menyelami ajaran Islam, Anda akan menemukan ajaran agama ini benar-benar sangat indah, sangat lembut, dan manis," katanya.

Ia menyarankan satu hal bagi mereka yang tengah belajar Islam. "Sebelum Anda membuah keputusan, tarik nafas dalam-dalam dan dengarkan apa kata Islam. Kemudian, penahi pola pikir Anda," katanya.

Saat ini, Tawfiq memutuskan untuk tinggal di Mesir. Ia mengaku tak gamang dengan perubahan politik di negeri itu. "Satu hal yang diajarkan Islam adalah, jangan pernah terkejut dengan apapun yang datang dalam kehidupan kita. Di Mesir, semua terbukti. Siapa yang menduga hanya dalam tiga pekan tiran yang 30 tahun lebih berkuasa bisa tumbang," katanya.

Kapal Wisata Tenggelam di Lepas Pantai Vietnam, 12 Tewas

Wisatawan dari AS dan Eropa itu terperangkap dalam kapal dan tewas ketika kapal itu tenggelam sedalam 10 meter.

Petugas kesehatan Vietnam mengangkut korban tewas akibat tenggelamnya kapal wisata di Lepas Pantai utara provinsi Quang Ninh, Kamis (17/2).

Dua belas orang, sebagian besar warga asing, tenggelam hari Kamis di kawasan salah satu pantai indah di Vietnam, ketika kapal wisata mereka yang sedang turun jangkar di teluk tiba-tiba tenggelam selagi para penumpang itu tidur.

Pihak berwenang mengatakan para wisatawan dari Amerika dan Eropa itu terperangkap dalam kapal dan tewas ketika kapal itu tenggelam sedalam 10 meter dekat sebuah pulau kecil di Teluk Ha Long dekat perbatasan Tiongkok.

Sembilan warga asing dan enam warga setempat selamat karena mereka meloncat ke laut dan diselamatkan oleh kapal-kapal wisata lainnya.

Seorang jurubicara Kementerian Luar Negeri menyebut tenggelamnya kapal itu "sebuah kecelakaan langka dan sangat disesalkan" yang disebabkan oleh kebocoran pada lambung kapal kayu itu.

Ia mengatakan polisi telah memulai penyelidikan resmi, dan menurutnya pihak berwenang akan memeriksa ulang berbagai prosedur untuk menjamin keamanan wisatawan pada masa depan.

Para saksi mata mengatakan kapal itu tenggelam dalam waktu kurang dari satu menit.

sumber: http://www.voanews.com/indonesian/news/Kapal-Wisata-Tenggelam-di-Lepas-Pantai-Vietnam-12-Tewas-116434644.html

Tak Ada Beras, Tiwul pun Jadi

Harga-harga kebutuhan kian melambung, yang menbuat ratusan keluarga di Dusun Jetak Krajan, Kecamatan Suruh, Trenggalek, Jawa Timur, kian menderita. Tapi hidup harus dipertahankan. Meski tak ada beras, mereka masih bisa makan tiwul. Maklum, kebanyakan dari mereka hanya petani ladang.

Tiwul dipilih karena harganya murah, masih bisa dibeli dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Sedangkan beras untuk rakyat miskin atau raskin? Warga mengaku sudah melupakannya karena sejak enam bulan silam beras dari pemerintah itu tak datang lagi menghampiri mereka.

Belenggu kemiskinan juga menjerat keluarga Kamaluddin di Mamuju, Sulawesi Barat. Bersama istrinya Suryanti, Kamaluddin tinggal di sebuah rumah, tepatnya gubuk berukuran 2x3 meter yang hampir roboh di rawa-rawa, terletak tak jauh dari Kantor Bupati Mamuju dan Kantor Gubernur Sulbar. Bila hujan lebat turun dan banjir mengancam, Kamaluddin dan seorang anak mereka harus mengungsi ke pos ronda atau tempat yang aman.

Kamaluddin dulunya seorang nelayan. Usia dan kesehatan yang memburuk memaksanya mengantungkan hidup pada bantuan orang lain. Namun bantuan tak selalu ada. Kamaluddin pun kerap harus mengganjal perut dengan memasak kangkung yang tumbuh liar di sekitar gubuk.

Dulu, ketika kampanye pemilihan legislator, presiden, dan pemimpin daerah riuh rendah, rumah Kamaluddin ramai disambangi tim-tim sukses yang bermaksud pamer empati. Namun, ketika pemilihan usai tak seorang pun datang, apalagi bantuan untuk Kamaludin serta anak dan istrinya.

sumber:http://berita.liputan6.com/sosbud/201101/317399/Tak_Ada_Beras__Tiwul_pun_Jadi

Ketua Ponpes Tebuireng Maklumi Amblesnya Makam Gus Dur

Meski makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ambles terkena gerusan
air hujan, pihak Ponpes Tebuireng memaklumi hal tersebut. Pihak Ponpes menilai hal itu sangat wajar.

Menurut Ketua Ponpes Tebuireng, Luqman Hakim, amblesnya makam Gus Dur memang disebabkan gerusan air hujan deras selama 3 hari di Jombang. Namun, amblesnya makam Gus Dur dinilai sangat wajar, karena usia makam masih tergolong baru.

"Ya wajar lah kalau makam baru tergerus air, terus ambles," kata Luqman di area makam Gus Dur, Jumat (18/02/2011).

Luqman menjelaskan, bahwa kondisi tanah di sekitar Tebuireng memang dipenuhi pasir, dan jika hujan lebat, tanah sangat mudah tergerus air.

"Makam Gus Dur sendiri pada akhir Desember lalu memang genap berusia setahun, dan kali ini tanah makam beliau ambles," imbuh Luqman.


Dari pengamatan beberapa wartawan yang mencoba mengkonfirmasi ke pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Sholahuddin Wahid, namun beberapa penjaga pondok mengatakan jika Gus Sholah berada di Jakarta.

"Gus Sholah tidak ada di rumah, beliau sedang di Jakarta," kata salah satu penjaga yang terlihat memakai peci hitam tersebut kepada wartawan.

Hingga pukul 18.15 WIB, peziarah masih terlihat memadati komplek makam Presiden RI ke-4 tersebut, mereka rela berbasah-basahan karena ingin melihat makam Gus Dur yang tengah diberitakan ambles.


sumber: http://surabaya.detik.com/read/2011/02/18/183131/1574014/475/ketua-ponpes-tebuireng-maklumi-amblesnya-makam-gus-dur