Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Minggu, 08 Februari 2009

BERORIENTASI PADA PROSES

Kebanyakan orangtua pada waktu mendidik anak-anaknya akan selalu berorientasi pada hasil. Saya tidak. Saya mendorong istri saya dan orang-orang di sekitar anak saya untuk berorientasi pada proses. Di bawah ini akan saya jelaskan apa yang dimaksud dengan berorientasi pada hasil dan berorientasi pada proses.

Suatu hari si Upik bicara pada ibunya bahwa besok sekolah hanya setengah hari, hanya 2 mata pelajaran saja, karena guru-guru akan rapat. Mendengar hal itu si ibu langsung bicara, kalau begitu bawa dua macam buku saja pelajaran pertama dan pelajaran kedua, supaya tas kamu tidak terlalu berat. Si Upik menjawab, tidak bisa begitu karena walaupun hanya dua mata pelajaran, kami tidak tahu mata pelajaran mana yang akan dibawakan oleh guru, sehingga kami harus membawa semua buku untuk seluruh mata pelajaran hari itu. Ibu itu bisa mengerti alasan anaknya, dan ia biarkan si anak membawa semua buku pelajarannya. Ibu ini tidak menekankan pada hasil instruksi, tetapi pada proses argumentasi anaknya yang masuk akal.

Contoh lain lagi. Masih tentang si Upik yang baru berumur 10 tahun. Suatu hari ia ingin bermain ke rumah temannya di rumah sebelah. Hari masih sore sekitar pukul 17.00. Waktu minta izin pada ayahnya, sang ayah mengatakan bahwa Upik harus belajar dahulu baru main dengan temannya. Upik bicara bahwa ia akan main 1 jam saja, sehingga pukul 18.00 ia akan pulang dan mulai belajar. Sang ayah tetap ngotot, bahwa semua pekerjaan termasuk belajar harus diselesaikan dahulu, baru boleh bermain dengan teman. Ayah ini berorientasi pada hasil. Ia tidak mau mendengarkan argumentasi anaknya. Pokoknya semua mesti berjalan sesuai dengan apa yang ia katakan.

Sengaja saya pasang umur si Upik 10 tahun karena komunikasi yang berorientasi pada proses ini cocok untuk anak yang mulai menginjak umur 10 tahun ke atas. Waktu masih di bawah 10 tahun biasanya daya nalar dan keinginan anak untuk beradu argumentasi belum ada atau masih kecil sekali. Sehingga untuk anak kecil sampai sekitar 9 tahun, komunikasi atau perintah-perintah yang berorientasi pada hasil lebih cocok. Tetapi kadang orangtua kebablasan, hingga sampai anak menginjak usia remaja dan dewasa pun masih diberondong dengan perintah-perintah militer dan tidak mau mendengarkan argumen si anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar