Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Minggu, 08 Februari 2009

BERBEDA ITU INDAH

Masih segar dalam ingatan kita mengenai banyaknya korban yang berjatuhan karena pertikaian yang didasarkan karena perbedaan agama atau suku beberapa waktu terakhir ini. Berulang kali bangsa kita jatuh dalam "lubang yang sama" karena sebenarnya yang dipermasalahkan adalah perbedaan-perbedaan yang sejak dahulu menjadi warna bangsa kita.

Sepertinya kita lupa bahwa pada waktu kita duduk di bangku sekolah dasar, bapak-ibu guru kita selalu mengajarkan bahwa negara kita terdiri dari suku bangsa dan agama yang berbeda-beda. Tak heran jika motto bangsa kita adalah "Bhineka Tunggal Ika"- Berbeda-beda tetapi satu jua. Entah mungkin kita tertidur sewaktu guru menerangkan hal itu atau kita sengaja menutup mata dan telinga tatkala kita berbenturan dengan perbedaan yang menjadi warna dari bangsa kita.

Kita semua tidak berharap pertikaian yang disebabkan perbedaan SARA itu menjadi warisan anak cucu kita. Salah satu kunci agar anak-anak kita tidak memiliki kerangka pikiran yang membeda-bedakan sesama adalah dengan mengenalkan perbedaan-perbedaan itu sejak awal kepada mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa dalam lingkungan mereka terdapat perbedaan-perbedaan. Entah itu perbedaan suku, agama, atau sosial-ekonomi. Hal itu bisa ditunjukkan sewaktu Anda bersama anak menonton TV bersama, atau sedang berjalan-jalan berkunjung ke rumah tetangga atau kenalan.

Selanjutnya, beri pengertian kepada mereka bahwa dalam dunia selalu ada perbedaan sehingga mereka harus menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Cerita binatang dapat menjadi jalan untuk memberikan pengertian ini kepada anak. Dalam cerita binatang, selalu digambarkan relasi berbagai macam binatang, mulai dari binatang yang besar dan buas sampai binatang yang kecil dan tak berdaya. Melalui cerita yang ringan dan sederhana, tentunya anak-anak mampu untuk mencerna pesan cerita yang dipaparkan.

Jika anak-anak bertengkar dengan kawan bermainnya yang suku, agama, atau latar belakang ekonominya berbeda, jangan biarkan mereka menjadikan perbedaan itu sebagai dasar permusuhannya. Misalnya jika anak Anda mengatakan bahwa, "ia mengambil mainanku karena ia anak orang miskin," maka sebaiknya Anda meluruskannya dengan mengatakan bahwa temannya itu sebenarnya ingin bermain bersama, atau ia hanya ingin meminjam mainannya sebentar. Dengan begitu anak tidak akan melihat "kemiskinan" temannya, tetapi lebih melihat motif yang sebenarnya. Dengan begitu, Anda sekaligus bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya serta melatihnya melihat masalah secara lebih jernih.

Perbuatan memang lebih banyak berbicara daripada kata-kata. Karena itu, Anda sebagai orangtua sebaiknya juga memberikan keteladanan sikap kepada anak-anak. Anak terlebih dahulu melihat sikap orangtuanya. Jika Anda sendiri tidak menghargai perbedaan yang ada, maka mereka pun akan mengikuti sikap Anda.

Meredam pertikaian yang berlatar belakang SARA di Indonesia memang tidak mudah karena pencetus pertikaian itu telah memiliki kerangka pemikiran yang terkotak-kotak. Mereka telah menjadikan perbedaan itu menjadi suatu masalah besar dan membangun benteng tinggi untuk melindungi diri dari perbedaan-perbedaan yang ada. Karena itu, jika kita tidak ingin menjadikan pertikaian itu menjadi pertikaian yang turun-temurun, tugas kita adalah tidak membangun benteng terlalu tinggi dan mau bersahabat dengan siapa saja. Hal itulah yang seharusnya kita tanam pada diri anak-anak kita. Lebih baik kita membuang akar permusuhan sejak dini, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar