Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Sabtu, 16 Oktober 2010

BILA ANAK TERPAKSA DITINGGAL DI RUMAH

SIAPA orangtua yang tak berat meninggalkan anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa? Seperti pengakuan Heti, "Sebenarnya nggak tega meninggalkan anak sendirian di rumah, tetapi mau apa lagi. Saya dan suami harus kerja. Kalau tidak terpaksa nggak mungkin saya membiarkan seperti itu."

Heti (bukan nama sebenarnya) adalah ibu dari seorang anak perempuan berusia tujuh tahun. Pengalaman meninggalkan anak di rumah sementara dia bekerja di kantor berlangsung selama sekitar enam bulan ketika anaknya belum genap enam tahun.

Untung tidak pernah terjadi sesuatu yang fatal. Namun, tetap saja ketika menceritakan hal itu Heti sempat berkaca-kaca. "Pernah saya pulang terlambat karena jalanan macet. Sampai di rumah pukul 19.00 rumah dalam keadaan gelap dan anak saya menangis sendirian karena takut. Dia tidak bisa menyalakan lampu karena biasanya lampu dinyalakan kalau saya sudah pulang sekitar pukul 17.00," tutur Heti, karyawati sebuah perusahaan di Jakarta Pusat.

Dibanding anak seusianya, Heti merasa anaknya, Sari -sebut saja begitu - termasuk anak yang tidak "macam-macam" dan penuh pengertian. Tanpa diperintah Sari sudah bisa makan sendiri dari makanan yang sudah disediakan sebelum Heti berangkat kerja. Bahkan Sari selalu menaruh piring bekas makan di tempat cucian piring. "Dia juga nggak main ke mana-mana, lebih suka di rumah bikin-bikin gambar, nulis-nulis," ujar Heti tentang aktivitas anaknya selama dia tak di rumah.

Pasti Heti bukan satu-satunya orangtua yang terpaksa meninggalkan anak sendirian di rumah. Meski jumlahnya tak banyak, beberapa orangtua di kota-kota besar diketahui terpaksa melakukan hal seperti Heti. Mungkin usianya lebih besar dari Sari dan ada teman di rumah karena keluarga itu mempunyai anak lebih dari satu.

Bahkan masyarakat di Barat, fenomena ini sudah berlangsung lama. Itu sebabnya muncul tempat-tempat penitipan anak. Lebih dari itu, di negara-negara tertentu sudah ada hukum yang mengatur usia minimal anak yang bisa ditinggalkan di rumah tanpa pengawasan orang dewasa.

Persiapan

Berapa usia minimal anak bisa ditinggalkan di rumah sendirian, psikolog Shinto Adelar mengatakan, "Sulit mematoknya, tetapi buat ukuran anak kota besar barangkali usia kelas satu SMP."

Diasumsikan anak-anak usia 12 atau 13 tahun sudah mempunyai nalar yang cukup untuk menjaga keselamatan mereka serta juga bisa diharapkan untuk mandiri. Semakin muda usia anak, sebenarnya semakin berat buat dia ditinggal orangtuanya sebab secara alamiah banyak anak kecil mempunyai banyak ketakutan yang irasional. Banyak anak yang takut pada monster, pada hantu, sementara anak yang lain takut pada orang jahat. Anak-anak atau remaja umumnya lebih merasa aman setelah ayah-ibunya kembali.

Menurut Shinto yang sehari-hari adalah pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ada sisi-sisi positif dan negatif meninggalkan anak tanpa pengawasan orang dewasa.

"Yang paling jelas, anak menjadi cepat mandiri dibanding dengan anak yang terus- menerus dibantu. Anak-anak yang biasa ditinggal orangtua menjadi terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri dan belajar mencari kesibukan sendiri. Ditam-bah lagi mereka menjadi terbiasa memegang tanggung jawab."

Namun sisi lainnya, kalau terus dibiarkan sendirian, akan banyak kehilangan yang terjadi. Yang paling mungkin adalah kehilangan teman ngobrol serta ketiadaan umpan balik dari orang yang lebih dewasa. "Padahal dalam masa perkembangan anak memerlukan feedback bila dia melakukan sesuatu. Untuk menanamkan nilai-nilai moral, misalnya, orangtua perlu selalu mengingatkan dengan contoh-contoh perbuatan sehari-hari," kata Shinto.

Khusus untuk anak semata wayang, dia mengingatkan tentang kemungkinan rasa kesepian yang mereka alami. Dampaknya bisa membuat mereka menjadi orang yang sangat membutuhkan orang lain sehingga tampak selalu ingin menarik perhatian. Atau ekstrem sebaliknya, "Mereka malah merasa tak lagi butuh orang lain dan justru merasa terganggu kalau ada orang lain karena mau tidak mau harus selalu toleran."

Lalu kalau anak terbiasa sendirian, kompetisi sosialnya bisa terganggu. "Anak yang tidak biasa bergaul, tidak dibiasakan bertemu dengan berbagai macam orang akan menjadi anak yang canggung. Malah bisa jadi dia akan tumbuh menjadi seorang pribadi yang tidak peka pada orang lain," kata Shinto.

Jangan merasa bersalah

Kalaupun terpaksa harus meninggalkan anak di rumah, psikolog ini mengingatkan orangtua untuk mempersiapkan segala sesuatunya sejak awal.

Masalah keselamatan merupakan prioritas yang tidak boleh diabaikan. Catat nomor-nomor telepon penting yang bisa dihubungi jika merasa perlu minta bantuan sesuatu. Peringatkan, apa-apa saja yang sebaiknya tidak boleh dilakukan, seperti menyalakan kompor, mengutak-utik listrik, dan hal lain yang potensial berbahaya.

Selama anak ditinggalkan, orangtua sebaiknya juga menyiapkan sejumlah kegiatan konstruktif agar anak terus menyibukan diri sehingga dia tidak merasa sepi. Yang paling mudah adalah memberikan pekerjaan rumah serta meminta anak untuk mengerjakan tugas sehari-hari seperti misalnya menyiapkan piring makan di meja.

"Orangtua jangan merasa bersalah seolah-olah sudah meninggalkan anak, masih juga membebani anak-anak dengan tugas-tugas. Perasaan bersalah yang sering dialami orangtua inilah yang justru sering menjadi persoalan yang merusak," ka-tanya.

Persoalan merusak yang dimaksud misalnya dalam bentuk pemberian-pemberian materi berlebihan sebagai kompensasi atas "kesalahan" terlalu sering meninggalkan anak. "Jangan mempersalahkan diri sendiri. Tetaplah berpatokan bahwa semua yang dilakukan adalah demi kepentingan dan kebaikan anak."

Tak seorang pun, baik anak maupun orangtua yang menghendaki situasi seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.