Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 17 November 2010

Air Mata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan

salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak

mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata

Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka

mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak

tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"

tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang

menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu

hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan

sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah

malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan

tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah

menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas

langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia

ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya

Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah

terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka

lebar menanti kedatanganmu, " kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak

membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril

lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan

khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar

Allah berfirman

kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad

telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan

ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah

peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul

maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di

sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan

muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"

Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata

Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena

sakit yang tidak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini

kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki

dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera

mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat

aimanukum --peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di

antaramu."

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling

berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali

mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai

kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini,

mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad

wa baarik alaaa wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada

kita.

NB:

Sebarkan atau Kirimkan

kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran

untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya

mencintai kita.

Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Amin... Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak

yang menyayangimu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah

karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar