Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Kamis, 11 November 2010

BUNG KARNO PENyAMBUNG LIDAH RAKyAT INDONESIA bagian Satu


BIOGRAPHY AS TOLD TO CINDY ADAMS

Bab 1

Alasan Menulis Bab ini

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 1 dari 109

TJARA jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang

maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan

melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.

Sukarno adalah seorang manusia perasaan. Seorang pengagum. Ia menarik napas pandjang apabila

menjaksikan pemandangan jang indah. Djiwanja bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia. Ia

menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.

Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman."Akan

tetapi aku bersjukur kepada Jang Maha Pentjipta, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah

seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta

rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali

kemerdekaan dan hak-azasinja, setelah tiga setengah abad dibawan pendjadjahan Belanda? Kalau tidak

demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi ditahun 1945 dan mentjiptakan suatu Negara

Indonesia jang bersatu, jang terdiri dari pulau Djawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan

Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?

Irama suatu-revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek.

Dan didalam djiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan djiwa seni. Kepandaian memimpin suatu

revolusi hanja dapat ditjapai dengan rnentjari ilham dalam segala sesuatu jang dilihat. Dapatkah orang

memperoleh ilham dalam sesuatu, bilamana ia bukan seorang manusia-perasaan dan bukan manusia-seni

barang sedikit ?

Namun tidak setiap arang setudju dengan gambaran Sukarno tentang diri Sukarno. Tidak semua orang

menjadari, bahwa djalan untuk mendekatiku adalah semata-mata melalui hati jang ichlas. Tidak semua

orang menjadari, bahwa aku ini tak ubahnja seperti anak ketjil. Berilah aku sebuah pisang dengan sedikit

simpati jang keluar dari lubuk-hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.

Akan tetapi berilah aku seribu djuta dollar dan disaat itu pula engkau tampar mukaku dihadapan umum,

maka sekalipun ini njawa tantangannja aku akan berkata kepadamu, "Persetan !"

Manusia Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kamilah satu-satunja bangsa didunia jang mempunjai

sedjenis bantal jang dipergunakan sekedar untuk dirangkul. Disetiap tempat-tidur orang Indonesia terdapat

sebuah bantal sebagai kalang hulu dan sebuah lagi bantal ketjil berbentuk bulat-pandjang jang dinamai

guling. Guling ini bagi kami gunanja hanja untuk dirangkul sepandjang malam.

Aku mendjadi orang jang paling menjenangkan didunia ini, apabila aku merasakan arus persahabatan,

sirnpati terhadap persoalan-persoalanku, pengertian dan penghargaan datang menjambutku. Sekalipun ia tak

diutjapkan, ia dapat kurasakan. Dan sekalipun rasa-tidak-senang itu tidak diutjapkan, aku djuga dapat

merasakannja. Dalam kedua hal itu aku bereaksi menurut instink. Dengan satu perkataan jang lembut, aku

akan melebur. Aku bisa keras seperti badja, tapi akupun bisa sangat lunak.

Seorang diplomat tinggi Inggris masih belum menjadari, bahwa kuntji menudju Sukarno akan berputar

dengan mudah, kalau ia diminjaki dengan perasaan kasih-sajang. Dalam sebuah suratnja belum lama

berselang jang ditudjukan ke Downing Street 10 ia menulis, "Presiden Sukarno tidak dapat dikendalikan,

tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus jang terdesak.

"Suatu utjapan jang sangat bagus bagi seseorang jang telah mempersembahkan seluruh hidupnja kepangkuan

tanah-airnja, orang jang 13 tahun lamanja meringkuk dalam pendjara dan pembuangan, karena ia mengabdi

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 2 dari 109

kepada suatu tjita-tjita. Mungkin aku tidak sependapat dan sependirian dengan dia tetapi seperti seekor

tikus ? Djantungku berhenti mendenjut ketika surat itu sampai ditanganku. Ia mengachiri suratnja dengan

mengatakan, bahwa ia telah mengusahakan agar Sukarno mendapat perlakuan jang paling buruk dalam suratsurat

kabar.

"Aku tidak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat lagi tidur barang sekedjap. Kadang-kadang, dilarut

tengah malam, aku menelpon seseorang jang dekat denganku seperti misalnja Subandrio, Wakil Perdana

Menteri Satu dan kataku, "Bandrio, datanglah ketempat saja, temani saja, tjeritakan padaku sesuatu jang

gandjil, tjeritakanlah suatu lelutjon, bertjeritalah tentang apa sadja asal djangan mengenai politik. Dan

kalau saja tertidur, ma'afkanlah." Aku membatja setiap malam, berpikir setiap malam dan aku sudah bangun

lagi djam lima pagi. Untuk pertamakali dalam hidupku aku mulai makan obat-tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.

Aku bukan manusia jang tidak mempunjai kesalahan. Setiap machluk membuat kesalahan. Dihari-hari

keramat aku minta ma'af kepada rakjatku dimuka umum atas kesalahan jang kutahu telah kuperbuat, dan

atas kekeliruan-kekeliruan jang tidak kusadari. Barangkali suatu kesalahanku ialah, bahwa aku selalu

mengedjar suatu tjita-tjita dan bukan persoalan-persoalan jang dingin. Aku tetap mentjoba untuk

menundukkan keadaan atau mentjiptakan lagi keadaan-keadaan, sehingga ia dapat dipakai sebagai djalan

untuk mentjapai apa jang sedang dikedjar. Hasilnja, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakjatku, aku

mendjadi korban dari serangan-serangan jang djahat.

Orang bertanja, "Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila orang mengeritikmu ?" Sudah tentu

aku merasa tersinggung. Aku bentji dimaki orang. Bukankah aku bersifat manusia seperti djuga setiap

manusia lainnja ? Bahkan kalau engkau melukai seorang Kepala Negara, ia akan lemah. Tentu aku ingin

disenangi orang. Aku mempunjai ego. Itu kuakui. Tapi tak seorangpun tanpa ego dapat menjatukan 10.000

pulau-pulau mendjadi satu Kebangsaan. Dan aku angkuh. Siapa pula jang tidak angkuh ? Bukankah setiap

orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian ?

Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan jang bertentangan tentang diriku.

Kadang-kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana jang harus dipertjajainja. Jang pertama

berasal dari madjalah "Look". "Look" menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini

memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang betja jang mengatakan seakan-akan segala sesuatu di

Indonesia sangat menjedihkan keadaannja dan orang-orang kampungpun sekarang sudah muak terhadap

Sukarno.

Kusudahi membatja artikel itu pada djam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berdjalandjalan

selama setengah djam, seperti biasanja kulakukan dalam lingkungan istana-inilah satu-satunja

matjam gerak badan bagiku seorang pedjabat polisi jang sangat gugup dibawa masuk. Sambil berdjalan

kutanjakan kepadanja, apa jang sedang dipikirkannja."Ja, Pak," ia memulai, "Sebenarnja kabar baik." "Apa

maksudmu dengan sebenarnja kabar baik ?" tanjaku. "Ja," katanja, "Rakjat sangat menghargai Bapak. Mereka

mentjintai Bapak. Dan terutama rakjat-djelata. Saja mengetahui, karena saja baru menjaksikan sendiri suatu

keadaan jang menundjukkan penghargaan terhadap Bapak. Kemudian ia berhenti. "Teruslah," desakku,

"Katakan padaku.

Darimana engkau dan siapa jang kautemui dan apa jang mereka lakukan ?" "Begini, Pak," ia mulai lagi. "Kita

mempunjai suatu daerah, dimana perempuan-perempuan latjur semua ditempatkan setjara berurutan. Kami

memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah mendjadi tugas kami untuk mengadakan

pengawasan tetap. Kemarin suatu kelompok memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa jang mereka

temui - Mereka menjaksikan potret Bapak, Pak. Digantungkan didinding." "Dimana aku digantungkan ?"

tanjaku kepadanja. "Ditiap kamar, Pak. Ditiap kamar terdapat, sudah barang tentu, sebuah tempat-tidur.

Dekat tiap randjang ada medja dan tepat diatas medja itu disitulah gambar Bapak digantungkan. "Dengan

gugup ia mengintai kepadaku sambil menunggu perintah. "Pak, kami merasa bahagia karena rakjat kita

memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wadjar kalau gambar Presiden kita

digantungkan didinding rumah pelatjuran. Apa jang harus kami kerdjakan ? Apakah akan kami pindahkan

gambar Bapak dari dinding-dinding itu ?" "Tidak," djawabku. "Biarkanlah aku disana. Biarkan mataku jang tua

dan letih itu memandangnja! "Tidak seorangpun dalam peradaban modern ini jang menimbulkan demikian

banjak perasasn pro dan kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipudja bagai Dewa.Tidak

djarang kakek-kakek datang berkundjung kepadaku sebelum mereka imengachiri hajatnja. Seorang nelajan

jang sudah tua, jang tidak mengharapkan pudjian atau keuntungan, berdjalan kaki 23 hari lamanja sekedar

hanja untuk sudjud dihadapanku dan mentjium kakiku. Ia menjatakan, bahwa ia telah berdjandji pada

dirinja sendiri, sebelum mati ia akan melihat wadjah Presidennja dan menundjukkan ketjintaan serta

kesetiaan kepadanja. Banjak jang pertjaja bahwa aku seorang Dewa, mempunjai kekuatan-kekuatan sakti

jang menjembuhkan.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 3 dari 109

Seorang petani-kelapa jang anaknja sakit keras bermimpi, bahwa ia harus pergi kepada Bapak dan minta air

untuk anaknja. Hanja air-leding biasa dan jang diambil dari dapur. Ia jakin, bahwa air ini, jang kuambil

sendiri, tentu mengandung zat-zat jang menjembuhkan. Aku tidak bisa bersoal-djawab dengan dia. karena

orang Djawa adalah orang jang pertjaja kepada ilmu kebatinan, dan ia jakin bahwa ia akan kehilangan

anaknja kalau tidak membawa obat ini dariku. Kuberikan air itu kepadanja. Dan seminggu kemudian anak itu

sembuh kembali. Aku senantiasa mengadakan perdjalanan kepelbagai pelosok tanah air dari Sabang, negeri

jang paling utara dari pulau Sumatra, sampai ke Merauke di Irian Barat dan jang paling timur. Beberapa

tahun jang lalu aku mengundjungi sebuah desa ketjil di Djawa Tengah. Seorang perempuan dari desa itu

mendatangi pelajanku dan membisikkan, "Jangan biarkan orang mengambil piring Presiden. Berikanlah

kepada saja sisanja. Saja sedang mengandung dan saja ingin anak laki-laki. Saja mengidamkan seorang anak

seperti Bapak. Djadi tolonglah, biarlah saja memakan apa-apa jang telah didjamah sendiri oleh Presidenku."

Dipulau Bali orang pertjaja, bahwa Sukarno adalah pendjelmaan kembali dari Dewa Wishnu, Dewa Hudjan

dalam agama Hindu. Karena, bilamana sadjapun Bapak datang ketempat istirahat jang ketjil, jang

kurentjanakan dan kubangun sendiri diluar Denpasar, bahkan sekalipun ditengah musim kemarau,

kedatanganku bagi mereka berarti hudjan. Orang Bali jakin, bahwa aku membawa pangestu kepada mereka.

Dikala terachir aku terbang ke Bali disana sedang berlangsung musim kering. Tepat setelah aku sampai

disana, langit tertjurah. Berbitjara setjara terus-terang, aku memandjatkan- do'a sjukur kehadirat Jang

Maha-Pengasih manakala turun hudjan selama aku berada di Tampaksiring. Karena, kalaulah ini tidakterdjadi,

sedikit banjak akan mengurangi pengaruhku.Namun, dunia hanja membatja tentang satu-orang

tukang betja. Dunia hanja tahu, bahwa Sukarno bukan ahli ekonomi. Itu memang benar. Aku bukan ahli

ekonomi. Tapi apakah Kennedy ahli ekonorni ? Apakah Johnson ahli ekonomi? Apakah itu suatu alasan bagi

madjalah-madjalah Barat untuk menulis bahwa negeriku sedang menudju kepada keruntuhan ekonomi ? Atau

bahwa kami adalah "bangsa jang bobrok". Atau untuk mendjuduli sebuah tjerita: "Mari kita bergerak

menentang Sukarno"? Kalau para wartawan membentji Djepang atau Filipina, mereka dapat menjebut suatu

daerah disana, dimana seluruh keluarga — ibu, bapak dan anak-anaknja—bunuh diri, karena menderita

kelaparan. Ini semua sudah diketahui orang. Tapi tidak! Hanja mengenai "Orang Djahat dari Asia" mereka

membuat foto-foto dari penderitaan rakjat, karena kekurangan makanan oleh musim kering dan hama tikus,

sementara dilatarbelakangnja digambarkan hotelku jang indah. Lalu kepala karangannja: "Indonesia

kepunjaan Sukarno". Tapi itu BUKAN Indonesia kepunjaan Sukarno. Indonesia kepunjaan Sukarno sekarang

adalah suatu bangsa jang 10051 bebas butahuruf dibawah umur 45 tahun. Pada waktu Negara kami dilahirkan

duapuluh tahun jang lalu hanja 6% dari kami jang pandai tulis-batja. Indonesia kepunjaan Sukarno sekarang

adalah suatu bangsa jang dua intji lebih tinggi daripada generasi terdahulu. Apakah masuk diakal, anak-anak

bisa tumbuh lebih subur dalam keadaan kelaparan ?

Akan tetapi wartawan-wartawan terus sadja menulis, bahwa aku ini seorang "Budak Moskow". Marilah kita

perbaiki ini sekali dan untuk selama-lamanja. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin mendjadi seorang

Komunis. Aku menjembah ke Moskow ? Setiap orang jang pernah mendekati Sukarno mengetahui, bahwa

egonja terlalu besar untuk bisa mendjadi budak seseorang—ketjuali mendjadi budak dari rakjatnja. Namun

para wartawan tidak menulis tentang apa-apa jang baik dari Sukarno. Pokok-pokok jang dibitjarakan hanja

tentang jang djelek dari Sukarno.Mereka suka memperlihatkan Hotel Indonesiaku jang penuh gairah dan

dibelakangnja gambar-gambar daerah pinggiran jang miskin. Alasan dari "orang jang menghamburkan uang"

mendirikan gedung itu ialah, untuk memperoleh devisa jang tidak dapat kami tjari dengan djalan lain. Kami

menghasilkan dua djuta dollar Amerika setelah hotel itu berdjalan selama setahun. Aku sadar, bahwa kami

masih mempunjai daerah pinggiran jang miskin dekat itu. Akan tetapi negeri-negeri jang kajapun punja hotel

jang gemerlapan, empuk dari jang harganja djutaan dollar, sedang disudutnja terdapat bangunanbangunan

jang tertjela penuh dengan kotoran, busuk dan djelek. Aku melihat orang-orang kaja dengan segala

kemegahannja berdjalan dengan sedan-sedan jang mengkilap, akan tetapi aku djuga melihat mereka-mereka

jang malang mentjakar-tjakar dalam tong-sampah mentjari kulit kentang. Memang ada daerah pinggiran jang

miskin diseluruh kota didunia. Bukan hanja di Djakarta kepunjaan Sukamo. Barat selalu menuduhku terlalu

memperlihatkan muka manis kepada Negara-Negara Sosialis. "Ooohh," kata mereka, "Lihatlah Sukarno lagilagi

bermain-main sahabat dengan Blok Tnmur."

Jah, mengapa tidak ? Negara-Negara Sosialis tak pernah mengizinkan seorangpun mengedjekku dalam pers

mereka. Negara-Negara Sosialis selalu memudjiku. Mereka tidak membikin aku malu keseluruh dunia ataupun

tidak memperlakukanku dimaka umum seperti seorang anak jang tertjela dengan menolak memberikan lebih

banjak djadjan sampai aku mendjadi anak jang manis. Negara-Negara Sosialis selalu mentjoba untuk

merebut hati Sukarno. Krushchov mengirimi aku jam dan pudding dua minggu sekali dan memetikkan appel,

gamdum dan hasil tanaman lain dari panennja jang terbaik. Djadi, salakkah aku kalau berterima-kasih

kepadanja ? Siapakah jang takkan ramah terhadap seseorang jang bersikap ramah kepadanja? Aku mengedjar

politik netral, ja ! Akan tetapi dalam hati-ketjilnja siapa jang menjalahkanku, djika aku berkata, "Terimakasih

rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau selalu memperlihatkan kepadaku tanda persahabatan.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 4 dari 109

Terima-kasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau berusaha tidak menjakiti hatiku. Terima-kasih,

karena engkau telah menjampaikan kepada rakjatmu bakwa Sukamo setidak-tidaknja mentjoba sekuat

tenaganja berbuat untak negerinja. Terima-kasih atas pemberianmu." Apa jang kuutjapkan itu adalah tanda

terima-kasih— bukan Komunisme ! Aku ditjela dalam berbagai soal. Mengapa dia - terlalu banjak

mengadakan perdjalanan, musuh-musuhku selalu bertanja. Dibulan Djuni 1960, pada waktu aku mengadakan

perlawatan selama dua bulan empat hari ke India, Hongaria, Austria, RPA, Guinea, Tunisia, Marokko,

Portugal, Cuba, Puerto Rico, San Francisco, Hawaii dan Djepang, kepadaku ditudjukan kata-kata baru jang

dikarang buat diriku. Aku malahan tidak tahu apa maksud "Have 707 Will Travel" hingga seorang sahabat

bangsa Amerika menerangkannja.

Memang benar, bahwa aku adalah satu-satunja Presiden jang mengadakan demikian banjak perlawatan. Aku

sudah kemana-mana ketjuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk

berkundjung. Aku mengharapkan, disatu saat dapat menerima keramahannja itu. Ada sebabnja aku

mengadakan perlawatan itu. Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin memperlihatkan kepada

dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan "Bangsa

jang pandir" seperti orang Belanda berulang-ulang kali mengatakan kepada kami. Bahwa kami bukan lagi

"Inlander goblok hanja baik untuk diludahi" seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali. Bahwa

kami bukanlah lagi penduduk kelas kambing jang berdjulan menjuruk-njuruk dengan memakai sarung dan

ikat-kepala, merangkak-rangkak seperti jang dikehendaki oleh madjikan-madjikan kolonial dimasa jang

silam. Setelah Republik Rakjat Tiongkok, India, Uni Soviet, dan Amerika Serikat, maka kami adalah bangsa

jang kelima didunia dalam hal djumlah penduduk. 3000 dari pulau-pulau kami dapat didiami. Tapi tahukah

Saudara berapa banjak rakjat jang tidak mengetahui tentang Indonesia ? Atau dimana letaknja ? Atau

tentang warna kulitnja, apakah kami sawomatang, hitam, kuning atau putih ?

Jang mereka ketahui hanja nama Sukarno. Dan mereka mengenal wadjah Sukarno.Mereka tidak tahu, bahwa

negeri kami adalah rangkaian pulau jang terbesar didunia. Bahwa negeri kami terhampar sepandjang 5.000

kilometer atau menutupi seluruh negeri-negeri Eropa sedjak dari pantai Barat benuanja sampai keperbatasan

paling udjung disebelah Timur.Mereka tidak tahu, bahwa kami sesudah Australia adalah negara keenam

terbesar, dengan luas tanah sebesar dua djuta mil persegi. Mereka umumnja tidak menjadari, bahwa kami

terletak antara dua benua, benua Asia dan Australia, dan dua buah Samudra raksasa, Lautan Teduh dan

Samudra Indonesia. Atau, bahwa kami menghasilkan kopi jang paling baik didunia; dari itu timbulnja

utjapan: "A cup of Java". Bahwa setelah Amerika Serikat dan Uni Sovjet maka Indonesialah penghasil minjak

jang terbesar di Asia Tenggara dan penghasil timah jang kedua terbesar didunia, negara terkaja dialam

semesta dalam hal sumber alam. Atau, bahwa satu dari empat buah ban mobil ~Amerika dibuat dari karet

Indonesia. Namun apa jang mereka mau tahu hanja nama Sukarno.

Departemen Luar Negeri kami menjatakan kepadaku, bahwa satu kali kundjungan Sukarno sama artinja

dengan sepuluh tahun pekerdjaan Duta. Dan itulah alasan, mengapa aku mengadakan perlawatan dan

mengapa aku selalu memberikan kenjataan-kenjataan tentang tanah-airku dalam setiap pidato jang

kuutjapkan disetiap pendjuru dunia. Aku hendak mengadjar orang-orang-asing dan memberikan pandangan

pertama selintas lalu tentang negeriku, jang terhampar menghidjau dan tertjinta ini laksana untaian zamrud

jang melingkar disepandjang katulistiwa.Pada suatu hari sekretarisku menjerahkan sebuah surat jang

beralamat singkat "Presiden Sukarno, Indonesia, Asia Tenggara". Penulis surat ini berkata, ia mendengar

bahwa aku ini mengekang kemerdekaan pers dan apakah itu benar dan kalau memang demikian alangkah

kedjamnja aku ini ! Orang jang menulis surat pitjisan ini menamakan aku seorang jang angkara. Dia

mengedjek kepadaku, tapi ini tidak kupedulikan. Tahukah engkau apa jang membuat aku gusar ? Kenjataan

bahwa dia menganggap kantorpos tidak tahu dimana letak Indonesia. Dan oleh sebab itu dia menambahkan

kata-kata ,,Asia Tenggara" pada alamatnja ! Pendapat manusia berdjalan bagai gelombang. Dalam tahun '56

ketika aku pertamakali berkundjung ke Amerika Serikat, setiap orang menjukaiku. Sekarang arusnja

mendjadi terbalik, menentang Sukarno. Betapapun, aku telah didjadikan bulan-bu}anan.

Baru-baru ini diserahkan kepadaku sebuah madjalah remadja Amerika. Madjalah itu memperlihatkan gadis

striptease setengah telandjang, jang hanja memakai tjelana-dalam dan berdiri disamping Sukarno

berpakaian seragam militer lengkap. Ini adalah kombinasi jang ditempelkan mendjadi satu supaja kelihatan

seolah-olah satu foto dari seorang gadis penari-telandjang membuka pakaiannja dihadapan Presiden Republik

Indonesia. Kedua foto ini ditempelkan -satu dengan jang lain. Ini adalah perbuatan kotor jang dilakukan

terhadap seorang Kepala Negara. Apakah aku harus mentjintai Amerika, kalau ia melakukan perbuatan

seperti itu terhadap diriku? Aku memperbintjangkan muslihat sematjam ini dengan Presiden Kennedy jang

sangat kuhormati. John F. Kennedy dan aku saling menjukai pergaulan kami satu sama lain. Dia berkata,

,,Presiden Sukarno, saja sangat mengagumi Tuan. Seperti saja sendiri, Tuan mempunjai pikiran jang

senantiasa menjelidiki dan bertanja-tanja. Tuan membatja segala-galanja. Tuan sangat banjak mengetahui."

Lalu dia membitjarakan tjita-tjita politik jang kupelopori dan mengutip bagian-bagian dari pidato-pidatoku.

Kennedy mempunjai tjara untuk mendekati seseorang melalui hati manusia. Kami banjak mempunjai

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 5 dari 109

persamaan. Kennedy adalah orang jang sangat ramah dan menundjukkan persahabatan terhadapku. Dia

membawaku ketingkat atas, kekamartidurnja sendiri dan disanalah kami bertjakap-tjakap.Kukatakan

kepadanja, ,,Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menjadari, bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan

persahabatan, seringkali Tuan dapat merusakkan hubungan dengan negara-negara lain dengan membiarkan

edjekan, serangan makian dan mengizinkan kritik-kritik setjara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers

Tuan ? Kadang-kadang kami lebih tjondong untuk bertindak atau memberikan reaksi lebih keras, oleh karena

kami dilukai atau dibikin marah. Sesungguhnja apakah pergaulan internasional itu bukan pergaulan antar

manusia dalam hubungan jang lebih besar ? Penggerogotan terus-menerus sematjam ini merobek-robek

keseimbangan dan mempertegang lebih hebat lagi hubungan jang sulit antara negara lain dengan negeri

Tuan." ,,Saja setudju dengan Tuan, Presiden Sukarno. Sajapun telah mendapat kesukaran dengan para

wartawan kami," dia mengeluh. ,,Apakah kami beruntung atau tidak, namun kemerdekaan pers merupakan

satu bagian dari pusaka peninggalan Amerika." ,,Ketika Alben Barkley mendjadi Wakil Presiden Amerika

Serikat, ia mengundjungi tanah-air saja," kataku. ,,Dan saja sendiri berdiri dekat beliau diwaktu beliau

ditjium oleh serombongan anak-anak gadis tjantik remadja.",,Saja jakin, tentu Wakil Presiden Barkley sangat

bersenang hati," kata Kennedy dengan ketawa jang disembunjikan. ,,Sekalipun demikian tak satupun surat

kabar Indonesia mau menjiarkannja.

Dan disamping itu mereka tak berani mengambil risiko untuk menimbulkan kesusahan terhadap seorang

negarawan keseluruh dunia. Barkley adalah seorang jang gembira dan barangkali tidak peduli bila gambarnja

itu dimuat. Akan tetapi bukanlah itu soalnja. Jang pokok adalah bahwa kami berkejakinan perlunja para

pemimpin dunia dilindungi dinegeri kami. "Kennedy sangat seperasaan denganku mengenai soal ini dan

berkata kepadaku dengan penuh kepertjajaan, ,,Tuan memang benar sekali, tapi apa jang dapat saja

lakukan ? Sedangkan saja dikutuk dinegeri saja sendiri."Karena itu kataku, ,,Ja, itulah sistim Tuan. Kalau

Tuan dikutuk dirurnah sendiri, saja tidak dapat berbuat apa-apa. Akan tetapi saja kira saja tidak perlu

menderita penghinaan seperti itu dinegeri Tuan, dimana Kepala Negaranja sendiri harus menderita

sedemikian. Madjalah Tuan ,,Time" dan ,,Life" terutama sangat kurang-adjar terhadap saja. Tjoba pikir,

,,Time" menulis, ,,Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu". Selalu mereka menulis jang djelekdjelek.

Tidak pernah hal-hal jang baik jang telah saja kerdjakan."Sekalipun Presiden Kennedy dan aku telah

mengadakan pertemuan pendapat, persetudjuan dalam lingkungan ketjil ini tidak pernah tersebar dalam

pers Amerika Serikat. Masih sadja, hari demi hari, mereka menggambarkanku sebagai pengedjar-tjinta. Ja,

ja, ja, aku mentjintai wanita. Ja, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak-pelesiran sebagaimana

mereka tudukkan padaku.

Di Tokyo aku telah pergi dengan kawan-kawan kesuatu Rumah Geisha. Tiada sesuatu jang melanggar susiia

mengenai Rumah Geisha itu. Orang sekedar duduk, makan-makan, bertjakap-tjakap dan mendengarkan

musik. Hanja itu. Akan tetapi dalam madjalah-madjalah Ba rat digembar-gemborkn seolah-olah aku ini Le

Grand Seducteur.Tanpa hiburan-hiburan ketjil ini aku akan mati. Aku mentjintai hidup. Orang-orang-asing

jang mengundjungi istanaku menjatakan, bahwa aku menjelenggarakan ,,suatu istana jang menjenangkan."

Adjudan-adjudanku mempunjai wadjah-wadjah jang senjum. Aku berkelakar dengan mereka, menjanji

dengan mereka. Bila aku tidak memperoleh kegembiraan, njanjian dan sedikit hiburan kadang-kadang, aku

akan dibinasakan oleh kehidupan ini. Umurku sudah 64 tahun. Mendjadi Presiden adalah pekerdjaan jang

membikin orang lekas tua. Dan kalau orang mendjadi tua, tentu tidak baik bagi seseorang. Karena itu,

sesekali aku harus lari dari keadaan ini, supaja aku dapat hidup seterusnja.Banjak kesenangan-kesenangan

jang sederhana telah dirampas dariku. Misalnja, dimasa ketjilku aku telah mengelilingi pulau Djawa dengan

sepeda. Sekarang perdjalanan sematjam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang jang

akan mengikutiku.

Di Hollywood aku diberi kesempatan untuk rnelihat-lihat disekitar studio-studio film. Waktu meninggalkan

halaman studio aku melihat seorang anak pengantar-surat lewat dengan sepeda, lalu menghentikan

sepedanja untuk sesaat. Tiba-tiba aku merasa senang dan pikiranku terbuka, karena itu aku naik dan pergi.

Aku bukan hendak memberi kesan kepada siapapun. Hanja karena merasa senang. Jah, gema dan gambarku

ini tersebar keseluruh dunia ini. Dinegeriku sendiripun aku tak dapat lagi menikmati kesenangan jang paling

memuaskan hati, jaitu menggeledahi toko-toko kesenian, melihat-lihat benda jang akan dikumpulkan, lalu

menawarnja. Kemanapun aku pergi, rakjat berkumpul berbondong-bondong. Dokterku telah memperhatikan,

bahwa kegembiraan memang mutlak perlu buat mendjaga kesehatanku. Dengan demikian aku bisa terlepas

sedikit dari diriku sendiri dan dari pendjaraku. Karena begitulah keadaanku. Seorang tawanan. Tawanan dari

tata-tjara serba resmi. Tawanan dari tata-tjara kesopanan. Tawanan dari peri-laku jang baikSetiap orang

harus mentjari suatu kesenangan supaja terlepas dari segala tata-laku ini. Presiden Ayub Khan main golf,

Kennedy berperahu lajar, Pangeran Norodom Sihanouk mengarang musik, Radja Muang Thai main saxophone,

Lyndon Johnson mempunjai tempat peternakan. Akupun memerlukan kesenangan. Karena itu, bila aku

mengadakan perdjalanan, aku mengizinkan diriku sendiri dengan kesenangan mendjalankan tugas dalam

mengedjar kebahagiaan. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Amerika Serikat setiap orang berhak

mengedjarnja.Mendjadi Presiden karena diperlukan menjebabkan orang mendjadi terasing. Ketjakapan dan

sifat-sifat jang memungkinkan orang menduduki djabatan Presiden itu adalah ketjakapan dan sifat itu djuga

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 6 dari 109

jang menjebabkan ia diasingkan. Akan tetapi, dimata orang luar aku selalu gembira. Pembawaanku adalah

demikian, sehingga perasaan susah jang teramat sangat tidak pernah memperlihatkan diri. Sekalipun

perasaanku hantjur-luluh didalam, orang tak dapat menduganja. Bukankah Sukarno terkenal dengan

,,senjumnja" ? Apapun djuga persoalanku— Malaysia, kemiskinan, lagi-lagi pertjobaan pembunuhan—Sukarno

dari luar senantiasa gembira. Seringkali aku duduk-duduk seorang diri diberanda Istana Merdeka. Beranda itu

tidak begitu indah. Setengah tertutup dengan lajar untuk menghambat panas dan tjahaia matahari.

Perabotnja terdiri dari korsi rotan jang tidak dilapis dan tidak ditjat dan medja beralas kain batik halus

buatan negeriku. Suatu keistimewaan jang kuperoleh karena djabatan tinggi adalah sebuah korsi jang

menjendiri pakai bantal. Itulah jang dinamakan ,,Korsi Presiden".'Dan aku duduk disana. Merenung. Dan

memandang keluar ketaman indah jang menghilangkan kelelahan pikiran, taman jang kutanami dengan

tanganku sendiri. Dan batinku merasa sangat sepi.Aku ingin bertjampur dengan rakjat. Itulah jang mendjadi

kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian.

Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti, apabila aku tidak bisa keluar

dan bersatu dengan rakjat-djelata jang melahirkanku. Kadang-kadang aku mendjadi seorang Harun al Rasjid.

Aku berputar-putar keliling kota. Seorang diri. Hanja dengan seorang adjudan berpakaian preman dibelakang

kendaraan. Terasa olehku kadangkadang, bahwa aku harus terlepas dari berbagai persoalan untuk sesaat dan

merasakan irama denjut djantung tanah-airku. Namun persoalan-persoalan selalu mengikutiku bagai

bajangan besar dan hitam dan jang datang dengan samar menakutkan dibelakangku. Aku takkan bisa lepas

daripadanja. Aku takkan keluar dari genggamannja. Aku takkan dapat madju dengannja. Ia bagai hantu jang

senantiasa mengedjar-ngedjar. Pakaian seragam dan petji hitam merupakan tanda pengenalku. Akan tetapi

adakalanja kalau hari sudah malam aku menukar pakaian pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas

aku hanja memakai kemedja. Dan dengan- katjamata berbingkai tanduk rupaku lain samasekali. Aku dapat

berkeliaran tanpa dikenal orang dan memang kulakukan. Ini kulakukan karena ingin melihat kehidupan ini.

Aku adalah kepunjaan rakjat. Aku harus melihat rakjat, aku harus mendengarkan rakjat dan bersentuhan

dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada diantara mereka. Ia adalah roti-kehidupan bagiku.

Dan aku merasa terpisah dari rakjat-djelata.Kudengarkan pertjakapan mereka, kudengarkan mereka

berdebat, kudengarkan mereka berkelakar dan bertjumbu-kasih. Dan aku merasakan kekuatan hidup

mengalir keseluruh batang tubuhku. Kami pergi dengan mobil ketjil tanpa tanda pengenal. Adakalanja aku

berhenti dan membeli sate dipinggiran djalan. Kududuk seorang diri dipinggir trottoir dan menikmati

djadjanku dari bungkus daun pisang. Sungguh saat-saat jang menjenangkan. Rakjat segera mengenalku

apabila mendengar suaraku. Pada suatu malam aku pergi ke Senen, disekitar gudang kereta-api, dengan

seorang Komisaris Polisi. Aku berputar-putar ditengah-tengah rakjat dan tak seorangpun memperhatikan

kami. Achirnja, untuk sekedar berbitjara aku bertanja kepada seorang laki-laki, ,,Dari mana diambil

batubata ini dan bahan konstruksi jang sudah dipantjangkan ini ?" Sebelum ia dapat memberikan djawaban,

terdengar teriakan, ,,Hee," teriak suara perempuan, ,,Itu suara Bapak Ja suara Elapak Hee, orang-orang, ini

Bapak Bapak "Dalam beberapa detik ratusan kemudian ribuan rakjat datang berlari-lari dari segala pendjuru

Dengan tjepat Komisaris itu membawaku keluar dari situ, masuk mobil ketjil kami dan menghilang. Ditindjau

setjara keseluruhan maka djabatan Presiden tak ubahnja seperti suatu pengasingan jang terpentjil. Memang

ada beberapa orang kawanku. Tidak banjak. Seringkali pikiran oranglah jang berobah-obah, bukan

pikiranmu. Mereka memperlakukanmu lain. Mereka turut mentjiptakan pulau kesepian ini disekelilingmu.

Karena itulah, apabila aku terlepas dari pendjaraku ini, aku menjenangkan diriku sendiri.

Di Tokyo aku bisa pergi ke Kokusai Gekijo, dimana mereka mempertundjukkan diatas panggung sekaligus

empatratus gadis-gadis djelita. Ditahun 1963 aku baru tahu, bahwa Duta Besar Indonesia untuk Djepang

diwaktu itu tidak pernah mengundjungi panggung ini. Aku mengumpatnja, ,,Hei, Bambang Sugeng, engkau ini

Duta Besar jang malang. Seorang diplomat harus mengetjap setiap djenis kehidupan negeri dimana dia

ditempatkan. Hajo Mari kita pergi melihat gadis-gadis itu. "Akupun mengadjak seorang Indonesia jang

bersusila kawakan, jang kaget apabila Presidennja mempertjakapkan wanita. Orang ini mengerling pada

gadis-gadis jang tjantik ini, kemudian bangkit dan berkata, ,,Saja tidak dapat menjaksikannja. Saja akan

pergi sadja. Terlalu menegangkan pikiran saja." Dia seorang munafik. Aku bentji orang-orang munafik. Sudah

barang tentu lagi-lagi reputasiku menjebabkan aku mendjadi korban keadaan. Di Fiiipina ditahun 1964,

Presiden Diosdado Macapagal menjambutku dilapangan terbang. Beliau mengiringkanku ke Laurels Mansion

dimana aku menginap. Disana tinggal Tuan Laurels bekas Presiden Filipina, isterinja dan anak-tjutjunja.

Untuk lebih memeriahkan kedatanganku mereka mendatangkan Bayanihan Cultural Ensemble, suatu

perkumpulan paduan-suara, jang menjambutku dengan Tari Lenso sebagai tanda penghormatan. Dua orang

wanita muda tampil dari dalam kelompok ensemble itu dan meminta kepadaku untuk turut menari. Sukar

untuk menolaknja, karena itu aku mulai menari dan GEGER ! Kilat lampu ! Djepretan karnera ! Dan induk

karangannja: "Lihat Sukarno pengedjar-tjinta mulai lagi". Aku menjukai gadis-gadis jang menarik

disekelilingku, karena gadis-gadis ini bagiku tak ubahnja seperti kembang jang sedang mekar dan aku senang

memandangi kembang. Ditahun 1946, dihari-hari jang berat itu semasa revolusi fisik, isteri dari sekretarisduaku

datang setiap pagi hanja sekedar untuk membelah telor untuk sarapanku. Ah, sebenarnja aku sendiri

bisa memetjahkannja, akan tetapi isteriku tak pernah bangun begitu pagi dan aku merasa lebih tenang dan

kuat disaat-saat jang tegang seperti itu apabila melihat barang sesuatu tersenjum disekitarku. Aku merasa

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 7 dari 109

terhibur oleh wanita-wanita muda disekeliling kantorku. Apabila para tetamu menjiasati tentang adjudanadjudan

wanitaku jang masih muda-belia, aku berkelakar kepada mereka, ,,Perempuan tak ubahnja seperti

pohon karet. Dia tidak baik lagi setelah tigapuluh tahun." Katakanlah, aku bereaksi lebih baik terhadap

wanita. Wanita lebih mengerti. Wanita lebih bisa turut merasakan. Kuanggaip mereka memberikan

kesegaran. Djustru wanitalah jang dapat memberikan ini kepadaku. Sekali lagi, aku tidak berbitjara dalam

arti djasmaniah. Aku hanja sekedar tertarik pada suatu pandangan jang lembut atau sesuatu jang kelihatan

indah. Sebagai seorang seniman, aku tertarik menurut pembawaan watak kepada segala apa jang

menjenangkan pikiran. Bila hari sudah larut aku merasa lelah. Seringkali aku kehabisan tenaga, sehingga

sukar untuk menggerakkan persendian. Dan apabila seorang sekretaris laki-laki berbadan besar, tidak

menarik, buruk dan botak datang membawa setumpukan tinggi surat-surat untuk ditandatangani, aku akan

berteriak kepadanja supaja dia segera pergi dan membiarkanku seorang diri. Sepihan-sepihan kulitnja akan

rontok dari badannja karena kaget. Aku akan menggeledek kepadanja. Aku akan bangkitkan petir diatas

kepalanja. Akan tetapi bilamana jang datang seorang gadis sekretaris berbadan ramping, dengan dandan

jang rapi dan meluapkan bau harum menjegarkan tersenjum manis dan berkata kepadaku dengan lunak,

,,Pak, silahkan ", tahukah engkau apa jang terdjadi ? Bagaimanapun keadaan hatiku, aku akan mendjadi

tenang. Dan aku akan selalu berkata, "Baik". Ditahun '61 aku sakit keras. Di Wina para ahli mengefuarkan

batu dari gindjalku. Waktu itu adalah saat memuntjaknja perdjoangan kami merebut kembali Irian Barat dan

dalam kalangan lawan-lawan kami timbul kegembiraan.

Tidak guna lagi mengutuk Sukarno dan memintaminta supaja dia mati, karena Sukarno sekarang sedang

menudju kematiannja. Karena itu para dokter melakukan perawatan jang lebih teliti terhadap diriku. Mereka

membudjuk hatiku, ,,Djangan kuatir, Presiden Sukarno, kami akan memberikan perawat-perawat jang

berpengalaman untuk mendjaga Tuan." Hehhhh ! ! Ketika hal ini disampaikan kepadaku, keadaanku mendjadi

lebih pajah daripada sewaktu aku mula-mula masuk. Aku tahu apa jang akan kuhadapi. Aku tidak berkata

apa-apa, karena aku tidak mau menentang dokter. Pendeknja dihari berikut ia melakukan pembedahan dan

aku ingin agar hatinja senang terhadapku selama ia mendjalankan pembedahan itu. Akan tetapi sementara

itu aku berpikir dalam hatiku sendiri, "Aku akan lebih tjepat sembuh idengan gadis-gadis perawat jang tidak

berpengalaman, karena jang sudah punja pengalaman 40 tahun tentu setidak-tidaknja sekarang sudah

berumur 55 !"Orang mengatakan, bahwa Sukarno suka melihat perempuan tJantik dengan sudut matanja.

Kenapa mereka berkata begitu ? Itu tidak benar. Sukarno suka memandangi perempuan tjantik dengan

seluruk bola matanja. Akan tetapi ini bukanlah suatu kedjahatan. Sedangkan Nabi Muhammad sallallahu

'alaihi wasallam mengagumi keindahan. Dan sebagai seorang Islam jang beriman aku adalah pengikut Nabi

Muhammad jang mengatakan, "Tuhan jang dapat mentjiptakan machluk-machiuk jang tjantik seperti wanita

adalah Tuhan Jang Maha-Besar dan Maha-Pengasih." Aku setudju dengan utJapan beliau.Seperti jang

dikisahkan, Muhammad mempunjai seorang budak bernama Said. Said, orang jang pertama-tama masuk

Islam, mempunjai isteri jang sangat tjantik bernama Zainab. Ketika Muhammad melihat Zainab, beliau

mengutjapkan "Allahu Akbar", Tuhan MahaBesar.Tatkala murid-muridnja bertanja, mengapa beliau

mengutjapkan Allahu Akbar ketika melihat Zainab, maka beliau mendjawab, "Aku memudji Tuhan karena

telah mentjiptakan machluk-machluk jang tjantik seperti perempuan ini." Aku mendjundjung Nabi Besar. Aku

mempeladjari utjapan-utjapan beliau dengan teliti. Djadi, moralnja bagiku adalah: bukanlah suatu dosa atau

tidak sopan kalau seseorang mengagumi seorang perempuan jang tjantik. Dan aku tidak malu berbuat begitu,

karena dengan melakukan itu pada hakekatnja aku memudji Tuhan dan memudji apa jang telah ditjiptakan-

Nja.Aku hanja seorang pentjinta ketjantikan jang luarbiasa. Aku mengumpulkan benda-benda perunggu karja

seni dari Budapest, seni pualam dari Italia, lukisan-lukisan dari segala pendjuru.

Untuk Istana Negara di Djakarta aku sendiri berbelandja membeli kandil kristal jang berat dan korsi beludru

tjukilan emas di Eropa. Aku memungut permadani di Iraq. Aku membnat sendiri rentjana medja kantorku

dari satu potong kajudjati Indonesia jang utoh. Aku merentjanakan medja ruang-makan Negara dari satu

potong kajudjati Indonesia. Aku menggantungkan setiap kain-hiasan-dinding, memilih setiap barang,

merentjanakan dimana harus diletakkan setiap pot-bunga atau karja seni-pahat.Kalau aku melihat sepotong

kertas dilantai, aku akan berhenti dan memungutnja. Anggota Kabinet tertawa melihat bagaimana aku,

ditengah-tengah persoalan jang pelik, datang kepada mereka dan meluruskan dasinja. Aku senang bila

makanan diatur setjara menarik diatas medja. Aku mengagumi keindahan dalam segala bentuk.

Dalam perkundjungannja ke Istana Negara di Bogor, seorang Texas terpikat hatinja pada salah-satu benda

seniku. "Tuan Presiden," katanja tiba-tiba. "Saja akan menjampaikan apa jang hendak saja kerdjakan untuk

Tuan. Saja akan menjerahkan sebuah Cadillac sebagai ganti ini." Kukatakan kepadanja jah, tak soal katakata

apa jang telah kuutjapkan kepadanja. Tapi pokoknja adalah "Tidak". Tidak satupun dari benda-benda

indah jang telah kukumpulkan dapat ditukar dengan Cadillac. Kalau aku senang kepadamu, engkau akan

kuberi sebuah lukisan atau barang tenunan sebagai hadiah. Akan tetapi untuk mendjualnja, tidak, sekali-kali

tidak. Semua itu akan kuwariskan kepada rakjat Indonesia, bilamana aku pergi. Biarlah rakjatku

memasukkannja kedalam Museum Nasional. Kemudian, apabila mereka lelah atau pikirannja katjau, biarlah

mereka duduk dihadapan sebuah lukisan dan meneguk keindahan dan ketenangannja, sehingga mengisi

seluruh kalbu mereka dengan kedamaian seperti ia djuga terdiadi terhadap diriku. Ja, aku akan mewariskan

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 8 dari 109

hasil-hasil seni ini kepada rakjatku. Untuk didjual? Djangan kira! Seorang orang-asing jang mengerti

kepadaku adalah Dutabesar Amerika di Indonesia, Howard Jones.

Ia sudah lama ditempatkan di Djakarta dan mendjabat sebagai Ketua dari Korps Diplomatik. Kami sering

terlibat dalam perdebatan-perdebatan sengit dan pahit, akan tetapi aku semakin memandangnja sebagai

seorang kawan jang tertjinta. Uraian Howard tentang diri pribadiku adalah: "Suatu perpaduan antara Franklin

Delano Roosevelt dan Clark Gable." Apakah orang heran, apabila aku menjebutnja sebagai seorang kawan

jang tertjinta ? Disuatu hari Minggu beberapa tahun jang silam, ia dengan isterinja Marylou makan bersamasama

denganku dan isteriku Hartini dipaviljun ketjil karni di Bogor. Bogor adalah tempat didaerah

pegunungan jang sedjuk diluar kota Djakarta. Berlainan dengan dugaan orang bahwa aku mempunjai krankran

dari emas murni seperti sepantasnja bagi Jang Dipertuan didaerah Timur, maka aku tidak tinggal di

Istana Negara jang besar itu. Dipekarangannja kami mempunjai sebuah bungalow ketjil jang besaruja kirakira

sama dengan jang dipunjai oleh seorang pedjabat biasa. Bungalow ini terdiri dari beberapa kamar-tidur,

suatu ruang-makan ketjil dan ruang-duduk jang sangat ketjil. Ia tidak mewah. Sederhana sekali. Akan tetapi

menjenangkan dan itulah rumahku.Selagi makan Howard berkata, "Tuan Presiden, saja kira sudah waktunja

bagi Tuan untuk melihat kembali djalan-djalan dalam sedjarah. Menurut pendapat saja sudah tepat waktunja

bagi Tuan untuk menuliskan sedjarah hidup Tuan."Seperti biasa, apabila seseorang menjebut-njebut tentang

otobiografi, aku mendjawab, "Tidak".

Insja Allah, djika Tuhan mengizinkan, saatnja masih 10 atau 20 tahun lagi. Bagaimana saja bisa mengetahui

apa jang akan terdjadi terhadap diriku ? Siapa jang dapat mentjeriterakan, bagaimana djalannja kehidupan

saja ? Itulah sebabnja mengapa saja selalu menolak hal ini, karena saja jakin bahwa buruk-baiknja kehidupan

seseorang hanja dapat dipertimbangkan setelah ia mati." "Terketjuali Presiden Republik Indonesia,"

djawabnja. "Disamping telah mendjadi Kepala Negara selama 20 tahun, ia telah dipilih sebagai Presiden

seumur hidup. Ia adalah orang jang paling banjak diperdebatkan dan dikritik didjaman kita ini. Ia

"mempunjai banjak rahasia," kataku dengan senjum jangdisembunjikan. "Akan tetapi dialah satu-satunja

orang jang dapat memberanikan diri untuk mengguratkannja dan disamping itu mendjawab seranganserangan

dari para pengeritiknja—dan kawan-kawannja."Pertemuan ini merupakan pertemuan kekeluargaan jang tidak

formil. Aku pakai badju sport dan tidak bersepatu. Hartini membuat nasigoreng, karena dia tahu bahwa

keluarga Jones sangat dojan pada nasi-goreng-ajam dan Presiden makan puluk—artinja makan dengan

tangan—dan kami duduk disekitar medja bersama-sama menikmati saat-saat istirahat jang menjenangkan,

jang hanja dapat dilakukan diantara kawan-kawan lama. "Untuk membuat otobiografi jang sesungguhnja

sipenulis hendaknja dalam keadaan jang- susah seperti Rousseau ketika dia menulis pengakuan-pengakuannja

dan pengakuan jang demikian ternjata sukar bagi saja. Banjak tokoh jang masih hidup akan menderita,

apabila saja mentjeriterakan semuanja. Dan banjak pemerintahan-pemerintahan, dengan mana saja

sekarang mempuniai hubungan jang baik, akan mendapat serangan sedjadi-djadinja apabila saja menjatakan

beberapa hal jang ingin saja tjeriterakan." "Walaupun bagaimana, Tuan Presiden, orang-orang-asing merobah

pendirian mereka setelah bertemu dengan Tuan dan djatuh kedalam kekuatan pribadi Bung Karno jang

terkenal dan menarik seperti besiberani. Kalau Tuan terus madju dengan daja-penarik pribadi Tuan itu,

maka saja jakin kritikus jang paling tadjampun kemudian akan berkata, "Hee, dia sesungguhnja tidak

bernapaskan asap dan api seperti naga. Dia sangat menjenangkan." "Itulah sebabnja saja pada dasarnja ingin

berkawan," kuterangkan kepadanja. "Saja menjukai orang Timur, saja menjukai orang Barat bahkan Tengku

Abdul Rahman sendiri dan orang Inggris. Pun djuga orang-orang jang membentji saja. Setiap saat apa-bila

mereka ingin bersahabat, saja lebih ingin lagi dari itu. Suatu kalisaja mengetahui bahwa De Gaulle tidak

senang kepada saja. Sekalipundemikian saja bertemu dengan dia di Wina. Setelah itu

sikapnjaberobah.",,Itulah maksud saja," Jones melandjutkan. "Tuan tidak bisa mendatangi sendiri seluruh

rakjat didunia, akan tetapi Tuan dapat datang kepada mereka dengan melalui halaman-halaman buLu. Tuan

menawan hati sedjuta pendengar dilapangan terbuka. Mengapa Tuau tidak menghendaki djumlah pendengar

jang lebih besar lagi. "Pertjakapan ini berlangsung terus sampai makan perabung, berupa pisang-rebus

kesukaanku. "Begini," kataku. "Suatu otobiografi tidak ada harganja, ketjuali djika sipenulis merasa

kehidupannja tidak berguna apa-apa. Kalau dia menganggap dirinja seorang besar, karjanja akan mendjadi

subjektif. Tidak objektif. Otobiografiku hanja mungkin djika ada perimbangan dari kedua-duanja. Sekian

banjak jang baikbaik supaja dapat menenangkan egoku dan sekian banjak jang djelek-djelek sehingga orang

mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan hanja jang baik-baik sadja orang akan menjebutmu egois, karena

memudji diri sendiri. Memasukkan hanja jang djelek-djelek sadja akan menimbulkan suasana mental jang

buruk bagi rakjatku sendiri. Hanja setelah mati dunia ini dapat ditimbang dengan djudjur, 'Apakah; Sukarno

manusia jang baik ataukah manusia jang buruk ?' Hanja di-saat itulah dia baru dapat diadili."Bertahun-tahun

lamanja orang mendesakku untuk menuliskan kenang-kenanganku. Press Officerku, Njonja Rochmuljati

Hamzah, selalu mendjadi perantara.Satu kali aku betul-betul membentak-bentak Roch jang manis ituDitabun

1960, ketika Krushchov sedang berkundjung kemari, ada seratus orang wartawan-asing berkerumun dibawah

tangga. Disatu. saat dia berkata, "Ma'af, Pak, Bapak djangan marah, karena kami sendiripun tidak

mengetahui sedjarah hidup Bapak. Dan Bapak sedikit sekali memberikan wawantjara. Oleh karena itu

dapatkah Bapak menenteramkan hati saja barang sedikit dan menerima seorang wartawan CBS jang ramah

sekali dan ingin menulis riwajat hidup Bapak ?" Aku berpaling kepadanja dan menjembur. "Berapa kali aku

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 9 dari 109

harus mengatakan kepadamu, T-I-D-A-K ! ! Pertama, aku tidak mengenalnja, akan tetapi kalau aku pada satu

saat menulis riwajat hidupku, aku akan kerdjakan dengan seorang perempuan. Sekarang djauh-djauhlah dari

penglihatanku. Engkau seperti pesurah wartawanasing." Roch berlari keluar dan pulang

kerumahnja.Kemudian aku merasa menjesal. Adjudanku menelpon Roch dan. memberitahukan, bahwa aku

hendak beItemu dengan dia. Lalu kukirimi kendaraan untuk mendjemputnja. Dia datang dan mengira bahwa

akan menerima semprotan lagi, akan tetapi sebaliknja, Presidennja hendak minta ma'af kepadanja.

"Ma'afkanlah aku, Roch," kataku. "Kadang-kadang aku berteriak dan menjebut nama-nama buruk, akan tetapi

sebenarnja akulah itu. Djangan masukkan kata-Lata itu dalam hatimu. Kalau aku meradang, itu berarti aku

mentjintaimu. Aku menjemprot kepada orang-orang jang terdekat dan paling kusajangi. Hanja mereka jang

mendjadi papan-suaraku." Kemudian kutjium dia dipipinja, tjara jang biasa kulakukan sebagai salam

pertemuan dan perpisahan dengan anakanak perempuan sekretarisku—dan dia pergi dengan hati jang senang

sekali.Itu sebabnja, mengapa persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan tjara Asia. Tjaraku

bukanlah sesungguhnja gaja Barat, kukira. Aku tak dapat membajangkan seorang Perdana Menteri Inggris

memeluk sekretaris-wanitanja sebagai utjapan selamat pagi atau utjapan-ma'af, setelah mana perempuan

itu lari keluar dan membiarkan dia sendiri.Aku tidak menduga, tidak lama setelah kedjadian ini aku bertemu

dengan Cindy Adams. Cindy, seorang wartawan-wanita, berada di Djakarta ditahun 1961 dengan suaminja

pelawak Joey Adams, jang memimpin Missi Kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara. Wanita Amenka

jang riang dan rapi ini, dengan pembawaannja jang suka berkelakar, menjebabkan aku seperti kena pukau.

Wawantjara dengan Cindy menjenangkan sekali dan tidak menjakitkan hati. Tulisannja djudjur dan dapat

dipertjaja sepen~nja. Bahkan dia nampaknja dapat merasakan sedikit tentang Indonesia dan persoalan

persoalannja dan, jah, dia adalah seorang penulis jang palingmenarik jang pernah kudjumpai !Kami orang

Djawa bekerdja dengan instink. Setahun lamanja aku mentjari-tjari seorang wanita jang akan mendjabat

sebagai press officer, akan tetapi ketika aku melihat Roch aku segera mengetabui~ bahwa dialah jang

kutjari. Kupekerdjakan dia segera. Begitupun halnja dengan Cindy.Pada kesempatan lain, ketika Howard

Jones memulai lagi pokok pembitjaraan tentang sedjarah hidupku, aku memberikan 'surprise~ kepadanja.

Aku meringis. ,,Dengan satu sjarat. Bahwa aku mengerdjakannja dengan Cindy Adams."Dan apakah achiroja

jang menjebabkan aku mengambil keputusan uatuk mengerdjakan sedjarah hidupku ? Jah, mungkin djuga

benar, sudah mendekat waktu aku harus rnenjadari, bahwa aku sud'ah tua

Sekarang, mataku jang sudah tua dan malang itu berair. Aku harus memandang gambaran ini dengan alasan.

Disatu pagi jang lain seorang kemenakan datang menemuiku. Aku biasa memangkunja kelika dia masih ketjil.

Sekarang beratnja 70 kilo. Aku menjadari dengan tibatiba, bahwa aku tidak dapat memangkunja lagi diatas

lututku. Mungkin dia akan memataLkan kakiku jang tua dan lelah itu. Memang wanita tjantik dapat

membikin hatiku mendjadi muda lagi, akan tetapi bila aku menginsjafi bahwa anak itu sekarang mendjadi

ibu dari beberapa orang anak, tahulah aku bahwa aku sudah berangsur tua djuga.Dan begitulah, waktunja

sudah datang. Kalau aku hendak menuliskan kisahku, aku harus mengguratkannja sekarang. Mungkin aku

tidak mempunjai kesempatan nanti. Aku tahu, bahwa orang ingin mengetabui, apakah Sukarno seorang

kolaborator Djepang semasa Perang Dunia Kedua. Kukira hanja Sukarno jang dapat menerangkan periode

kehidupannja itu dan karena itu ia bersedia menerangkannja. Bertahun-tahun lamanja orang bertanja-tanja,

apakah Sukarno seorang Diktator, apakah dia seorang Komunis; mengapa dia tidak membenarkan

kemerdekaan pers; berapa banjak isterinja; mengapa dia membangun departemen-store-departemen-store

jang baru, sedangkan rakjatnja dalam keadaan tjompang-tjamping .........Hanja Sukarno sendiri jang dapat

mendjawabnja.Ini adalah pekerdjaan jang sukar bagiku. Suatu otobiografi adalah ibarat pembedahan-mental

bagiku. Sungguh berat. Menjobek plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka

itu, memang sakit-sekalipun banjak diantaranja jang sudah mulai sembuh. Tambahan lagi, aku akan

melakukannja dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku membuat kesalahan dalam tatabahasa

dan seringkali aku terhenti karena merasa agak kaku.Akan tetapi, mungkin djuga aku wadjib

mentjeritakan kisah ini kepada tanah-airku, kepada bangsaku, kepada anak-anakku dan kepada diriku

sendiri. Karenanja kuminta kepadamu, pembatja, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata

jang tertulis adalah bahasa jang keluar dari lubuk-hati. Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati

atau meminta supaja setiap orang suka kepadaku. Harapanku hanjalah, agar dapat menambah pengertian

jang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian jang lebih baik terhadap Indonesia

jang tertjinta.

Bab 2

Putera Sang Fadjar

IBU telah memberikan pangestu kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Dipagi itu ia sudah

bangun sebelum matahari terbit dan duduk didalam gelap diberanda rumah kami jang ketjil, tiada bergerak.

Ia tidak berbnat apa-apa, ia tidak berkata apa-apa, hanja memandang arah ke Timur dan dengan sabar

menantikan hari akan siang.Akupun bangun dan mendekatinja. Diulurkannja kedua belah tangannja dan

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 10 dari 109

meraih badanku jang ketjil kedalam pelukannja. Sambil mendekapkan tubuhku kedadanja, ia memelukku

dengan tenang. Kemudian ia berbitjara dengan suara lunak, ,,Engkau sedang memandangi fadjar, nak. Ibu

katakan kepadamu, kelak engkau akan mendjadi orang jang mulia, engkau akan mendjadi pemimpin dari

rakjat kita, karena ibu melahirkanmu djam setengah enam pagi disaat fadjar mulai menjingsing.

Kita orang Djawa mempunjai suatu kepertjajaan, bahwa orang jang dilahirkan disaat matahari terbit,

nasibnja telah ditakdirkan terlebih dulu. Djangan lupakan itu, djangan sekali-kali kaulupakan, nak, bahwa

engkau ini putera dari sang fadjar. "Bersamaan dengan kelahiranku menjingsinglah fadjar dari suatu hari jang

baru dan menjingsing pulalah fadjar dari satu abad jang baru. Karena aku dilahirkan ditahun 1901.Bagi

Bangsa Indonesia abad kesembilanbelas merupakan djaman jang gelap. Sedangkan djaman sekarang baginja

adalah djaman jang terang-benderang dalam menaiknja pasang revolusi kemanusiaan. Abad ini adalah suatu

djaman dimana bangsa-bangsa baru dan merdeka dibenua Asia dan Afrika mulai berkembang dan

berkembangnja negara-negara Sosialis jang meliputi seribu djuta manusia. Abad inipun dinamakan Abad

Atom. Dan Abad Ruang Angkasa. Dan mereka jang dilahirkan dalam Abad Revolusi Kemanusiaan ini terikat

oleh suatu kewadjiban untuk mendjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah mendjadi nasibku jang

paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku

sesungguhnja. Dua sifat jang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa tjerewet. Aku bisa keras laksana badja

dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah paduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan.

Aku seorang jang suka mema'afkan, akan tetapi akupun seorang jang keras-kepala. Aku mendjebloskan

musuh-musuh Negara kebelakang djeradjak-besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung

terkurung didalam sangkar.Pada suatu kali di Sumatra aku diberi seekor monjet. Binatang itu diikat dengan

rantai. Aku tidak dapat membiarkannja ! Dia kulepaskan kedalam hutan.Ketika Irian Barat kembali

kepangkuan kami, aku diberi hadiah seekor kanguru. Binatang itu dikurung. Kuminta supaja dia dibawa

kembali ketempatnja dan dikembalikan kemerdekaannja. Aku mendjatuhkan hukuman mati, namun aku tak

pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor njamuk. Sebaliknja aku berbisik kepada binatang itu,

,,Hajo, njamuk, pergilah, djangan kaugigit aku." Sebagai Panglirna Tertinggi aku mengeluarkan perintah

untuk membunuh. Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat

mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh djadi mi setjara kebetulan bersamaan. Boleh

djadi djuga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu mendjadikan aku seseorang jang

merangkul semuanja.

Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, jang tidak djauh letaknja dari tempat kami,

meletus. Orang jang pertjaja kepada tahjul meramalkan, ,,Ini adalah penjambutan terhadap baji Sukarno."

Sebaliknja orang Bali mempunjai kepertjajaan lain; kalau gunung Agung meletus ini berarti bahwa rakjat

tielah melakukan maksiat. Djadi, orangpun dapat mengatakan bahwa gunung Kelud sebenarnja tidak

menjambut baji Sukarno. Gunung Kelud malah menjatakan kemarahannja, karena anak jang begitu djahat

lahir kemuka bumi ini.Berlainan dengan pertanda-pertanda jang mengiringi kelahiranku itu, maka kelahiran

itu sendiri sangatlah menjedihkan. Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak jang akan

lahir. Keadaan kami terlalu ketiadaan. Satu-satunja orang jang menghadapi ibu ialah seorang kawan dari

keluarga kami, seorang kakek jang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang

tua itu, jang menjambutku mengindjak dunia ini. Di Bogor ada sebuah plaket-timbul jang terbuat dari batu

pualam putih lagi bersih, jang melukiskan kelahiran Hercules. Ia tergantung diruang gang jang menudju

keruangan resepsi Negara. Plaket ini memperlihatkan baji Hercules dalam pangkuan ibunja dikelilingi oleh

empatbelas orang wanita-wanita tjantik — semua dalam keadaan telandjang. Tjobalah bajangkan, betapa

bahagianja untuk dilahirkan ditengah-tengah empatbelas orang wanita tjantik seperti ini ! Akan tetapi

Sukarno tidak sama beruntungnja dengan Hercules. Pada waktu aku dilahirkan, tak seorangpun jang akan

mengambilku kedalam pangkuannja, ketjuali seorang kakek jang sudah terlalu amat tua.

Lalu 50 tahun kemudian. Ini bukanlah lelutjon sebagai bahan tertawaan. Ditahun 1949 Republik kami jang

masih muda mengindjak tahun keempat dari revolusi kami melawan Belanda. Suatu perdjuangan jang hebat

dengan menggunakan berbagai muslihat. Pihak sana di Negeri Belanda bentji kepadaku habis-habisan seperti

mereka habis-habisan membentji neraka. Mereka menentangku melalui radio. Dan mereka menentangku

melalui pers. Sebuah madjalah membuat suatu pengakuan dengan menjatakan bahwa, ,,Sukarno adalah

seorang jang bersemangat, dinamis dan berlainan samasekali dengan orang Djawa jang lamban dan lambat

berpikir. Sukarno dapat berbitjara dalam tudjuh bahasa dengan lantjar. Kita hendaknja bisa melihat

kenjataan dan kenjataan adalah, bahwa Sukarno sesungguhnja seorang pemimpin." Dalam tulisan ini

diuraikan segala sifat dan tanda jang baik mengenai diriku. Dengan segera aku menjadari maksudtudjuannja.

Tulisan itu akhiruja menjimpulkan, ,,Pembatja jang budiman, tahukah pembatja mengapa

Sukaroo memiliki sifat-sifat jang luar-biasa itu? Karena Sukarno bukanlah orang Indon!esia asli. Itulah

sebabnja. Dia adalah anak jang tidak sah dari seorang tuan-kebun dari perkebunan kopi jang mengadakan

hubungan gelap dengan seorang buruh perempuan Bumiputera, kemudian menjerahkan anak itu kepada

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 11 dari 109

orang lain sebagai anak-angkat."Sajang ! Satu-satunja saksi untuk bersumpah kepada bapakku jang

sesungguhnja dan untuk mendjadi saksi bahwa aku dilahirkan oleh ibuku-jang sebenarnja bukan oleh

pekerdja diperkebunan kopi sudah sedjak lama meninggal.

Melalui generasi demi generasi darah Indonesia sudah bertjampur dengan orang India, Arab, Polynesia asli

dan sudah barang tentu dengan orang Tionghoa. Pada dasarnja kami adalah suku bangsa rumpun MeIaju. Dari

kata asal Ma timbul kata-kata Manila, Madagaskar, Malaja, Madura, Maori, Himalaja. Nenek-mojang kami

berpindah-pindah disepandjang daerah Asia, menetap ditigaribu pulau jang kemudian mendjadi orang Bali,

Djawa, Atjeh, Ambon, Sumatra dan seterusnja. Aku adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali dari kasta

Brahmana. Ibuku, Idaju, asalnja dari keturunan bangsawan. Radja Singaradja jang terachir adalah paman

ibu. Bapakku berasal dari Djawa. Nama lengkapnja Raden Sukemi Sosrodihardjo. Dan bapak berasal~dari

kieturunan Sultan Kediri. Lagi-lagi, merupakan suatu kebetulan ataupun suatu takdir padaku bahwa aku

dilahirkan dalam lingkungan kelas jang berkuasa. Namun betapapun asal kelahiranku ataupun nasibku,

pengabdianku untuk kemerdekaan rakjatku bukanlah suatu keputusan jang tiba-tiba. Aku mewarisinja.

Semendjak ta-hun 1596, jaitu pada waktu Belanda per tamakali menjerbu kepulauan kami, maka tindakan

Belanda menguasai daerah kami dan perlawanan kami jang sia-sia dalam merebut kembali tanah-pusaka

kami telah membikin hitam Iembaran-lembaran dalam sedjarah kami. Kakek dan mojangku dari pihak ibu

adalah pedjuang-pedjuang kemerdekaan jang gagah. Mojangku gugur dalam Perang Puputan, suatu daerah

dipantai utara Bali ditempat mana terletak Keradjaan Singaradja dan dimana telah berkobar pertempuran

sengit dan bersedjarah melawan pendjadjah. Ketika mojangku menjadari, bahwa semuanja telah hilang dan

tentaranja tidak dapat menaklukkan lawan, maka ia dengan sisa orang Bali jang bertjita-tjita mengenakan

pakaian serba putih, dari kepala sampai kekaki. Mereka menaiki kudanja, masing masing menghunus keris,

lalu menjerbu musuh.

Mereka dihantjurkan. Radja Singaradja jang terakhir setjara litjik dikeluarkan oleh Belanda dan

keradjaannja. Kekajaannja, tempat tinggal, tanah dan semua miliknja dirampas. Mereka mengundangnja

kesebuah kapaI perang untuk berunding. Begitu sampai diatas kapal, Belanda menahannja setjara paksa, lalu

berlajar dan mendjebloskannja ketiempat pembuangan. Setelah Belanda menduduki istananja dan merampas

miliknja, keluarga ibu djatuh melarat. Karena itu kebentjian ibu terhadap Belanda tak habis-habisnja dan ini

disampaikannja kepadaku.Ditahun 1946, ketika itu umur ibu sudah lebih dari 70 tahun, Republik kami jang

masih muda terlibat dalam pertempuran-pertempuran djarak dekat dengan musuh. Dalam suatu

pertempuran, pasukan kami berkumpul dipekarangan belakang rumah ibu di Blitar. Kisah ini kemudian

ditjeritakan oleh pedjuang gerilja kepadaku, ,,Ditempat ini keadaan gerakan kami tenang sekali. Kami

semua tiarap menunggu. Rupanja ibu tidak mendengar apa-apa dari pihak kita. Tidak ada tembakan, tidak

ada teriakan. Dengan mata jang bernjala-njala beliau keluar mendatangi kami, 'kenapa tidak ada tembakan ?

Kenapa tidak bertempur ? Apa kamu semua penakut ?

Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda Hajo, terus, semua kamu, keluar dan bunuh Belanda-Belanda

itu !'" Pihak bapakpun adalah patriot-patriot ulung. Nenek dari nenek bapak kedudukannja dibawah seorang

Puteri, namun dia seorang pedjoang-puteri disamping pahlawan besar kami, Diponegoro. Dengan menaiki

kuda dia mendampingi Diponegoro sampai menemui adjalnja dalam Perang Djawa jang besar itu, jang

berkobar dari tahun 1825 sampai tahun 1830.Sebagai kanak-kanak aku tidak mendapat tjeritera-tjeritera

seperti ditelevisi atau tjeritera Wild West jang dibumbui. Ibu selalu mentjeritakan kisah-kisah kebangsaan

dan kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bertjerita, aku lalu duduk dekat kakinja dan dengan haus meneguk

kisah-kisah jang menarik tentang pedjoang-pedjoang kemerdekaan dalam keluarga kami.Ibupun

mentjeritakan tentang bagaimana bapak merebutnja. Semasa mudanja ibu mendjadi seorang gadis-pura jang

pekerdjaannja membersihkan rumah-ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak bekerdja sebagai guru sekolah

rendah gubernemen di Singaradja dan setelah selesai sekolah sering datang kelubuk dimuka pura tempat ibu

bekerdja untuk menikmati ketenangannja.

Pada suatu hari ia melihat ibu. Pada kesempatan lain ketika duduk lagi dekat lubuk itu ia melihat ibu sekali

lagi. Setelah sore demi sore berlalu, ia menegur ibu sedikit. Ibu mendjawab. Segera ia merasa tertarik

kepada ibu dan ibu kepadanja. Seperti biasanja menurut adat, bapak mendatangi orangtua ibu untuk

meminta ibu setjara beradat. ,,Bolehkah saja meminta anak ibu-bapak ?" Orangtua ibu lalu mendjawab,

,,Tidak bisa. Engkau berasal dari Djawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak ! Kami akan

kehilangan anak kami. 'Seperti halnja dengan keadaan sebelum Perang Dunia Kedua, perempuan Bali tidak

ada jang mengawini orang luar. Jang kumaksud bukan orang luar dari negara lain, akan tetapi orang luar dari

pulau lain. Waktu itu tidak ada perkawinan tjampuran antara satu suku dengan suku lain samasekali.

Kalaupun terdjadi bentjana sematjam ini, maka pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanja.

sendiri. Suatu keistimewaan dari Sukarno, ia dapat menjatukan rakjatnja. Warna kulit kami mungkin

berbeda, bentuk hidung dan dahi kami mungkin berlainan lihat orang Irian hitam, lihat orang Sumatra

sawomatang, lihat orang Diawa pendek-pendek, orang Maluku lebih tinggi, lihat orang Lampung mempunjai

bentuk sendiri, rakjat Pasundan mempunjai tjiri sendiri, akan tetapi kami tidak lagi djadi inlander atau

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 12 dari 109

menganggap diri kami orang-asing satu sama lain. Sekarang kami sudah mendjadi orang Indonesia dan kami

satu. Sembojan negeri kami Bhineka Tunggal Ika ,,Berbeda-beda tapi satu djua',.Kembali kepada kisah

bapakku, betapa sukanja situasi ketika ia hendak mengawini ibu. Terutama karena ia resminja seorang Islam,

sekalipun ia mendjalankan Theosofi. Untuk kawin setjara Islam, maka ibu harus menganut agama Islam

terlebih dulu. Satu-satunja djalan bagi mereka ialah kawin lari. Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus

mengikuti tata-tjara tertentu.

Kedua merpati itu bermalam dimalam perkawinannja dirumah salah seorang kawan. Sementara itu

dikirimkan utusan kerumah orangtua sigadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah mendjalankan

perkawinannja. Ibu dan bapakku mentjari perlindungan dirumah Kepala Polisi jang mendjadi kawan bapak.

Keluarga ibu datang mendjemputnja, akan tetapi Kepala Polisi itu tidak mau melepaskan. ,,Tidak, dia

berada dalam perlindungan saja," katanja. Bukanlah kebiasaan kami untuk menghadapkan pengantin kemuka

pengadilan, sekalipun orangtua tidak setudju. Akan tetapi kedjadian ini adalah keadaan jang luarbiasa ketika

itu. Bapak seorang IslamTheosof dan ibu seorang Bali Hindu-Buddha. Pada waktu perkara itu diadili, ibu

ditanja, ,,Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri ?" Dan ibu mendjawab,

,,Tidak, tidak. Saja mentjintainja dan melarikan diri atas kemauan saja sendiri."Tiada pilihan lain bagi

mereka, ketjuali mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian pengadilan mendenda ibu 25 ringgit, jang

nilainja sama dengan 25 dollar. Ibu mewarisi beberapa perhiasan emas dan untuk membajar denda itu ibu

mendjuaI perhiasannja.Karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, ia kemudian mengadjukan

permohonan kepada Departemen Pengadjaran untuk dipindahkan ke Djawa. Bapak dikirim ke Surabaja dan

disanalah putera sang fadjar dilahirkan.

Bab 3

Modjokerto: Kesedihan Dimasa Muda

MASA kanak-kanakku tidak berbeda dengan David Copperfield Aku dilahirkan ditengah-tengah kemiskinan dan

dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunjai sepatu. Aku mandi tidak dalam air jang keluar dari kran.

Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan jang keterlaluan demikian ini dapat menjebabkan hati

ketjil didalam mendjadi sedih. Dengan kakakku perempuan Sukarmini, jang dua tahun lebih tua daripadaku,

kami merupakan suatu keluarga jang terdiri dari empat orang. Gadji bapak f 25 sebuIan. Dikurangi sewa

rumah kami di Djalan Pahlawan 88, neratja mendjadi f 15 dan dengan perbandingan kurs pemerintah f 3,60

untuk satu dollar dapatlah dikira-kira betapa rendahnja tingkat penghidupan keluarga kami. Ketika aku

berumur enam tahun kami pindah ke Modjokerto. Kami tinggal didaerah jang melarat dan keadaan tetanggatetangga

kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, akan tetapi mereka selalu mempunjai sisa

uang sedikit untuk membeli pepaja atau djadjan lainnja.

Tapi aku tidak. Tidak pernah. Lebaran adalah hari besar bagi ummat Islam, hari penutup dari bulan puasa,

pada bulan mana para penganutnja menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu

melalui mulut mulai dari terbitnja matahari sampai ia terbenam lagi. Kegembiraan dihari Lebaran sama

dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah. Akan tetapi kami tak pernah berpesta maupun

mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punja uang untuk itu. Dimalam sebelum Lebaran sudah mendjadi

kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannja dan diwaktu itupun mereka

melakukannja. Semua, ketjuali aku.

Dihari Lebaran lebih setengah abad jang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar-tidurku jang ketjil jang

hanja tjukup untuk satu tempat-tidur. Dengan hati jang gundah aku mengintip keluar arah kelangit melalui

tiga buah lobang-udara jang ketjil-ketjil pada dinding bambu. Lobang-udara itu besarnja kira-kira sebesar

batubata. Aku merasa diriku sangat malang. Hatiku serasa akan petjah. Disekeliling terdengar bunji petasan

berletusan disela oleh sorak-sorai kawankawanku karena kegirangan. Betapa hantjur-luluh rasa hatiku jang

ketjil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan djalan bagaimanapun dapat membeli petasan

jang harganja satu sen itu—dan aku tidak !

Alangkah dahsjatnja perasaan itu. Mau mati aku rasanja. Satu-satunja djalan bagi seorang anak untuk

mempertahankan diri ialah dengan melepaskan sedu-sedan jang tak terkendalikan dan meratap diatas

tempat-tidurnja. Aku teringat ketika aku menangis kepada ibu dan mengumpat, ,,Dari tahun ketahun aku

selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mertjon." Aku sungguh menjesali diriku

sendiri. Kemudian dimalam harinja datang seorang tamu menemui bapak. Dia memegang bungLusan ketjil

ditangannja. ,,Ini," katanja sambil mengulurkan bingkisan itu kepadaku. Aku sangat gemetar karena terharu

mendapat hadiah itu, sehingga hampir tidak sanggup membukanja. Isinja petasan. Tak ada harta, lukisan

ataupun istana didunia ini jang dapat memberikan kegembiraan kepadaku seperti pemberian itu. Dan

kedjadian ini tak dapat kulupakan untuk selama-lamanja. Kami sangat melarat sehingga hampir tidak bisa

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 13 dari 109

makan satu kali dalam sehari. Jang terbanjak kami makan ialah ubi kaju, djagung tumbuk dengan makanan

lain. Bahkan ibu tidak mampu membeli beras murah jang biasa dibeli oleh para petani. Ia hanja bisa

membeli padi. Setiap pagi ibu mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, tak henti-hentinja menumbuk

butiran-butiran berkulit itu sampai mendjadi beras seperti jang didjual orang dipasar.,,Dengan melakukan ini

aku menghemat uang satu sen," katanja kepadaku pada suatu hari ketika sedang bekerdja dalam teriknja

panas matahari sampai telapak tangannja merah dan melepuh. ,,Dan dengan uang satu sen kita dapat

membeli sajuran, 'nak." Semendjak hari itu dan seterusnja selama beberapa tahun kemudian, setiap pagi

sebelum berangkat kesekolah aku menumbuk padi untuk ibuku. Kemelaratan seperti jang kami derita

menjebabkan orang mendjadi akrab.

Apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan, apabila nampaknja aku tidak punja apa-apa didunia ini

selain daripada ibu, aku melekat kepadanja karena ia adalah satu-satunja sumber pelepas kepuasan hatiku.

Ia adalah ganti gula-gula jang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku jang ada didunia ini. Jah, ibu

mempunjai hati jang begitu besar dan mulia. Dalam pada itu bapakku seorang guru jang keras. Sekalipun

sudah berdjam-djam, ia masih tega menjuruhku beladjar membatja dan menulis. ,,Hajo, Karno, hafal ini

luar kepala. Ha—Na—Tja—Ra— Ka Hajo, Karno, hafal ini; A-B-C-D-E" dan terus-menerus sampai kepalaku jang

malang ini merasa sakit. Lagi-lagi kemudian,

,,Hajo Karno, ulangi abdjad Hajo, Karno, batja ini Karno, tulis itu " Tapi ajahku mempunjai kejakinan, bahwa

anaknja jang lahir disaat fadjar menjingsing itu kelak akan mendjadi orang. Kalau aku berbuat nakal—ini

djarang terdjadi—dia menghukumku dengan kasar. Seperti dipagi itu aku memandjat pohon djambu

dipekarangan rumah kami dan aku mendjatuhkan sarang burung. Ajah mendjadi putjat karena marah.

,,Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaja menjajangi binatang," ia menghardik.Aku

bergontjang ketakutan. ,,Ja, Pak.",,Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: 'Tat Twan Asi, Tat Twam Asi'

?",,Artinja 'Dia adalah Aku dan Aku adalah dia; engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau.' ",,Dan apakah

tidak kuadjarkan kepadamu bahwa ini mempunjai arti jang penting ?",,Ja, Pak. Maksudnja, Tuhan berada

dalam kita semua," kataku dengan patuh. Dia memandang marah kepada pesakitannja jang masih berumur

tudjuh tahun.

,,Bukankah engkau sudah ditundjuki untok melindungi machluk Tuhan ?",,Ja, Pak.",,Engkau dapat

mengatakan apa burung dan telor itu ?",,Tjiptaan Tuhan," djawabku dengan gemetar, ,,tapi dia djatuh

karena tidak disengadja. Tidak saja sengadja. "Sekalipun dengan permintaan ma'af demikian, bapak

memukul pantatku dengan rotan. Aku seorang jang baik laku, akan tetapi bapak menghendaki disiplin jang

keras dan tjepat marah kalau aturannja tidak dituruti. Aku segera mentjari permainan jang tidak usah

mengeIuarkan uang untuk memperolehnja. Dekat rumah kami tumbuh sebatang pohon dengan daunnja jang

lebar. Daun itu udjungnja ketjil, lalu mengernbang lebar dipangkalnja dan tangkainja pandjang seperti

dajung. Adalah suatu hari jang gembira bagi anak-anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa

kami mempunjai permainan. Seorang lalu duduk dibagian daun jang lebar, sedang jang lain menariknja pada

tangkai jang pandjang itu dan permainan ini tak ubahnja seperti eretan. Kadang-kadang aku mendjadi

kadanja, tapi biasanja mendjadi kusir. Watakku mulai berbentuk sekalipun sebagai kanak-kanak.

Aku mendjadikan sungai sebagai kawanku, karena ia mendjadi tempat dimana anak-anak jang tidak punja

dapat bermain dengan tjuma-tjuma. Dan iapun mendjadi sumber makanan. Aku senantiasa berusaha keras

untuk menggembirakan hati ibu dengan beberapa ekor ikan ketjil untuk dimasak. Alasan jang tidak

mementingkan diri sendiri demikian itu pada suatu kali menjebabkan aku kena gandjaran tjambuk. Hari

sudah mulai sendja. Ketika bapakku melihat bahwa hari mulai gelap dan botjah Sukarno tidak ada dirumah,

dia menuntut ibu dengan keras: ,,Kenapa dia bersenang-senang tak keruan begitu lama ? Apa dia. tidak

punja pikiran terhadap ibunja ? Apa dia tidak tahu bahwa ibunja akan susah kalau terdjadi ketjelakaan

?",,Negeri begini ketjil, Pak, tidak mungkin kita tidak mengetahui kalau terdjadi ketjelakaan," ibu

menerangkan. Sekalipun demikian, bapak jang agak keras kepala marah dan ketika aku sedjam kemudian

melondjak-londjak gembira pulang dengan membawa ikan kakap untuk ibu, bapak menangkapku, merampas

ikan dan semua jang ada padaku, lalu aku dirotan sedjadi-djadinja.Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan

disiplin itu dengan kebaikan hatinja. Oh, aku sangat mentjintai ibu. Aku berlari berlindung kepangkuan ibu

dan dia membudjukku. Sekalipun rumput-rumput kemelaratan mentjekik kami, namun bunga-bunga tjinta

tetap mengelilingiku selalu. Aku segera menjadari bahwa kasih-sajang menghapus segala jang buruk.

Keinginan akan tjinta-kasih telah mendiadi suatu kekuatan pendorong dalam hidupku.

Disamping ibu ada Sarinah, gadis-pembantu kami jang membesarkanku. Bagi kami pembantu rumah-tangga

bukanlah pelajan menurut pengertian orang barat. Dikepulauan kami, kami hidup berdasarkan azas gotongrojong.

Kerdjasama. Tolong-menolong, Gotong-rojong sudah mendarah-daging dalam djiwa kami bangsa

lndonesia. Dalam masjarakat jang asli kami tidak mengenal kerdja dengan upah. Manakala harus dilakukan

pekerdjaan jang berat, setiap orang turut membantu engkau perlu mendirikan rumah ? Baik, akan kubawakan

batu tembok; kawanku membawa semen. Kami berdua membantumu mendirikannja. ltulah gotong-rojong.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 14 dari 109

Setiap orang turun tangan. Ada tamu dirumahmu achir-achir ini ? Baik, djangan kuatir, akan kuantarkan kue

kerumahmu setjara diam-diam melalui djalan belakang. Atau beras. Atau nasi-goreng. ltulah gotong-rojong.

Bantu-membantu. Sannah adalah bagian dari rumah-tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang

anggota keluarga kami.

Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa jang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat

gadji sepeserpun. Dialah jang mengadjarku untuk mengenal tjinta-kasih. Aku tidak menjinggung pengertian

djasmaniahnja bila aku menjebut itu. Sarinah mengadjarku untuk mentjintai rakjat. Massa rakjat, rakjat

djelata. Selagi ia memasak digubuk ketjil dekat rumah, aku duduk disampingnja dan kemudian ia berpidato,

,,Karno, jang terutama engkau harus mentjintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mentjintai pula

rakjat djelata. Engkau harus mentjintai manusia umumnja." Sarinah adalah nama jang biasa. Akan tetapi

Sarinah jang ini bukanlah wanita jang biasa. Ia adalah satu kekuasaan jang paling besar dalam hidupku.

Dimasa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami-isteri. Kami berdua tidur ditempattidur

jang ketjil. Ketika aku sudah mulai besar, Sarinah sudah tidak ada lagi. Aku mengisi kekosongan ini

dengan tidur bersama-sama kakakku Sukarmini ditempat tidur itu djuga. Kemudian aku tidur dengan Kiar,

suatu tjampuran dari fox terrier dengan andjing djenis Indenesia. Aku tidak tahu pasti, akan tetapi dia bukan

djenis jang murni. Orang lslam agaknja tidak menjukai andiing, akan tetapi aku mengaguminja. Dengan

tjaranja sendiri bapakku mentjurahkan kasih sajangnja kepadaku. Ketika aku berumur sebelas tahun aku

diserang penjakit thypus. Dua setengah bulan lamanja aku berada diambang-pintu kematian. Aku hanja

bersandar pada kekuatan bapak jang mendorongku untuk hidup. Selama dua setengah bulan penuh bapak

tidur dibawah tempat-tidur bambuku. Ia berbaring diatas lantai semen jang lembab, dialas dengan tikar

pandan jang tipis dan lusuh, tepat dibawah bilah-bilah tempat-tidurku.Sepandjang hari dan sepandjang

malam selama dua setengah bulan bapak berbaring dibawahku. Bukan karena ia tidak dapat memperoleh

tempat barang setumpak untuk menjelip dalam kamarku jang sempit itu.

Tidak. Ini dilakukannja karena kepertjajaan mistik bapak. Ia hendak mendota terus, memohon siang-malam

agar aku diselamatkan dan memohon agar aku mendapat keLuatan-kekuatan dari Jang MahaKuasa. Akan

tetapi supaja kekuatan mistiknja dapat memberikan manfa'at setjara penuh, jang ditjurahkannja langsung

dari badannja keseluruh tubuhku, maka ia harus berbaring dibawahku. Tempat ajah berbaring itu hanja

beberapa kaki, gelap, lembab dengan udaranja jang tidak enak dan menjesakkan, siang dan malam sama

sadja dan disanalah ia selama itu menelentang hingga aku sehat sama sekali.Sewa rumah kami sangat murah,

karena letaknja kerendahan, dekat sebuah kali. Kalau musim hudjan kali itu meluap, membandjiri rumah

dan menggenangi pekarangan kami. Dan dari bulan Desember sampai April kami selalu basah. Air

menggenang jang mengandung sampah dan lumpur inilah jang mendjangkitkan penjakit thypusku.Setelah aku

sehat kembali kami pindah ke Djalan Residen Pamudji. Rumah ini tidak lebih baik keadaannja, akan tetapi

setidak-tidaknja ia kering. Kamar-kamarnja melalui ruangan gelap jang pandjang. Jang paling ketjil adalah

kamarku, jang mempunjai djendela atap sebagai ganti lobang-udara. Untuk memperoleh uang tambahan

beberapa sen kami menerima orang bajar-makan; tiga orang gurubantu dari sekolah bapak dan dua orang

kemenakan seumurku.

Nama kelahiranku adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak jang penjakitan. Aku mendapat

malaria, disenteri, semua penjakit dan setiap penjakit. Bapak menerangkan, ,,Namanja tidak tjotjok. Kita

harus memberinja nama lain supaja tidak sakit-sakit lagi."Bapak adalah seorang jang sangat gandrung pada

Mahabharata, tjerita klasik orang Hindu djaman dahulu kala. Aku belum mentjapai masa pemuda ketika

bapak menjampaikan kepadaku ,,Kus, engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah-seorang

pahlawan terbesar dalam tjerita Mahabharata." ,,Kalau begitu tentu Karna seorang jang sangat kuat dan

sangat besar," aku berteriak kegirangan.,,Oh, ja, nak," djawab bapak setudju. ,,Djuga setia pada kawankawannja

dan kejakinannja, dengan tidak mempedulikan akibatnja. Tersohor karena keberanian dan

kesaktiannja. Karna adalah pedjoang bagi negaranja dan seorang patriot jang saleh.",,Bukankah Karna

berarti djuga 'telinga ?" aku bertanja agak kebingungan,,Ja, pahlawan-perang ini diberi nama itu disebabkan

kelahirannja. Dahulu kala, sebagaimana dikisahkan oleh Mahabharata, ada seorang puteri jang tjantik. Pada

suatu hari, selagi bermain-main dalam taman, puteri Kunti terlihat oleh Surja Dewa Matahari. Batara Surja

hendak bertjinta-tjintaan dengan puteri itu, oleh sebab itu dia memeluk dan membudjuknja dengan

keberanian dan tjahaja panasnja.

Dengan kekuatan sinar tjintanja, puteri itupun mengandung sekalipun masih perawan. Sudah tentu

perbuatan Dewa Matahari terhadap perawan jang masih sutji itu diluar perikemanusiaan dan menimbulkan

persoalan besar baginja. Bagaimana tjaranja mengeluarkan baji tanpa merusak tanda keperawanan puteri

itu. Dia tidak berani memetik gadis itu dengan memberikan kelahiran setjara biasa. Apa akal ......... Apa

akal Ah, persoalan jang sangat besar bagi Batara Surja. Achirnja dapat dipetjahkannja, dengan melahirkan

baji itu melalui telinga sang puteri. Djadi, karena itulah pahlawan Mahabharata itu dinamai Karna atau

'telinga'." Sambil memegang bahuku dengan kuat bapak memandang djauh kedalam mataku. ,,Aku selalu

berdo'a," dia menjatakan, ,,agar engkaupun mendjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakjatnja.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 15 dari 109

Semoga engkau mendjadi Karna jang kedua." Nama Karna dan Karno sama sadja. Dalam bahasa Djawa huruf

,,A" mendjadi ,,O". Awalan ,,Su" pada kebanjakan nama kami berarti baik, paling baik.

Djadi Sukarno berarti pahlawan jang paling baik. Karena itulah maka Sukarno mendjadi namaku jang

sebenarnja dan satu-satunja. Sekali ada seorang wartawan goblok jang menulis, bahwa nama awalku adalah

Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanja Sukarno sadja. Memang dalam masjarakat kami tidak luar biasa

untuk memakai satu nama sadja. Waktu disekolah tanda-tanganku diedja Soekarno— menurut edjaan

Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan supaja segala edjaan ,,OE" kembali ke ,,U". Edjaan

dari perkataan Soekarno sekarang mendjadi Sukarno. Akan tetapi, tidak mudah untuk merobah tanda-tangan

setelah berumur 50 tahun djadi kalau aku sendiri menulis tanda-tanganku, aku masih menulis S-O-E. Memang

aku penjakitan diwaktu ketjil. Dan sekalipun umpamanja tidak ada penjakit jang diderita oleh baji Kusno-

Karno, beban untuk memberi makan dua orang anak masih terlalu berat bagi bapak. Seringkali kami harus

bergantung kepada kebaikan dan keramahan dari tetangga kami. Keluarga Munandar menempati rumah jang

serangkai dengan kami. Menurut tjara Djawa jang sebenarnja, kalau kami tidak punja beras, kami makan

punja mereka. Kalau kami tidak ada pakaian, kami pakai mereka punja. Sewaktu aku berumur sekitar empatlima

tahun nenekku dari pihak bapak hendak membawaku ketempatnja.

,,Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara," katanja. ,,Aku akan mendjaganja." Dan begitulah aku

tinggal di Tulungagung jang letaknja tidak djauh dari Modjokerto. Nenekku tidak kaja. Siapa diantara kami

jang kaja diwaktu itu ? Tapi memang ada djuga jang sedikit berada. Nenek berdagang batik, djadi setidaktidaknja

dia sanggup memberiku makan. Kakek dan nenek kedua-duanja mengatakan bahwa aku mempunjai

kekuatan-kekuatan gaib. Bilamana ada orang sakit dikampung itu atau mendapat luka jang terasa sakit,

nenek selalu memanggilku dan dengan lidah aku mendjilat bagian dimana terasa sakit. Anehnja, sisakit

mendjadi sembuh. Nenekpun menduga bahwa aku dapat melihat apa-apa jang gaib, akan tetapi lintasanlintasan

penglihatan galb itu menghilang ketika aku mulai menemukan kekuatan pidatoku terhadap rakjat.

Nampaknja, apa jang disebut kekuatan ini kemudian tersalur kearah lain, Pendeknja, sesudah berumur 17

tahun aku tak pernah lagi memperoleh penglihatan setjara ilmu kebatinan. Watakku tidak berobah

sedikitpun selama hampir enam dasawarsa. Dalam umur tudjuh tahun aku sudah mendjadi seorang pemuja

seni. Aku memudja Mary Pickford, Tom Mix, Eddie Polo, Fatty Arbuckle, Beverly Bayne dan Francis X.

Bushman. Setiap bungkus rokok Westminster keluaran Inggris berisi gambar dari seorang bintang sebagai

hadiah. Aku mengumpulkan bungkus- bungkus rokok jang sudah terbuang dan menempelkan pahlawanpahlawan

jang kupudja itu didinding. Aku mendjaga kumpulan ini dengan njawaku. Ini adalah harta-milikku

sendiri jang pertama.

Pada waktu berumur 10 tahun djagoan Karno sudah ternjata mempunjai kemauan jang keras. Dengan

kekuatan pribadiku aku mendjadi tokoh jang berkuasa setiap kali berkumpul. Bahkan keluargaku sendiri

berkumpul mengelilingiku dan aku mendjadi pusat perhatian. Pada hari ulang-tahunku jang keduabelas, aku

sudah mempunjai pasukan. Dan aku memimpin pasukan ini. Kalau Karno bermain djangirik dalam debu

dilapangan Modjokerto, jang lain-lainpun turut main. Kalau Karno mengumpulkan perangko, mereka djuga

mengumpulkan. Mereka menamakanku seorang ,,djago" Aku mempunjai sebuah sumpitan jang kuperoleh dari

seorang kawan. Kami menempatkan bambu jang pandjang dan berlobang ketjil ini kemulut dan

menembakkan katjang kearah sasaran. Tentunja si Karno mendjadi djago penjumpit. Kalau kami memandjat

pohon, aku memandjat lebih tinggi dari jang lain. Dan akupun djatuh paling keras pula daripada anak-anak

lain. Akupun lebih sering melukai kepalaku dari jang lain.

Tapi setidak-tidaknja tak ada orang jang dapat mengatakan, bahwa aku tidak mentjobanja. Nasibku adalah

untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan, sekalipun pada waklu ketjilku. Dalam permainan adu gasing

ada sebuah gasing kepunjaan kawan jang berputar lebih tjepat daripada kepunjaanku. Kupetjahkan siluasi

itu dengan berpikir tjepat ala Sukarno kulemparkan gasing itu kedalam kali. Bagaimanapun djuga, ada

permainan dimana seorang anak bangsa Indonesia dari djamanku tidak dapat menundjukkan keahliannja.

Misalnja Perkumpulan Sepakbola. Aku bukan hanja tidak bisa mendjadi ketuanja, bahkan aku tidak dapat

lama mendjadi anggotanja. Anggota jang lain adalah anak-anak Belanda jang terus-terang tidak senang

padaku. Anak Belanda tidak pernah bermain dengan anak Bumiputera. Ini tidak bisa. Mereka orang Barat

jang putih seperti saldju, jang asli, jang baik dan mereka memandang rendah kepadaku karena aku anak

Bumiputera atau ,,inlander". Bagiku Perkumpulan Sepakbola itu merupakan pengalaman pahit jang membikin

hati luka didalam. Anak-anak jang berambut djagung mendjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak,

,,Hei ......... kauuuu Bruine Hei, anak kulit tjoklat goblok jang malang .....Bumiputera ..........inlander

..........anak kampung Hei, kamu lupa memakai sepatu............" Sedangkan baji-baji pirang sudah tahu

meludah kepada kami. Begitu mereka keluar dari kain-bedung orok, inilah pengadjaran pertama jang

diadjarkan orangtuanja kepada mereka. Dipagi hari aku bergembira, karena aku bersekolah disekolah

Bumiputera, dirnana kami semua sama.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 16 dari 109

Kami semua tigapuluh orang murid di Inlandsche School kelas dua. Bapakku mendjadi Mantri Guru jang

berarti kepala sekolah. Orang Bumiputera dilarang memakai pangkat Kepala Sekolah. Diwaktu itu belum ada

bahasa Indonesia persatuan. Sampai kelas tiga setiap murid berbitjara dalam bahasa Djawa sebagai bahasa

daerah. Dari kelas tiga sampai kelas iima guru memakai bahasa Melaju, bahasa Melaju asli jang telah

tersebar keselurah bagian dari Hindia Belanda dan achirnja mendjadi dasar bagi bahasa nasional kami,

bahasa Indonesia. Dua kali seminggu kami diadjar bahasa Belanda.Ketika aku naik kekelas lima, bapak

menerangkan maksudnja. ,,Tjita-tjitaku hendak mengirim kau kesekolah tinggi Belanda," katanja. ,,Karena

itu, usaha kita jang pertama ialah memasukkan engkau kesekolah rendah Belanda. "Karena teringat kembali

akan pengalamanku di Perkumpulan Sepakbola aku bertanja, ,,Apakah saja tidak dapat meneruskan sekolah

Bumiputera ?",,Pendidikan Bumiputera hanja sampai kelas lima.

Tidak ada landjutannja buat kita. Kita tidak boleh masuk Sekolah Menengah Belanda kalau tidak keluaran

Sekolah Rendah Belanda dan tanpa idjazah ini orang tidak bisa masuk Sekolah Tinggi Belanda.",,Apakah saja

bisa masuk kesana berdasarkan kepandaian ?" aku bertanja dengan perasaan kuatir.,,Kau masuk dengan hak

istimewa. Pegawai Gubernemen dan orang kelahiran bangsawan diberi kesempatan untuk menikmati

pendidikan Belanda. Jang lain tidak."Mengingat keadaan kami aku bertanja, ,,Apakah tjuma-tjuma ?",,Mana

bisa. Kita mesti membajar uang sekolah.",,Belanda djuga?",,Tidak, mereka bebas. Akan tetapi dalam

pendjadjahan tak seorangpun dapat mentjapai suatu kedudukan tanpa pendidikan Belanda. Kita harus

madju. Aku akan menemui Kepala Sekolah Rendah Belanda untuk mengadjukan permohonan."Gedung itu

bagus terbuat dari kaju, bukan bambu seperti sekolah kami dan dinding luarnja berwarna biru-muda. Disitu

terdapat tudjuh kelas. Berlainan dengan medja kami di Sekolah-Bumiputera, maka bangku-bangku disini

mempunjai tempat tinta dan latji untuk buku.

Setelah aku menempuh udjian, Kepala Sekolah memberitahukan kepada bapak, ,,Anak tuan sangat pintar,

akan tetapi bahasa Belandanja belum tjukup baik untuk kelas enam Europeesche Lagere School. Kami

terpaksa mendudukkannja satu kelas lebih rendah. "Ketika kami pergi kami merasa sangat tertekan. Bapak

mengeluh. ,,Ini suatu pukulan jang hebat bagi kita. Tapi walaupun bagaimana, tidak ada djalan lain

lagi.",,Umur saja sudah empatbelas," aku memprotes. ,,Terlalu tua untuk kelas lima. Tentu orang mengira

saja tinggal kelas karena bodoh. Saja tentu diberi malu.",,Baiklah," bapak memutuskan disaat itu djuga,

,,Kalau perlu kita membohong. Akan kita kurangi umurmu satu tahun Kalau sudah mulai tahun-peladjaran

baru engkau didaftarkan dengan umur tiga-belas."Masih ada satu persoalan mengenai bahasa Belandaku.

Sekalipun kami orang jang tidak mampu, bapak mengambil seorang guru jang mengadjar bahasa Belanda di

Europeesche Lagere School ini untuk memberikan peladjaran chusus kepadaku sedjam setiap hari. Aku ingat

betul namanja. Juffrouw M.P. De La Riviere. M.P. kependekan dari Maria Paulina. Katakanlah, bahwa ia

orang jang paling tidak menarik didunia ini dibandingkan dengan perempuan lain dan karena itu ia tetap

melekat dalam pikiranku. Tjara jang paling baik untuk menerangkan arti daripada pendidikan barat—dan

bagaimana bapak telah bersusah-pajah mengorbankan uang, prinsip dan segala sesuatu untuk itu—-ialah

dengan menghubungkannja dengan kisah pertjintaanku jang pertamakali. Aku berumur empatbelas tahun

dan tidak ragu lagi hatiku jang muda ini telah tertambat pada Rika Meelhuysen, seorang gadis Belanda. Rika

adalah gadis pertama jang kutjium. Dan harus kuakui, bahwa aku sangat gugup waktu itu. Sedjak itu aku

lebih ahli dalam hal itu.Tapi, aduh, aku mentjintai gadis itu mati-matian dan kuikuti turun naiknja

gelombang irama dari seluruh kehidupan anak sekolah. Aku membawakan buku-bukunja, aku dengan

sengadja berdjalan melalui rumahnja, karena mengharapkan sekilas pandang dari dia. Dan nampaknja aku

selalu setjara kebetulan berada dimana dia ada. Tjintaku ini kusimpan dalam kalbuku sendiri. Aku takut

mengutjapkan sepatah kata, karena takut ketahuan oleh orangtuaku. Aku jakin, bahwa bapak akan sangat

marah kepadaku kalau sekiranja ia mendengarku bergaul dengan anak gadis kulitputih. Sunggubpun aku

sangat ingin menjampaikan sesuatu tentang hal itu kepadanja, ketakutan terhadap kemarahannja

menjebabkan kata-kataku membeku dikerongkongan. Karena itu, keinginan jang menjala-njala ini hanja

kupertjajakan kepada diriku jang sedang dimabuk kepajang.

Pada suatu sore aku berdjalan-djalan naik sepeda dengan Rika Meelbuysen dan ketika membelok diudjung

djalan gang kami tepat menubruk bapak. Aku mulai menggigil karena takut. Dia bersikap hormat, tapi aku

sangat kuatir akan apa jang akan menjusul nanti kalau aku sudah sampai dirumah. Inilah aku, putera bapak

satu-satunja, jang bertjinta-tjintaan dengan orang Belanda jang dibentji. Sedjam kemudian aku menjusup

masuk rumah dalam keadaan masih tergontjang. Bapak segera mendekatiku dan berkata, ,,Nak, djangan kau

takut tentang perasaanku terhadap teman perempuanmu itu. Itu baik sekali. Pendeknja, hanja dengan

djalan itu engkau dapat memperbaiki bahasa Belandarnu !" Ketika datang waktunja untuk masuk sekolah

menengah, bapak sudah tahu apa jang harus dikerdjakannja. Ia menggunakan pengaruh kawan- kawannja

untuk memasukkanku kesekolah menengah jang tertinggi di Djawa Timur, jaitu Hogere Burger School di

Surabaja.,,Nak," katanja, ,,Maksud ini sudah ada dalam pikiranku semendjak kau dilahirkan kedunia." Semua

telah diaturnja dan aku akan tinggal dirumah H.O.S. Tjokroaminoto, ialah orang jang kemudian merobah

seluruh kehidupanku.,,Tjokro," ia menerangkan padaku, ,,Adalah kawanku di Surabaja sedjak sebelum kau

ada.",,0," kataku gembira, ,,Saja kira dia keluarga kita." ,,Tidak," djawab bapak. ,,Oo, barangkali mungkin

keluarga jang sangat djauh, tapi tidak serapat seorang kemenakan atau paman." Kemudian bapak

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 17 dari 109

memandang kepadaku sesaat. ,,Kautahu siapa Tjokro?" ,,Saja hanja tahu, dia berkeliling untuk

mempropagandakan kejakinan politiknja. Saja ingat dia datang kekampung kita untuk mengadakan pidato

dan menginap, bapak dengan dia mengobrol sampai waktu subuh." ,,Tjokro adalah pemimpin politik dari

orang Djawa.

Sungguhpun engkau akan mendapat pendidikan Belanda, aku tidak ingin darah dagingku mendjadi kebaratbaratan.

Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai 'Radja Djawa jang

tidak dinobatkan. Aku ingin supaja kau tidak melupakan, bahwa warisanmu adalah untuk mendjadi Karna

kedua." Aku tidak membawa apa-apa ketika berangkat ke Surabaja. Tak ada barang untuk dibawa. Satusatunja

jang mengikuti kepergianku adalah sebuah tas ketjil dengan pakaian sedikit. Bapak menundjuk salah

seorang guru untuk mengiringi perdjalananku dikereta-api jang lamanja enam djam itu. Tidak dirajakan,

tidak dipestakan kepergianku itu. Jang kuingat hanja bahwa aku menangis getir. Aku meninggalkan rumah.

Aku meninggalkan ibu. Aku baru seorang anak 15 tahun jang masih takut-takut. Dipagi itu, dihari

keberangkatanku ibu melepasku dengan peringatan bahwa aku tidak lagi akan kembali untuk tinggal

bersama-sama dengan mereka. Didepan rumah kami dia memerintahkan, ,,Berbaringlah ditanah, nak.

Berbaring sadja biarpun kotor." Kemudian ibu melangkahi badanku pulang-balik sampai tiga kali. lni sesuai

dengan kepertjajaan menurut ilmu kebatinan. Dengan melangkahi anaknja dengan tubuhnja sendiri darimana

sianak dilahirkan dan jang mengandung kekuatan kekuatan sakti dari kehidupan, berarti bahwa sianak

mendapat restu dari ibunja untuk selama-lamanja. Seakan-akan ia berkata setiap kali, ,,Anak ini berasal dari

kandunganku dan kuberkati dia."Kemudian dia menjuruhku bangkit. Sekali lagi ia memutar badanku arah ke

Timur dan berkata dengan sungguh-sungguh, ,,Djangan sekali-kali kaulupakan, anakku, bahwa engkau adalah

putera sang fadjar."

Bab 4

Surabaja: Dapur Nasionalisme

DARI djenis binatang prasedjarah jang digali dikepulauan kami, ahli-ahli purbakala membuktikan bahwa

setengah djuta tahun jang lalu pulau Djawa sudah didiami orang. Kebudajaan kami adalah kebudajaan

purba. Bukalah buku Ramayana. Didalamnja orang akan membatja keterangan mengenai ,,Negeri Suarna

Dwipa jang mempunjai tudjuh buah keradjaan besar". Suarna Dwipa, jang berarti pulau-pulau emas, adalah

nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam tjerita-tjerita klasik Hindu duaribu limaratus tahun jang

lalu.Dari abad kesembilan ketika negeri kami bernama Keradjaan Sriwidjaja sampai abad keempatbeias

waktu negeri kami bernama Madjapahit, kami punja ,,negeri jang terkenal makmur telah mentjapai

tingkatan ilmu jang demikian tinggi sehingga mendjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia-beradab".

Demikianlah keterangan jang terdapat dalam surat-surat-gulung-perkamen jang berharga dari negeri

Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudajaan seluruh Asia. Negeri kami masih tersohor dalam

lingkungan internasional ketika Christopher Columbus mentjari kepulauan. Rempah-rempah gugusan pulaupulau

jang sekarang kita namakan Kepulauan Maluku. Seumpama Columbus tidak berlajar mentjari djahe,

buah-pala, lada dan tjengkeh kami dan tidak sesat pula didjalan, tentu dia tidak akan menemukan benua

Amerika. Ketika djalan laut menudju Hindia achirnja ditemukan orang, modal asing mengerumuni pantai

kami, seperti semut mengerumuni tempat gula. Dari Lisboa datanglah Vasco'da Gama. Dari negeri Belanda

Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik-tanda dimulainja ,,Revolusi Perdagangan" di Eropa.

Kapitalisme ini tumbah hingga ia mengenjangkan lapangan eksploitasi dalam masjarakat mereka sendiri.

Barang-barang jang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; djadi Timur mendjadi

pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih. Daerah Timur mendjadi suatu pasar untuk modal

berlebih jang tidak lagi bisa memperoleh djalan keluar. Liberalisme dalam ekonomi lalu membawa

Liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dulu negara itu harus

ditaklukkan. Pedagang pedagang mendjadi penakluk; bangsa-bangsa Asia-Afrika didjadjah dan kelobaan ini

membuka pintu kepada djaman Imperialisme. Djawa diduduki diabad ke 16; Maluku diabad ke 17 dan

lambatlaun Negeri Belanda menguasai kepulauan kami setjara berturut-turut hingga ke Bali jang baru

dikuasai ditahun 1906. Dengan tjepat kekuasaan asing menanamkan akar-akarnja. Mereka mengambil

kekajaan kami, mengikis kepribadian kami dan musnalah Putera-puteri harapan bangsa dari suatu Bangsa

jang Besar jang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, mentjiptakan tari. Kami tidak lagi dikenal oleh

dunia luar, ketjuali oleh penghisap-penghisap dari Barat jang mentjari kemewahan di Hindia. Akibat

daripada Imperialisme sungguh djahat sekali. Orang laki-laki diambil dari rumahnja dan dipaksa mendjadi

budak dipulau-pulau jang djauh, dimana terdapat kekurangan tenaga manusia. Perempuan-perempuan

dipaksa bekerdja dikebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan pekerdjaannja, sekalipun melahirkan

pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah jang lunak dan murah terbuat dari katjang kedele jang diberi

ragi. Negeri tempe berarti negeri jang lemah. Itulah kami djadinja. Kami terus-menerus dikatakan sebagai

bangsa jang mempunjai otak seperti kapas. Kami mendjadi pengetjut; takut duduk, takut berdiri, karena

apapun jang kami lakukan selalu salah. Kaml mendiadi rakjat seperti dodol dengan hati jang ketjil. Kami

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 18 dari 109

lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami mendjadi suatu bangsa jang hanja dapat membisikkan,

,,Ja tuan"Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, jang masih sadja

mereka pegang teguh setjara tidak sadar. Hal itu menjebabkan kemarahanku baru-baru ini. Wanita-wanita

dari kabinetku selalu menjediakan djuadah makanan Eropa. ,,Kita mempunjai penganan enak kepunjaan kita

sendiri," kataku dengan marah.

,,Mengapa tidak itu sadja dihidangkan ?" ,,Ma'af, Pak," kata mereka dengan penjesalan ,,Tentu bikin maIu

kita sadja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita jang melarat." Ini adalah suatu

pemantulan kembali dan pada djaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasaan rendah-diri kami

jang telah berabad-abad umurnja kembali memperlihatkan diri. Edjekan jang terus-menerus dipompakan

oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidak-mampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut.

Dan kejakinan bahwa engkau bangsa jang hina, lagi bodoh adalah suatu sendjata jang ada dalam tangan

pendjadjah. lmperialisme adaIah kumpulan kekuatan djahat jang nampak dan jang tidak nampak.

Penindasan jang sudah demikian lama dirasakan menjebabkan bangkitnja suatu masa para pelopor. Sun Yat

Sen mendirikan Gerakan Nasional Tiongkok ditahun 1885. Kongres Nasional India: ditahun 1887. Aguinaldo

dan Rizal membangkitkan Filipina. ditahun-tahun permulaan abad ke-20.

Seluruh Asia bangkit dan diabad keduapulah jang megah ini, dalam mana isolasi tidak akan terdjadi lagi,

maka bangsa Indonesia jang lemah dan pemalu itupun dapat merasakan gelora daripada kebangkitan ini.

Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Djawa menjusun partai nasional jang pertama dengan nama ,,Budi

Utomo", jang artinja ,,Usaha jang Sutji". Ditahun 1912 organisasi ini memberi djalan kepada Sarekat Islam

jang mempunjai anggota sebanjak dua-setengah djuta orang dibawah pimpinan H.O.S. Tjokro Aminoto.

Bangsa Indonesia jang menderita setjara perseorangan sekarang mulai menjatukan diri dan persatuan

nasional mulai tersebar. Ia lahir di Djakarta,.akan tetapi sang baji baru pertamakali melangkahkan kakinja di

Surabaja. Ditahun 1916 maka Surabaja merupakan kota pelabuhan jang sangat sibuk dan ribut, lebih

menjerupai kota New York. PeIabuhannja baik dan mendjadi pusat perdagangan jang aktif. Ia mendjadi

suatu kota industri jang penting dengan pertukaran jang tjepat dalam perdagangan gula, teh, tembakau,

kopi. Ia mendjadi kota tempat perlombaan dagang jang kuat dan orang-orang Tionghoa jang tjerdas

ditambah dengan arus jang besar dan para pelaut dan pedagang jang membawa berita-berita dari segala

pendjuru dunia. Penduduknja semakin bertambah, terdiri dari pekerdja pelabuhan dan peketdja bengkel

jang masih muda-muda dan jang bersemangat menjala-njala.la mendjadi kota dimana bergolak persaingan,

pemboikotan, perkelahian didjalan-djalan. Kota itu bergolak dengan ketidak-puasan dari orang-orang

revolusioner. Ketengah-tengah kantjah jang mendidih demikian itulah seorang anak-ibu berumur 15 tahun

masuk dengan mendjindjing sebuah tas ketjil.

Keluarga Tjokroaminoto terdiri dari enam orang. Jaitu Pak dan Bu Tjokro, anak-anaknia Harsono jang

12:tahun lebih muda daripadaku, Anwar 10 tahun lebih muda, puteri mereka Utari lima tahun lebih muda

dan seorang baji , Pak Tjokro semata-mata bekerdja sebagai Ketua Sarekat Islam dan penghasilannja tidak

banjak. Dia tinggal dikampung jang penuh sesak tidak djauh dari sebuah kali. Menjimpang dari djalanan jang

sedjadjar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah dikiri-kanannja dan ia terlalu sempit untuk

djalan mobil. Gang kami namanja Gang 7 Peneleh. Pada seperempat djalan djauhnja masuk kegang itu

berdirilah sebuah rumah buruk dengan paviljun setengah melekat. Rumah itu dibagi mendjadi sepuluh

kamar-kamar ketjil, termasuk ruang loteng.

Keluarga Pak Tjokro tinggal didepan; kami jang bajar-makan dibelakang. Sungguhpun semua kamar sama

melaratnja, akan tetapi anak-anak jang sudah bertahun-tahun bajar makan mendapat kamar jang namanja

sadja lebih baik. Kamarku tidak pakai djendela samasekali. Dan tidak berpintu. Didalam sangat gelap,

sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus-menerus sekalipun disiang hari. Duniaku jang gelap ini

mempunjai sebuah medja gojah tempatku menjimpan buku, sebuah korsi kaju, sangkutan badju dan sehelai

tikar rumput. Tidak ada kasur. Dan tidak ada bantal. Surabaja diwaktu itu sudah menikmati kemegahan

lampu listrik. Setiap kamar mempunjai fitting dan setiap pembajar-makan membajar ekstra untuk lampu.

Hanja kamarku jang tidak punja. Aku tidak punja uang untuk membeli bolanja. Aku beladjar sampai djauh

malam dengan memakai pelita. Bahkan akupun tidak mampu membeli kelambu untuk menutupi balai-balai

dan supaja terhindar dari njamuk. Kamar itu ketjil seperti kandang-ajam. Tidak ada udara segar dan

mendjadi sarang serangga. Akan tetapi karena tak ada orang lain jang mau tinggal denganku dikamar jang

gelapi itu, maka setidak-tidaknja aku dapat memilikinja untuk diriku sendiri.

Sewanja 11 rupiah, termasuk makan. Atau setjara perhitungan kasarnja empat dollar sebulan. Bapak

mengirimiku uang duabelas rupiah setengah, dengan sisanja limapuluh sen untuk uang-saku. Ditahun 1917

bapak dipindahkan ke Blitar. Karena pemindahan ini merupakan kenaikan djabatan, nasib bapak berobah

sedikit. Oleh sebab itu ia dapat mengirimiku f 1,50 untuk uang-saku setiap bulannja.Memang sukar bagi

seorang inlander untuk memasuki H.B.S. Disamping f 15,00 sebulan untuk uang-sekolah dan pet seragam

bertuliskan H.B.S., kami harus membajar lagi f 75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul djumlah

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 19 dari 109

ini, karena aku menghitung setiap rupiahnja. Kudjaga agar djangan ada jang terpakai setjara tidak

disengadja. Walaupun aku anak jang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang hanja kalau dalam

kesempitan sadja. Kukira ini sama sadja dengan setiap anak muda, bukan ? Dengan tidak usah membukasurat-

suratku terlebih dulu bapakpun sudah tahu isinja, bahwa si Karno minta uang. Suratku kepada

orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis jang itu-itu djuga dan tidak pernah berobah-robah: ,,Bapak

dan lbu jang tertjinta' saja berada dalam keadaan sehat-sehat sadja dan harapan saja tentu agar Bapak dan

Ibu keduanja demikian pula hendaknja."

Kemudian setelah salam itu, dibaris jang ketiga aku langsung menjampaikan maksud jang terpenting. Aku

menulis, ,,Sekarang saja sedang kekurangan uang. Apakah Bapak dan lbu dapat mengirimi barang sedikit

?"Disamping ibuku jang penjajang itu selalu mengirimiku setjara diam-diam satu atau dua rupiah bila ia punja

uang, akupun mengusahakan sumber lain. Pak Poegoeh, suami kakakku. Mereka tinggal sekira 50 kilometer

dari Surabaja dan Pak Poegoeh selalu memberiku uang lima rupiah untuk ongkos pulang. Karena uang itu

tidak habis semua untuk ongkos perdjalanan, maka aku sering menemui mereka. Pak Poegoeh enam tahun

lebih tua daripadaku dan bekerdja dikantor irigasi dari Departemen Pekerdjaan Umum. Sekalipun kami

seperti kakak beradik, aku tak pernah minta bantuan uang kepadanja setjara terang-terangan. Tjara orang

Djawa kebanjakan tidak langsung. Kuminta kepada kakakku jang menjampaikannja pula kepadanja. Dan

permintaan ini kupikirkan lebih dulu semasak-masaknja. Aku tak pernah meminta diluar batas jang

kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah.

Sebagai hasil dari kebidjaksanaan sematjam ini aku kadang-kadang mendapat lebih dari pada jang kuminta.

Terasa hari Iibur sangat menjenangkan apabila hadiah itu datang karena aku lalu bisa mendjamu kawankawanku

dengan kopi atau djadjan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh Setiap anak mempunjai

sepeda. Aku sendiri jang tidak. Biasanja aku membontjeng dengan salah seorang kawan atau berdjalan kaki.

Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers jang

hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda. Aku merawatnja bagai seorang ibu. Ia kugosok-gosok.

Kupegang-pegang. Kubelai-belai. Pada suatu kali Harsono jang berumur tudjuh tahun setjara diam-diam

memakai sepedaku itu dan menabrakkannja kepohon kaju. Seluruh bagian mukanja patah. Harsono

ketakutan. Ia tidak berani mengatakan padaku, dan ketika aku mendengar berita itu, kusepak pantatnja

dengan keras. Kasihan Harsono. Ia menangis. Ia berteriak. Berminggu-minggu lamanja aku tergontjang oleh

Fongersku jang hitam mengkilat itu jang sekarang sudah bengkok-bengkok. Achirnja aku dapat

mengumpulkan delapan rupiah lagi dan membeli lagi sepeda jang lain tapi untuk Harsono. Sekali dalam

seminggu aku menikmati satu-satunja kesenanganku Film, Aku sangat menjukainja. Betapapun, tjaraku

menonton sangat berbeda dengan anak-anak Belanda. Aku duduk ditempat jang paling murah. Tjoba pikir,

keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanja dapat menjewa tempat dibelakang lajar. Kaudengar ?

Dibelakang lajar ! ! Diwaktu itu belum ada film bitjara, djadi aku harus membatja teksnja dan terbalik dan

masih dalam bahasa Belanda ! lama-kelamaan aku mendjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat

dengan tjepat membatja teks itu dari kanan kekiri. Aku tidak peduli, karena tak ada tjara lain lagi. Bahkan

aku bersjukur karena masih bisa menjaksikannja. Saat satu-satunja jang menjebabkan aku ketjewa ialah,

bila dipertundjukkan film adu-tindju. Aku samasekali tak dapat menaksir, tangan siapa jang melakokan

pukulan.

Dimasa itu ,,Yankee Doodle" jang mendjadi lagu kegemaranku. Mereka memutarnja pada tiap istirahat dan

sambil duduk seorang diri dalam gelap dibelakang lajar aku menjanjikannja dengan lunak untuk diriku

sendiri. Sampai sekarang aku masih menjanjikan lagu itu. Pada suatu kali sebuah sirkus datang kekota kami.

Dalam pertundjukan itu mereka melepaskan merpati-merpati dan kalau ada jang hinggap dibahu seseorang,

itulah jang memenangkan hadiah. Kami segera mengetahui bahwa, ketika burung itu hinggap pada teman

kami, jang sama-sama bajar-makan, hadiahna seekor kuda. Djadi berkupullah kami Suarli pemenang jang

beruntung itu, kami pemuda lainnja sebanjak setengah lusin dan seekor kuda tua jang sudah letih. Kami

tidak dapat akal akan diapakan kuda itu. Tapi kami harus membawanja keluar, karena itu kami bawa ia

pulang. Dibagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada djalan untuk bisa sampai ketempat

itu ketjuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi muka dan rumah Pemimpin Besar

Rakjat Djawa dan mempawaikan kuda kami melalui kamar-duduk, terus kehalaman belakang dimana ia

ditambatkan kebatang sawo.

Tak seorangpun diantara kami jang punja uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut itu

kepunjaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli mendjualnja. Ketjuali satu sirkus dan film, masa

itu bukanlah masa jang menggembirakan bagiku. Aku tidak mempunjai kesenangan semasa mudaku. Aku

terlalu serius. Aku tidak mengikuti kesenangan seperti iang dialami oleh anak-anak sekolah iang lain.

Mungkin apa jang dinamakan tindakan kegila-gilaan sebagaimana jang dituduhkan kepadaku· sekarang,

adalah sematjam imbangan untuk mengedjar kerugian dimasa muda. Tidak ada kesenangan-kesenangan jang

menjegarkandalam kehidupanku hingga aku berumur 50 tahun. Kegembiraan jang kutjari sekarang mungkin

sebagai usahaku untuk-menutupi segala sesuatu jang tidak pernah kunikmati dimasa muda, sebelum

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 20 dari 109

waktunja terlambat. Aku tidak tahu dengan pasti. Aku- tak pernah memikirkannja hingga datang waktunja

bagiku untuk mendjalankan pembedahan diri dengan djalan otobiografi ini.

Bagaimanapun djuga, ini adalah pertjakapan antara kita antara engkau, pembatja, denganku. Dan karena

aku-berbitjara dan gelora hati jang meluap-luap, kemudian merenungkan semua ini sebagai kesedihanku

dimasa jang silam, aku merasa mungkin djuga benar bahwa aku sedang berusaha mengimbangi kekurangan

diriku sendiri sekarang. Pendeknja, aku tidak mengalami masa senang di Surabaja. Pada waktu aku mula

datang, aku menangis setiap hari. Ah, aku sangat kehilangan ibu tak dapat kutjeritakan-kepadamu betapa

Wanita senantiasa memberikan pengaruh jang besar dalam hidupku. Sekarang, aku tidak punja ibu, tidak ada

nenek untuk membudjukku jang selamanja mengagumiku — tidak ada Sarinah jang dengan tekun

mendjagaku. Aku merasa sebatang kara. Bu Tjokro adalah seorang wanita jang manis dengan perawakan

ketjil bagus. Dia sendirilah jang mengumpulkan uang makan kami saban minggu. Dialah jang membuat

peraturan seperti: (l) Makan malam djam sembilan dan barangsiapa jang datang terlambat tidak dapat

makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada dikamarnja djam 10 malam. (3) Anak sekolah harus bangun djam

empat pagi untuk beladjar. (4) Main-main dengan anak gadis dilarang. Aku memelihara hubungan rapat

dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena

memerlukan hati seorang perempuan, aku menoleh pada Mbok Tambeng, perempuan pembantu

rumahtangga, untuk menghiburku. Dia mendjadi pengganti ibuku. Dia menambal tjelanaku. Dia tahu bahwa

gado-gado adalah kegemaranku, karena itu dia suka menjusupkan ekstra untukku. Mbok sajang kepadaku,

tapi ah ! aku sangat merindukan kasih-sajang itu. Masih sadja si Mbok tidak bisa mendjadi penghibur jang

tjukup bagi seorang anak jang halus perasaannja. Djiwaku mendjerit-djerit mentjari kepertjajaan hati,

bahkan hati seorang bapak kemana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnja.

Seorang pemimpin hanja tertarik pada soal-soal politik. Bahunja bukanlah tempat bersandar untuk menangis.

Atau tangannja bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak.Sekalipun demikian Pak Tjokro sangat senang

kepadaku. Kasih sajangnja ini dinjatakannja terutama dimusim kemarau tahun 1918. Biasanja aku pulang

mengundjungi orangtuaku dalam waktu libur. Dalam dua bulan libur tinggal di Blitar aku merentjanakan

pergi ketempat kawan-kawan untuk sehari di Wlingi, jang djaraknja 20 kilometer dari Blitar. Semua rentjana

telah disiapkan dan dengan keinginan jang besar menghadapi tudjuan aku melambai kepada bapak,

mentjium ibu dan memulai perdjalananku. Aku baru sadja sampai dirumah kawan kawanku ketika bahana

menggemuruh jang menakutkan memenuhi angkasa dan tanah bergontjang-gontjang dibawah kakiku.

Perempuan-perempuan tua jang ketakutan, anak-anak jang mendjerit dan para pekerdja jang letih oleh

membanting-tulang terpentjar keluar dari pondok-pondok mereka menudju kampung jang penuh sesak.

Ketakutan, kebingungan dan kekatjauan menghinggapi rakjat kampung.

Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mentjari saat itu untuk menundjukkan kemurkaan dari Dewadewa.

Langit mendjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil djauhnja. Dimana-mana ledakan lahar. Daerah

itu diselubungi oleh asap, api dan ratjun. Dengan kekuatan jang hebat lahar jang mendidih-didih mentjurah

menuruni lereng gunung ketempat jang lebih rendah dan menggenang disana antara Blitar dan Wlingi. Banjak

orang jang mati.Aku sangat kuatir karena kutahu orangtuaku tentu sangat susah memikirkan diriku

…….Hidupkah dia ……..Matikah dia. Mereka sadar, bahwa anaknja berada tepat didjalan dimana gunung itu

memuntahkan isinja dan mereka tidak dapat memperoleh berita. Sementara itu aku mendengar, bahwa

separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpulkan oleh kekuatiran tentang apakah jang

mungkin terdjadi terhadap orangtuaku. Aku harus kembali setjepat mungkin, akan tetapi tidak ada

kendaraan jang bagaimanapun bentuknja jang dapat menjeberangi lautan lahar jang menggelora itu.

Achirnja, satu-satunja djalan jang harus ditempuh ialah dengan mengarunginja berdjalan kaki. Selagi lahar

masih agak panas, aku mulai melangkahkan kaki menudju djalan pulang. Aku masih djauh ketika mereka

menampakku, lalu datang berlari-lari menjongsongku ditengah djalan. Mereka memelukku. Mereka

mentjiumku.

Mereka mengelus pipiku. ,,0, engkau masih hidup," teriak bapak. ,,Engkau masih hidup engkau masih hidup."

Ibu menangis. Aku merangkul orangtuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira, gembira sekali

bertemu satu sama lain. Di Surabaja, Pak Tjokropun rupanja merasa tjemas memikirkan keadaanku. Ia

menaiki mobilnja dan melakukan perdjalanan sehari penuh hanja karena hendak mengetahui bagaimana

keadaanku. Mula-mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami selamat, akan tetapi rumah

itu sudah mendjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Djalan Sultan Agung 53 ia hanja mendapati rumah

kosong samasekali. Ketjuali beberapa ekor burung-burung ketjil. Ia djadi sangat bingung sebelum bertemu

dengan kami. Djadi aku menjadari bahwa Pak Tjokro mentjintaiku dengan tjaranja sendiri. Hanja tjaranja

itu tidak tjukup bagi seorang anak jang kesepian. Ia djarang berbitjara denganku. Bahkan aku djarang

melihatnja. Ia tidak mempunjai waktu jang senggang. Kalau ia dirumah tentu ada tamu atau ia bersamadi

dalam kesunjian.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 21 dari 109

Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaja. Pak Tjokro mengadjarku

tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa jang ia ketahui ataupun tentang apa djadiku kelak. Seorang

tokoh jang mempunjai daja-tjipta dan tjita-tjita tinggi, seorang pedjoang jang mentjintai tanah tumpah

darahnja. Pak Tjokro adalah pudjaanku. Aku muridnja. Setjara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku.

Aku duduk dekat kakinja dan diberikannja kepadaku buku-bukunja, diberikannja padaku miliknja jang

berharga Ia hanja tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinja kepada pribadiku jang

sangat kuharapkan. Karena tak seorangpun jang mentjintaiku seperti jang kuidamkan, aku mulai mundur.

Kenjataan-kenjataan jang kulihat dalam duniaku jang gelap hanjalah kehampaan dan kemelaratan. Karena

itu aku mengundurkan diri kedalam apa jang dinamakan orang Inggris ,,Dunia Pemikiran". Buku-buku

mendjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk

mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan jang terdapat diluar. Dalam dunia kerohanian dan dunia jang

lebih kekal inilah aku mentjari kesenanganku. Dan didalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira.

Selurah waktu kupergunakan untuk membatja. Sementara jang lain bermain-main, aku beladjar. Aku

mengedjar ilmu pengetahuan disamping peladjaran sekolah. Kami mempunjai sebuah perpustakaan jang

besar dikota-ini jang diselenggarakan oleh Perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku

boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnja buat seorang anak jang miskin.

Aku menjelam samasekali kedalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar.

Buah pikiran mereka mendjadi buah pikiranku. Tjita-tjita mereka adalah-pendirian dasarku. Setjara mental

aku berbitjara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia. karena dia

bertjeritera kepadaku tentang Declaration of Independence jang ditulisnja ditahun 1776. Aku

memperbintjangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perdjalanan Paul Revere.

Aku dengan sengadja mentjari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat

mempersoalkan hal ini dengan dia.Pada waktu sekarang, apabila ada orang menegur, ,,Hai Sukarno,

mengapa engkau tidak suka kepada Amerika ?" maka aku akan mendjawab, ,,Apabila engkau mengenal

Sukarno, engkau tidak akan -mengadjukan pertanjaan itu.? Masa mudaku kupergunakan untuk memudja

bapak-bapak perintis dari Amerika Aku ingin berlomba dengan pahlawan-pahlawannja. Aku mentjintai

rakjatnja. Dan aku masih mentiintainja. Bahkan sekarangpun aku masih membatja madjalah Amerika dari

,,Vogue" sampai ke ,,Nugget'..Aku akan selalu merasa berkawan dengan Amerika. Ja, berkawan. Aku

mengatakannja setjara terbuka Aku menuliskan tentang diriku sendiri. Kunjatakan ini dengan tertjetak.

Suatu pendirian dasar seperti jang kumiliki takkan dapat membiarkanku tidak berkawan dengan Amerika.

Didalam dunia pemikiranku akupun berbitjara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan

Beatrice Webb jang mendirikan Gerakan Buruh Inggris aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan

Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria.

Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean

Jacques Rousseau' Aristide Briand' dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sedjarah Perantjis. Aku

meneguk~semua tjerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnja adalah Voltaire. Aku adalah Danton

pedjoang besar dari Revolusi Perantjis. Seribu kali aku menjelamatkan Perantjis seorang diri dalam kamarku

iang gelap. Aku mendjadi tersangkut setjara emosionil dengan negarawan-negarawan ini. Disekolah kami

mendengarkan peIadjaran tetntang pengadilan rakiat dari bangsa Junani kuno. Ia melekat dalam pikiranku.

Aku membajangkan pemikir-pemikir jang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan sembojansembojan

seperti ,,Persetan dengan Penindasan" dan ,,Hidup' Kemerdekasn". Hatiku terbakar menjaIa-njala.

Macam itu, ketika semua orang sudah menguntji pintu, kamar kandang-ajamku mendiadi ruang-pengadilan

aku sebagai seorang pemuda Junani jang terbakar oleh enthusiasme.

Sambil berdiri diatas medjaku jang gojah aku ikut terbawa-oleh perasaan. Aku mulai berteriak Selagi aku

berpidato dengan sangat keras kepada tak seorangpun, kepala-kepala berdjuluran keluar pintu, mata

bertondjolan dari kepala dan terdengar suara anak-anak muda berteriak dalam gelap' ,,Hei, No,' kau gila ?

Ada apa….Hei, apa kau sakit ?" dan kemudian tukang-tukang sorak itu kembali pada djawabannja sendiri,

,,Ah, tidak ada apa-apa. Tjuma si No mau menjelamatkan dunia lagi" dan satu demi satu pintu-pintu

menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan. Pada waktu aku semakin mendekati

kedewasaan, duniaku didalam semakin lebar dan mentjakup pula kawan-kawan dari Tjokroaminoto. Setiap

hari para pemimpin dari partai lain atau pemimpin tjabang Sarekat Islam datang bertamu. Dan setiap kali

mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan-kawanku serumah keluar menjaksikan pertandingan

bola, aku duduk dekat kaki orang-orang ini dan mendengarkan.

Kadang-kadang kubagi tempat-tidurku dengan salahseorang pemimpin itu dan minum dari mata-air keahlian

mereka hingga waktu fadjar. Aku menjukai waktu makan, Kami makan setjara satu keluarga, djadi aku dapat

mengikuti dan meresapkan pertjakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah disekeliling medja, aku

bahkan kadangkadang berani mengadjukan pertanjaan. Mahaputera-mahaputera ini putera-putera jang besar

dari rakjat Indonesia—tidak mengatjuhkanku karena aku masih anak-anak. Sekali pada waktu makan malam

mereka mempersoalkan tentang kapitalisme dan tentang barang-barang jang diangkut dari kepulauan kami

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 22 dari 109

untuk memperkaja Negeri Belanda. Disaat inilah aku bertanja pelahan, ,,Berapa banjak jang diambil Belanda

dari Indonesia ?",,Anak ini sangat ingin tahu," senjum Pak Tjok, kemudian menambahkan, ,,De Vereenigde

Oost Indische Compagnie menjedot— atau mentjuri—kira-kira 1800 djuta gulden dari tanah kita setiap tahun

untuk memberi makan Den Haag.",,Apa jang tinggal dinegeri kita ?" kali ini aku bertanja lebih keras

sedikit.,,Rakjat tani kita jang mentjutjurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,"

kata Alimin, jaitu orang jang memperkenalkanku kepada Marxisme. ,,Kita mendjadi bangsa kuli dan

mendjadi kuli diantara bangsabangsa," sela kawannja jang bernama Muso.,,Sarekat Islam bekerdja untuk

memperbaiki keadaan dengan mengadjukan mosi-mosi kepada Pemerintah," kata Pak Tjok menerangkan dan

kelihatan senang karena mempunjai murid jang begitu bersemangat. ,,Pengurangan padjak dan serikatserikat

sekerdja hanja dapat digerakkan dengan kooperasi dengan Belanda—sekalipun kita membentji kerdjasama

ini.",,Tapi apakah baik untuk membentji seseorang sekalipun ia orang Belanda ?" ,,Kita tidak

membentji rakjatnja," dia memperbaiki, ,,Kita membentji sistim pemerintahan Kolonial." ,,Mengapa nasib

kita tidak berobah djika rakjat kita telah berdjoang melawan sistim ini sedjak berabad-abad?"

,,Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berdjoang sendiri-sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut

jang ketjil didaerah jang terbatas," Alimin mendjawab.,,0, mereka kalah karena tidak bersatu," kataku. Ahli

pikir India, Swami Vivekananda, menulis, ,,Djangan bikin kepalamu mendjadi perpustakaan. Pakailah

pengetahuanmu untukdiamalkan." Aku mulai menerapkan apa-apa jang telah kubatja kepada apa jang telah

kudengar. Aku memperbandingkan antaraperadaban jang megah dari pikiranku dengan tanah-airku sendiri

jang sudah bobrok.Setapak demi setapak aku mendjadi seorang pentjinta tanah-air jang menjala-njala dan

menjadari bahwa tidak ada alasan bagi pemuda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan

diri kedalam dunia chajal. Aku menghadapi kenjataan bahwa negeriku miskin, malang dan dihinakan. Aku

berdjalan-djalan seorang diri dan merenungkan tentang apa jang sedang berputar dalam otakku. Satu djam

lamanja aku berdiri tak bergerak diatas diambatan ketjil jang melintasi sungai ketjil dan memandangi iringiringan

manusia jang tak henti-hentinja. Aku melihat rakjat tani dengan kaki-ajam berdjalan lesu menudju

pondoknja jang buruk. Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mentjekam diatas kereta terbuka jang ditarik

oleh dua ekor kuda jang mengkilat. Aku melihat keluarga orang kulitputih kelihatan bersih-bersih, sedang

saudara-saudaranja jang belkulit sawomatang begitu kotor, badannja berbau, badjunja tjompang-tjamping,

anak-anak mereka djorok-djorok. Aku bertanja dalam hati, apakah orang bisa tetap bersih apabila mereka

tidak - punja pakaian lain untuk penggantinja.

Kuisap masuk tubulrku bau daripada sisa makanan jang sudah busuk dan bau selokan-selokan jang

melemaskan, dan kulekatkan dengan kuat didalam lobang hidungku bau busuk daripada kemelaratan

rakjatku, sehingga sekalipun aku pergi 10.000 mil dari disungai aku masih tetap mentjiumnja. Aku

memandang kedalam keputus asaan dari setiap laki-laki dan perempuan jang kulihat. Aku terhanjut bersama

rakjatku. Rakjatku jang miskin lagi papa. Dari djembatan aku menoleh kearah massa jang seperti semut

banjaknja dan aku mengerti sedjelas-djelasnja, bahwa inilah kekuatan kami. Dan aku-menjadari sesadarsadarnja

akan penderitaan mereka. Sekalipun anak ketjil tak-akan dapat menahan rawan hatinja pada waktu

pertamakali melihat kata-kata peringatan dikolam-renang jang berbunji, ,,Terlarang bagi andjing dan

bumiputera." Andjing didahulukan. Dapatkah seorang manusia tidak tersinggung perasaannja, apabila

seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada setiap Belanda jang menaiki tremnja ? Aku

seorang anak berumur 14 tahun ketika mukaku ditampar oleh seorang anak berhidung pandjang, tak lain

hanja disebabkan karena aku seorang inlander. Apakah menurut pendapatmu tindakan-tindakan jang

demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati ? Ja, aku mempunjai kesadaran sebagai seorang anak.

Aku memulai persembahan hidupku ini pada umur 16 tahun. Perkumpulan politik jang pertama kudirikan

adalah Tri Koro Darmo jang berarti ,,Tiga Tudjuan Sutji" dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi

dan sosial jang kami tjari. Ini pada dasarnja adalah suatu organisasi sosial dari para peladjar seumurku. Jong

Java', sebagai langkah kedua, mempunjai dasar jang Iebih luas. Begitupun pergaulan sosial kami

berlandaskan kebangsaan. Kami membaktikan diri untuk memperkembangkan kebudajaan asli seperti

mengadjarkan tari Djawa atau mengadjar main gamelan.

Jong Java pun banjak melakukan pekerdjaan-pekerdjaan sosial. Kami pergi kekampung-kampung jang

berdekatan untuk mengumpulkan dan bagi sekolah atau untuk membantu korban bentjana letusan gunung.

Kami mengadakan pertunjukan ditempat-terapat jang memerlukan pertolongan dan mengeluarkan biajabiaja

itu dari hasil uang masuk. ,, Harus kuakui sekarang, bahwa tampangku dimasa muda sangat tampan

sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanja sedikit wanita terpeladjar pada waktu itu, tidak banjak

anak gadis jang mendjadi anggota kami. Dan potonganku lebih banjak menjerupai seorang perawan tjantik

sehingga kalau Jong Java mengadakan pertundjukan. Manaakalau diserahi memainkan peran wanita jang naif

itu. Aku betulbetul membedaki pipi dan memerahkan bibirku. Akan kutjeritakan sesuatu kepadamu. Aku

tidak tahu, bagaimana pendapat orang-asing tentang seorang Presiden jang mau mentjeritakan hal jang

demikian itu Tetapi sungguhpun demikian aku akan mentjeritakannja djuga. Aku membeli dua potong -roti

manis. Roti bulat. Seperti roti-gulung. Dan kuisikan kedalam badjuku. Ditambah dengan bentuk-badanku jang

langsing setiap orang menjatakan, bahwa aku kelihatan sangat tjantik. Untunglah dalam peranku itu tidak

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 23 dari 109

termasuk adegan mentjium laki-laki. Selesai pertundiukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan

uangku begitu sadja Karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam badju dan kumakan.

Sambil memandangku diatas panggungpara penontonpun memberikan komentaraja, bahwa aku memperlihatkan

bakat jang besar untuk tampil dimoka umum. Akupun sangat setudju dengan pendapat mereka, tidak

lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari Studieclub, jaitu suatu

kelompok sebagai pengadjaran tambahan dan bertudjuan untuk membahas buah-buah pikiran dan tjita-tjita.

Disinilah aku mengadakan pidato jang pertama. Aku berumur 16 tahun. Ketua Studieclub mendapat giliran

untuk berbitiara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan jang kuat untuk berbitjara. Aku tidak dapat

mengendalikan diriku selandjutnja. Selagi duduk dalam pertemuan itu aku melompat dan berdiri diatas

medja. Suatu gerak perbuatan chas seperti kanak-kanak. Kukira ini disebabkan karena aku bersifat

emosionil. Sekarangpun aku masih demikian. Ketua menjatakan, ,,Adalah mendjadi suatu keharusan bagi

generasi kita untuk menguasai betul bahasa Belanda."Setiap orang setudju. Setiap orang, ketjuali aku

sendiri. Aku gugup tentunja, akan tetapi ketika aku memperoleh perhatian mereka, aku berbitjara dengan

suara jang tenang sekali, ,,Tidak. Saja-tidak setudju, ,,Tanah kebanggaan kita ini dulu pernah bernama

Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti diantara.

Nusantara berarti ribuan pulau-pulau ini, dan banjak diantara pulau-pulau ini lebih besar daripada seluruh

negeri Belanda Djumlah penduduk Negeri Belanda hanja segelintir djika dibandingkan dengan penduduk kita.

Bahasa Belanda hanja dipergunankan oleh enam djuta orang.,,Mengapa suatu negeri ketjil jang terletak

disebelah sana dari dunia ini menguasai suatu bangsa jang dulu pernah begitu perkasa, sehinngga dapat

mengalahkan Kublai Khan jang kuat itu?" Dengan suara tenang dan tidak terburu-buru atau tegang aku

selandjutja mengemukakan alasan-alasan ditambah dengan kenjataan-kenjataan. Aku mengachiri pidato itu

dengan kata-kata, ,,Saja berpendapat, bahwa jang harus kita kuasai pertama-tama lebih dulu adalah bahasa

kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melaju. Kemudian baru menguasai

bahasa asing. Dan sebaiknja kita mengambil bahasa Inggris, oleh karena bahasa itu sekarang mendjadi

bahasa diplomatik. ,,Belanda berkulit putih. Kita sawomatang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita

punja lurus dan hitam. Mereka tinggal riboan kilomerer darisini. Mengapa kita harus berbitjara bahasa

Belanda?!" Maka terdjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka tak pernah mendengar hal sematjam ini

sebelumnja. Kuingat Direktur H.B.S., Tuan Bot, berdiri disana. Dia tidak berbuat apa-apa melainkan

memandang kepadaku dengan muka tidak senang samasekali, seakan dia berkata, ,,Oooh—Oooh, Sukarno

mau bikin susah !" Sekalipun aku tidak membikin susah, aku sudah tjukup dibikin susah. Aku adalah anak baru

disekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak Bumiputera.

H.B.S. mempunjai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranja orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala djurusan

oleh anak laki-laki dan anak-anak gadis Belanda. Sudah tentu mereka tidak senang padaku. Terketjuali

barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai djam tudjuh pagi sampai djam satu

siang, enam hari dalam seminggu. Diantara djam-djam peladjaran ada waktu istirahat, pada waktu mana

setiap anak bermain atau djadjan. Akan tetapi anak-anak Belanda tentu memisah dari kami. Mereka

berusaha supaja kami tidak ada kawan. Merekapun berusaha supaja hidung kami selalu berlumuran darah.

Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak jang rapi pakai tjelana baru dan kaku berwarna putih

jang mendjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi djalanku dan mengedjek,

,,Menjingkir dari djalanku, anak inlander." Ketika aku berdiri disana dia melepaskan tangannja PANGGGG !'

Tepat dihidungku ! Djadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak-belur. Aku tak pernah mendjadi

tukang berkelahi, tapi sekalipun aku dapat menahan penghinaan aku tak dapat menghindari perkelahian

tangan. Kadang-kadang kukalahkan mereka, akan tetapi terkadangpun mereka mengalahkanku. Kamipun

mengalami diskriminasi didalam sekolah.

Sekolah begitu keterlaluan terhadap kami, sehingga kalau seorang anak Bumiputera membuat suatu

kesalahan maka Direktur menghukumnja dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mentjurahkan

tenaga dengan sungguh-sungguh kepada peladjaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam,

nilai jang didapat oleh anak-anak Belanda pasti lebih tinggi daripada jang diterima oleh anak Indonesia. Nilai

ketjakapan diukur dengan angka. Angka 10 jang tertinggi dan angka enam adalah batas nilai tjukup dan

inilah kebanjakan jang diterima oleh inlander. Kami mempunjai suatu pameo mengenai angka-angka ini:

angka sepuluh adalah untuk Tuhan, sembilan untuk professor, angka delapan untuk anak jang luarbiasa,

tudjuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak Bumiputera. Aku

adalah penggambar tjat-air jang luarbiasa.

Ditahun kedua kami disuruh menggambar kandang-andjing. Sementara jang lain masih mengukur-ukur dan

menaksir-naksir dengan potlot aku sudah selesai menggambar kandang jang lengkap, didalamnja seekor

andjing jang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh

kelas. Ia mengatakan, ,,Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai jang

setinggi mungkin." Tapi apakah aku memperoleh angka jang paling tinggi itu ? Tidak. Selalu orang kulitputih

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 24 dari 109

lebih pandai. Lebih tjerdas. Orang kulitputih lebih banjak tahu. Alat kolonial tidak akan berhasil, ketjuali

djika ia memupuk keunggulan kulitputih terhadap sawomatang. Guru-guru sangat sajang kepadaku. Aku anak

jang patuh, sungguhsungguh dan hormat. Hanja sesekali aku bertindak diluar garis. Aku tidak pernah betul

betul kurang-adjar, akan tetapi pada suatu kali setelah pidatoku jang pertama aku berdjalan melalui

ruangan ketika professor Egberts melihatku dan meneriakkan, ,,Hai, Sukarno, bagaimana dengan kau punja

'Jong Java'?" dan aku mengedjek, Ja, Professor, bagaimana pula dengan tuan punja 'Oud Holland' ?"Aku

mendjadi favorit dari guru bahasa Djerman jang djuga memimpin Kelompok Perdebatan kami. Dalam

memperdebatkan persoalan kehilir-kemudik dan mengadjukan pendapat-pendapat jang berlawanan, aku

memperbaiki ketjakapan berbitjara. Professor Hartagh melihat, bahwa aku dapat memimpin kawankawanku.

Pada suatu pertemuan Hartagh menjampaikan kepada ke 20 orang murid setjara bersamasama dan kepadaku

setjara pribadi, bahwa aku akan mendjadi pemimpin jang besar kelak. Professor mungkin punja bola-kristal'

untul meramal. Iapun pernah mentjeritakan kepada orang lain, bahwa dia akan mendjadi guru dan memang

itu dia djadinja.Seorang guru perempuan betul-betul sangat sajang kepadaku, sehingga ia memberiku nama

Belanda. Aku, tjalon pemimpin dari suatu revolusi dimasa jang akan datang, dengan nama Belanda ? Dia

menamaiku Kerel. Dia bahkan memanggilku ,,Schat", perkataan Belanda untuk kesajangan. Kalau dia

kelupaan kuntji atau sesuatu barang, dia lalu menundjukku dan berkata dengan manis, ,,Schat, maukah

engkau pergi kekamarku dan mengambil kuntji ?" Ach, ini adalah hak istimewa iang sangat besar. Pada suatu

hari dia mengandjakku kerumahnja untuk menerima peladjaran tambahan bahasa Perantjis. Aku gemetar

karena anugerah jang istimewa itu. Pada waktu umurku semakin mendekati kedewasaan aku masih gemetar

dengan anugerah istimewa sematjam ini. Akan tetapi karena alasan-lain. Aku sangat tertarik kepada anakanak

gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan pertjintaan dengan mereka. Hanja inilah satusatunja

djalan jang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap beagsa kulitputih dan membikin

mereka tunduk pada kemauanku. Bukankah ini selalu mendjadi idaman ? Apakah seorang djantan berkulit

sawomatang dapat menaklukkan seorang lakilaki kulitputih ? Ini adalah suatu tudjuan jang hendak

diperdjoangkan. Menguasai seorang gadig kulitputih dan membikinnja supaja menginginiku adalah suatu

kebanggaan.

Seorang pemuda tampan senantiasa mempunjai kawan gadis-gadis jang tetap. Aku punja banjak. Mereka

bahkan memudja gigiku jang tidak rata. Dan aku-mengakui bahwa aku sengadja mengedjar gadis gadis

kulitputih. Tjintaku jang pertama adalah PauIine Gobee, anak- salah-seorang guruku. Dia memang tjantik

dan aku tergila-gila kepadanja. Kemudian menjusul Laura. Oo, betapa aku memudjanja. Dan ada lagi

keluarga Raat. Mereka ini keluarga Indo dan mempunjai beberapa orang puteri aju. H.B.S. letaknja diarah

jang berlawanan dengan rumah keluarga Raat, tapi sekalipun demikian setiap hari selama berbulan-bulan

aku mengambil djalan keliling, hanja untuk lewat dimuka rumahnja dan untuk menangkap selintas

pandangannja. Dekat itu terdapat Depot Tiga, warung tempat minum. Aku kadang-kadang diadjak oleh

salahseorang kawan kesana dan disanalah kami dapat duduk dengan gembira dan memandangi gadis-gadis

Belanda lalu. Kemudian bagai suatu tjahaja jang bersinar dalam gelap, muntjullah Mien Hessels dalam

kehidupanku. Hilanglah Laura, lenjaplah keluarga Raat dari ingatan dan lenjap pulalah kegembiraan Depot

Tiga. Sekarang aku punja Mien Hessels. Dia samasekali milikku dan aku sangat tergila-gila kepada kembang

tulip berambut kuning dan pipinja jang merah mawar itu. Aku rela mati untuknja kalau dia menghendakinja.

Umurku baru 18 tahun dan tidak ada jang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain daripada memiliki

djiwa dan raga Mien Hessels. Aku mengharapnja dengan perasasn berahi dan sampailah aku pada suatu

kesungguhan hati, aku harus mengawininja. Tak satupun jang dapat memadamkan api jang sedang

menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang-gula diatas kue jang takkan dapat kubeli. Kulitnja lembut

bagai kapas, rambutnja ikal dan pribadinja memenuhi segala-galanja jang kuidamkan. Untuk dapat

merangkulkan tanganku memeluk Mien Hessels nilainja lebih dari segala harta bagiku. Achirnja aku

memberanikan diri untuk berbitjara kepada bapaknja. Aku mengenakan pakaian jang terbaik, dan memakai

sepatu.

Sambil duduk dikamarku jang gelap aku melatih kata-kata jang akan kuutjapkan dihadapannja. Akan tetapi

pada waktu aku mendekati rumah jang bagus itu aku menggigil oleh perasaan takut. Aku tak pernah

sebelumnja bertamu kerumah seperti ini. Pekarangannja menghidjau seperti beludru. Kembang-kembang

berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai pradjurit. Aku tidak punja topi untuk dipegang, karena

itu sebagai gantinja aku memegang hatiku.Dan disanaIah aku berdiri, gemetar, dihadapan bapak dari puteri

gadingku, seorang jang tinggi seperti menara jang memandang kebawah langsung kepadaku seperti aku ini

dipandang sebagai kutu diatas tanah. ,,Tuan," kataku. ,,Kalau tuan tidak berkeberatan, saja ingin minta anak

tuan." ,,Kamu? Inlander kotor, seperti kamu ? sembur tuan Hessels, ,,Kenapa kamu berani-beranian

mendekati anakku ? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar !" Dapatkah orang membajangkan betapa aku

merasa seperti didera dengan tjambuk ? Dapatkah kiranja orang pertjaja, bahwa noda jang ditjorengkan

dimukaku ini pada satu saat akan pupus samasekali ? Sakitnja adalah sedemikian, sehingga disaat itu aku

berpikir, ,,Ja Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini." Dan djauh dalam lubukhatiku aku merasa pasti,

bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku jang berparas bidadari itu, Mien Hessels.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 25 dari 109

23 tahun kemudian, jaitu tahun 1942. Djaman perang. Aku sedang melihat-lihat etalase pada salahsatu toko

pakaian laki-laki disuatu djalanan Djakarta, ketika aku mendengar suara dibelakangku, ,,Sukarno ?"Aku

berpaling memandangi seorang wanita asing, ,,Ja, saja Sukarno."Dia tertawa terkikik-kikik, ,,Dapat kau

menerka siapa saja ini ?"Kuperhatikan dia dengan saksama. Dia seorang njonja tua dan gemuk. Djelek,

badannja tidak terpelihara. Dan aku mendjawab, ,,Tidak, njonja. Saja tidak dapat menerka. Siapakah Njonja

?",,Mien Hessels," dia terkikik lagi. Huhhhh ! Mien Hessels ! Puteriku jang tiantik seperti bidadari sudah

berobah mendjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah aku melihat perempuan jang buruk dan kotor

seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinja sampai begitu. Dengan tjepat aku memberi salam kepadanja,

lalu meneruskan perdjalananku. Aku bersjukur dan memudji kepada Tuhan Jang Maha-Penjajang karena

telah melindungiku. Tjatji-maki jang telah dilontarkan bapaknja kepadaku sesungguhnja adalah suatu

rahmat jang tersembunji. Kalau dipikir-pikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersjukur

kepada Tuhan atas perlindungan jang telah-diberikanNja. Huhhh, orang apa itu ! Djalan hidupku sebagai

seorang pentjinta dimasa belia berachir ketika Bu Tjokroaminoto meninggal. Keluarga Pak Tjokro dengan

anak-anak jang bajar-makan pindah kerumah lain. Dan pemimpin jang kumuliakan itu keadaannja begitu

tertekan, sehingga aku merasa kasihan melihatnja. Anaknja masih ketjil-ketjil, dia seorang diri dan rumah

itu asing suasananja. Seluruh keluarga nampaknja tidak berbahagia samasekali. Aku tidak dapat memandangi

keadaan jang demikian itu.Kami belum lama menempati rumah jang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang

menemuiku dan berkata, ,,Sukarno, kaulihat bagai mana sedihnja hati Tjokroaminoto. Apakah tidak dapat

kau berbuat sesuatu supaja hatinja gembira sedikit ?" Hatiku sangat berat dan mendjawab, ,,Saja dengan

segala senang hati mau mengerdjakan sesuatu, supaja dia dapat tersenjum lagi. Tapi apa jang dapat saja

lakukan ? Saja tidak bisa mendjadi isteri Pak Tjokro.",,Bukan begitu, tapi engkau dapat menggembirakan

hatinja dengan tjara lain."

,,Tjara lain ?

" Ja ?

,,Bagaimana ?"

,,Djadi menantunja. Puterinja Utari sekarang tidak punja ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap haridepan

anaknja itu dan siapa jang akan mendjaganja dan mengasihinja. Inilah jang memberatkan pikirannja. Saja

kira, kalau engkau minta kawin dengan anak saudaraku itu, mungkin ini akan mengurangi sedikit tekanan

perasaan dari Pak Tjokro."

,,Tapi umurnja baru 16," kataku memprotes.

,,Ja memang, can engkau belum 21. Perbedaan umur tidak begitu djauh. Katakanlah pada saja, Sukarno,

apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku ?"

,,Jah," aku menerangkan pelahan-lahan. ,,Saja sangat berterima kasih kepada Pak Tjokro……. Saja

mentjintai Urari Tapi tidak terlalu sangat. Sungguhpun begitu, sekiranja saja perlu memintanja untuk

meringankan beban dari djundjunganku, jah, saja bersedia. "Aku mendatangi Pak Tjokro dan mengadjukan

lamaranku. Dia sangat gembira dan oleh karena akan mendjadi menantu aku segera dipindahkan kekamar

jang lebih besar dengan perabot jang lebih banjak. Sampai dihari ia menutup mata, ia tak pernah

mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanja karena aku sangat menghormatinja dan menaruh

kasihan kepadanja. Kami kawin dengan tjara jang kita namakan ,,kawin gantung" Ini adalah perkawinan biasa

jang dibenarkan dalam hukum dan agama.

Orang Indonesia mendjalankan tjara ini karena beberapa alasan. Kadang-kadang dilangsungkan kawin

gantung terlebih dulu, karena kedua-duanja belum mentjapai umur untuk dapat menunaikan kewadjiban

mereka setjara djasmaniah. Atau adakalanja sianak dara tinggal dirumah orangtuanja sampai pengantin lakilaki

sanggup membelandjai rumahtangga sendiri.Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku kalau aku

menghendakinja. Akan tetapi aku tidak melakukannja karena dia masih kanak-kanak. Boleh djadi aku

seorang jang pentjinta, akan tetapi aku bukanlah seorang pembunuh anak gadis remadja Itulah sebabnja,

mengapa kami melakukan kawin gantung. Pesta kawinnjapun digantung.Disaat-saat aku mengawini Utari

terdjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian jang kolot. Penghulu setjara serampangan menolak

untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata, ,,Anak muda, dasi adalah pakaian orang-jang

beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam."

,,Tuan Kadi" aku membalas, ,,Saja menjadari, bahwa - dulunja mempelai hanja memakai pakaian

Bumiputera, jaitu sarung. Tapi ini adalah tjara lama. Aturannja sekarang sudah diperbarui.",,Ja," katanja

membentak, ,,Akan tetapi pembaruan itu hanja untuk memakai pantalon dan djas buka." ,,Adalah

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 26 dari 109

kegemaran saja untuk berpakaian rapi dan memakai dasi," aku menerangkan dengan tadjam.,,Dalam hal ini,

kalau masih terus berkeras kepala untuk berpakaian rapi itu, saja menolak untuk melakukan pernikahan."

Apabila aku ditegur dengan keras dimuka umum, atau disuruh harus begini-begitu atau lain-lain, aku

mendjadi keras. Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menjuruhku untuk

menanggalkan dasi. Aku menjentak bangkit dari korsiku dan mendjawab dengar tandas, Barangkali lebih baik

tidak kita landjutkan hal ini sekarang." Timbul protes keras dari imam mesdjid, akan tetapi aku

menggeledek, ,,Persetan, tuan-tuan semua. Saja pemberontak dan saja akan selalu memberontak, saja tidak

mau didikte orang dihari perkawinan saja." Kalau sekiranja tidak dihadapan salah seorang tamu kami jang

djuga seorang alim dan sanggup menikahkan kami, mungkinlah Sukarno tidak akan bersatu dengan Utari

Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama.

Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa djedjakaku, terdjadilah peristiwa aneh jang kedua. Tepat

sebelum aku mengindjak ambang-pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan jang terachir. Aku

mengeluarkan korek-api dari kantong, menggoreskan sebuah disisi kotaknja untuk menjelakannja dan …….

Sisst …….seluruh kotak itu menjala oleh djilatan api. Anak-korek-api jang ada dalam kotak itu menjala semua

sampai jang terachir. Karena djilatan api ini djariku terbakar. Kuanggap kedjadian ini sebagai pertandaburuk

dan memberikan kepadaku suatu perasaan ramalan jang gelap. Aku tidak mentjeritakan hal ini kepada

siapapun, akan tetapi aku tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan jang menakutkan ........ Ehhh…..

Apa maksudnja ini ?

Sekalipun kedudukanku sebagai orang jang baru kawin, waktuku dimalam hari kupergunakan untuk

mempeladjari Pak Tjokro. Aku mendjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah

jang selalu menemaninja kepertemuan-pertemuan untuk berpidato, tak pernah anaknja. Dan aku hanja

duduk dan memperhatikannja. Dia mempunjai pengaruh jang besar terhadap rakjat Sekalipun demikian,

setelah berkali-kali aku mengikutinja aku menjadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau merendahkan

suaranja dalam berpidato. Tak pernah membuat lelutjon. Pidato-pidatonja tidak bergaram. Aku tidak pernah

membatja salah-satu buku jang murah tentang bagaimana tjara mendjadi pembitjara dimuka umum. Pun

tidak pernah berlatih dimuka katja. Bukanlah karena aku sudah tjukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak

mempunjai apa-apa.

Tjerminku adalah Tjokroaminoto. Aku memperhatikannja mendjatuhkan suaranja. Aku melihat gerak

tangannja dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula-mula sekali aku beladjar menarik

perhatian pendengarku. Aku tidak hanja menarik, bahkan kupegang perhatian mereka Mereka terpaksa

mendengarkan. Suatu getaran mengalir kesekudjur tubuhku ketika mengetahui, bahwa aku memiliki suatu

kekuatan jang dapat menggerakkan massa. Aku menguraikan pokok pembitjaraanku dengan sederhana.

Pendengarku menganggap tjara ini mudah untuk dimengerti, karena aku lebih banjak mendasarkan

pembitjaraanku kepada tjara bertjerita, djadi tidak semata-mata memberikan fakta dan angka. Aku berbuat

menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi undangan kesuatu rapat

dan kepadaku dimintanja untuk menggantikannja. Kali ini adalah suatu pertemuan ketjil, akan tetapi aku

menggunakan ke sempatan ini dengan sebaik-baiknja. Aku mulai dengan suara lunak. ,,Negeri kita, saudara,

adalah tanah jang subur, sehingga kalau orang menanamkan sebuah tongkat kedalam tanah, maka tongkat

itu akan tumbuh dan mendjadi sebatang pohon. Sekalipun demikian rakjat menderita kekurangan dan

kemelaratan adalah beban jang harus dipikul sehari-hari.

Puntjak gunung menghisap awan dilangit, turun kebumi dan negeri kita diberi rahmat dengan hudjan jang

melimpah-limpah. Akan tetapi kita kekurangan makan dan perut kita mendjerit-djerit kelaparan.",,Ja,

betul," mereka berteriak dari tempat duduknja. Suaraku mulai naik. ,,Saudara tahu apa sebabnja, saudarasaudara

? Sebabnja ialah, oleh karena orang jang mendjadjah kita tidak mau menanamian uang kembali

untuk memperkaja bumi jang mereka peras. Pendjadjah hanja mau memetik hasilnja. Ja, mereka

menjuburkan bumi kita ini. Betul ! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menjuburkan bumi kita

ini ? Tahukah saudara apa jang dikembalikan kebumi kita ini setelah 350 tahun mendjadjah ? Saja akan

tjeritakan kepada saudara-saudara. Bumi kita ini mereka suburkan dengan majat-majat jang bergelimpangan

dari rakjat kita jang mati karena kelaparan, kerdja keras dan hanja tinggal tulang-belulang !,,Maka dari itu

saja bertanja, apakah saudara tidak setudju dengan saja ? Seperti saja sendiri, apakah hati saudara tidak

digontjang-gontjang oleh keinginan untuk merdeka ? Saja pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Saja

bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saja akan mati dengan tjita-tjita untuk merdeka didalam

dadaku.

Apakah saudara tidak setudju dengan saja ?" ,,Setudjuuuuuu !" mereka berteriak, ,,Ja……..kami setudju !"

Mereka melihat kepadaku kalau aku berbitjara. Mereka memandang kepadaku seperti memudja, mata-mata

terbuka lebar, muka-muka-terangkat keatas, meneguk semua kata-kataku dengan penuh kepertjajaan dan

harapan. Nampak djelas, bahwa aku mendjadi pembitjara jang ulung. Ia berada dalam uratnadiku.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 27 dari 109

Aku menghirup lebih banjak lagi persoalan politik dirumah Pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme. Dan

setelah mengikuti setiap pidatoku maka kawan-kawan seperdjoangan mulai mengerti lebih banjak tentang

pendirianku. Kemudian mulai setudju. Lalu mengikuti pendirianku. Dan mentjintaiku. Mereka memilihku

sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku mendjadi ketua.

Akupun menulis untuk madjalah Pak Tjok, ,,Oetoesan Hindia", akan tetapi dengan nama-samaran, karena

memang susah untuk memasuki sekolah Belanda sambil menulis dalam madjalah jang menbela tindakan

untuk merobohkan Pemerintah Belanda. Aku kembali kepada Mahabharata untuk memperoleh namasamaranku.

Aku memilih nama ,,Bima" jang berarti ,,Pradjurit Besar" dan djuga berarti keberanian dan

kepahlawanan. Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membitjarakannja. Ibu, jang tidak

tahu tulis-batja, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak mereka jang menulisnja. Memang

benar, bahwa keinginan mereka jang paling besar adalah, agar aku mendjadi pemimpin dari rakjat, akan

tetapi tidak dalam usia semuda itu I Tidak dalam usia jang begitu muda, jang akan membahajakan

pendidikanku dimasa jang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai

djalan untak mentjegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menjampaikan kepada mereka, bahwa

Karno ketjil dan Bima jang gagah berani adalah satu. Ramalan-emas jang pertamakali diutjapLan oleh ibu

diwaktu aku lahir—jang didengungkan kembali oleh nenekku pada waktu aku masih botjah ketjil dan jang

didengungkan lagi dimasa mudaku oleh Professor Hartagh—kemudian diutjapkan pula ketika aku berada

diambang-pintu usiaku jang keduapuluh. Dan oleh dua orang jang berlainan.

Dr. Douwes Dekker Setiabudi adalah seorang patriot jang telah menderita selama bertahun-tahun dalam

pembuangan. Ketika umurnja sudah lebih dari 50 tahun ia menjampaikan kepada partainja, jaitu Nationaal

Indische Partij, ,,Tuan-tuan, saja tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai saja masuk

keliang-kubur saja ingin mendjadi pedjoang untuk Republik Indonesia. Saja telah berdjumpa dengan pemuda

Sukarno. Umur saja semakin landjut dan bilamana datang saatnja saja akan mati, saja sampaikan kepada

tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saja supaja Sukarno jang mendjadi pengganti saja." ,,Anak muda ini," ia

menambahkan, ,,akan mendjadi 'Djuru-selamat' dari rakjat Indonesia dimasa jang akan datang."Ramalanjang

kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam jang saleh. Dia banjak mempergunakan waktunja

untuk sembahjang dan mendo'a. Setelah beberapa lama melakukan samadi, ia kembali kepada seluruh

keluarganja pada suatu malam jang berhudjan dan ia berbitjara dengan kesungguhan hati? ,,Ikutilah anak

ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk mendjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberinja

tempat berteduh dirumahku." Sepuluh Djuni 1921 aku lulus. Sebelas Djuni rentjana jang telah kuperbuat

untuk diriku sendiri ditolak mentah-mentah. Kawan-kawanku dan aku bermaksud akan meneruskan

peladjaran kesekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu samasekali dengan itu.

Aku bersoal dengan dia. ,,Ibu, semua anak-anak.jang lulus dari H.B.S. dengan sendirinja pergi ke Negeri

Belanda. Itulah djalan jang biasa. Kalau orang mau-memasuki sekolah tinggi dia pergi ke Negeri

Belanda.",,Tidak. Tidak bisa. Anakku tidak akan pergi ke Negeri Belanda," ia memprotes.,,Apa salahnja

keluar negeri ?",,Tidak ada salahnja," katanja. ,,Tapi banjak djeleknja untuk pergi kenegeri Belanda. Apakah

jang menjebabkan kau tertarik?:Pikiran untuk mentjapai gelar universitas ataukah pengharapan akan

mendapat seorang perempuan kulitputih ?",,Saja ingin masuk universitas, Bu." ,,Kalau itu jang kauingini, kau

memasuki jang disini. Pertama kita harus mengingat kenjataan pokok jang mengendalikan sesuatu dalam

hidup kita, Uang. Pergi keluar negeri memerlukan biaja jang sangat besar. Disamping itu, engkau adalah

anak jang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaja engkau tinggal disini diantara bangsa kita sendiri.

Djangan lupa sekali-kali, 'nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah dikepulanan ini." Dan begitulah

aku mendaftarkan diri keuniversitas di Bandung. Mungkin suara ibu jang kudengar. Akan tetapi sesungguhnja

tangan Tuhanlah jang telah menggerakkan hatiku.

Bab 5

Bandung: Gerbang Kedunia Putih

MINGGU terachir bulan Djuni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kotapeladjar

lainnja dan kuakui bahwa aku senang djuga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai

sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Djadi dapat dibajangkan, betapa menjenangkan

masa jang kulalui untak beberapa waktu. Salah satu bagian daripada egoisme ini adalah berkat suksesku

dalam pemakaian petji, kopiah beludru hitam jang mendjadi tanda pengenalku, dan mendjadikannja sebagai

lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terdjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku

meninggalkan Surabaja. Sebelumnja telah terdjadi pembitjaraan jang hangat karena apa jang menamakan

dirinja kaum intelligensia, jang mendjauhkan diri dari saudara-saudaranja rakjat biasa, merasa terhina djika

memakai blangkon, tutup kepala jang biasa dipakai orang jawa dengan sarung, atau petji jang biasa dipakai

oleh tukang betja dan rakjat-djelata lainnja. Mereka lebih menjukai buka tenda daripada memakai tutup

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 28 dari 109

kepala jang merupakaa pakaian sesungguhaja dari orang Indonesia. Ini adalah tjara dari kaum terpeladjar ini

mengedjek dengan-halus terhadap kelas-kelas jang lebih rendah.

Orang-orang ini bodoh dan perlu beladjar, bahwa seseorang tidak akan dapat meminpin rakjat-banjak djika

tidak menjatukan diri dengan mereka. Sekalipun tidak seorang djuga jang melakukan ini diamtara kaurn

terpeladjar, aku memutuskan untuk rnempertalikan diriku dengan sengadja kepada rakjat-djelata. Dalam

pertemuan selandjutnja kuatur untuk memakai petji, pikiranku agak tegang sedikit. Hatiku berkata-kata.

Untuk memulai suatu gerakan jang djantan iseperti ini setjara terang-terangan memang memerlukan

keberanran. Sambil berlindung dibelakang tukang-sate didjalanan jang sudah mulai gelap dan menunggu

kawan-kawan seperdjoangan jang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak

seperti mereka itu orang Barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik. Kemudian aku bersoal dengan diriku

sendiri, ,,Djadi pengikutkah engkau, atau djadi pemimpinkah engkau ?"— ,,Aku pemimpin," djawabku

menegaskan—,,Kalau begitu, buktikanlah," kataku lagi pada diriku. ,,Hajo madju. Pakailah petjimu. Tarik

napas jang dalam ! Dan masuk SEKARANG ! ! !"Begitulah kulakukan. Setiap orang memandang heran padaku

tanpa kata-kata. Disaat itu nampaknja lebih baik memetjah kesunjian dengan buka bitjara, ,,Djanganlah kita

melupakan demi tudjuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakjat dan bukan berada diatas

rakjat."Mereka masih sadja memandang.

Aku membersihkan kerongkongan. ,,Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Petji

jang memberikan sifat chas perorangan ini, seperti jang dipakai oleh pekerdja-pekerdja dari bangsa Melaju,

adalah asli kepunjaan rakjat kita. Namanja malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda 'pet'

berarti kupiah. 'Je' maksudnja ketjil. Perkataan itu sebenarnja 'petje'. Hajolah saudara-saudara, mari kita

angkat- kita punja kepala tinggi-tinggi dan memakai petji ini sebagai lambang Indonesia Merdeka."Pada

waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta-api distasiun Bandung dengan petjiku jang memberikan

pemandangan jang tjantik, maka petji itu sudah mendjadi lambang kebangsaan bagi para pedjoang

kemerdekaan. Kalau sekarang petji itu bagiku lebih rnerupakan sebagai lambang untuk pertahanan diri.

Sesungguhaja, kepalaku kian hari semakin botak. Karena orang Islam diharuskan mentjutji rarnbutnja setelah

dia berhubungan dengan seorang perempuan, maka kawan-kawan menggangguku, ,,Hei Sukarno, itu

barangkali jang membikin Bung botak." Apapun alasannja, aku gembira karena telah mempunjai pandangan

kedepan 44 tahun jang lalu untuk membikin petji ini begitu hebat, sehingga masjarakat sekarang

menganggap tidak pantas djika membuka petji dimuka umum. Pak Tjokro mempunjai seorang kawan lama di

Bandung. Dan orang ini telah sering mendengar tentang pemuda jang rnendapat perlindungan dari Pak

Tjokro.

Ketika aku pindah dari Djawa Timur kedaerah Djawa Barat ini, Pak Tjokio telah meggusahakan tempatiku

menginap dirumah tuan Hadji Sanusi. Aku pergi lebih dulu tanpa Utari untuk mengatur tempat dan melihatlihat

kota, rumah mana jang akan mendjadi tempat tinggal kami selama empat tahun begitulah

menurut.perkiraanku diwaktu itu. Aku merasa hawanja dingin dan wanitanja tjantik-tjantik. Kota Bandung

dan aku dapat saling menarik dalam waktu iang singkat.Seorang laki-laki jang sudah setengah baja jang

memperkenalkan dirinja sebagai Sanusi datang sendiri mendjemputku dan membawaku kerumahnja. Dengan

segera aku mengetahui, bahwa perdjalanan pendahuluan ini tidaklah sia-sia. Sekalipun aku belum memeriksa

kamar, tapi djelas bahwa ada keuntungan tertentu dalam rumah ini. Keuntungan jang utama sedang berdiri

dipintu masuk dalam sinar setengah gelap, bentuk badannja nampak djelas dikelilingi oleh tjahaja - lampu

dari belakang.

Perawakannja ketjil, sekuntum bunga merah jang tjantik melekat disanggulnja dan suatu senjuman jang

menjilaukan-mata. Ia isteri Hadji Sanusi, Inggit Garnasih. Segala pertjikan api, jang dapat memantjar dari

seorang anak duapuluh tahun dan masih hidjau tak berpengalaman, menjambar-njambar kepada seorang

perempuan dalam umur tigapulahan jang sudah matang dan berpengalaman. Disaat pertama aku melangkah

melalui pintu masuk aku berpikir, ,,Aduh,Luarbiasa perempuan ini." Aku sadar, lebih baik aku tjepat-tjepat

berhenti mengingatnja. Karena itu ingatan kepada njonja-rumah itu kubilangkan dari pikiranku—untuk

sementara— kemudian menjuruh datang Utari dan memusatkan pikiran pada persoalan masuk Sekolah Teknik

Tinggi mengedjar gelar Insinjur—bukan untuk merusak perkawinan orang. Diwaktu sekarang kami mempunjai

Universitas Indonesia di Djakarta, Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta, Universitas Airlangga di Surabaja,

Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan dan berlusin-lusin universitas penuh-sesak menurut

kemampuannja. Akan tetapi pada waktu aku memasuki Sekolah Teknik Tinggi kami hanja 11 orang anak

Indonesia. Aku termasuk salah-seorang dari 11 orang jang berrnuka hitam, terapung-apung kian-kemari

dalam Lautan kulitputih berarnbut merah, berdjerawat dan bermata hidjau seperti kutjing. Seperti dugaan

kami, anak-anak Belanda tidak mau tahu dengan kami didalam campus itu. Kalaupun rnereka memberi

perhatian kepada kami, itu hanja untuk membusukkan kami atau menjorakkan, ,,Hei kamu, anak inlander

bodoh, mari sini." Aku tidak tahu kekuatan apa jang ada padaku.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 29 dari 109

Aku hanja tahu, bahwa sekalipun aku tidak mengutjapkan sepatah kata, kehadiranku sadja sudah tjukup

untuk menutup mulut orang-orang jang menghina, lalu menghentikan perintah-perintahnja. Kami

membanting-tulang di Sekolah. Pekerdjaan rumah banjak sekali. Kuliah-kuliah jang diberikan enarn hari

dalam seminggu ditambah dengan udjian tertulis setiap triwulan selama sebulan penuh, sungguh-sunggah

rasanja seperti akan mematahkan tulang-punggung karena bertekun. Waktuku tidak banjak untuk Utari.

Akupun tidak banjak mempunjai persamaan dengan dia. Selagi aku beladjar ilmu pasti, ilmu alam dan

mekanika, jang bernama isteriku itu berada dipekarangan belakang bermain dengan kawan-kawan

perempuannja. Selagi aku mempidatoi perkumpulan pemuda diwaktu malam, baji jang telah kukawini

bergelut dengan seorang anak, kemenakan njonja Inggit. Kami menempuh djalan masing-masing. Dia masih

hidjau sekali. Sifat pemalunja terlalu berkelebihan, sehingga djalang berbitjara denganku, kalaupun

ada.Kami tidur berdampingan disatu tempat-tidur, tapi setjara djasmaniah kami sebagai kakak beradik. Di

Bandung dia djatoh sakit. Sementara dia terbaring dengan pajah aku merawatnja. Berkali-kali aku melap

tubuhnja jang panas dengan alkohol, dari udjung kepala sampai keudjung djari-kakinja, namun tak sekalipun

aku mendjamahnja. Ketika ia sudah pulih kembali antara kamipun tidak terdapat perhubungan djasmani.

Kami bahkan dengan setulus hati tidak mengidamkan satu sama lain dalam arti tjinta antara laki-laki dan

dara jang sebenarnja. Maksudku, dia tidak mernbentjiku dan aku tidak membentjinja, akan tetapi ini

bukanlah perkawinan jang lahir dari perasaan berahi jang menjala-njala. Tidak banjak kesempatan untuk

menggunakan waktu bagi kesenangan diri, oleh karena seluruh djiwa dan ragaku segera penuh dengan

berbagai kesukaran. Setelah tinggal di Bandung selama dua bulan, suratkabar memuat berita-berita besar

tentang kegiatan revolusioner jang terachir, aksi-pemogokan di Garut. Kedjadian ini dianggap sebagai

persoalan afdeling, jaitu persoalan daerah. Pemerintah Kolonial sudah dibikin susah oleh pertumbuhan

Nasionalisme jang pesat. Njamuk tjelaka jang baru mendengung-dengung ditahun 1908 dengan sembojansembojan

politik tanpa kekerasan, sekarang telah mendjadi besar dan mengandung ratjun ketidak-puasan

dengan gigitannja jang mematikan. Para pekerdja sudah diorganisir; rnereka menuntut hak; menuntut

undang-undang perburuhan jang mendjamin djam-kerdja jang lebih pendek daripada 18 djam; menuntut

upah jang pantas dan menuntut suatu masjarakat jang bekerdja tanpa ,,Exploitation de l'homme par

l'homme". Di Indonesia telah bertunas organisasi para pekerdja seperti Persatuan Buruh Gula dan Serikat

Pekerdja Rumah Gadai.

Dalam djaman dimana orang Barat telah mengenal pemogokan sebagai hak dari serikat-serikat buruh untuk

mentjoba memperbaiki nasibnja jang menjedihkan, maka pemerintah Hindia Belanda dalam usahanja untuk

mematikan ,,sifat-radikal" dan ,,Komunisme", sebagaimana mereka menamakannja, mengeluarkan undangundang

baru, Artikel 161. Jaitu larangan terhadap pemogokan. Hukum pidana bahkan sekarang menetapkan,

bahwa barangsiapa jang menghasut seseorang untuk melakukan pemogokan diantjam dengan hukurnan enam

tahun pendjara.Ini sangat menusuk hatiku pribadi, karena para pembesar berkejakinan bahwa pemogokan di

Garut dipupuk oleh Sarekat Islam. Dihari itu djuga mereka menahan Tjokroaminoto. Keluarga Pak Tjokro

sedang berada dalam kekurangan. Penderitaan mereka adalah penderitaanku djuga. Apa akal...... Apa akal

.....Apakah aku akan madju terus dan memikirkan diri sendiri serta apa jang kuharapkan dapat tertjapai

dihari esok ? Ataukah aku akan mundur kebelakang dan memikirkan Pak Tjokro dan apa jang telah

dikerdjakannja untukku dihari kemarin ? Dihadapanku terentang djalan-raja berlapiskan emas jang menudju

kepada idjazah sekolah tinggi. Dibelakangku terhampar djalanan kembali menudju kamar jang gelap dan

kehidupan jang suram. Soalnja adalah mana jang lebihpenting mana jang lebih mudah dapat dikorbankan

oleh seoranganak Bumiputera ? Gerbang menudju dunia putihkah ? Atau mengorbankan kesetiaan kepada

prinsipnjakah ? Bagiku tidak ada kesangsiandjiwa. ,,Saja akan meninggalkan Bandung besok menudju

Surabaja,"dengan tegas kusampaikan kepada njonja Inggit didapur esok paginja. ,,Untuk berapa lama ?"

tanjanja.,,Saja tidak tahu. Barangkali untuk selama-lamanja. Ini tergantung kepada lamanja hukuman Pak

Tjokro. Apakah enam bulan atau dua puluh tahun, selama itu pula saja harus berbuat apa jang harus saja

perbuat." Ia menjediakan kopi tubruk, kopi hitam pekat jang tak dapat kutinggalkan, dan tangannja gemetar

sedikit. ,,Dengan meninggalkan sekolah ada kemungkinan engkau melepaskan segala harapan untuk

mentjapai tjita-tjitamu," hanja itu utjapannja ,,Saja menjadari hal itu.

Saja djuga menjadari, bahwa Pak Tjokro mertuaku. Saja anak tertua dari keluarganja. Tapi soalnja bukan itu

sadja, lebih lagi dari itu. Saja harus berbakti pada orang jang kupudja itu dan kepada prinsipku." ,,Tapi

isterinja jang baru tidak menulis surat kepadamu untuk minta bantuan," ia mengemukakan. ,,Anaknja djuga

tidak memberi kabar apa-apa tentang kesukaran mereka. Malahan tak seorangpun meminta engkau datang.

,,Saja harus pergi. Kurasakan dalam dadaku, bahwa itu mendjadi tugas saja ....Tidak ! Saja rasakan ini

sebagai hak-istimewaku untuk bisa menjelamatkan mertjusuar ini jang telah menundjukkan djalan

kepadaku."Aku memperhatikan bubuk kopi turun hingga ia mengendap kedasar tjangkir. ,,Saja mendapat

kabar, bahwa penahanan terhadap Pak Tjokro dua hari jang lalu itu tidak diduga samasekali. Belanda

mendadak menggedor rumahnja ditengah malam buta dan menggiringnja dengan udjung bajonet kedalam

tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga jang ditjintainja.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 30 dari 109

Dan tak seorangpun jang akan mengawasi mereka.,,Djadi nampaknja djelas bagimu, bahwa dari semua

pengikutnja jang djumlahnja-djutaan orang itu hanja engkau jang akan memikul kewadjiban itu diatas

pundakmu ?" ,,Ja, itu kewadjiban saja. Dia mergulurkan tangannja pada waktu saja memerlukan rumah dan

tempat berteduh. Sekarang saja harus berbuat begitu pula kepadanja Mengediar kehidupan sendiri,

sementara orang jang sudah diakui keluarga berada dalam kesusahan bukanlah tjara orang Indonesia."

,,Maksudmu," katanja lunak, ,,Bahwa itu bukanlah tjara Soekarno."Dipagi itu djuga aku rnelaporkan

keberhentianku mengikuti kuliah. Presiden dari Sekolah Teknik Tinggi, Professor Klopper, rupanja kuatir

terhadap tindakanku ini. ,,Sudah mendjadi kebiasaanmu, bahwa seluruh keluarga memberikan korban

mereka untuk meneruskan pendidikan dari salah-seorang anggotanja jang berbakat, bukan ?" ia menanjaku

dengan ramah.,,Ja, tuan. Saja kira, bahkan kelaparanpun tak dapat mentjegah keluarga saja mengadakan

biaja jang perlu bagi pendidikan anaknja. Sebagai mantri-guru bapak membanting tulang seperti pekerdja

lainnja.

Ibu duduk berdjam-djam lamanja melukis kain batik sampai tengah malam hingga pelita dan pemandangan

matanja mendjadi samar. Supaja dapat mengumpulkan dengan susah-pajah uang 300 rupiah untuk uangkuliah

setahun, orangtua saja baru-baru ini menambah orang bajar-makan. Kakak saja dan suaminja djuga

membantu setiap bulan.",,Kalau dibelakang hari," Professor Klopper melandjutkan, ,,;Engkau hanja

ditempatkan sebagai pekerdja dilapangan, bagaimana engkau membajar kembali kepada orang-orang jang

menjokongmu selama beladjar ?",,Itu bukanlah kebiasaan kami," aku menerangkam ,,Mereka akan marah

kalau saja mentjoba jang demikian. Tjara kami sebaliknja. Kami harus selalu bersedia membantu orang jang

pernah menolong kita diwaktu ia memerlukannja. Itulah jang dinamakan gotong-rojong. Saling membantu.

Dan karena itulah saja harus pulang." Dihari berikutnja aku mengumpulkan isteriku, mengumpulkan

segalaharapan dan idamanku dan membawa semua ia pulang ke Surabaja. Supaja dapat membantu

rumahtangga aku bekerdja sebagai klerk distasiun kereta-api. Kedudukanku adalah sebagai ,,Raden

Sukarno,'- BKL. Der Eerste Klasse. Eerste Categorie."

Sebagai seorang klerk kantor kelas satu golongan satu aku menelan uap dan asap selama tudjuh djam dalam

sehari, karena kantorku jang tidak dimasuki hawa bersih berhadapan dengan rel dari pelataran stasiun jang

menjedihkan. Tugas beratku jang utama adalah membuat daftar gadji untuk para pekerdja. Oleh karena

bekerdja sehari penah, aku tidak punja kesempatan mengulangi peladjaran. Akan tetapi ada baiknja, karena

tempat jang luarbiasa ramainja ini mendjadi tempat keluar-masuk kereta-api jang datang dari kota-kota lain

seperti Madiun, Djogja, Malang, Bandung dan aku dapat berhubungan dengan massa pekerdja. Tak pernah

aku menjia-njiakan kesempatan untuk menaburkan bibit Nasionalisme.Aku menerima 165 rupiah sebulan. 125

kuserahkan kepada ketuarga Pak Tjokro. Diwaktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka

menonton film dengan apa jang masih tersisa dari uangku jang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang barang

ketjil seperti kartu-pos bergambar. Hanja ini jang dapat kuadakan, akan tetapi besar artinja bagi mereka.

Kuberikan pakaianku untuk dipakai. Aku mendjaga disiplin mereka dengan pukulan sandal pada belakangnja.

Aku mendjalankan segala tugas orangtua, sampai kepada menjunatkan Anwar. Aku sendiri mentjari obat,

mentjari orang alim dan menjelenggarakan selamatannja. Bertahun-tahun kemudian, setelah Anwar

mendjadi seorang tokoh politik, aku mengganggunja, ,,Nah, djangan kaulupakan, akulah jang

menjunatkanmu."Pada waktu Pak Tjokro didjatuhi hukuman karena persoalan politik, Belanda melarang

anak-anaknja untuk melandjutkan sekolah. Djadi, Sukarnolah jang mengadjar mereka. Akupun mengadjar

mereka menggambar. Untuk membeli kertas atau batutulis tidak ada uang, akan tetapi dinding rumah di

Djalan Plambetan dipulas dengan kapur putih. Bukankah dinding putih baik untuk digambari ? Maka

kugambarkan dari luar kepala gambar persamaan,dan karikatur dari bintang film kesajanganku, Frances

Ford. Terlepas dari persoalan apakah kami mendjadi tokoh- tokoh politik dimasa-masa jang akan datang atau

tidak, maka pada waktu itu sesungguhnjalah kami merupakan suatu rumahtangga jang terdiri dari anak-anak

jang ketakutan dan lapar dalam arti jang murni. Dan Aku ? Aku adalah jang paling besar, hanja itu.

Pak Tjokro dibebaskan pada bulan April 1922. setelah tudjuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bulan Djuli,

pada waktu mulai tahun peladjaran baru setjara resmi, aku kembali ke Sekolah Teknik Tinggi dan kembali

kepada njonja Inggit. Utari dan aku tidak dapat lebih lama menempati satu tempat-tidur, bahkan satu

kamarpun tidak. Djurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seorang jang baru kawin kasih sajangku

kepadanja hanja sebagai kakak. Sebagai kepala rumahtangga dari Pak Tjokro perananku sebagai seorang

bapak. Jang tidak dapat dibajangkan sekarang adalah peraaanku sebagai seorang suami. Aku telah

memperhatikan, kalau engkau membelah dada seseorang termasuk aku sendiri maka akan terbatja dalam

dadanja itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tertjapai apabila si isteri merupakan perpaduan

dari pada seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin di ibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek,

aku ingin dipidjitnja. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan jang dimasaknja sendiri. Manakala

badjuku kojak, aku ingin isteriku menarnbalnja. Dengan Utari keadaannja terbalik. Aku jang mendjadi orang

tuanja, dia sebagai anak.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 31 dari 109

Ia bukan idamanku, oleh karena tidak ada tarikan lahir dan dalam kenjataan kami tak pernah saling

mentjintai. Sebagai teman seperdjuangan, orang jang demikian tidak sanggup menemaniku pada waktu

tenagaku terpusat pada penjelamatan dunia ini, sedang dia sementara itu main bola-tangkap. Sudah

mendjadi suatu kebiasaanku untuk menoleh kepada seorang wanita supaja hatiku dapat terhibur. Kalauharus

diadakan pilihan antara wanita jang memiliki tangan jang tjantik dengan seorang jang memiliki hati jang

lembut, maka aku seringkali tertarik pada jang terachir ini. Aku tidak lebih mengutarnakan hubungan lelakiperempuan,

akan tetapi aku memerlukan hati jang lembut dan dorongan jang besar dan mulia jang hanja

dapat diberikan oleh hati seorang wanita. Inggit dan aku berada bersama-sama setiap malam. Aku adalah

orang jang selalu bangun dan membatja. Inggitpun lambat pergi tidur karena harus menjiapkan makan untuk

hari berikutnja. Dia selalu ada disekelilingku. Dia adalah njonja rumah. Aku orang bajar-makan. Kami

berteduh dibawah atap jang sama. Aku melihatnja dipagi hari sebelum ia menggulung sanggulnja. Dia

melihatku dalam pakaian pijama. Aku senantiasa makan bersama-sama dengan dia. Memakan makanan jang

dimasaknja sendiri. Sajuran seperti lodeh, jaitu sajuran jang dimasak dengan santan pakai tjabe jang

kusenangi atau ontjom jang djuga kusukai ataupun makanan lain jang chusus dibuatnja untuk menjenangkan

hatiku. Dia itulah bukan isteriku jang membereskan karnarku, melajaniku, memperhatikan pakaianku dan

mendengarkan buah-pikiranku. Dialah orang jang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.

Tuan Sanusi orang jang sudah berumur dan samasekali tidak peduli terhadap isterinja. Seorang pendjudi

dengan kegemarannja jang luarbiasa main biljar. Setiap malam ia berada dirumah bola untuk mentjobakan

ketjakapannja. Pada praktekola mereka bertjerai disatu rumah. Rumahtangga mereka tidak berbahagia.

Sebagai suami-isteri, mereka serumah, lain tidak. Lalu masuklah kedalam lingkungan ini seorang muda jang

bernafsu dan berapi-api. Ia sangat tertarik kepadanja. Ia melihat dalam diri perempuan itu seorang wanita

jang sadar, bukan kanak-kanak, seperti jang satunja jang masih main kutjing-kutjingan diluar. Keberanian ini

mulai bangkit. Aku seorang jang sangat kuat dalam arti djasmaniah dan dihari-hari itu belum ada

televisi......hanja Inggit dan aku dirumah jang kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannja tidak

betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan adalah wadjar, bahwa hal-hal jang demikian itu tumbuh. Inggit

dan aku banjak mengalami sast-saat jang menjenangkan bersama-sama. Kami keduanja mempunjai

perhatian jang sama. Dan barangkali djuga..... jah, kami keduanja bahkan sama mentiintai Sukarno.

Disamping hakekatnja sebagai seorang perempuan, diapun memudja Sukarno setjara menghambakan diri

samasekali dan membabi-buta baik atau buruk, benar atau salah. Tidak lain dalam hidupnja ketjuali Sukarno

serta segala apa jang mendjadi pikiran, harapan dan idaman Sukarno. Aku berbitjara dia mendengarkan.

Aku berbitjara dengan sangat gembira; dia menghargai. Utari menjadari-apa jang terdjadi, akan tetapi ia

mengetahui, bahwa persatuan kami tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia tidak pernah mengenalku

dalam arti suami-isteri jang sebenarnja, maka tidak timbul iri hati dari pihaknja. Hadji Sanusipun

mengetahui apa jang sedang berkembang, akan tetapi perkawinannja sudah sedjak lama rusak. Aku tidak

merasa bahwa aku merebutnja dari sang suami ataupun merusak suatu rumahtangga jang berbahagia,

sebagaimana jang dikatakan oleh madjalah madjalah luar negeri. Tidak ada sesuatu jang akan dirusakkan.

Bahkan Sanusi sendiripun tidak ada usaha untuk merebut hati isterinja lagi. Tanpa mendramakannja dengan

teliti, kukira tentu ada bersembunji perasaan-perasaan bersalah. Aku tidak ingat betul, apakah aku meng

alaminja sedemikian banjak ketika itu ataukah aku rnengeluarkannja sekarang sebagai usaha untuk

menerangkan tindakan-tindakan itu. Akupun tidak tahu, bagaimana perasaan rakjatku mengenai Presidennja

jang membitjarakan ini sarnpai sedemikian djauh . Aku tidak menghendaki mereka mendjadi malu.

Anggaplah, karena peristiwa pertjintaan sedang tumbuh diwaktu itu aku mentjoba menganalisa

kedjahatannja. Dan aku tidak pernah berhenti menganalisanja. Kumaksud bukan affair Inggit sadja. Jang

kumaksud adalah seluruh kehidupanku. Seakan aku menganalisa setjara abadi kekuatan-kekuatan jang ada

dalam diriku. Dan kekuatan-kekuatan jang ada disekelilingku. Otakku dan djiwaku selalu bernjala-njala

dengan perdjuangan jang tak habis-habis antara jang baik dan jang djahat. Setelah enam bulan berada di

Bandung aku sendiri rnembawa Utari pulang kerumah bapaknja. ,,Pak," kataku. ,,Saja mengembalikan Utari

kepada bapak." ,,Keputusan siapa ini ?" tanja Pak Tjokro. ,,Saja, Pak. Sajalah jang ingin bertjerai. "Kemudian

ia hanja bertanja, ,,Apakah dia menerima keputusanmu?"Aku mendjawab, ,,Ja. Dia sudah tentu susah

karena, walaupun bagaimana, anak-anak gadis kita menganggap pertjeraian itu suatu kernunduran.

Dia barangkali merasa sedikit bingung, sebab selama dua tahun kami kawin aku tak pernah menjentuhnja.

Sebenarnja dia tidak ingin bertjerai, akan tetapi diapun menjadari bahwa djalan inilah jang paling baik bagi

kami berdua."Pak Tjokro mengangguk diam. ,,Pak, saja menunggu sampai bapak keluar dari tahanan untuk

menjampaikan hal ini. Perkawinan kami sudah tidak baik dari permulaannja dan tidak akan baik untuk

seterusnja. Tanpa pertjeraian tidak dapat dibina perkawinan jang berbahagia."Pak Tjok menghargai apa jang

kukatakan. Ia tidak menanjakan persoalan-persoalan pribadi. Dan setelah kedjadian ini Pak Tjokro

sekeluarga dan aku selalu dalam hubungan jang baik. Hubungan kami tetap seperti sebelumnja. Apa jang

kuutjapkan setjara resmi hanjalah, ,,Saja djatuhkan talak satu kepadarnu," dan perkawinan kami berachir.

Djadi, tjara kami bertjerai ringkas sadja. Tidak melalui banjak prosedur. Dalarn agama Islam terdapat tiga

tingkatan pertjeraian. Talak satu masih membuka djalan untuk rudjuk kembali-dalarn tempo 100 hari. Talak

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 32 dari 109

dua, tingkat jang lebih kuat dari jang pertama, mengulangi maksud untuk bebas dari isterirnu, akan tetapi

masih mernbuka kesempatan sedikit sekiranja masih ingin bergaul dengan dia.

Tingkat terachir adalah untuk menjatakan, ,,Saja tjeraikan engkau." Setelah talak tiga ini djatuh, hubungan

perkawinan sudah diputuskan dengan resmi dan sisuami tidak dapat mengawini kembali isterinja itu,

ketjuali.djika susteri kawin dulu sementara dengan laki-laki lainja. Hukurn Islam tidak mengizinkan

perempuan mentjeraikan lakinja. Pun tidak dapat menolak untuk ditjeraikan. Tentu sadja kalau suaminja

sangat kedjam dan ia mengadu kepada Kadi, ,,Suami saja memukul saja," atau kalau dia bersumpah, ,,Dia

tidak pernah datang kepada saja dan menurut kenjataan dia tidak pernah mempergauli saja selama

berbulan-bulan," dan memohon kepada Kadi supaja mengizinkannja bertjerai atas alasan jang tertentu itu,

maka Kadi itu dapat mentjeraikannja. Hakim agama ini mempunjai kekuasaan untuk memberi izin guna

meringankan keadaan.ni menurut Nabi Muhammad s.a.w. Hukum-Hukum Islam diadakan dipadang-pasir. Dan

dimana dipadang-pasir orang bisa mentjari ahli hukum atau Surat Pertjeraian ? Itulah sebabnja mengapa

kami tidak mempunjai aturan seperti di Barat. Djadi, ditahun 1922, aku hanja menjerahkan pengantinku jang

masih kanak-kanak itu kepada bapaknja, dan itulah seluruhnja.

Aku kembali ke Bandung dan kepada tjintaku jang sesungguhnja. Suatu malam, setelah kami bersama-sama

selama satu tahun, aku mengusulkan. Ini adalah usul jang sangat sederhana. Kami hanja berdua seperti biasa

dan aku berkata pelahan, ,,Aku mentjintaimu." Dia. ,,Akupun begitu," keluar tjepat dari mulutnja. Aku ingin

mengawinimu" kubisikkan.,,Akupun ingin mendjadi isterimu," dia membalas berbisik.,,Apakah menurut

pendapatmu kita akan rnendapat kesulitan ?",,Tidak," katanja lunak. ,,Aku akan bitjara dengan Sanusi

besok."Sanusi mau bekerdja-sama. Dalam tempo jang singkat Inggitpun bebas. Tidak terdjadi adegan jang

serarn seperti dilajar-putih. Kukira dia merasa, bahwa iniiah djalan jang paling baik ditempuh. Setelah itu

Inggit, dia dan aku senantiasa dalam hubungan jang baik. Kenjataannja, tidak lama kemudian dia kawin lagi.

Dalam waktu jang singkat Utaripun kawin dengan Bachrum Salam, kawan sama-sama bajar-makan dirumah

Pak Tjokro. Mereka memperoleh delapan orang anak dan ketika buku ini ditulis mereka masih mendjadi

suami-isteri. Djadi nampak kedua belah pihak tidak begitu merasa luka. Inggit dan aku kawin ditahun 1923.

Keluargaku tak pernah menjuarakan satu perkataan mentjela ketika aku berpindah dari isteriku jang masih

gadis kepada isteri lain jang selusin tahun lebih tua daripadaku. Apakah mereka menekan perasaannja

karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah - mengetahuinja. Inggit jang

bermata besar dan memakai geIang ditangan itu tidak mempunjai masa lampau jang gemilang. Dia

samasekali tidak terpeladjar, akan tetapi intellektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang

perempuan. Jang kuhargai adalah kemanusiaannja. Perempuan ini sangat mentjintaiku. Dia tidak

memberikan pendapat-pendapat. Dia hanja memandang dan menungguku, dia mendorong dan memudja. Dia

memberikan kepadaku segala sesuatu jang tidak bisa diberikan oleh buku. Dia memberiku ketjintaan,

kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa jang kuperlukan jang tidak dapat

kuperoleh semendjak aku meninggalkan rumah ibu. Psychiater akan mengatakan bahwa ini adalah pentjarian

kembali kasih-sajang ibu.

Mungkin djuga, siapa tahu. Djika aku mengawininja karena alasan ini, maka ia terdjadi setjara tidak sadar.

Dia. waktu itu dan sekarangpun masih seorang perempuan jang budiman. Pendeknja, kalau dipikirkan setjara

sadar, maka perasaan-perasaan jang dibangkitkannja padaku tidak lain seperti pada seorang kanak-kanak.

Inggit dalam masa selandjutnja dari hidupku ini sangat baik kepadaku. Dia adalah ilhamku. Dialah

pendorongku. Dan aku segera memerlukan semua ini. Aku sekarang sudah mendjadi mahasiswa ditingkat

kedua. Aku sudah kawin dengan seorang perempuan jang sangat kuharapkan dengan perasaan berahi. Aku

sekarang sudah melalui umur 21 tahun. Masa djedjakaku sudah berada dibelakangku. Tugas hidupku

merentang didepanku. Pikiran embryo jang dipupuk oleh Pak Tjokro dan mulai menemakan bentuk di

Surabaja tiba-tiba petjah mendjadi kepompong di Bandung dan dari keadaan chrysalis berkembanglah

seorang pedjuang politik jang sudah matang. Dengan Inggit berada disampingku aku melangkah madju

memenuhi amanat menudju tjita-tjita.

Bab 6

Marhaenisme

AKU baru berumur 20 tahun ketika suatu ilham politik jang kuat menerangi pikrranku. Mula-mula ia hanja

berupa kuntjup dari suatu pemikiran jang mengorek-ngorek otakku, akan tetapi tidak lama kemudian ia

mendjadi landasan tempat pergerakan kami berdiri. Dikepulauan kami terdapat pekerdja-pekerdja jang

bahkan lebih miskin daripada tikus-geredja dan dalam segi keuangan terlalu menjendihkan untuk bisa

bangkit dibidang sosial, politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian masing-masing mendjadi madjikan

sendiri. Mereka tidak terikat kepada siapapun. Dia mendjadi kusir gerobak kudanja, dia mendjadi pemilik

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 33 dari 109

dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerdjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelajan-nelajan jang

bekerdja sendiri dengan alat-alat—seperti tongkat-kail, kailnja dan perahu— kepunjaan sendiri. Dan

begitupun para petani jang mendjadi pemilik tunggal dari sawahnja dan pemakai tunggal dari hasilnja.

Orang-orang sematjam ini meliputi bagian terbanjak dari rakjat kami. Semua mendjadi pemilik dari alat

produksi mereka sendiri, djadi mereka bukanlah rakjat proletar. Mereka punja sifat chas tersendiri.

Mereka tidak termasuk dalam salahsatu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnja

? Itulah jang mendjadi renunganku berhari-hari, bermalam-malam dan berbulan-bulan. Apakah sesungguhnja

saudaraku bangsa Indonesia itu ? Apakah namanja para pekerdja jang demikian, jang oleh ahli ekonomi

disebut dengan istilah ,,Penderita Minimum" ?- Disuatu pagi jang indah aku bangun dengan keinginan untuk

tidak mengikuti lculiah—ini bulcan tidak sering terdjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik,

sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi.

Sementara mendajung sepeda tanpa tudjuan—sambil berpikir—alcu sampai dibagian selatan kota Bandung,

suatu daerah pertanian jang padat dimana orang dapat menjaksikan para petani mengerdjakar. sawahnja

jang ketjil, jang masing-masing luasnja kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena boberapa hal perhatianku

tertudju pada seorang petani jang sedang mentjangkul tanah mrliknja. Dia seorang diri. Pakaiannja sudah

lusuh. Gambaran jang chas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakjatku. Aku berdiri disana sedjenak

memperhatikannja dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa jang ramah, maka aku

mendekatinja. Aku bertanja dalam bahasa Sunda, ,,Siapa jang punja semua jang engkau kerdja-kan sekarang

ini ?"

Dia berkata kepadaku, ,,Saja, djuragan."

Aku bertanja lagi, ,,Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?"

,,0, tidak, gan. Saja sendiri jang punja."

,,Tanah ini kaubeli ?"

,,Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun."

Ketika ia terus menggali, akupun mulai menggali.........aku menggali setjara mental. Pikiranku mulai

bekerdja. Aku memikirkan teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, tanjaku semakin bertubi-tubi pula.

,,Bagairnana dengan sekopmu ? Sekop ini ketjil, tapi apa-ka'il kepunjaanmu djuga ?"

,,Ja, gan."

,,Dan tjangkul ?"

,,Ja, gan."

,,Badjak ?"

,,Saja punja, gan."

,,Untuk siapa hasil jang kaukerdjakan ?"

,,Untuk saja, gan."

,,Apakah tjukup untuk kebutuhanmu ?"

Ia mengangkat bahu sebagai membela diri. ,,Bagaimana sawah jang begini ketjil bisa tjukup untuk seorang

isteri dan empat orang anak ?"

,,Apakah ada jang didjual dari hasilmu ?" tanjaku.

,,Hasilnja sekedar tjukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnja untuk didjual."

,,Kau mempekerdjakan orang lain ?"

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 34 dari 109

,,Tidak, djuragan. Saja tidak dapat membajarnja."

,,Apakah engkau pernah memburuh ?"

,,Tidak, gan. Saja harus membanting-tulang, akan tetapi djerih-pajah saja semua untuk saja."

Aku menundjuk kesebuah pondok ketjil, ,,Siapa jang punja rumah itu ?"

,,Itu gubuk saja, gan. Hanja gubuk ketjil sadja, tapi kepunjaan saja sendiri."

"Djadi kalau begitu," kataku sambil menjaring pikiranku sendiri ketika kami berbitjara, "Semua ini engkau

punja ?"

"Ja, gan."

Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia menjebut namanja. ,,Marhaen." Marhaen adalah nama

jang blasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu

untuk rnenamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu ! Semendjak itu kunamakan rakjatku

rakjat Marhaen. Selandjutnja dihari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah pengertianku jang baru.

Aku memperlantjarnja. Aku mempersiapkan kata-kataku dengan hati-hati. Dan malamnja aku memberikan

indoktrinasi mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku.,,Petani-petani kita mengusahakan bidang tanah

jang sangat ketjil sekali.

Mereka adalah korban dari sistim feodal, dimana pada mulanja petani pertama diperas oleh bangsawan jang

pertama dan seterusnja sampai keanak-tjutjunja selama berabad-abad. Rakjat jang bukan petanipun

mendjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-mojangnja telah dipaksa untuk

hanja bergerak dibidang usaha jang ketjil sekedar bisa memperpandjang hidupnja. Rakjat jang mendjadi

korban ini, jang meliputi hampir seluruh penduduk Indonesia, adalah Marhaen." Aku menundjuk seorang

tukang gerobak, ,,Engkau....... engkau jang disana. Apakah engkau bekerdja dipabrik untuk orang lain

?",,Tidak," katanja.,,Kalau begitu engkau adalah Marhaen." Aku menggerakkan tangan kearah seorang tukang

sate. ,,Engkau...... engkau tidak punja pembantu, tidak punja madjikan engkau djuga seorang Marhaen.

Seorang Marhaen adalah orang jang mempunjai alat-alat jang sedikit, orang ketjil dengan milik ketjil,

dengan alat-alat ketjil, sekedar tjukup untuk dirinja sendiri. Bangsa kita jang puluhan djuta djiwa, jang

sudah dimelaratkan, bekerdja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerdja untuk dia. Tidak ada

penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Marhacnisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek."

Perkataan ,,Marhaenisme" adaiah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami. Begitupun

nama tanah-air kami harus mendjadi lambang. Perkataan ,,Indonesia" berasal dari seorang ahli purbakala

bangsa Djerman bernama Jordan, jang beladjar dinegeri Belanda. Studi chususnja mengenai Rantaian

Kepulauan kami. Karena kepulauan ini setjara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah ,,Kepulauan

dari India". Nesos adalah bahasa Junani untuk perkataan pulau-pulau, sehingga mendjadi Indusnesos jang

achirnja mendjadi Indonesia.

Ketika kami merasakan perlunja untuk menggabungkan pulau-pulau kami rnendjadi satu kesatuan jang besar,

kami berpegang teguh pada nama ini dan mengisinja dengan pengertian-pengertian politik hingga iapun

mendjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terdjadi ditahun 1922-1923. Dalam tahun-tahun inilah,

ketika kami sebagai bangsa jang dihinakan diperlakukan seperti sampah diatas bumi oleh orang jang

menaklukkan kami. Karni tidak dibolehkan apa-apa. Ditindas dibawah tumit pada setiap kali, bahkan kami

dilarang mengutjapkan perkataan ,,lndonesia". Telah terdjadi sekali ditengah berapi-apinja pidatoku, kata

,,lndonesia" melompat dari mulutku.

,,Stop........stop........."perintah polisi. Mereka meniup peluitnja. Mereka memukulkan tongkatnja.

,,Dilarang samasekali mengutjapkan perkataan itu ...........hentikan pertemuan " Dan pertemuan itu dengan

segera dihentikan. Di Surabaja aku tak ubah seperti seekor burung jang mentjari-tjari tempat untuk

bersarang. Akan tetapi di Bandung aku sudah mendjadi dewasa. Bentuk fisikku berkembang dengan

sewasjarnja. Bintang matinee Amerika jang mendjadi idaman didjaman itu adalah Norman Kerry dan, supaja

kelihatan lebih tua dan lebih ganteng, aku memelihara kumis seperti Kerry. Tapi sajang, kumisku tidak

melengkung keatas pada udjung-udjungnja seperti knmis bintang itu. Dan isteriku menjatakan, bahwa

Charlie Chaplinlah jang berhasil kutiru. Achiroja usahaku satu-satunja untuk meniru seseorang berachir

dengan kegagalan jang menjedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Ditahun

1922 aku untuk pertamakali mendapat kesukaran. Ketilka itu diadakan rapat besar disuatu lapangan terbuka

dikota Bandung. Seluruh lapangan menghitam oleh manusia. Ini adalah rapat Radicale Concentratie, suatu

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 35 dari 109

rapat raksasa jang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan sehingga walcil-wakil dari setiap partai

jang ada dapat berkumpul bersama untuk satu tudjuan, jaitu memprotes berbagai persoalan sekaligus.

Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanja mendengarkan. Akan tetapi tiba-tiba

terasa olehku suatu dorongan jang keras untuk mengutjapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku

sendiri. Mereka semua membitjarakan omongkosong.

Seperti biasa mereka meminta-minta. Mereka tidak menuntut.Naiklah tangan jang berapi-api dari Sukarno,

mertjusuar dari Perkumpulan Pemuda, untuk minta izin ketua agar diberi kesempatan berpidato dihadapan

rapat.,,Saja ingin berbitjara," aku berteriak.,,Silakan," ketua berteriak kembali.Disana ada P.I.D., Polisi

Rahasia Belanda, jang bersebar disegala pendjuru Tepat dimukaku berdiri seorang polisi bermuka merah

mengantjam dan berbadan besar. Ini adalah alat jang berkuasa jaitu kulitputih. Hanja dia sendiri jang dapat

menjetopku. Dia seorang dirinja, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinja, dengan kekuasaan jang ada

padanja dapat mentjerai-beraikan pertemuan kami dan mendjebloskanku kedalam tahanan. Akan tetapi aku

masih muda, tidak mau peduli dan penuh semangat. Djadi naiklah aku kemimbar dan mulai berteriak,

,,Mengapa sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak ? Ia meledak oleh karena lobang kepundannja

tersumbat Ia meledak oleh karena tidak ada djalan bagi kekuatan-kekuatan jang terpendam untuk

membebaskan dirinja. Kekuatan-kekuatan jang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit

dan...........DORRR. Keseluruhan itu meletus.,,Kedjadian ini tidak ada bedanja dengan Gerakan Kebangsaan

Icita Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mentjari djalan keluar bagi

perasaan-perasaan kita jang sudah penuh, maka saudara-saudara, njonja-njonja dan tuan-tuan, suatu saat

akan terdjadi pula ledakan dengan kita..Dan rnanakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang

keudara. Dengan ini saja menantang Pemerintah Kolanial jang membendung perasaan kita.

Dari sudut mataku aku melihat Komisaris Polisi itu menudju kedepan untuk mentjegahku terus berbitjara,

akan tetapi aku begitu bersemangat dan menggeledek terus.,,Apa gunanja kita putulan ribu banjaknja

berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri

memohon kepada 'Pemerintah' untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita

? Bukankah itu suatu Politik Berlutut ? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Jang

Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, jang dengan rnemakai dasi hitam menerima delegasi jang

membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja

suatu petisi ? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri....memohon, merendah

diri memohon.........Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.

,,Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan

tetapi gerakan kita adalah gerakan jang meminta-minta. Tak satupun jang pernah diberikannja karena

kasihan. Marilah kita sekarang mendjalankan politik pertjaja pada diri sendiri dengan tidak mengemisngemis.

Hajo kita berhenti mergemis. Sebalikn.ja, hajo kita berteriak, ,,Tuan Imperialis, inilah jang karni

TUNTUT !"Kemudian, polisi-polisi jang mahakuasa dan mahakuat ini, jang punja kekuasaan untuk

menghentikan rapat ini, bertindak. Mereka menjetop rapat dan menjetopku. Heyne, Kepala Polisi Kota

Bandung, sangat marah. Sambil menjiku kanan-kiri melalui rakjat jang berdiri berdjedjal-djedjal, ia

melompat keatas mimbar, menarikku kebawah dan mengumumkan, ,,Tuan Ketua, sekarang saja menjetop

seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !"

Begitu pertamakali Sukarno membuka mulutnja, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan tjepat

aku mendjadi buah-tutur orang dan setiap orang mengetahui nama Sukarno. Aku memperoleh inti pengikut

jang kuat. Akan tetapi, sajang, akupun mengembangkan pengikut jang baniak diantara polisi Belanda.

Kemanapun aku pergi mereka ikuti.

Maka mendjalarlah dari mulut kemulut: ,,Di Sekolah Teknik Tinggi ada seorang pengatjau. Awasi dia."

Dengan satu pidato si Karno—jang pendiam, jang suka menarik diri dan ditjintai membuat musuh-musuh

djadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah ditjoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku jang

pertama ini menimbulkan kegemparan hebat, sehingga aku segera dipanggil kekantor Presiden universitas.

,,Kalau engkau ingin melandjutkan peladjaran disini," Professor Klopper memperingatkan, ,Engkau harus

bertekun pada studimu. Saja tidak keberatan djika seorang mahasiswa mempunjai tjita-tjita politik, akan

tetapi haruslah diingat bahwa ia pertama dan paling utama memenuhi kewadjiban sebagai seorang

mahasiswa. Engkau harus berdjandji, mulai hari ini tidak akan ikut-tjampur dalam gerakan politik."Aku tidak

berdusta kepadanja. Aku menerangkan persoalanku dengan djudjur. ,,Professor, apa jang akan saja

djandjikan ialah, bahwa saja tidak akan melalaikan peladjaran-peladjaran jang tuan berikan dalam

kuliah.",,Bukan itu jang saja minta kepadamu.",,Hanja itu jang dapat saja djandjikan, Professor.

Akan tetapi djandji ini saja berikan dengan sepenuh hati. Saja berdjandji dengan kesungguhan hati untuk

menjediakan letih banjak waktu pada studi saja." Ia sangat baik mengenai hal ini. ,,Apakah kata-katamu

dapat saja pegang, bahwa engkau akan berhenti berpidato dalam rapat umum selama masih dalam studi

?",,Ja, Professor," aku berdjandji, ,,Tuan memegang utjapan saja jang sungguh-sungguh."Dan djandji ini

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 36 dari 109

kupegang teguh. Berbitjara dihadapan massa bagiku lebih daripada segala-galanja untuk mana aku hidup.

Oleh karena aku tidak dapat berbitjara membangkitkan semangat rakjatdjelata dalam keadaan sesungguhnja

maka kulakukanlah ini dalam chajalan. Pada suatu malam rumah Inggit jang disediakan djuga untuk bajarmakan

penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat-tidurku dengan seorang peladjar.

Ditengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu jang bernjala-njala, seakanakan

aku berbitjara dihadapan 10.000 orang jang bersorak-sorai dengan gegap-gempita. Sambil berdiri tegak

aku menganggap tempat-tidurku sebagai mimbar dan aku mulai menggegapgeletar.,,Engkau tahu apakah

Indonesia ?" aku berteriak kepunggung temanku setempat-tidur. ,,Indonesia adalah pohon jang kuat dan

indah ini. Indonesia adalah langit jang biru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih jang lamban itu.

Indonesia adalah udara jang hangat ini.",,Saudara-saudaraku iang tertjinta, laut jang menderu memukulmukul

kepantai ditjahaja sendja, bagiku adalah djiwanja Indonesia jang bergerak dalam gemuruhnja

gelombang samudra. Bila kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup

bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah-air kita bagiku."Setelah beberapa djam

mendengarkan perkataanku jang membakar hati, Djoko Asmo lebih memerlukan tidur daripada

mendengarkan golakan perasaanku. Djam dua tengah malam dia tertidur njenjak ditengah-tengah pidatoku

jang mentjatjau. Aku kehabisan tenaga samasekali sehingga ditengah pidato pembelaanku jang bersemangat

akupun terhempas lena. Esok paginja kami baru tahu, bahwa kami lupa mematikan lampu. Kelambu kami

hampir hangus samasekali. Lampu itu menjala sepandjang malam sampai mendjilat kebagian bawah dan

kami kedua-duanja hampir kelemasan oleh udara dan asap jang hebat. Tapi untunglah. Kami tidak turut

terbakar. Terpikir olehku, kalau seseorang hendak mendjadi Djuru selamat daripada bangsanja dikemudian

hari untuk membebaskan rakjatnja, haruslah ia menjelamatkan dirinja sendiri lebih dulu.Aku masih terlalu

banjak menjurahkan waktu untuk pemikiran politik, djadi tak dapatlah diharapkan akan mendjadi mahasiswa

jang betul-betul gemilang. Kenjataan bahwa aku masih dapat melintasi batas nilai sedang sungguh

mengherankan. Siapa jang beladjar ? Bukan aku. Tidak pernah. Aku mempunjai ingatan seperti bajangan

gambar dan dalam pada itu aku terlalu sibuk memompakan soal-soal politik kekepalaku, sehingga tidak

tersisa waktuku untuk membuka buku sekolah. Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku tidak begitu kuat

dalam ilmu pasti.

Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi djangan tanja.

Kleinste Vierkanten atau jang dinamakan Geodesi, sematjam penjelidikan tanah setjara ilrnu pasti dimana

orang mengukur tanah dan beladjar membaginja dalam kaki-persegi, dalam semua ini aku gagal. Untuk

udjian ilmu pasti kuakui, bahwa aku bermain tjurang. Tapi hanja sedikit. Kami semua bermain tjurang

dengan berbagai djalan. Ambillah misalnja peladjaran menggambar konstruksi bangunan. Aku kuat dalam

peladjaran ini. Dalam waktu udjian dosen berdjalan pulang-balik diantara medja-medja memperhatikan

setiap orang. Segera setelah ia berada dibagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnja pada

kami, salah-seorang jang berdekatan mendesis, ,,Ssss, Karno, buatkan bagan untukku, kau mau ?" Aku

bertukar kertas dengan dia. dengan terburu-buru membuat gambar jang kedua dan dengan tjepat

menjerahkan kembali kepadanja. Kawan-kawanku membalas usaha ini dalam peladjaran Kleinste Vierkanten

kalau Professor membuat tiga pertanjaan dipapan-tulis dan hanja memberi kami waktu 45 menit untuk

mengerdjakannja. Kawan-kawan menempatkan kertasnja sedemikian rupa disudut bangku, sehingga aku

dapat dengan mudah menjalin djawabannja. Sudah tentu aku mentjontoh dari mahasiswa jang lebih pandai

dalam ilmu pasti.

Tjara ini bukanlah semata-mata apa jang dinamakan orang berbuat tjurang. Di Indonesia ini adalah wadjar

djika digolongkan dalam apa jang kami sebut kerdja-sama jang erat. Gotong-rojong.Alasan mengapa aku

gagal dan hanja memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik litjik

terhadap kami. Ia mengedjutkan kami dengan udjian lisan, dimana kami menempuhnja satu persatu. Hanja

Professor dan seorang mahasiswa jang ada dalam ruangan. Aku karenanja djatuh.Semua kuliah diadjarkan

dalam bahasa Belanda. Aku berpikir dalam bahasa Belanda. Bahkan sekarangpun aku memaki-maki dalam

bahasa Beianda. Kalau aku mendoa kehadirat Tuhan Jang MahaKuasa, maka ini kulakukan dalam bahasa

Belanda.Kurikulum kami disesuaikan menurut kebutuhan masjarakat pendjadjahan Belanda. Pengetahuan

jang kupeladjari adalah pengetahuan teknik kapitalis. Misalnja, pengetahuan tentang sistim irigasi. Jang

dipeladjari bukanlah tentang bagaimana tjaranja mengairi sawah dengan djalan jang terbaik. Jang diberikan

hanja tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi untuk kepentingan Imperialisme dan

Kapitalisme. Irigasi dipeladjari tidak untuk memberi makan rakjat banjak jang kelaparan, akan tetapi untuk

membikin gendut pemilik perkebunan. Peladjaran kami dalam pembuatan djalan tidak mungkin dapat

menguntungkan rakjat. Djalan-djalan jang dibuat bukan melalui hutan dan antar-pulau sehingga rakjat dapat

berdjalan atau bepergian lebih mudah. Kami hanja diadjar merentjanakan djalan-djalan tambahan

sepandjang pantai dari pelabuhan kepelabuhan, djadi pabrik-pabrik dengan demikian dapat mengangkut

hasilnja setjara maksimal dan komunikasi jang tjukup antara kapal-kapal jang berlajar. Ambillah ilmu pasti.

Universitas manapun tidak memberi peladjaran rantai-ukuran. Kami diberi. Ini adalah sebuah pita jang

pandjangnja 20 meter jang hanja dipakai oleh para pengawas diperkebunan-perkebunan.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 37 dari 109

Diruangan bagan, kalau kami membuat rentjana kota teladan, kamipun harus menundjukkan tempat

kedudukan ,,Kabupaten", jaitu tempat tinggal Bupati jang mengawasi rakjat desa membantingtulang.

Diminggu terachir ketika diadakan pelantikan aku mempersoalkan ini dengan Rector Magnificus dari

Sekolah Teknik Tinggi ini, Professor Ir. G. Klopper M.E.,,Mengapa kami diisi dengan pengetahuanpenyetahuan

jang hanja berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami ?'' tanjaku.,,Sekolah

Teknik Tinggi ini," ia menerangkan, ,,didirikan terutama untuk memadjukan politik Den Haag di Hindia.

Supaja dapat mengikuti ketjepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saja merasa perlu untuk mendidik

lebih banjak insinjur dan pengawas jang berpengalaman.",,Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan

tinggi ini untuk memperkekal polilik Imperialisme Belanda disini ?",,Ja, tuan Sukarno, itu benar," ia

mendjawab. Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghantjurkan

kekuasaan Kolonial, rupanja aku harus berterima-kasih pula kepada mereka atas pendidikan jang kuterima.

Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia jang berhasil bersama-sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei

1926 aku memperoleh promosi dengan gelar ,,Ingenieur". Idjazahku dalam djurusan teknik sipil menentukan,

bahwa aku adalah seorang spesialis dalam pekerdjaan djalan-raja dan pengairan. Aku sekarang diberi hak

untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sardjana teknik kepadaku, Presiden

universitas berkata, ,,Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak

kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang.

Ia akan tetap hidup dalam hati rakjat, sekalipun sesudah mati." Aku tak pernah melupakan kata-kata ini.

Bab 7

Bahasa Indonesia

DJANDJIKU sudah terpenuhi. Pendidikanku sudah selesai. Mulai saat ini untuk seterusnja tidak ada jang akan

menghalang-halangiku mendjalankan pekerdjaan untuk mana aku dilahirkan.Semendjak aku berdiri diatas

djambatan di Surabaja itu dan mendengarkan djeritan rakjatku, aku menjadari bahwa akulah jang harus

berdjuang untuk mereka. Hasrat jang menjala-njala untuk membebaskan rakjatku bukanlah hanja ambisi

perorangan. Djiwaku penuh dengan itu. Ia meliwati sekudjur badanku. Ia mengisi padat lubang hidungku. Ia

mengalir melalui urat-nadiku. Untuk itulah orang mempersembahkan seluruh hidupnja. Ia lebih daripada

hanja sebagai kewadjiban. Ia lebih daripada panggilan djiwa. Bagiku ia adalah satu ............kejakinan.

Menurut para mahaguru thesisku tentang konstruksi pelabuhan dan djalanan-air ditambah dengan teoriku

tentang perentjanaan kota mempunjai ,,nilai penemuan dan keaslian jang begitu tinggi", sehingga untukku

disediakan djabatan sebagai assisten dosen. Aku menolaknja. Djuga ditawarkan pekerdjaan pemerintahan

kota. Inipun kutolak.

Salah-seorang mahaguru, Professor Ir. Wolf Schoemaker, adalah seorang besar. Ia tidak mengenal warnakulit.

Baginja tidak ada Belanda atau Indonesia. Baginja tidak ada pengikatan atau kebebasan. Dia hanja

menundukkan kepala kepada kemampuan seseorang. ,,Saja menghargai ketjakapanmu," katanja. ,,Dan saja

tidak ingin ketjakapan ini tersia-sia. Engkau mempunjai pikiran jang kreatif. Djadi saja minta supaja engkau

bekerdja dengan pemerintah. "Sungguhpun aku keberatan, ia menjerahkanku kepada Direktur Pekerdjaan

Umum jang meminta kepadaku untuk merentjanakan suatu projek untuk perumahan Bupati. Insinjurkepalanja

sudah tentu seorang Belanda jang tidak mengenal samasekali kehidupan orang Indonesia dan

kebutuhannja. Akan tetapi oleh karena aku tidak menghendaki pekerdjaan ini, kusampaikan kepadanja

pendapatku tentang rentjana arsitekturnja, ,,Maafkan saja, tuan, konsepsi tuan didasarkan pada semangat

pedagang rempah-rempah Belanda. Setiap orang Belanda merentjanakan setjara teknis salah. Persil-persil di

Bandung hanja 15 meter lebar dan 20 meter kedalam dan rumah-rumahnja sempit. Kota Bandung

direntjanakan seperti kandang-ajam. Bahkan djalannja sempit, karena ia dibuat menurut tjara berpikir

Belanda jang sempit. Sama sadja dengan projek jang tuan rentjanakan. Ia tidak mempunjai 'Schwung'.

"Karena aku telah menolak pekerdjaan jang diberikan itu, aku merasa wadjib memberi pendjelasan kepada

Professor Schoemaker, ,,Tuan telah menjatakan, bahwa saja dalam ruang-lingkup jang ketjil memiliki dajatjipta.

Jah, saja ingin mentjipta," kataku dengan hebat. ,,Akan tetapi untuk saja sendiri.

Saja tidak jakin dikemudian hari akan mendjadi pembangun rumah. Tudjuan saja ialah untuk mendjadi

pembangun dari suatu bangsa.,,Politik usang dari Gerakan Kebangsaan kami, jaitu mengadakan kerdja-sama

dengan pemerintah dengan tjara mengemis-ngemis, hanja menghasilkan djandji-djandji jang.tidak ditepati.

Dengan usaha saja, kami baru-baru ini memulai politik non-kooperasi. Ini didasarkan pada kehendak pertjaja

pada diri sendiri dan dibidang ekonomi terlepas dari bantuan negara asing."Kawanku itu mendengarkan

dengan tenang, kemudian berkata, ,,Anak muda, hendaknja bakatmu dipergunakan setjara maksimal. Kalau

engkau berdiri sendiri, ini akan memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa madju. Hanja orang-orang

Belanda jang berpangkat tinggi atau pegawai pemerintahlah jang bisa berhasil mengadakan biro arsitek. Dan

mereka tentu keberatan untuk mempekerdjakan seorang muda jang tidak berpengalaman dan djuga

kebetulan berada paling atas dalam daftar-hitam polisi, karena dianggap sebagai pengatjau. Usul saja ini

adalah permulaan jang baik untukmu." Pandangannja itu memang baik. ,,Professor, saja menolak untuk

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 38 dari 109

bekerdja-sama, supaja tetap bebas dalam berpikir dan bertindak. Kalau saja bekerdja dengan pemerintah,

setjara diam-diam saja membantu politik penindasan dari rezim mereka jang otokratis dan monopolistis itu.

Pemuda sekarang harus merombak kebiasaan untuk mendjadi pegawai kolonial segera setelah memperoleh

gelarnja. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama-lamanja."

,,Djangan terima pekerdjaan djangka lama, kalau sekiranja perasaan tidak-senangmu begitu kuat," ia

mempertahankan, ,,Akan tetapi buatlah satu rumah ini sadja untuk Bupati. Tjobalah kerdjakan ............

Kerdjakanlah atas permintaan saja."Aku melakukan sebagaimana jang dimintanja. Pekerdjaan ini sangat

berhasil dan aku dibandjrri dengan permintaan untuk mengerdjakan karja teknik sematjam itu untuk

pedjabat-pedjabat lain. Sungguhpun bantuan uang dari keluargaku sudah tidak ada lagi semendjak aku

selesai dan sekalipun aku tidak mempunjai djalan jang njata untak membantu isteriku, aku menolaknja. Aku

membuat rentjana Kabupaten hanja karena sangat menghargai dan menghormati Professor itu. Akan tetapi

ini adalah jang pertama dan terachir aku bekerdja untuk Pemerintah. Kemudian, ketika Departemen

Pekerdjaan Umum menawarkan kedudukan tetap kepadaku, aku menolaknja dengan alasan bahwa aku

memperdjuangkan non-kooperasi. Aku sangat memerlukan uang dan pekerdjaan.

Aku sudah tidak mempunjai harapan samasekali untuk memperoleh kedua-duanja ini ketika aku mendengar

lowongan disekolah Jajasan Ksatrian jang diselenggarakan oleh pemimpin kebangsaan Dr. Setiabudi. Mereka

mentjari seorang guru jang akan mengadjar dalam dua mata peladjaran. Jang pertama adalah sedjarah,

untuk mana aku sangat berhasrat besar. Mata peladjaran jang lain ? Ilmu pasti ! Dan dalam segala segiseginja

lagi ! Djadi sebagaimana telah kutegaskan dengan segala kedjudjuran jang pahit, kalau ada

matapeladjaran jang samasekali tidak bisa kuatasi, maka itulah dia ilmu pasti. Akan tetapi aku tidak

mempunjai pilihan lain.

Guru jang ditugaskan untuk melakukan tanja-djawab bertanja, ,,Ir. Sukarno, tuan adalah insinjur jang

beridjazah, djadi tentu tuan ahli dalam ilmu pasti, bukankah begitu ?" ,"Oh, ja tuan," aku menjeringai

meretjik kepertjajaan. — ,,Ja, tuan. Ja, betul. Saja menguasainja." ,,Baiklah, tuan dapat mengadjar ilmu

pasti ?" tanjanja.,

,,Mengapa tidak," aku membohong. ,,Saja menguasai betul ilmu pasti. Menguasainja sungguh- sungguh. Ini

matapeladjaran jang saja senangi." Inggit dan aku sudah kering samasekali, tidak mempunjai apa-apa lagi.

Apa jang dapat kami suguhkan kepada tamu hanja setjangkir teh entjer tanpa gula. Djadi, apa jang harus

kukatakan kepadanja ? Bahwa aku samasekali tidak dapat mengadjar ilmu pasti ? Bahwa sesungguhnja aku

gagal dalam peladjaran itu ?

Kalau demikian, tentu aku tidak akan memperoleh pekerdjaan itu.Temanku, Dr. Setiabudi, datang sendiri

kepadaku dan sekali lagi bertanja, ,,Bagaimana pendapatmu sesungguhnja, bisakah engkau mengadjar?" Dan

kuulangi dengan suara jang tergontjang dan tersinggung, ,,Apakah saja bisa mengadjar? Tentu saja bisa

mengadjar. Tentu sadja saja bisa. Sudah pasti.",,Ilmu pasti djuga ?",,Ja, ilmu pasti djuga."Aneh,

kenjataannja aku menghadapi kesukaran djustru dalam peladjaran sedjarah. Kelasku berdjumlah 30 orang

murid, termasuk Anwar Tjokroaminoto.

Tak seorangpun memberiku petundjuk dalam tjara mengadjar. Djadi aku mentjobakan tjaraku sendiri.

Sajang, aku tidak berhasil mendekati metode jang resmi. Dalam peladjaran sedjarah aku mempunjai gajaku

sendiri. Aku tidak menjesuaikan samasekali teori bahwa anak-anak harus diadjar setjara kenjataan. Angananganku

ialah hendak menggerakkan mereka supaja bersemangat. Aku lebih berpegang pada pengertian

sedjarah daripada mengadjarkan nama-nama, tahun dan tempat. Aku tak pernah memusingkan kepala

tentang tahun berapa Columbus menemukan Amerika, atau tahun berapa Napoleon gagal di Waterloo atau

hal-hal lain jang sama remehnja seperti apa jang biasanja mereka adjarkan disekolah. Kalau seharusnja aku

memperlakukan murid-muridku sebagai anakanak jang masih ketjil, jang kemampuannja dalam

matapeladjaran ini terpusat pada mengingat fakta-fakta, maka aku berfalsafah dengan mereka. Aku

memberikan alasan mengapa ini dan itu terdjadi. Aku memperlihatkan peristiwa-peristiwa sedjarah setjara

sandiwara. Aku tidak memberikan pengetahuan setjara dingin dan kronologis. Ooo tidak, Sukarno tidak

memberikan hal sematjam itu. Itu tidak bisa diharapkan dari seorang orator jang berbakat dari lahirnja. Aku

mengajunkan tanganku dan mentjobakannja. Kalau aku bertjerita tentang Sun Yat Sen, aku betul-betul

berteriak dan memukul medja.

Sudah mendjadi aturan dari Departemen Pengadjaran Hindia Belanda, sekolah-sekolah dikundjungi oleh

penilik-penilik-sekolah pada waktu-waktu tertentu. Pada waktunja jang tepat seorang penilik sekolah datang

mendengarkan peladjaran sedjarahku. Dia duduk dengan tenang dibelakang kelas untuk memperhatikan.

Selama dua djam aku mengadjar dengan tjara jang menurut pikiranku paling baik, sementara mana aku

menjadari bahwa dia mendengarkan dengan saksarna.Setjara kebetulan peladjaran kali ini berkenaan dengan

Imperialisme. Karena aku sangat menguasai pokok persoalan ini, aku mendjadi begitu bersemangat sehingga

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 39 dari 109

aku terlompat-lompat dan mengutuk seluruh sistimnja. Dapatkah engkau membajangkan ? Dihadapan penilik

sekolah bangsa Belanda jang memandang padaku dengan wadjah tidak pertjaja, aku sungguh-sungguh

menamakan Negeri Belanda sebagai ,,Kolonialis jang terkutuk ini" ! Ketika peladjaran dan kisahku keduaduanja

selesai, penilik sekolah itu menjatakan dengan seenaknja bahwa menurut pendapatnja sesungguhnja

aku bukan pengadjar jang terbaik jang pernah dilihatnja dan bahwa aku tidak mempunjai masa depan jang

baik dalam pekerdjaan ini.

Ia berkata kepadaku, ,,Raden Sukarno, tuan bukan guru, tuan seorang pembitjara !" Dan inilah achir daripada

karierku jang singkat sebagai guru.26 Djuli 1926 aku membuka biro teknikku jang pertama, bekerdjasama

dengan seorang teman sekelas, Ir. Anwari.Aku tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk memasuki Ruang

Keilmuan. Kehidupan segera memikulkan beban diatas pundakku dan melemparkan aku keatas tumpukan

sampah dan kedalam pondok-pondok jang botjor dan gojah. Kehidupan melemparkan daku kepasar-pasar.

Kehidupan membuangku kehutan-hutan, kekampung-kampung dan sawah-sawah. Aku tidak mendjadi guru.

Aku mendjadi djuru chotbah. Mimbarku adalah pinggiran djalan. Kumpulanku ? Massa rakjat menggerumut

jang sangat merindukan pertolongan. Ditahun 1926 aku mulai mengchotbahkan nasionalisme terpimpin.

Sebelum itu aku hanja memberikan kepada pendengarku kesadaran nasional lebih banjak daripada jang

mereka ketahui sebelumnja. Sekarang aku tidak sadja mengojak-ojak mereka untuk bangun, akan tetapi aku

memimpin mereka. Aku menerangkan, bahwa sudah datang waktunja untuk mendjelmakan suatu masjarakat

baru jang demokratis sebagai ganti feodalisme jang telah bertjokol selama berabad-abad. Aku berkata

kepada para pendengarku, ,,Kita tidak lagi akan membiarkan diri kita setjara patuh mengikuti tjara hidup

jang akan membawa kita kepada kehantjuran kita sendiri. Kehidupan jang terdiri dari kelas-kelas, kastakasta

dan jang-punja dan tidak-punja menimbulkan perbudakan.

Didalam kehidupan modern manusia berdjoang untuk meninggikan harkat kehidupan rakjat. Mereka jang

tidak menghiraukan hal ini akan dibinasakan oleh rakjat-banjak dan oleh bangsa-bangsa jang berdjoang

untuk memperoleh haknja.,,Kita memerlukan persamaan hak. Kita telah mengalami ketidaksamaan selama

hidup kita. Mari kita tanggalkan pemakaian gelar-gelar. Walaupun saja dilahirkan dalam kelas ningrat, saja

tidak pernah menjebut diriku raden dan saja minta kepada saudara-saudara mulai dari saat ini dan untuk

seterusnja supaja saudara-saudara djangan memanggil saja raden.

Mulai dari sekarang djangan ada seorangpun menjebutku sebagai Tedaking Kusuma Rembesing Madu —

'Keturunan Bangsawan'. Tidak, aku hanja tjutju dari seorang petani. Feodalisme adalah kepunjaan masalah

jang sudah dikubur. Feodalisne hukan kepunjaan Indonesia dimasa jang akan datang."Sementara aku

mendidik para pendengarku untuk menghabisi sistim feodal, aku melangkah selangkah madju, ialah kebidang

bahasa Dalam bahasa Djawa sadja terdapat 13 tingkatan jang pemakaiannja tergantung pada siapa jang

dihadapi berbitjara, sedang kepulauan kami rrrempunjai tidak kurang dari 86 dialek sematjam itu.,,Sampai

sekarang," kataku, ,,bahasa Indonesia harlja dipakai oleh kaum ningrat. Tidak oleh rakjat biasa. Nah, mulai

dari hari ini menit ini mari kita berbitjara dalam bahasa Indonesia.

,,Hendaknja rakjat Marhaen dan orang bangsawan berbitjara dalam bahasa jang sama. Hendaknja seseorang

dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara-saudaranja dipulau lain dalam bahasa jang sama. Kalau

kita, jang beranak-pinak seperti kelintji, akan mendjadi satu masjarakat, satu bangsa, kita harus mempunjai

satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru."Sebelurn ini, seorang Djawa dari golongan rendah tidak

boleh sekalikali menanjakan kepada orang Djawa jang lebih tinggi deradjatnja, 'Apakah engkau memanggil

saja ?' Dia tidak akan berani mengutjapkan begitu sadja perkataan ,,engkau" kepada orang jang lebih atas.

Seharusnja ia memakai perkataan ,,kaki tuan" atau ,,kelom tuan". Dia harus mengutjapkan, ,,Apakah kelom

tuan memanggil saja ? "Tingkatan perhambaan sematjam inipun dinjatakan dengan gerak.

Aku menundjuk dengan djari telundjukku, akan tetapi orang jang lebih rendah tingkatnja dihadapanku akan

menundjuk dengan ibudjari. Keramahan jang demikian itu memberikan kepada sipendjadjah suatu sendjata

rahasia jang membantu melahirkan suatu bangsa ,,tjatjing" dan ,,katak" seperti mereka menamakannja.

Kamipun disebut sebagai ,,rakjat jang paling pemalu didunia."Bertahun-tahun kemudian aku tergila-gila pada

seorang Puteri jang muda dan tjantik dari salahsatu kraton di Djawa, akan tetapi penasehat-penasehatku

menjatakan, bahwa aku sebagai orang jang telah bergabung dengan rakjat-djelata tidak mungkin

mengawininja. Sekalipun hatiku luka, mereka menundjukkan bagaimana aku telah memimpin pemberontakan

melawan feodalisme, djadi tidak bisa sekarang memasuki golongan itu. Dan berachirlah hubungan ini dengan

suatu kisah pertjintaan setjara platonis. Dikalangan kaum bangsawan di Djawa seorang isteri tidak pernah

kehilangan deradjatnja jang tinggi. Kalau ia mengawini seorang lelaki jang lebih rendah deradjatnja,

suaminja harus mengadjukan permohonan untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bertjintaan dengan isterinja

sendiri, sisuami jang boleh djadi bergelar raden, terlebih dulu harus meminta idzin dari isterinja. Mungkin

maksudnja baik. Akan tetapi, aku tidak dapat melihat Sukarno dalam kedudukan jang demikian.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 40 dari 109

Didjaman Feodal kami tidak mempunjai bentuk panggilan jang luas seperti Mister, Mistres, Miss atau jang

dapat mentjakup seluruh lapisan dan tingkat seseorang. Ketika aku memaklumkan Bahasa Indonesia, kami

memerlukan suatu rangkaian sebutan jang lengkap jang dapat dipakai setjara tidak berobah-robah antara tua

dan muda, kaja dan miskin, Presiden dan rakjat tani. Disaat itulah kami mengembangkan sebutan Pak atau

Bapak, Bu atau Ibu dan Bung jang berarti saudara. Didjaman Revolusi Kebudajaan inilah aku mulai dikenal

sebagai Bung Karno.Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam tiga segi. Segi jang

kedua adalah dalam kepertjajaan. Aku banjak berpikir dan berbitjara tentang Tuhan. Sekalipun dinegeri

kami sebagian terbesar rakjatnja beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada

Tuhannja orang Islam. Pada waktu aku melangkah ragu melalui permulaan djalan jang menudju kepada

kepertjajaan, aku tidak melihat Jang Maha-Kuasa sebagai Tuhan kepunjaan perseorangan. Menurut djalan

pikiranku maka kemerdekaan bagi seseorang meliputi djuga kemerdekaan beragama. Ketika konsep

keagamaanku meluas, ideologi dari Pak Tjokro dalam pandanganku semakin sempit dan semakin sempit

djuga. Pandangannja tentang kemerdekaan untuk tanah-air kami semata-mata ditindjau melalui lensa

mikroskop dari agama Islam. Aku tidak lagi menoleh kepadanja untuk beladjar. Djuga kawan-kawannja tidak

lagi mendiadi guruku. Sekalipun aku masih seorang pemuda, aku tidak lagi mendjadi penerima. Aku sekarang

sudah mendjadi pemimpin. Aku mempunjai pengikut. Aku mempunjai reputasi. Aku sudah mendjadi tokoh

politik jang sederadjat dengan Pak Tjokro.

Dalam hal ini tidak terdjadi pemutusan tiba-tiba. Ini terdjadi lebih mirip dengan pemisahan diri setjara

pelahan sedikit demi sedikit. Sekalipun antara Pak Tjokro dan aku terdapat perbedaan jang besar dibidang

politik, akan tetapi antara kami tetap terdjalin hubungan jang erat. Orang Asia tidak menemui kesukaran

untuk membedakan ideologi dengan peri-kemanusiaan. Ketika seorang nasionalis bernama Hadji Misbach

menjerang Pak Tjokro setjara serampangan dalam suatu kongres, kuminta supaja dia minta ma'af kepada

kawan lamaku itu. Hadji Misbach kemudian menjatakan penjesalannja. Menentang seseorang dalam bidang

polrtik tidaklah berarti bahwa kita tidak mentjintainja setjara pribadi. Bagi kami, jang satu tidak ada

hubungannja dengan jang lain. Hal ini tidak dapat diselami oleh pikiran orang Barat, tapi ini senada dengan

mentalita orang Timur. Misainja sadja, kusebut Pak Alimin dan Pak Muso. Kedua-duanja sering bertindak

sebagai guruku dalam politik ketika aku tinggal dirumah Pak Tjokro. Kemudian mereka berpindah kepada

Komunisme, pergi ke Moskow dan belakangan ditahun 1948, setelah aku mendjadi Presiden, mengadakan

pemberontakan Komunis dan usaha perebutan kekuasaan.

Mereka merentjanakan kedjatuhanku. Akan tetapi orang Djawa mempunjai suatu peribahasa, ,,Gurumu harus

dihormati, bahkan lebih daripada orangtuamu sendiri." Ketika Pak Alimin sudah terlalu amat tua dan sakit,

aku mengundjunginja. Lalu surat-suratkabar mengotjeh, ,,Hee, lihat Sukarno mengundjungi seorang Komunis

! "Ja, Pak Alimin telah mentjoba mendjatuhkanku. Akan tetapi dia adalah salah-seorang guruku dihari

mudaku. Aku berterima-kasih kepadanja atas segala jang baik jang telah diberikannja kepadaku Aku

berhutang budi kepadanja. Jang sama beratnja untuk dilupakan ialah kenjataan, bahwa dia adalah salahseorang

perintis kemerdekaan. Seseorang jang berdjuang untuk pembebasan tanah-airnja—tak pandang

bagaimana perasaannja terhadapku kemudian — berhak mendapat penghargaan dari rakjatnja dan dari

Presidennja.Sama djuga halnja dengan Pak Tjokro. Sampai dihari aku akan menutup mata untuk selamalamanja

aku akan tetap menulis namanja dengan hati jang lembut. Dalam bidang politik Bung Karno adalah

seorang Nasionalis. Dalam kepertjajaan Bung Karno seorang jang beragama. Akan tetapi Bung Karno

mempunjai kepertjajaan jang bersegi tiga. Dalam bidang ideologi, ia sekarang mendjadi sosialis. Kuulangi

bahwa aku mendjadi sosialis. Bukan Komunis. Aku tidak mendjadi Komunis. Masih sadja ada orang jang

berpikir bahwa Sosialisme sama dengan Komunisme. Mendengar perkataan sosialis mereka tidak dapat tidur.

Mereka melompat dan memekik, ,,Haaa, saja sudah tahu ! Bahwa Bung Karno seorang Komunis !'' Tidak, aku

bukan Komunis. Aku seorang SosiaIis. Aku seorang Kiri. Orang Kiri adalah mereka jang menghendaki

perubahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang.

Kehendak untuk menjebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis. Orang kiri bahkan dapat

bertjektjok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penjakit takut akan tjita-tjita kiri, adalah penjakit jang

kutentang habis-habisan seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial mendjadi nihilisme.

Bagaimana suatu negeri jang miskin menjedihkan seperti negeri kami dapat menganut suatu aliran lain

ketjuali haluan sosialis ? Mendengar aku berbitjara tentang demokrasi, seorang pemuda menanjakan apakah

aku seorang demokrat. Aku berkata, ,,Ja, aku pasti sekali seorang demokrat." Kemudian dia berkata, ,,Akan

tetapi menurut pandangan saja tuan seorang sosialis." ,,Saja sosialis, djawabku. Ia menjimpulkan semua itu

dengan, ,,Kalau begitu tentu tuan seorang sosialis demokrat."Mungkin ini salah satu djalan untuk

menamaiku. Orang Indonesia berbeda dengan bangsa lain didunia. Sosialisme kami adalah sosialisrne jang

dikurangi dengan pengertian rnaterialistisnja jang ekstrim, karena bangsa Indonesia adalah bangsa jang

terutama takut dan tjinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu tjampuran. Kami menarik persamaan

politik dari Declaration of Independence dari Amerika.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 41 dari 109

Kami menarik persamaan spirituil dari Islam dan Kristen. Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Kedalam

tjampuran jang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional : Marhaenisme. Kemudian kami memertjikkan

kedalamnja Gotong-rojong jang mendjadi djiwa, inti daripada bekerdja bersama, hidup bersama dan saling

bantu-membantu. Kalau ini ditjampurkan semua, maka hasilnja adalah Sosialisme Indonesia. Konsepsikonsepsi

ini, jang dimulai semendjak tahun duapuluhan dan tak pernah aku menjimpang daripadanja, tidak

termasuk begitu sadja dalam penggolongan sesuai dengan djalan pikiran orang Barat, tetapi memang orang

harus mengingat, bahwa aku tidak mempunjai djalan pikiran Barat. Merubah rakjat sehingga mereka

tergolong dengan baik dan teratur kedalam kotak Barat tidak mungkin dilakukan. Para pemimpin jang telah

mentjoba, gagal dalam usahanja. Aku selalu berpikir dengan tjara mentalita Indonesia. Semeadjak dari

sekolah menengah aku telah mendjadi pelopor. Dalam hal politik aku tidak berpegang kepada salah-satu

tjontoh. Mungkin inilah jang menjebabkan, mengapa aku djadi sasaran dari demikian banjak salahpengertian.

Aliran politikku tidak sama dengan aliran orang lain. Tapi disamping itu latar belakangkupun

tidak bersamaan dengan siapapun djuga. Nenekku memberiku kebudajaan Djawa dan Mistik. Dari bapak

datang Theosofisme dan Islamisme. Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme. Sarinah memberiku Humanisme. Dari

Pak Tjokro datang Sosialisme. Dari kawan-kawannja datang Nasionalisme.Aku menambah renungan-renungan

dari Karl Marxisme dan Thomas Jeffersonisme. Aku beladjar ekonomi dari Sun Yat Sen. Aku beladjar kebaikan

dari Gandhi. Aku sanggup mensynthese pendidikan setjara ilmu modern dengan kebudajaan animistik

purbakala dan mengambil ibarat dari hasilnja mendjadi pesan-pesan pengharapan jang hidup dan dapat

dihirup sesuai dengan pengertian dari rakjat kampung.

Hasil jang keluar dari semua ini dinamakan orang—dalam istilah biasa— Sukarnoisme. Aku tumbuh dari

Sarekat Islam, akan tetapi belum menukarnja dengan partai lain jang formil. Apa jang disebut organisasi

politikku ditahun 1926 adalah pertumbuhan dari Bandung Studenten Club jang disponsori oleh universitas,

agar para mahasiswa dapat bermain bridge atau biljar. Ia didirikan untuk pesta-pesta dan kegembiraan. Anak

Bumiputera dibolehkan masuk club itu akan tetapi, setelah mengikutinja, aku menjadari bahwa kami tidak

dapat mendjadi anggota pengurus. ,,Saja tidak dapat menerima keadaan sematjam itu," kataku, ,,Saja akan

keluar dari perkumpulan ini." Seperti di Modjokerto, setiap orang main ikut-ikutan dengan pemimpin. Pada

waktu Sukarno keluar dari Bandung Studenten Club ini, anak Indonesia lainnjapun mengikutinja. Dengan lima

orang anak Indonesia aku mendirikan Perkumpulan Studi. Aku memilih bahan batjaan jang bernilai seperti

,,Handelingen der Tweede Kamer van de Staten Generaal" (Kegiatan Tweede Kamer dari Staten Generaal

Negeri Belanda) dari perpustakaan. Dan kami setjara berganti-ganti membatjanja seminggu seorang. Pada

setiap penutupan lima mingguan sekali kami mengadakan pertemuan—biasanja dirumahku — dan duduk

sepandjang malam memperdebatkan pokok-pokok dari strategi jang ada didalamnja. Orang selalu dapat

mengetahui, kapan Bung Karno mempeladjari buku itu. Kalimat-kalimat jang perlu, diberi bergaris

dibawahnja. Paragraf-paragraf diberi lingkaran. Siapa sadja jang membatjanja setelah itu dapat melihat

dengan mudah aliran pikiranku. Kutuliskan kritik-kritikku dipinggir pinggir halaman. Aku memberi tanda

halaman-halaman jang kusetudjui dan memberi tjatatan dibawah halaman-halaman jang tidak kusetudjui.

Tadinja segar dan bersih dari rak perpustakaan, djilid-djilid jang berharga itu kemudian tidak lagi bersih

sesudah itu.Kedalam Algemeene Studiclub ini hinggaplah intellektuil-intellektuil muda bangsa Indonesia,

banjak jang baru sadja kembali dari Negeri Belanda dengan idjazah kesardjanaannja jang gilang-gemilang

ditangan mereka. Pertukaran buah-pikiran dalam bidang politik jang aktif adalah kegiatan kami jang pokok.

Tjabang-tjabang dari Studieclub ini tumboh di Solo, Surabaja dan kota lainnja di Djawa. Kami kemudian

menerbitkan madjalah perkumpulan — Suluh Indonesia Muda -— dan, sebagaimana dapat diduga, Ketua

Sukarno adalah penjumbang tulisan jang pertama. Karena aku begitu terikat dalam soal-soal politik sehingga

kurang memikirkan soal-soal lain, maka biro teknikku merosot sehingga ia mati samasekali. Pikiranku terlalu

sangat tertudju kepada segi jang dalam dari kehidupan ini daripada memikirkan jang tidak berarti, sehingga

dimalam terang bulan jang penuh gairah aku bahkan lebih memikirkan isme daripada memikirkan Inggit.

Pada waktu muda-mudi jang lain menemukan kasihnja satu sama lain, aku mendekam dengan ,,Das Kapital".

Aku menjelam lebih dalam dan lebih dalam lagi. Djadi aku mendekati achir daripada windu jang ketiga.

Sewindu adalah suatu djangka waktu jang lamanja delapan tahun. Tahun 1901 sampai 1909 adalah windu

dengan pemikiran kanak-kanak. 1910 sampai 1918 adalah windu pengembangan. 1919 sampai 1927 windu

untuk mematangkan diri. Aku sudah siap sekarang.

Bab 8

Mendirikan P.N.l.

WAKTUNJA sudah tepat bagiku untuk mendirikan partaiku sendiri. Ada dua faktor. Ditahun 1917 dinasti dari

Hohenzollern terpetjah-petjah di Djerman, Franz Josef djatuh, Czar Alexander gojah. Sepihan-sepihan dari

mahkota-mahkota dunia jang telah dibinasakan itu melajang-lajang melalui telinga Ratu Wilhelmina dan

geledek dari revolusi jang berdekatan menggulung-gulung melalui pekarangannja.1917 membawa

pemberontakan Bolsjewik dari Lenin dan lahirnja Uni Soviet. Bela Kun memimpin suatu pemberontakan di

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 42 dari 109

Hongaria. Buruh Djerman mendirikan Republik Weimar. Disebelah kanan Negeri Belanda dan disebelah kirinja

menganga djurang chaos. Sedang ia sendiri setelah tiga tabun peperangan hantjur dalam segi materiil dan

spirituil. Karena hubungan antara Negeri Belanda dan Hindianja terputus akibat gangguan peperangan dan

perhubungan laut jang hampir samasekali tidak ada, maka bagian terbesar dari kekajaannja—kekajaan jang

berasal dari anak-tirinja Indonesia—punah. Pun dibidang politik ia lumpuh. Kebutuhannja jang besar

menjebabkan kekosongan jang serius, jang segera diisi oleh ketidak-puasan dan kekatjauan. Untuk

melengkapi nasib sialnja, maka seorang Sosialis bernama Dr. Pieter Jelles Troelstra mengadakan gerakan

revolusioner proletariat.

Pertama perang, kemudian timbulnja revolusi, menjebabkan negeri Belanda mendjadi lemah. Digerakkan

oleh peristiwa-peristiwa ini nasionalisme di Hindia Belanda tumbuh bagai bisul-bisul. Orang Belanda

menjadari, bahwa mereka harus melunakkan hati penduduknja jang berkulit sawomatang disepandjang

katulistiwa, oleh karena Belanda sudah tjukup banjak menghadapi kesukaran dipekarangan muka rnereka

sendiri, hal mana tidak memberi kemungkinan untuk bisa memadamkan pemberontakan bila berkobar di

Indonesia. Hindia adalah gabusnja tempat Belanda mengapung Dengan segala daja-upaja mereka perlu

membelenggu terus ,,saudara-saudara" mereka jang berkulit sawomatang setjara patuh. Karena negeridibalik-

pematang itu terlalu lemah untuk menggunakan kekuatan, maka udara dari peristiwa-peristiwa dunia

membawa mereka kepada Djandji Nopember sebagai djalan untuk menenangkan keadaan. Dibulan Nopember

tahun 1918 Gubernur Djendral, Graaf van Limburg Stirum, mendjandjikan kepada kami hak-hak politik jang

lebih luas, kebebasan jang lebih besar, kemerdekaan untuk mengadakan rapat-rapat umum, hak bersuara di

Dewan Rakjat.

Segera kami menjadari, bahwa Negeri Belanda tidak mempunjai maksud untuk menepatil djandji-djandji

jang terkenal busuk dan pendek umurnja itu. Dalam setahun Belanda mengchianati kami dengan mengangkat

Gubernur Djendral Dirk Fock, Jang paling reaksioner dari segala djaman. Setjara perbandingan maka rezimrezim

sebelumnja adalah moderat. Akan tetapi Fock sikapnja lebih menindas dan mengurangi hak-hak jang

telah pernah diberikan. Ia menekan, mengedjar-ngedjar dan mengadakan undang-undang jang mengurangi

kebebasan apapun djuga jang kami peroleh sebelumnja. Kalau seseorang mengeluarkan tjelaan, sekalipun

,,tersembunji", dapat menjebabkannja masuk pendjara. Dengan perkataan lain, kalau engkau seorang diri

dalam sebuah gua dan utjapanmu jang mengigau dalam pengasingan itu dilaporkan kepada polisi, engkau

dapat didjatuhi hukuman enam tahun. Engkau bahkan-bahkan masuk pendjara karena berbitiara dalam

mimpi ! Pemerintahan ini memberikan peluang bagi pemakaian ,,Undang-undang Luarbiasa", jang

menjebabkan demikan banjak saudara kami laki-laki dan perempuan dikirim ketempat-tempat jang

membikin berdiri bulu-roma. Undang-undang itu memberi kekuasaan untuk menginternir atau mengeksternir

seorang Bumiputera masuk pendjara atau pengasingan tanpa diadili terlebih dulu. Pada waktu Negeri

Belanda memperoleh kekuatan, maka keadaan semakin memburuk. Fock jang keterlaluan itu digantikan oleh

De Graeff jang lebih djahat lagi. Waktunja sudah datang untuk mendesakkan nasionalisme. Tapi bagaimana ?

Kami tidak mempunjai satu partaipun jang kuat. Sarekat Islam petjah dua. Pak Tjokro tetap memegang

kendali dari bagian jang sudah lemah, sedang bagian jang lain merobah namanja mendjadi Sarekat Rakjat.

Dengan dalih perselisihan maka Komunisme menjusup kedalam Sarekat Rakjat. Dalam tahun 1926 mereka

merentjanakan dan mendjalankan ,,Revolusi Fisik Besar untuk Kemerdekaan dan Komunisme".

Pemberontakan ini menemui kegagalan jang menjedihkan. Belanda menindasnja dengan serta-merta dan

lebih dari 2.000 pemimpin diangkut dengan kapal kepelbagai tempat pengasingan. 10.000 orang lagi

dipendjarakan. Akibat selandjutnja adalah chaos. Serekat Rakjat dinjatakan terlarang. Mereka jang memilih

Sarekat Rakiat sekarang tidak punja apa-apa. Mereka jang semakin tidak puas dengan Tjokropun tidak punja

apa-apa Tidak ada lagi inti gerakan nasional jang kuat. Dalam pada itu aku sudah menemukan pegangan

dalam bidang politik. Pada setiap tjangkir kopi tubruk, disetiap sudut dimana orang berkumpul nama Bung

Karno mendjadi buah-mulut orang. Kebentjian umum terhadap Belanda dan kepopuleran Bung Karno

memperoleh tempat jang berdampingan dalam setiap buah-tutur.

Pada tanggal empat Djuli 1927, dengan dukungan dari enam orang kawan dari Algemeene Studieclub, aku

mendirikan P.N.I., Partai Nasional Indonesia. Rakjat sudah siap. Bung Karno sudah siap. Sekarang tidak ada

jang dapat menahan kami—ketjuali Belanda. Tudjuan daripada P.N.I. adalah kemerdekaan sepenuhnja —

SEKARANG. Bahkan pengikut-pengikutku jang paling setia gemetar oleh tudjuan jang terlalu radikal ini, oleh

karena organisasi-organisasi sebelumnja selalu menjembunjikan sebagian dari tudjuannja, supaja Belanda

tidak mengganggu mereka. Denganku, tidak ada jang perlu disembunjikan, tanpa tedeng aling-aling. Dalam

perdebatan diruangan jang tertutup, beberapa orang mentjoba menggelintjirkanku dari rel itu. ,,Rakjat

belum lagi siap," kata mereka.,,Rakjat SUDAH siap," djawabku dengan tadjam. ,,Dan mendjadi sembojan

kitalah: 'Indonesia merdeka SEKARANG.' Kukatakan 'Indonesia merdeka SEKARANG.",,Ini tidak mungkin

dilakukan, Bung," mereka memotong ,,Tuntutan Bung Karno terlalu keras. Kita akan dihantjurkan sebelum

mulai.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 43 dari 109

Memang massa rakjat mendengarkan Bung Karno, mengikuti Bung Karno setjara membabi-buta, akan tetapi

Indonesia merdeka SEKARANG adalah terlalu radikal. Pertama kita harus mentjapai persatuan nasional

terlebih dahulu.",,Kita tidak bersatu. Betul. Kita terlalu banjak mempunjai ideologi. Setudju. Kita harus

memperoleh persatuan nasional. Ja. Akan tetapi kita tidak lagi berdjalan pelahan-lahan. 350 tahun sudah

tjukup pelahan ! "Mereka mentjoba menerangkan pandangannja jang hebat. ,,Pertama kita harus mendidik

rakjat kita jang djutaan. Mereka belum dipersiapkan supaja dapat mengendalikan diri sendiri. Kedua, kita

harus memperbaiki kesehatan mereka supaja dapat berdiri tegak. Lebih baik kalau segala sesuatu sudah

lengkap dan selesai terlebih dahulu.",,Satu-satunja saat kalau segala sesuatu sudah lengkap dan selesai ialah

bilamana kita sudah mati," aku berteriak. ,,Untuk mendidik mereka setjara pelahan akan memakan waktu

beberapa generasi. Kita tidak perlu menulis thesis atau membasmi malaria sebelum kita memperoleh

kemerdekaan. Indonesia merdeka SEKARANG !

Setelah itu baru kita mendidik, memperbaiki kesehatan rakjat dan negeri kita. Hajolah kita bangkit

sekarang.",,Tentu Belanda akan menangkap kita.",,Belandapun akan mempunjai respek sedikit terhadap kita.

Sudah mendjadi sifat manusia untuk meludahi jang lemah, akan tetapi sekalipun kita menghadapi lawan jang

gagah berani, setidak-tidaknja kita merasa bahwa dia pantas mendjadi lawan."Aku memandang diriku

sebagai seorang pemberontak. Kupandang P.N.I. sebagai tentara pemberontak.

Ditahun 1928 aku mengusulkan. agar semua anggota memakai pakaian seragam. Usulku ini menimbulkan

polemik jang hebat. Seorang wakil jang setia dari Tegal berdiri dan menjatakan, ,,Ini tidak sesuai dengan

kepribadian nasional. Seharusnja kita memakai sarung tanpa sepatu atau sandal. Hendaklah kita kelihatan

seperti orang-orang revolusioner sebagaimana kita seharusnja."Aku tidak setudju. ,,Banjak orang jang kakiajam,

akan tetapi mereka bukan orang jang revolusioner. Banjak orang jang berpangkat tinggi memakai

sarung, tapi mereka bekerdja dengan sepenuh hati untuk kolonialis. Jang menandakan seseorang itu

revolusioner adalah bakti jang telah ditunaikannja dalam perdjoangan. Kita adalah suat'' tentara, saudarasaudara.

,,Selandjutnja saja mengandjurkan untuk tidak memakai sarung, sekalipun berpakaian preman.

Pakaian jang kuno ini menimbulkan pandangan jang rendah. Disaat orang Indonesia memakai pantalon,

disaat itu pula ia berdjalan tegap sepert; setiap orang kulitputih. Akan tetapi begitu ia memasangkan

lambang feodal disekeliling pinggangnja ia lalu berdjalan dengan bungkukan badan jang abadi. Bahunja

melentur kemuka. Langkahnja tidak djantan. Ia beringsut dengan merendahkan diri. Pada saat itupun ia

bersikap ragu dan sangat hormat dan tunduk.",,Sungguhpun begitu," Ali Sastroamidjojo S.H. membalas, jang

ketika itu mendjadi ketua Tjabang P.N.I. dan kemudian ditahun limapuluhan mendjadi Dutabesar Indonesia

jang pertama di Amerika Serikat, ,,Sarung itu sesuai dengan tradisi Indonesia.",,Tradisi Indonesia dimasa

jang lalu—betul," aku meledak, ,,Akan tetapi tidak sesuai dengan Indonesia Baru dari masa datang.

Kita harus melepaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh masa lampau jang merangkak-rangkak seperti

pelajan, djongos dan orang dusun jang tidak bernama dan tidak berupa. Mari kita tundjukan bahwa kita sama

progressif dengan orang Belanda. Kita harus tegak sama tinggi dengan mereka. Kita harus memakai pakaian

modern."Ali berdiri lagi. ,,Untuk memperoleh pakaian seragam perlu biaja jang besar, sedangkan kita tidak

punja uang.",,Kita akan usahakan pakaian jang paling murah," aku menjarankan. ,,Tjukup dengan badju

lengan pendek dan pantalon. Supaja kita kelihatan gagah dan tampan tidak perlu biaja jang besar. Kita harus

berpakaian jang pantas dan kelihatan sebagai pemimpin." Ada jang memihak kepadaku. Sebagian lagi

menjokong Ali. Aku kalah.

Sungguhpun demikian keinginan untuk berpakaian seragam ini tidak pernah hilang dari pikiranku. Dan

begitulah, setelah mengambil sumpah sebagai Presiden ditahun 1945 aku mulai memakai uniform. Pers asing

kemudian mengeritikku. Mereka mengedjek. Uhhh, Presiden Sukarno memakai kantjing dari emas. Uhhh ! Dia

pakai uniform hanja untuk melagak."Tjobalah pertimbangkan, aku seorang ahli ilmu djiwa massa. Memang

ada pakaianku jang lain. Akan tetapi aku lebih suka memakai uniform setiap muntjul dihadapan umum, oleh

karena aku menjadari bahwa rakjat jang sudah dindjak-indjak kolonialis lebih senang melihat Presidennja

berpakaian gagah. Taruhlah Kepala Negaranja muntjul dengan badju kusut dan berkerut seperti seorang

wisatawan dengan sisi topinja jang lembab dan penuh keringat, aku jakin akan terdengar keluhan

keketjewaan. Rakjat Marhaen sudah biasa melihat pakaian sematjam itu dimana-mana. Pemimpin Indonesia

haruslah seorang tokoh jang memerintah. Dia harus kelihatan berwibawa. Bagi suatu bangsa jang pernah

ditaklukkan memang perlu hal-hal jang demikian itu. Rakjat kami sudah begitu terbiasa melihat orang-orang

asing kulitputih mengenakan uniform jang hebat, jang dipandangnja sebagai lambang dari kekuasaan. Dan

merekapun bagitu terbiasa melihat dirinja sendiri pakai sarung, seperti ia djadi tanda dari rasa rendah-diri.

Ketika aku diangkat mendjadi Panglima Tertinggi, aku menjadari bahwa rakjat menginginkan satu tokoh

pahlawan. Kupenuhi keinginan mereka. Pada mulanja aku bahkan memakai pedang emas dipinggangku. Dan

rakjat kagum. Sebelum orang lain menjebunja, akan kukatakan padamu lebih dulu. Ja, aku tahu bahwa aku

kelihatan lebih pantas dalam pakaian seragam. Akan tetapi terlepas daripada kesukaan akan pakaian netjis

dan rapi, kalau aku berpakaian militer maka setjara mental aku berpakaian dalam selubung kepertjajaan.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 44 dari 109

Kepertjajaan ini pindah kepada rakjat. Dan mereka memerlukan ini.1928 adalah tahun propaganda dan

pidato. Bandung kubagi dalam daerah-daerah politik: Bandung Utara, Bandung Selatan, Bandung Timur,

Barat, Tengah, daerah sekitar dan sebagainja. Ditiap daerah itu aku berpidato sekali dalam seminggu,

sehingga aku diberi djulukan sebagai ,,Singa Podium".Kami tidak mempunjai pengeras-suara, karena itu aku

harus berteriak sampai parau. Diwaktu sore aku memekik-rnekik kepada rakjat jang menjemut ditanahlapang.

Dimalam hari aku membakar hati orang-orang jang berdesak-desak sampai berdiri dalam gedung

pertemuan. Dan dipagi hari aku menarik urat leher dalam gedung bioskop jang penuh sesak dengan para

pentjinta tanah-air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, oleh karena pada djam itu kami dapat

menjewanja dengan ongkos murah. Lalu berdatangan pulalah para pedjoang kemerdekaan dari segala

pendjuru pulau Djawa ke Bandung untuk mendengarkan aku berpidato. Seorang laki-laki mengadakan

perdjalanan dari Sumatra Selatan untuk mendengarkan pidato dari Singa Podium jang, katanja, ,,sungguhsungguh

menjentuh tali-hati setiap orang seperti pemain ketjapi". Kenjataan ini adalah kesan jang sangat

luarbiasa baginja, oleh karena ia tidak mempunjai uang. Aku terpaksa memindjam uang segobang untuk

membelikannja nasi. Keadaan kami terlalu melarat, sehingga uang sepeserpun ada harganja. Aku tidak punja

uang supaja dapat membantunja sekalipun hanja sekian. Akan tetapi kesetiaan dari patriot utama ini patut

dihargai. Setelah dua tahun ia kukirim kembali untuk mendjalankan tugas didaerahnja sendiri. Kamaruddin

ini mendjadi salah-seorang kawan seperdjoanganku jang akrab sekarang. Masa ini djamannja kerdja keras.

Djaman jang memberikan kegembiraan sebesar-besarnja jang pernah kualami. Membikin kerandjingan massa

rakjat sampai mereka mabuk dengan anggurnja ilham adalah suatu kekajaan jang tak ternilai bagiku, untuk

mana aku mempersembahkan hidup ini. Bagiku ia adalah zat hidup.

Apabila aku berbitjara tentang negeriku, semangatku berkobar-kobar. Aku mendjadi perasa. Djiwaku

bergetar. Aku dikuasai oleh getaran-djiwa ini dalam arti jang sebenar-benarnja dan getaran ini mendjalar

kepada orang-orang jang mendengarkan. Sajang, diantara pendengarku semakin banjak anggota polisi.

Mereka selalu berada dimana sadja, kalau aku berpidato dan menguraikan siasatku dengan teliti. Memang

ada tjara-tjara untuk mengelabui orang-orang-asing sehingga mereka tidak bisa menangkap setiap insinuasi.

Engkau dapat menggunakan peribahasa daerah atau menjatakan suatu pengertian dengan gerak. Rakjat

mengerti. Dan mereka bersorak.

Didjaman kami, kami tidak membalas dendam kepada polisi. Taruhlah kami dapat berbuat sedemikian, akan

tetapi hasilnja djauh lebih menjenangkan dengan mempermainkannja. Kalau aku berhadapan dengan wadjah

baru jang Mengikutiku dari belakang setelah selesai berpidato, sikapku selalu ramah. Aku tidak pernah

membesarkan suara dan mengeledek, ,,Hee, apa-apaan kamu mengikuti aku, ha ?" Tidak pernah sekasar itu.

Dengan senjum jang menjenangkan aku seenaknja membiarkannja melakukan. pengedjaran dibelakangku

dalam teriknja sinar matahari menudju salah satu daerah pesawahan dipinggir kota. Dari pesawat-terbang

maka daerah pesawahan dengan petak-petak ketjil kelihatan menghampar bagai selimut jang ditambaltambal.

Dan pematang-pematang jang mengelilingi tiap petak merupakan dinding penahan air supaja tetap

tinggal dalam petak itu dan menggenangi benih. Kubiarkan orang itu mengikuti djedjakku kepinggir daerah

pesawahan, kuletakkan sepeda diatas rumput dan berlari sepandjang pematang kerumah seorang kawan.

Karena tiba-tiba timbul dalam pikiranku hendak mengundjunginja. Sudah tentu aku memilih kawan jang

tinggal tjukup djauh dari djalan dan kira-kira setengah mil melalui pematang sawah.

Aku tahu betul, bahwa orang Belanda jang gemuk dan goblok itu tidak boleh meninggalkan sepeda mereka

dipinggir djalan kalau tidak ada jang mendjaga. Dan adalah tugas kewadjiban mereka untuk tidak

membiarkan lawan seperti Bung Karno lepas dari pandangannja. Djadi, apa akal orang Belanda terkutuk itu ?

Tiada akal mereka lain selain memikul sepeda jang berat itu, lalu berdjalan dengan terhunjung-hunjung

merentjahi air sawah atau meniti pematang jang ketjil itu sebisa-bisanja. Memandangi orang-orang ini

berkeringat, memusatkan tenaga dan terhunjung-hunjung itu memberikan kegembiraan kepadaku jang tak

ada taranja. Tjobalah bajangkan ketegangan dari masa ini. Kami adalah peloporpelopor revolusi. Bersumpah

untuk menggulingkan Pemerintah. Dan Sukarno—mendjadi duri jang paling besar. Setiap hari tadjuk-rentiana

menentangku dan tak pernah terluang waktu barang sedjam dimana aku tidak dikedjar-kedjar oleh dua orang

detektif atau beberapa orang mata-mata sematjam itu.Aku mendjadi sasaran utama bagi Belanda. Mereka

mengintipku seperti berburu binatang liar. Mereka melaporkan setiap gerak-gerikku. Sangat tipis harapanku

agar bisa luput dari intipan ini. Kalau para pemimpin dari kota lain datang, aku harus mentjari tempat

rahasia untuk berbitjara. Seringkali aku mengadakan pertemuan penting dibagian belakang sebuah mobil

dengan merundukkan kepala. Dengan begini polisi tidak dapat mendengar atau melihat apa jang terdjadi.

Kami harus mendjalankan tjara penipuan jang demikian itu.Aku memikirkan siasat gila-gilaan untuk

membikin bingung polisi.

Tempat lain jang kami pergunakan untuk pertemuan ialah rumah pelatjuran. Aduh, ini luarbiasa bagusoja.

Hanja semata-mata untuk memenuhi kepentingan tugasku. Kemana lagi seseorang jang dikedjar-kedjar harus

pergi, supaja aman dan bebas dari ketjurigaan dan dimana kelihatannja seolah-olah kepergiannja itu tidak

untuk menggulingkan pemerintah? Tjoba....... dimana lagi ? Djadi berapatlah kami disana, ditempat

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 45 dari 109

pelatjuran, sekitar djam delapan dan sembilan malam, jaitu waktu jang tepat untuk itu. Kami pergi sendirisendiri

atau dalam kelompok ketjil. Setelah memperoleh kebulatan kata kami bubar; seorang melalui pintu

depan, dua orang agi melalui pintu samping, aku mengambil djalan belakang dan seterusnja.Selalu pada hari

berikutnja aku harus berurusan dengan Komisaris Besar Polisi, Albrechts. Setelah memeriksa tentang gerakgerikku

ia menjerang ,,Sekarang dengarlah, tuan Sukarno, kami tahu dengan pasti, bahwa tuan ada disebuah

rumah pelatjuran semalam. Apakah tuan mengingkarinja ?" ,,Tidak, tuan" djawabku dengan suara rendah

sambil memandang seperti orang jang berdosa, hal mana sepantasnja bagi orang jang sudah kawin. ,,Saja

tidak dapat berdusta kepada tuan. Tuan mengetahui saja, saja kira."Kemudian ia menarik mulutnja kebawah

kedekat mulutku dan bersuara seperti menjalak, ,,Untuk apa? Kenapa tuan pergi kesana ?"Lalu kudjawab,

,,Apa maksud tuan ? Bukankah saja seorang lelaki ? Bukankah umur saja lebih dari 16 tahun ?",,Nah," ia

meringis, mermandang kepadaku dekat-dekat. ,,Kami tahu. Apa tuan pikir kami bodoh? Lebih baik terusterang.

Tuan dapat mentjeritakan kepada kami mengapa tuan kesana. Apa alasannja ?",,Jaaahhh, dugaan

tuan untuk apa saja kesana ?" Kataku agak kemalu-maluan. ,,Untuk bertjintaan dengan seorang perempuan,

itulah alasann ja.",,Saja akan buat laporan lengkap mengenai ini.",,Untuk siapa ? Isteri saja ?",,Tidak, untuk

Pemerintah," dia membentak.,,O," kataku terengah mengeluarkan keluhan jang bersuara, .,Baiklah."Pelatjur

adalah mata-mata jang paling baik didunia.

Aku dengan segala senang hati mengandjurkan ini kepada setiap Pemerintah Dalam gerakan P.N.I.-ku di

Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota jang paling setia dan patuh daripada anggota lain

jang pernah kuketahui. Kalau menghendaki mata-mata jang djempolan, berilah aku seorang pelatjur jang

baik. Hasilnja mengagumkan sekali dalam pekerdjaan ini.Tak dapat dibajangkan betapa bergunanja mereka

ini. Jang pertama, aku dapat menjuruh mereka menggoda polisi Belanda. Djalan apa lagi jang lebih baik

supaja melalaikan orang dari kewadjibannja selain mengadakan pertjintaan jang bernafsu dengan dia. 'kan ?

Dalam keadaan jang mendesak aku menundjuk seorang polisi tertentu dan membisikkan kepada bidadariku,

,,Buka kupingmu. Aku perlu rahasia apa sadja jang bisa kaubudjuk dari babi itu." Dan betul-betul ia

memperolehnja. Polisi-polisi jang tolol ini tidak pernah mengetahui, dari mana datangnja keterangan jang

kami peroleh. Tak satupun anggota partai jang gagah dan terhormat dari djenis laki-laki dapat mengerdjakan

tugas ini untukku ! Masih ada prestasi lain jang mengagumkan dari mereka ini.

Perempuan-perempuan latjur adalah satu-satunja diantara kami jang selalu mempunjai uang. Mereka

mendjadi penjumbang jang baik apabila memang diperlukan. Anggota-anggotaku ini bukan sadja penjumbang

jang bersemangat, bahkan mendjadi penjumbang jang besar. Sokongannja besar ditambah lagi dengan

sokongan tambahan. Aku dapat menggunakannja lebih dari itu.Sudah tentu tindakanku ini mendapat

ketjaman hebat karena memasukkan para pelatjur dalam partai. Sekali lagi Ali jang berbitjara. ,,Sangat

memalukan," keluhnja. ,,Kita merendahkan nama dan tudjuan kita dengan memakai perempuan sundal—

kalau Bung Karno dapat mema'afkan saja memakai nama itu. Ini sangat memalukan.",,Kenapa ?" aku

menentang. ,,Mereka djadi orang revolusioner jang terbaik. Saja tidak mengerti pendirian Bung Ali jang

sempit.",,Ini melanggar susila", katanja menjerang. ,,Apakah Bung Ali pernah menanjakan alasan mengapa

saja mengumpulkan 670 orang perempuan latjur ?" tanjaku kepadanja. ,,Sebabnja ialah karena saja

menjadari, bahwa saja tidak akan dapat madju tanpa suatu kekuatan. Saja memerlukan tenaga manusia,

sekalipun tenaga perempuan. Bagi saja persoalannja bukan soal bermoral atau tidak bermoral. Tenaga jang

ampuh, itulah satu-satunja jang kuperlukan.",,Kita tjukup mempunjai kekuatan tanpa mendidik wanita

......... wanita ini," Ali memprotes. ,,P.N.I. mempunjai tjabang-tjabang diseluruh tanah-air dan semuanja ini

berdjalan tanpa anggota seperti itu. Hanja di Bandung kita melakukan sematjam ini." ,,Dalam pekerdjaan ini

maka gadis-gadis pesanan—pelatjur atau apapun nama jang akan diberikan kepadanja—adalah orang-orang

penting," djawabku. ,,Anggota lain dapat kulepaskan. Akan tetapi melepaskan perempuan latjur — tunggu

dulu. Ambillah misalnja Mme. Pompadour—dia seorang pelatjur. Lihat betapa masjhurnja dia dalam

sedjarah. Ambil pula Theroigne de Merricourt, pemimpin besar wanita dari Perantjis. Lihat barisan-roti di

Versailles. Siapakah jang memulainja ? Perempuan-perempuan latjur. "Kupu-kupu malam ini jang djasanja

diperlukan untuk mengambil bagian hanja dibidang politik, ternjata memperlihatkan hasil jang gilanggemilang

pun dibidang lain.

Mereka memiliki daja-penarik seperti besi berani. Setiap hari Rabu tjabang partai mengadakan kursus politik

dan anggota-anggota dari kaum bapak akan datang berdujun-dujun apabila dapat melepaskan pandang pada

tentaraku jang tjantik-tjantik itu. Djadi, aku tentu harus mengusahakan supaja mereka datang setiap

minggu.Tidak sadja musuh-musuhku jang datang bertamu kepada gadis-gadis itu guna memenuhi

kebutuhannja, akan tetapi dari anggota kami sendiripun ada djuga. Dan mendjadi tanggung-djawab jang

paling besarlah untuk membasmi anasir-anasir dalam partai—baik laki-laki maupun perempuan—jang tidak

bisa menjimpan rahasia. Kamipun harus membasmi tjutjunguk-tjutjunguk—jaitu orang jang dibajar untuk

memata-matai partainja sendiri. Setiap tempat mempunjai tjutjunguk-tjutjunguk. Untuk mejakinkan,

apakah agen-agen kami djudjur dan dapat menutup mulutnja, kami mengudji mereka. Selama enam bulan

sampai setahun gadss-gadis pelatjur itu mendjadi ,,Tjalon Anggota". Ini berarti bahwa, sementara kami

memberi bahan dan mengawasinja, mereka tetap sebagai tjalon. Kalau sudah diangkat mendjadi mata-mata

jang diakui ketjakapannja, maka itu tandanja kami sudah jakin ia dapat dipertjaja penuh.Sebagai

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 46 dari 109

perempuan djalanan seringkali mereka harus berurusan dengan hukum dan dikenakan pendjara selama

tudjuh hari atau denda lima rupiah. Akan tetapi aku mendorongnja supaja mendjalani hukum kurungan

sadja.

Suatu kali diadakan razzia dan seluruh kawanan dari pasukan Sukarno diangkat sekaligus. Karena setia dan

patuh kepada pemimpinnja, maka ketika hakim meminta denda mereka menolak, ,,Tidak, kami tidak

bersedia membajar."Keempatpuluh orangnja dibariskan masuk pendjara. Aku gembira mendengarnja, oleh

karena pendjara adalah sumber keterangan jang baik. Tambahan lagi, ada baiknja untuk masa jang akan

datang sebab mereka sudah mengenal para petugas pendjara.Kemudian kusampaikanlah instruksi jang kedua

untuk didjalankan nanti setelah bebas. Misalkan setelah itu armadaku mentjari sasarannja disuatu malam.

Umpamakan pula disaat jang bersamaan kepala rumah pendjara sedang berdjalan-djalan makan angin

menggandeng isterinja. Pada waktu ia melalui salah seorang bidadari pilihanku ini, sigadis harus tersenjum

genit kepadanja dan menegur dengan merdu, ,,Selamat malam" sambil menjebut nama Belanda itu.

Beberapa langkah setelah itu tak ragu lagi tentu ia akan berpapasan dengan gadisku jang lain dan diapun

akan menjobut namanja dan meraju.,,Hallo.......Selamat malam untukmu." Isterinja akan gila oleh teguran

ini. Muslihat ini termasuk dalam perang urat-sjaraf kami.

Didjaman P.N.I. ini orang telah mengakuiku sebagai pemimpin, akan tetapi keadaanku masih tetap melarat.

Inggit mentjari penghasilan dengan mendjual bedak dan bahan ketjantikan jang dibuatnja sendiri didapur

kami. Selain itu kami menerima orang bajar-makan, sekalipun rumah kami di Djalan Dewi Sartika 22 ketjil

sadja. Orang jang tinggal dengan kami bernama Suhardi, seorang lagi Dr. Samsi jang memakai beranda muka

sebagai kantor akuntan dan seorang lagi kawanku Ir. Anwari. Kamar tengah mendjadi biro arsitek kami. Sewa

rumah seluruhnja 75 sebulan. Uang makan Suhardi kira-kira 35 rupiah. Kukatakan ,,kira-kira" oleh karena

selain djumlah itu aku sering memindjam beberapa rupiah ekstra. Bahkan Inggit sendiripun memindjam

sedikit-sedikit dari dia. Adalah suatu rahmat dari Tuhan Jang Maha Pengasih, bahwa kami diberi-Nja nafkah

dengan djalan jang ketjil-ketjil. Kalau ada kawan mempunjai uang kelebihan beberapa sen, tak ajal lagi

kami tentu mendapat suguhan kopi dan peujeum. Sekali aku mendjandjikan kepada Sutoto kawan sekelas,

bahwa aku akan mentraktirnja, oleh karena ia sering mengadjakku minum. Disore berikutnja ia datang

bersepeda untuk berunding dengan pemimpinnja. Rupanja ia kepanasan dan pajah setelah mendajung

sepedanja dengan tjepat selama setengah djam. Dan pemimpin dari pergerakan nasional terpaksa

menjambutnja dengan, ,,Ma'af, Sutoto, aku tidak dapat bertindak sebagai tuan-rumah untukmu. Aku tidak

punja uang."Kemudian Sutoto mengeluh, ,,Ah, Bung selalu tidak punja uang."Selagi kami duduk-duduk

dengan muka suram ditangga depan, seorang wartawan lewat bersepeda.,,Heee, kemana?" aku

memanggil.,,Tjari tulisan untuk koranku," ia berteriak mendjawab.,,Aku akan buatkan untukmu.",,Berapa ?"

tanjanja mengendorkan djalan sepedanja.,,10 rupiah !" Wartawan itu seperti hendak mempertjepat djalan

sepedanja. ,,Oke, lima rupiah."Tidak ada djawaban. Aku menurunkan tawaranku. ,,Dua rupiah bagaimana ?

Akan kuberikan padamu. Pendeknja tjukuplah untuk bisa mentraktir kopi dan peujeum. Setudju ?",,Setudju

!"Kawanku itu menjandarkan sepedanja kedinding rumah dan sementara dia dan Sutoto duduk disamping aku

menulis seluruh tadjuk. Tambahan lagi dengan pena. Tak satupun jang kuhapus, kutjoret atau kutulis

kembali. Begitu banjak persoalan politik jang tersimpan diotakku. sehingga selalu ada sadja jang akan

ditjeritakan. 15 menit kemudian kuserahkan kepadanja 1.000 perkataan. Dan dengan seluruh uang bajaranku

itu aku membawa Sutoto dan Inggit minum kopi dan menikmati penjeum. Bagi kami kemiskinan itu bukanlah

sesuatu jang patut dimalukan.

Akan kutjeriterakan padamu, bagaimana kami hidup ditahun-tahun duapuluhan. Pada achir liburan Natal

saudara J.A.H. Ondang, seorang kawan, datang kerumah dilarut malam. ,,Bung," katanja. ,,Aku dalam

kesulitan. Apa Bung mau menolongku ?",,Tentu, akan kutolong, Bung", aku tersenjum. ,,Ketjuali kalau perlu

uang djangan tanja padaku, karena kami sendiripun butuh uang.",,Dengarlah," ia menerangkan, ,,Aku pulang

dalam libur ini dan kembali kesini dua hari lebih tjepat daripada dugaan semula. Rupanja njonja tempatku

bajar-rnakanpun pergi berpakansi dan dia belun pulang. Aku tidak bisa masuk kerumah.",,Kehotel sadja,"

saranku.,,Tidak bisa. Aku tidak sanggup membajarnja. Isi kantongku tjuma dua rupiah. Itulah seluruh

milikku. Aku sesungguhnja tidak mau mengganggu Bung, akan tetapi hanja Bung satu-satunja jang kukenal

baik di Bandung ini. Apa bisa aku bermalam disini ?",,Boleh sadja, tjuma rumah kami jang ketjil ini sudah

penuh. Kalau tidak keberatan sekamar dengan kami laki-isteri dan kalau mau tidur ditikar, ja, dengan senang

hati kami terima Bung menginap disini." Bukan main ! Dia berterima-kasih . Selama tiga malam ia tinggal

dengan kami. Kami saling bantu-membantu dihari-hari ini. Seringkali kami mendapat tamu. Para simpatisan

jang berada dalam pengawasan polisi ketika masih beladjar di Negeri Belanda, dengan diam-diam

diselundupkan ketanah-air dan dibawa kerumahku untuk minta pertimbangan.

Kadang-kadang bermalam ditempat kami orang jang membawa ,,Indonesia Merdeka" jang terlarang, jaitu

berkala jang ditjetak oleh kawan-kawan di Negeri Belanda, dan tidak boleh beredar di-tanah-air. Karena itu

kawan-kawan di Amsterdam menggunting artikel-artikel jang penting dan menjisipkannja kedalam madjalah

jang tidak terlarang. Dengan djalan demikian banjak bahan keterangan jang dapat dikirimkan pulang-pergi

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 47 dari 109

melalui samudra luas.Pada tanggal 28 Oktober tahun '28 Sukarno dengan resmi mengikrarkan sumpah

chidmat: ,,Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Ditahun 1928 untuk pertama kali kami menjanjikan lagu

Kebangsaan ,,Indonesia Raya". Dan ditahun 1928 itu pulalah aku didakwa didepan Dewan Rakjat. Gubernur

Djendral jang menjatakan kegiatanku sebagai persoalan jang serius memperingatkan, bahwa ia ,,sangat

menjesalkan sikap non-kooperasi dari P.N.I.," jang katanja ,,mengandung unsur-unsur jang bertentangan

dengan kekuasaan Belanda."Bulan Desember 1928 aku berhasil mengadakan suatu federasi dari partaiku

sendiri—Partai Nasronal Indonesia—dengan semua partaipartai utama jang berhaluan kebangsaan.

Permufakatan PerhimpunanPerhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia ini, jang disingkat P.P.P. K.I.,

memungkinkan kami bergerak dengan satuan kekuatan jang lebih besar daripada jang pernah terdjadi

sebelumnja. Dan badan inipun memberikan kemungkinan bahaja jang lebih besar pula kepadaku sebagai

ketua daripada jang pernah kuhadapi sebelumnja.Maka mulailah Pemerintah Hindia Belanda mengadakan

pengawasan jang tak kenal ampun terhadap P.N.I. dan P.P.P.K.I. Pengaruh dari utjapan-utjapanku jang

sanggup menggerakkan rakjat-banjak merupakan antjaman jang njata bagi Belanda. Apabila Sukarno

berpidato, rakjat tentu berkumpul seperti semut.

Dengan tuntutanku kami selegggarakanlah kegiatan bersama diseluruh pulau. Rapat-rapat jang diadakan

pada umumnja dikendalikan oleh pembitjara-pembitjara dari P.N.I. dalam mana Sukarno mendjadi tokohpenarik

jang paling banjak diminta. Pemerintah Hindia Belanda mendjamin apa jang dinamakannja

kemerdekaan berbitjara, asal pertemuan itu diselenggarakan ,,didalam ruangan dan tidak dapat didengar

dari luar" dan asal rapat diadakan ,,dibawah satu atap dan dibatasi oleh empat dinding" dan asal jang

mendengarkan ,,diatas umur 18 tahun".Merekapun menghendaki, supaja setiap pengundjung memperlihatkan

surat undangan. Djadi, kami tjetaklah sendiri undangan itu dan dengan diam-diam membagikannja pada

waktu orang masuk. Uang untuk biaja diterima dari orang-orang jang tidak dikenal. Seperti misalnja dari

amtenar bangsa Indonesia jang bersimpati dan setjara diam-diam menjerahkan sumbangannja kepada kami.

Untuk mengadakan rapat umum dilapangan terbuka kami harus minta izin dari Pemerintah seminggu

sebelumnja. Aturan jang menggelikan ini patut dihargai oleh karena kami dapat minta izin untuk mengutuk

pemerintah.Aku teringat akan peristiwa disuatu hari Minggu di Madiun. Seperti biasanja kalau Bung Karno

berbitjara, lapangan rapat begitu sesak sehingga ada diantaranja jang djatuh pingsan. Dibagian depan,

diatas kursi jang keras dengan sandarannja jang tegak kaku, duduklah empat orang inspektur polisi. Sudah

mendjadi kebiasaanku untuk memanaskan hadirin terlebih dulu dengan pidato orang lain sebelum tiba

giliranku. Kalau aku akan berbitjara selama satu djam, maka pembitjara sebelumku hanja berpidato lima

menit. Apabila aku berbitjara pendek sadja, orang jang berpidato sebelumku mengambil waktu 45 menit.Ali

djuga hadir. Kutanjakan kepadanja, apakah dia akan menjampaikan pidato pokok. ,,Tidak Bung, tidak !",

djawabnja menolak.

,,Bung tahu saja baru keluar dari pendjara. Saja harus mendjaga gerak-gerik saja. Kalau tidak begitu, polisi

akan bertindak lagi. Biarlah saja duduk sadja dan mendengarkan Bung Karno. Terlalu berbahaja kalau saja

bangkit dan berbitjara, sekalipun hanja mengutjapkan beberapa perkataan."Lautan manusia menunggu

giliranku. Mereka menunggu dengan hati herdebar-debar. Aku duduk dengan tenang diatas panggung,

mendo'a' seperti masih kulakukan sekarang sebelum mulai berpidato. Ketua memperkenalkanku, aku

meminum air seteguk dan melangkah menudju mimbar.,,Saudara-saudara," kataku. ,,Disebelah saja duduk

salah-seorang dari saudara kita jang baru sadja keluar dari pendjara, tidak lain karena ia berdjoang untuk

tjita-tjita. Tadi dia menjampaikan kepada saja keinginannja untuk menjampaikan beberapa pesan kepada

saudara-saudara."Rakjat gemuruh menjambutnja. Ali sendiri hampir mau mati. Mata hari menjinarkan panas

jang menghanguskan akan tetapi Ali berkeringat lebih daripada itu. Aku tidak mau mendjerumuskannja

kedalam kesukaran. Akan tetapi setjara psychologis hal ini penting buat jang hadir, supaja mereka melihat

wadjah salah-seorang dari pemimpinnja jang telah meringkuk dalam pendjara karena memperdjuangkan

kejakinannja dan masih sadja mau mentjoba lagi.Dengan hati jang berat Ali bangkit. Ia mengutjapkan

beberapa patah kata. Ialu duduk kembali dengan segera. Keempat inspektur polisi itu tidak mau melepaskan

pandangannja dari wadjah Ali. Kemudian aku berdiri dan mengambil-alih ketegangan dari Ali dan

menggelorakan semangat untuk berontak.,,Sendjata imperialisme jang paling djahat adalah politik ,,Divide

et Impera". Belanda telah berusaha memetjah-belah kita mendjadi kelompok jang terpisah-pisah jang

masing-masing membentji satu sama lain.

Kita harus mengatasi prasangka kesukuan dan prasangka kedaerahan dengan menempa suatu kejakinan,

bahwa suatu bangsa itu tidak ditentukan oleh persamaan warna kulit ataupun agama. Ambillah misalnja

Negara Swrss. Rakjat Swiss terdiri dari orang Djerman, orang Perantjis dan orang Italia, akan tetapi mereka

ini semna bangsa Swis. Lihat bangsa Amerika jang terdiri dari orang-orang jang berkulit hitam, putih, merah,

kuning. Demikian djuga Indonesia, jang terdiri dari berbagai matjam suku.,,Sedjak dunia terkembang, para

pesuruh dari Jang Maha-Pentjipta telah mengetahui bahwa hanja dalam persatuanlah adanja kekuatan.

Mungkin saja ini seorang politikus jang berdjiwa romantik, jang terlalu sering memainkan ketjapi dari pada

idealisme. Ketika orang Israel memberontak terhadap Firaun, siapakah jang menggerakkan kesaktian ? Jang

menggerakkan kesaktian itu adalah Musa. Nabi Musa 'alaihissalam. Beliaupun bertjita-tjita tinggi. Dan apakah

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 48 dari 109

jang dilakukan oleh Nabi Musa ? Nabi Musa telah mempersatukan seluruh suku mendjadi satu kekuatan jang

bulat.

,,Nabi Besar Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam pun berbuat demikian. Nabi Besar Muhammad adalah

seorang organisator jang besar. Beliau mempersatukan orang-orang jang pertjaja, mendjadikannja satu

masjarakat jang kuat dan setjara gagah-perwira melawan peperangan peperangan, pengedjaran-pengedjaran

dan melawan penjakit dari djaman itu.,,Saudara-saudara, apabila kita melihat suatu gerakan didunia, mula

mula kita lihat timbulnja perasaan tidak senang. Kemudian orang bersatu didalam organisasi. Lalu

mengobarkan revolusi ! Dan bagaimana pula dengan pergerakan krta ? Pergerakan kitapun demikian djuga.

Maka oleh karena itu, saudara-saudara, marilah kita ikuti djedjak badan kita jang baru, jaitu P.P.P.K.I., iang

meliputi seluruh tanah-arr. Hajolah kita bergabung mendiadi keluarga jang besar dengan satu tudjuan jang

besar: menggulingkan Pemerintah Kolonial. Melawannja bangkit bersama-sama dan......... ''Inspektur Polisi

jang memakai tongkat memukulkan tongkatnja sambil berteriak, ,,Stop.... Stop.....''

Kemudian keempat-empatnja me-lompat dari tempat-duduk mereka. Rakjat jang sudah tegang

pikirannjaberada dalam suasana berbahaja karena polisi mengantjamku dan me-reka seperti hendal

menierang keempat inspektur itu ketika seorangmemandjat keatas panggung dan bertari kebelakang sambil

bersiulminta bantuan. Lima menit kemudian muntjullah sebuah bis membawa 40 orang polisi bersendjata

lengkap. Aku ditarik kebelakang panggung,turun tangga menudju kedjalanan dan diiringkan kekantor

polisi.Setelah mendapat peringatan jang sungguh-sungguh aku dibebaskan lagi. ,,Djangan mentjan perkara,

tuan Sukarno. Kalau terdjadi sekali lagi, kami akan giring tuan kedalam tahanan. Tuan akan meringkuli

dibelakang djeradjak-besr untuk waktu iang lama. Mulai sekarang ini djagalah langkah tuan. Tuan tidak akan

begitu bebas lagi lain kali "Malam itu Inggit mendapat suatu bajangan mimpi. Ia melihat polisi berpakaian

seragam menggeledah rumah kami. Penglihatan ini datang lagi kepadanja dengan kekuatan jang sama persis

sampai jang seketjilketjilnja selama lima malam berturut-turut. Dihari jang kelima aku harus pergi ke Solo

untuk menghadiri rapat umum. Dengan sedih ia mengikutiku sampai kepintu depan. Wadjahnja berkerut dan

tegang. Sewaktu aku pergi, suatu firasat telah menjekap batinja. Ia memanggil nama-kecilku dengan lembut.

,,Kus," katanja lunak, ,,Djangan pergi.........djangan kau pergi."

Bab 9

Masuk Tahanan

SEPANDJANG hari dan malam senantiasa melekat dikepala kami antjaman masuk pendjara. Didalam Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana telah dinjatakan, bahwa: ,,Seseorang jang kedapatan mengeluarkan

perasaan-peraeaan kebentjian atau permusuhan setjara tertulis maupun lisan—atau seseorang jang

berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan jang menghasut untuk mengadakan

pengatjauan atau pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, dapat dikenakan hukuman setinggitingginja

tudjuh tahun pendjara." Dengan semakin pesatnja pertumbuhan dari P.P.P.K.I., maka pengawasan

terhadap Sukarno semakin diperkeras pula. Aku sudah mendapat peringatan dan aku menjadari sungguhsungguh

akibat dan peringatan ini. Semua orang revolusioner bertindak demikian. Ini adalah bagian dari

peperangan hebat jang kami djalankan. Dalam perdjalanan ke Solo dengan salah seorang wakil dari P.N.I.,

Gatot Mangkupradja, aku menjinggung soal ini. ,,Bung, setiap agitator dalam setiap revolusi tentu

mengalami nasib masuk pendjara," aku menegaskan.

,,Disuatu tempat, entah dengan tjara bagaimana, suatu waktu tangan besi dari hukum tentu akan djatuh

pula diatas pundakku. Aku mempersiapkanmu sebelumnja.",,Apakah Bung Karno takut ?" tanja Gatot.

,,Tidak, aku tidak takut," djawabku dengan djudjur. ,,Aku sudah tahu akibatnja pada waktu memulai

pekerdjaan ini. Akupun tahu, bahwa pada satu saat aku akan ditangkap. Hanja soal waktu sadja lagi. Kita

harus siap setjara mental." ,,Kalau Bung, sebagai pemimpin kami, sudah siap, kamipun siap." katanja.

,,Seseorang hendaknja djangan melibatkan dirinja kedalam perdjuangan mati-matian, djika ia sebelumnja

tidak insjaf akan akibatnja. Musuh akan mengerahkan segala alat-alatnja berulang-ulang kali supaja dapat

terus-menerus memegang tjengkeramannja jang mematikan. Tapi, sekalipun berabad-abad mereka

mendjerumuskan puluhan ribu rakjat masuk bui dan masih sadja melemparkan kita kedalam pembuangan

ditempat-tempat jang tidak berpenduduk, djauh dari masjarakat manusia, saatnja akan tiba pada waktu

mana mereka akan musnah dan kita memperoleh kemenangan. Kemenangan kita adalah suatu keharusan

sedjarah—tidak bisa dielakkan.",,Kata-kata itu memberikan keberanian padaku, Bung Karno." kata Gatot.

,,Dalam perdjalanan diatas gerobak-sampah menudju ketiang-gantungan, Pemimpin Revolusi Perantjis

berkata kepada dirinja sendiri: 'Aurlace, Danton Toujours de l'audace'. Ia terus-menerus mengulangi katakata

itu: 'Beranikan dirimu, Danton. Djangan kau takut !' Karena ia jakin, bahwa perbuatan-perbuatannja

akan dilukis dalam sedjarah dan tantangan terhadapnjapun merupakan saat jang bersedjarah.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 49 dari 109

Dia tidak pernah meragukan akan datangnja kemenangan jang terachir dan gilang-gemilang. Djadi, akupun

begitu.",,Ada diantara pedjuang kita jang selalu keluar masuk bui setjara tetap," kata Gatot menerangkan.

,,Seorang pemimpin jang di Garut. Dia sudah masuk 14 kali. Pembesar disana menamakannja sebagai

pengatjau. Dalam djangka waktu enam tahun dia meringkuk selama enam bulan didalam pendjara, setelah

itu bebas selama dua bulan, lalu masuk selama enam bulan dan keluar lagi tiga bulan, kemudian delapan

bulan dibelakang djeradjak besi. Setelah itu dia bebas lagi selama satu setengah tahun dan hukumannja jang

terachir adalah dua tahun."Kami berangkat dengan taksi. Supir kami, Suhada, tergolong sebagai simpatisan.

Dia sudah terlalu tua untuk dapat mengikuti kegiatan kami. Dia turut dengan kami tjuma untuk

mendengarkan dan menjaksikan sadja. Sedjak permulaan perdjalanan Suhada tidak membuka mulutnja, tapi

kini dia bertanja dengan ramah, ,,Berapa banjak saudara-saudara kita jang meringkuk dalam pembuangan

?"Aku tidak perlu berpikir mendjawabnja. Aku tahu djumlahnja diluar kepala. ,,Lebih dari duaribu dibuang di

Tanah Merah, ditengah-tengah hutan Boven Digul di Nieuw Guinea jang keadaannja masih seperti di Djaman

Batu. Dan pada waktu pembawa-pembawa obor kemerdekaan ini diusir masuk kedalam hutan lebat, mereka

pergi dengan tersenjum. Ketika mereka tidak mau mundur setapakpun dari kejakinannja, maka 300 orang

diantaranja dibawa ketempat jang lebih menjedihkan, jaitu kamp konsentrasi di Tanah Tinggi. Disitu

bertaburanlah kuburan mereka.

Dari jang 300 orang itu hanja 04 orang jang masih hidup.",,Pengorbanan seperti itu telah pula terdjadi

dipulau Muting dan pulau Banda," kataku melandjutkan. ,,Tapi ingatlah, tidak ada pengorbanan jang sia-sia.

Ingatkah engkau tentang keempat pemimpin jang digantung di Tjiamis ?"Mereka menganggukkan

kepala.,,Salah seorang dari mereka berhasil menjusupkan surat kepadaku dimalam sebelum mendjalani

hukumannja. Surat itu berbunji: 'Bung Karno, besok saja akan mendjalani hukuman gantung. Saja

meninggalkan dunia jang fana ini dengan hati gembira, menudju tiang-gantungan dengan kejakinan dan

kekuatan batin, oleh karena saja tahu bahwa Bung Karno akan melandjutkan peperangan ini jang djuga

merupakan peperangan kami. Teruslah berdjuang, Bung Karno, putarkan djalannja sedjarah untuk semua

kami jang sudah mendahului sebelum perdjuangan itu selesai.'"Keadaan dalam mobil mendjadi sunji. Tak

seorangpun jang hendak mengutjapkan sesuatu. Suhada terus mengemudikan kendaraan dengan air mata

berlinang. Satu-satunja suara ialah denjutan djantung kami jang menderap-derap serentak dalam satu

pukulan irama. Di Solo dan dekat Djogjakarta kami mengadakan beberapa rapat umum. Malam itu aku

berbitjara untuk pertamakali tentang ,,Perang Pasifik" jang akan berkobar. Tahun ini adalah 1929. Setiap

orang mengira aku ini gila. Dengan darahku jang mengalir tjepat karena golakan perasaan jang gembira dan

hampir tak tertahankan, keluarlah dari mulutku utjapan jang sekarang sudah terkenal: ,,Imperialis,

perhatikanlah !

Apabila dalam waktu jang tidak lama lagi Perang Pasifik menggeledek dan menjambar-njambar membelah

angkasa, apabila dalam waktu jang tidak lama lagi Samudra Pasifik mendjadi merah oleh darah dan bumi

disekelilingnja menggelegar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, maka disaat itulah rakjat Indonesia

melepaskan dirinja dari belenggu pendjadjahan dan mendjadi bangsa jang merdeka." Utjapan ini bukanlah

ramalan tukang-tenung, iapun bukan pantulan daripada harapan berdasarkan keinginan belaka. Aku melihat

Djepang terlalu agressif. Bagiku, apa jang dinamakan ramalan ini adalah hasil daripada perhitungan

berdasarkan situasi revolusioner jang akan datang. Rapat ini bubar pada waktu tengah malam. Kami

bermalam dirumah Sujudi, seorang pengatjara dan anggota kami di Djogja jang tinggal pada djarak kurang

dari dua kilometer dari situ. Kami memasuki tempat-tidur pada djam satu.Djam lima pagi, ketika dunia

masih gelap dan sunji, kami terbangun oleh suara jang keras. Ada orang menggedor pintu. Aku terbangun

begitu tiba-tiba, sehingga pada detik itu aku mengira ada tetangga jang berkelahi. Gedoran itu masih terus

terdengar. Ia semakin lama semakin keras, semakin lama semakin mendesak Gedoran ini diiringi oleh suara

jang kasar disekitar rumah Sujudi. ,,Inikah rumah tempat pemimpin revolusioner menginap ?" satu suara

bertanja. ,,Jah, inilah tempatnja," suara garang jang lain mendjawab. Kemudian lebih banjak suara

terdengar meneriakkan perintah-perintah. ,,Kepung rumah ini—halangi pintu—." Sementara itu bunji jang

meremukkan dari pukulan gada dipintu ............... semakin lama semakin keras, kian lama kian tjepat.

Dengan gemetar aku menjadari, bahwa inilah saatnja. Nasibku sudah pasti. Gatot Mangkupradja jang

pertama pergi kepintu. Ia membukanja dan masuklah seorang inspektur Belanda dengan setengah lusin polisi

bangsa Indonesia. Kami menamakannja ,,reserse". Semua berpakaian seragam. Semua memegang pistol

ditangan. Mereka ini adalah pemburu. Kami binatang buruan. Rentak sepatu jang menundjukkan kekuasaan

terdengar menggema keseluruh daerah sebelah-menjebelah, rentak sepatu pada waktu mereka menderap

sepandjang rumah.

Orang kulitputih jang bertugas itu berteriak, ,,Dimana kamar tempat Sukarno tidur ?"Kamarku sebelahmenjebelah

dengan kamar Sujudi. Ketudjuh orang itu berbaris melalui kamar Sujudi dan terus kekamarku.

Aku keluar dari tempat-tidur dan berdiri disana dengan pakaian pijama. Aku tenang. Sangat tenang. Aku

tahu, inilah saatnja. Inspektur itu berhadap-hadapan denganku dan berkata, ,,Atas nama Sri Ratu saja

menahan tuan." Aku telah mempersiapkan diri selalu untuk menghadapi kesulitan. Betapapun, pada waktu

tiba saatnja timbul djuga perasaan jang tidak enak.,,Kenakan pakaian tuan," ia memerintahkan. ,,Dan ikut

dengan saja." Ia berdiri dalam kamar itu dan menungguku berpakaian. Aku tidak diizinkan membawa barangBUNG

KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 50 dari 109

barangku. Bahkan tas dengan pakaian penggantipun tidak boleh. Hanja jang lekat dibadanku.Diluar, dengan

senapan dalam sikap sedia, berdiri 50 orang polisi mengepung rumah dengan sekitarnja dan djalan jang

menudju kesana. Tiga buah mobil telah siap. Jang tengah adalah kendaraan chusus dimana kami, pendjahatpendjahat

jang berbahaja, dimasukkan dan diiringkan kekantor polisi. Kedalam mobil itu dimasukkan pula

Gatot dan supir taksi itu, jang samasekali tidak bersalah dalam menghasut rakjat. Kesalahannja hanjalah

karena ia terlalu mentjintai.

Ia mentjintai negerinja, dan ia mentjintai pemimpinnja. Suhada dibebaskan segera, akan tetapi sementara

itu mereka mentjatat namanja, karena orang inipun kelihatan seperti pendjahat besar dimata mereka.

Beberapa tahun kemudian ia meninggal. Permintaannja jang terachir ialah, ,,Tolonglah, saja ingin

mempunjai potret Bung Karno didada saja." Permintaannja itu dipenuhi. Ia lalu melipatkan tangannja jang

kerisut memeluk potretku dan kemudian berlalu dengan tenang. Dengan pendjagaan jang kuat, diiringkan

dikiri-kanan oleh sepeda motor dan dengan sirene meraung-raung dan lontjeng berdentang-dentang,

Sukarno, Gatot dan sopir tua itu dibawa ke Margangsan, pendjara untuk orang gila.Kami diperiksa satu demi

satu dan dimasukkan kedalam sel. Ketika pintu besi terkuntji rapat dimuka kami, seluruh dunia kami

tertutup. Kami berada dalam kesunjian. Segala sesuatu terdjadi begitu tjepat, sehingga kami tidak punja

kesempatan untuk menjelundupkan sepatah kata kepada pengikut kami. Tidak seorangpun jang mengetahui

dimana kami berada. Mereka bahkan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mengadakan kontak dengan

Inggit. Tidak ada pertjakapan. Kami tidak diperbolehkan apa-apa. Sekalipun demikian, apa hendak dikata.

Kami tahu apa artinja ini dan masing-masing tenggelam dengan pikirannja sendiri. Apa jang terlintas dalam

pikiranku ialah, bahwa aku tidak memperoleh firasat. Tidak ada tanda-tanda bahaja.

Aku dengan mudah tertidur malam itu tanpa mengalami sesuatu sensasi, bahwa pada tanggal 9 Desember

1929 bagi kami akan mendjadi hari nahas. Semua ini mengedjutkanku. Seluruh gerakan telah mereka

rentjanakan dengan baik. Djam dua siang kami diberi nasi. Sebelum dan sesudah itu tidak ada hubungan

dengan seorangpun. Setelah satu hari satu malam penuh esok paginja seperti dipagi sebelumnja tepat djam

lima polisi datang. Mereka tidak berkata apa-apa. Pun tidak menjampaikan kemana kami akan dibawa.

Begitupun tentang apa jang akan diperbuat terhadap kami. Dua buah kendaraan membawa kami kestasiun.

Empat orang polisi dengan uniform dan pistol duduk ditiap kendaraan itu. Pengangkutan ini direntjanakan

sampai kepada menit dan detiknja. Begitu kami sampai, sebuah kereta-api hendak berangkat. Kami

diperintahkan naik. Sebuah gerbong istimewa telah tersedia buat kami. Pintu-pintu pada kedua udjungnja

dikuntji, setiap djendela ditutup rapat. Kami dilarang berdjalan-djalan atau berdiri untuk maksud apapun

djuga. Kalau kami akan pergi kebelakang seorang sersan mengiringkan kami.

Dengan diapit oleh polisi duduklah kami ditempat jang berhadap-hadapan. Selama 12 djam tidak boleh buka

mulut. Satu-satunja jang dapat kukerdjakan sehari penah ialah memandangi Belanda jang pandir itu. Djam

tudjuh malam kami diperintahkan turun di Tjitjalengka jang letaknja 30 kilometer dari Bandung. Mereka

dengan sengadja menurunkan kami disitu untuk menghindarkan ketegangan jang mungkin timbul. Disana satu

pasukan barisan pengawal telah menantikan kami. Lima Komisaris, dua pengendara sepedamotor, setengah

lusin inspektur beserta arak-arakan kami jang terdiri dari sedan-sedan hitam meluntjur ke

Bandung.Perdjalanan itu tidak lama. Kami hanja sempat menggetar gugup sesaat ketika sampai dirumah

kami jang baru. Di-depannja tertulis: Rumah Pendjara Bantjeuj.

Bab 10

Pendjara Bantjeuj

BANTJEUJ adalah pendjara tingkat rendah. Didirikan diabad kesembilanbelas, keadaannja kotor, bobrok dan

tua. Disana ada dua matjam sel. Jang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek

— sebangsa ikan jang murah dan mendjadi makanan orang jang paling miskin — adalah nama djulukan untuk

rakjat djelata.

Pepetek tidur diatas lantai. Kami tahanan tingkat atas tidur diatas pelbed besi jang dialas dengan tikarrumput

setebal karton. Makanannja makanan pepetek nasi merah dengan sambal. Segera setelah aku masuk,

rambutku dipotong pendek sampai hampir botak dan aku disuruh memakai pakaian tahanan berwarna biru

pakai nomor dibelakangnja.

Rumahku adalah Blok F. Suatu petak jang terdiri dari 36 sel menghadap kepekarangan jang kotor. 32 buah

masih tetap kosong. Mulai cari udjung maka empat buah nomor jang berturut-turut telah terisi. Aku tinggal

dinomor lima. Gatot tudjuh. Esok paginja Maksum dan Supriadinata, dua orang wakil P.N.I. lainnja,

dimasukkan berturut-turut kenomor sembilan dan sebelas.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 51 dari 109

Penahanan kami bukanlah keputusan jang mendadak. Ia telah dipersiapkan dengan baik—sampai kepada selselnja.

Berbulan-bulan sebelum kami ditangkap, kawan-kawan di Negeri Belanda telah menulis, ,,Hatihatilah.

Pemerintah Belanda lebih mengetahui tentang kegiatanmu daripada jang kauketahui sendiri. Tidak

lama lagi engkau akan ditangkap."

Sebagaimana kuketahui dari Maskun dan Supriadinata, jang ditangkap di Bandung pada saat jang bersamaan

denganku, diminggu pagi itu telah diadakan penggeledahan diseluruh Djawa. Ribuan orang telah ditahan,

termasuk 40 orang tokoh P.N.I., dengan dalih bahwa Pemerintah telah mengetahui tentang rentjana

pemberontakan bersendjata jang katanja akan diadakan pada permulaan tabun 1930. Ini bohong. Ini adalah

tipu-muslihat, agar dapat mengeluarkan perintah segera untuk menangkap Sukarno. Malam itu kereta-api

didjaga, stasiun-stasiun bis dikepung, milik perseorangan disita dan diadakan penjergapan setjara

menjeluruh dan serentak dirumah-rumah dan kantor-kantor kami diseluruh Djawa dan Sumatra.

Usaha untuk memperingatkanku gagal. Polisi menjelidiki dimana aku berada. ,,Dimana Sukarno ?" tanja

mereka ketika datang memeriksa rumah Ali Sastroamidjojo di Solo dimana aku bermalam dihari sebelumnja.

Ali meneruskan berita ini, akan tetapi pada waktu ia mengadakan hubungan dengan Djogja, kepadanja telah

disampaikan, ,,Terimakasih atas peringatan itu. Mereka telah membawa Bung Karno sepuluh menit jang

lalu."

Gatot, Maskun, Supriadinata dan aku dipisahkan samasekali dan masjarakat luar. Tidak boleh menerima

tamu. Tidak ada hubungan. Tak seorangpun jang dapat kami lihat, termasuk tahanan jang lain. Tak

seorangpun jang dapat mendekati kami. Setelah beberapa hari datang seorang penjelidik chusus dan

berlangsunglah pemeriksaan. Ia menanjaku minggu demi minggu selama tiga bulan. Aku tidak mengerti,

mengapa dia begitu susah-susah. Persoalannja sudah tjukup djelas. Ini bukan perkara perampokan, dalam hal

mana mereka harus menjiasati dimana barang-barang rampokan itu disembunjikan. Ini bukan perkara

kedjahatan, dimana mereka harus mengetahui sebab-sebabnja. Mereka tahu apa jang kami lakukan dan

mengapa kami melakukannja.

Selku lebarnja satu setengah meter— separonja sudah terpakai untuk tidur— dan pandjangnja betul-betul

sepandjang peti-majat. Ia tidak berdjendela tempat mendjenguk dan tidak berdjeradjak supaja bisa

mengintip keluar. Tiga buah dinding dari kuburanku adalah semen mulai dari lantai sampai keloteng.

Pendjara Belanda didjaman kami tidak dapat disamakan dengan pendjara jang bisa disaksikan dilajarputih

dimana pendjahat didjebloskan kedalam sel jang luas berdjeradjak besi, pakai lampu dan masuk udara dari

segala pendjuru. Pintu kami terbuat dari besi hitam padat dengan sebuah lobang ketjil. Lobang ini ditutup

dari luar. Pendjaga dapat melihat kedalam, akan tetapi ia tertutup buat kami. Tepat setinggi mata ada

sebuah tjelah tempat mengintip lurus keluar. Dari tjelah itu aku tidak mungkin melihat arah kebawah,

keatas ataupun kesamping. Pun tidak mungkin melihat daerah sekitar itu seluruhnja ataupun melihat mata

lain jang mengerdip kepadamu dari balik pintu besi diseberangnja. Sesungguhnja tiada jang terlihat selain

tembok dan kotoran.

Tempat itu gelap, lembab dan melemaskan. Memang, aku telah lebih seribu kali menghadapi hal ini semua

dengan diam-diam djauh dalam kalbuku sebelum ini akan tetapi ketika pintu jang berat itu tertutup rapat

dihadapanku untuk pertama kali, aku rasanja hendak mati. Pengalaman jang meremukkan. Aku adalah

seorang jang biasa rapi dan pemilih. Aku adalah seorang jang suka memuaskan perasaan. Aku menjukai

pakaian bagus, makanan enak, mentjintai sesuatu dan tak dapat menahankan pengasingan, kekotoran,

kekakuan, penghinaan-penghinaan kedji jang tak terhitung banjaknja dari kehidupan tawanan. Aku

berdjingkat diudjung djari kaki mengintip melalui tjelah itu dan berbisik, ,,Engkau terkurung, Sukarno.

Engkau terkurung."

Hanja tjitjaklah jang mendjadi kawanku selama berada di Bantjeuj. Binatang ketjil jang abu-abu kehidjauan

itu dapat berobah warna menurut keadaan sekitarnja. Ia sering terlihat merangkak disepandjang loteng dan

dinding kalau hari sudah mulai gelap. Didaerah beriklim panas binatang - binatang ini merupakan penangkis

njamuk tjiptaan alam. Mungkin orang lain tidak menjukai binatang ini dan tidak menganggapnja lutju, tapi

bagiku ia adalah tjiptaan Tuhan jang paling mengagumkan selama aku berada dalam tahanan.

Makanan kami diantarkan kesel. Djadi apabila tjitjak-tjitjakku berkumpul, akupun memberinja makan.

Kuulurkan sebutir nasi dan menantikan seekor tjitjak ketjil merangkak dari atas loteng. Tentu ia akan

merangkak turun didinding, mengintip kepadaku dengan mata seperti butiran mutiara, kemudian melompat

dan memungut nasi itu, lalu lari lagi. Aku tetap duduk disana menantikannja dengan tenang tanpa bergerak

dan, lima menit kemudian ia datang lagi dan aku memberikan butiran nasi jang lain. Ja, aku menjambutnja

dengan senang hati dan mendjadi sangat terpikat kepada binatang ini. Dan aku sangat bersjukur, karena

masih ada machluk hidup jang turut merasakan pengasinganku ini bersama-sama.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 52 dari 109

Jang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah pengurungan. Seringkali djauh tengah

malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak ketjil berdinding batu jang begitu sempit, sehingga kalau

aku merentangkan tangan, aku dapat menjentuh kedua belah dindingnja. Dan aku tidak dapat

menahankannja. Rasanja aku tidak dapat bernapas. Kupikir lebih baik aku mati.

Ketika keadaan ini semakin terasa menekan, suatu perasaan gandjil menjusupi diriku. Ada saat-saat dimana

badanku terasa membesar melebihi daripada biasa. Suatu perasaan mentjekam diriku, djauh samasekali

daripada keadaan normal. Aku berbaring diatas tempat tidurku jang keras dan memedjamkan mata. Tapi

keras, tertutup keras. Dengan pelahan, karena bajangan pikiran jang kuat, aku merasa tangan kananku

membesar. Ia semakin besar ........besar .........besar....... besar ........besar ........lebih besar dari pada

selku sendiri. Ia mengembang dan mengembang, dan membinasakan dinding sel. Tangan kanan adalah

lambang kekuatan, namun apakah ini sebagai pertanda daripada hari-depanku atau tidak, aku tidak

mengerti. Aku hanja tahu, bahwa hal ini datang menguasai diriku disaat aku berada dalam keadaan sangat

tertekan. Dan kemudian ia menjusut lagi setjara pelahan .........pelahan ........pelahan sekali sampai ia

mentjapai ukuran jang biasa lagi. Kadang-kadang dimalam itu djuga ia muntjul kembali. Aku tak pernah

melihat, akan tetapi aku merasakannja.

Aku mengalami suatu bajangan jang lain. Pendjara Bantjeuj terletak dipusat kota, tidak diluar ditengahtengah

tempat jang lapang. Disana tidak ada burung. Sekalipun demikian, djauh ditengah malam, bila semua

sudah senjap ketjuali pikiranku, dan disaat Gatot, Maskun dan Supriadinata sudah tidur njenjak semua, aku

mendengar burung perkutut diatas atap kamarku. Kudengar burung-burung itu bersiul dan rnenjanji, begitu

djelas seakan ia hinggap dipangkuanku. Tak seorangpun pernah mendengarnja, ketjuali aku. Dan aku sering

mendengarnja.

Setelah empatpuluh hari, aku diizinkan untuk pertamakali bertemu dengan Inggit. Sampai saat itu tiada

hubungan apapun djuga. Bahkan suratpun tidak. Kami bertemu diruang tamu. Djaring kawat memisahkan

kami. Pendjaga-pendjaga berdiri disekeliling menuliskan segala jang kami utjapkan. Kami boleh berbahasa

Indonesia atau Belanda, dan tidak boleh dalam bahasa daerah. Kami tidak boleh saling berpelukan. Itu

terlarang. Dan jang kedua, bukanlah mendjadi kebiasaan orang Timur. Isteriku hanja memandang kedalam

mataku dan dengan seluruh kasih jang dapat ditjurahkannja ia berkata, ,,Apa kabar ?"

Aku tersenjum dan berkata, ,,Baik, terimakasih."

Apa lagi jang dapat kuutjapkan ? Demikian banjak jang harus ditjurahkan, sehngga apa lagi jang dapat

kuutjapkan? Dalam lima menit jang diberikan kepada kami, kami membitjarakan bajangan gaib jang

diperolehnja. lnggit senantiasa mendjadi djimat bagiku. Kemana sadja aku pergi, dia turut. Akan tetapi kali

ini adalah jang pertama kali ia tidak ikut denganku.

Baru sekarang setelah dalam tawanan ia menerangkan, ,,Aku tinggal diminggu itu karena aku kuatir, kalaukalau

polisi-polisi jang kulihat dalam bajangan itu betul-betul datang dan menggerebek rumah. Memang

itulah jang terdjadi. Persis seperti jang kulihat dalam bajanganku itu."

Pendjaga memberi isjarat supaja berbitjara lebih keras. ,,Apakah hidupmu terdjamin ?" tanjaku.

,,P.N.I. memberiku uang dan kawan-kawanmu djuga mengirimi uang dan oleh-oleh kalau mereka datang

mendjengukku. Djangan susahkan tentang diriku.

Bagaimana keadaanmu ?" Bagaimana keadaanku ? Darimana aku akan mulai bertjeritera kepadanja. Kami

terlalu saling mentjintai satu sama lain untuk bisa rnemikul bersama-sama beban jang berat dalam hati

kami. Aku tidak ingin dia turut merasakan detik-detik jang berat dalam siksaan dan iapun tidak ingin aku

turut merasakan kesusahannja. Kami berbitjara bagai dua orang asing ditengah djalan. Aku ingin

menahannja. Aku ingin meneriakkan bahwa aku mentjintainja dan perlakuan terhadap kami tidak adil

samasekali. Akan tetapi dengan nada jang hambar tiada bergaja-hidup aku bersungut, ,,Semua baik. Aku

tidak mengeluh."

Pengawas pendjara di Bantjeuj orang Belanda semua. Ditingkat jang lebih rendah, jaitu mereka jang

sebenarnja memegang kuntji, adalah orang-orang Indonesia. Blok dari sel kami jang terpisah didjaga chusus

oleh seorang sipir jang tugasnja semata-mata mengawasi kami. Bung Sariko baik sekali terhadapku. Ia

mengakui tawanan jang istimewa ini sebagai pemimpin politiknja. Ia adalah pendjagaku, akan tetapi dalam

hatinja ia mengakui bahwa aku pelindungnja.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 53 dari 109

Setjara diam-diam semua petugas pendjara berpihak kepadaku. Selalu mereka berbuat sesuatu untukku.

Sarikolah jang pertama-tama membuka djalan dengan memberiku rokok, buku-buku dan membawa berita

bahwa Iskaq, bendahara kami, telah ditahan. Setelah memperlihatkan kesungguhannja, disuatu pagi ia

berbisik, ,,Bung, kalau hendak menjampaikan pesan kedalam atau keluar, katakanlah. Saja akan bertindak

sebagai perantara. Inilah tjara saja untuk menjumbangkan tenaga."

Suratkabar tidak dibolehkan samasekali. Disaat itu keinginanku untuk memperolehnja melebihi daripada

segala sesuatu didunia ini, ,,Suratkabar, Bung," aku berbisik kembali. ,,Tjarikanlah saja suratkabar."

Dihari berikutnja aku berada dikamar-mandi mentjutji dibak. Pada waktu mengambil handuk aku dapat

merasakan ada suratkabar dilipatkan kedalamnja. Dihari selandjutnja ketika makananku diantarkan kedalam,

sebuah suratkabar diselipkan dibawah piring.

Aku memikirkan suatu akal, sehingga kami semua dapat membatjanja. Aku berhasil memperoleh benangdjahit

dan pada djam enam, sebelum dikurung untuk malam hari, aku merentangkan benang halus itu

ditanah sepandjang empat sel, sehingga ia merentang dari pintuku kepintu Supriadinata. Kalau aku sudah

selesai membatja suratkabar itu, kuikatkan ia keudjung benang, mengintai keluar, ragu-ragu sebentar untuk

melihat apakah ada orang jang datang, kemudian berteriak, ,,Vrij." Ini sebagai tanda bahwa blok kami

tertutup dan tidak ada pendjaga berdiri diposnja saat itu. Kemudian aku memanggil ,,Gatot !" sebagai tanda

untuk Gatot supaja menarik benangnja. Dengan menariknja setjara hati-hati suratkabar itu sampai

kepintunja dan kemudian menariknja melalui bawah pintu. Begitupun tjaranja untuk Maskun dan

Supriadinata. Kalau sekiranja pendjaga kami melihat benang itu ditjahaja sendja, ia melengah.

Sarikopun memberitahu kepadaku kapan akan diadakan pemeriksaan. Kalau sel kami kotor pada waktu

pengawas kami lewat untuk memeriksa, kami mendjadi sasaran hukuman. Djam lima tigapuluh setiap pagi

tugas kami jang pertama ialah membersihkan sel dan mengosongkan kaleng tempat buang-air. Aku selalu

kuatir terhadap Maskun, karena dia jang paling muda dan agak serampangan. Kuperingatkan dia. ,,Maskun,

kau harus melatih diri untuk kebersihan, karena engkau bisa djadi korban pertjuma karena ini."

Ia menjeringai, ,,Bung terlalu hati-hati dengan segala sesuatu dan ini disebabkan karena Bung orang tua.

Bung sudah 28 tahun. Alasanku bersifat lebih serampangan karena aku baru 21. Masih muda !",,Baiklah, anakmuda-

pengatjau," djawabku kepadanja. ,,Baik kita lihat siapa jang dapat hukuman siapa jang tidak."

Pada pemeriksaan selandjutnja tidak lama setelah itu Maskun dihukum tiga hari ditempat. Ini berarti, bahwa

dia tidak dapat membatja buku dan rekreasi. Ia terpaksa tinggal terasing dalam kamarnja. Untuk mentjegah

hal ini djangan terdjadi lagi aku memikirkan satu tanda. Perhubungan hanja dapat dilakukan dengan bunji,

karena kami tidak dapat saling melihat. Kami menggunakan tanda-tanda ketokan. Misalkan aku mendapat

berita, bahwa esok paginja akan diadakan pemeriksaan mendadak. Aku mengetok pada daun pintu besi jang

menggetar tok ......tok. Dua ketokan berat berarti,,,Besok pengawas datang, djadi bersihkan selmu."

Ada diantara petugas bangsa Belanda jang merasa, bahwa kami tidak patut dipersalahkan melakukan

kedjahatan, karena mentjintai kemerdekaan. Merekapun bersikap rarnah kepada kami. Disamping itu, ia mau

melakukan sesuatu asal diberi uang. Apa sadja. Bahkan tidak perlu diberi banjak-banjak. Mula-mula aku

menjangka, bahwa mereka sangat takut pada djabatannja untuk mau menerima suap, tapi ternjata mereka

ini termasuk dalam djenis jang rendah, jang mau mengchianati prinsip-prinsip mereka dengan sangat murah.

Seharga sebotol bir.

Ketika aku berhadapan dengan seorang jang baik hati, aku menerangkan, ,,Saudara, saja bekerdja untuk

rakjatku. Itulah satu-satunja kedjahatanku. Mengapa saudara mendjaga saja begitu teliti ? Tjobalah

melengah sedikit." Terkadang ini berhasil, terkadang tidak. Tapi kebanjakan ada hasilnja. Itulah sebabnja

mengapa aku berkawan dengan pengawas bui bernama Bos. Tuan Bos adalah seorang Belanda jang baik tapi

goblok. Aku tak pernah mentjoba mempengaruhi pikirannja dalam pandangan politik. Aku sudah tjukup

bersjukur dapat mempergunakannja kadang-kadang untuk suatu kesenangan. Pada suatu hari Bos datang

dengan menjeret-njeretkan kakinja ketempatku jang gelap dan aku dapat melihat sebelah matanja bengkak

seperti balon. ,,Hee, Bos," aku berteriak, ,,Kenapa matamu ? Bengkak dan biru !"

Ia berdiri disana terhujung-hujung dan memegang mata jang sakit itu. ,,Oooooohhh," ia mengeluh kesakitan,

,,Pernah kau lihat jang keterlaluan begini. Oooohhhh, aku sakit sekali. Rasanja sakit sekali."

Orang jang malang itu betul-betul sangat menderita. ,,Katakanlah, Bos." kataku. ,,Kenapa kau?" Ia mengintip

kepadaku dengan matanja jang satu lagi dan mengeluh, ,,Oooohhhh, ooooohhh, Sukarno, kenapa aku ! Tiga

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 54 dari 109

hari jang lalu aku bertjintaan dengan seorang pelatjur. Dan pada waktu aku selesai aku menghapus badanku

dengan saputangan."

,,Apa hubungannja dengan matamu ?"

,,Ja, tentu sadja ada hubungannja, kumasukkan saputanganku kembali kedalam kantong sewaktu sudah

selesai sewaktu sudah selesai. Beberapa djam kemudian, tanpa berpikir, aku mengeluarkan saputanganku

lagi dan menggosok mataku dengan itu. Nah, inilah hasilnja. Gadis itu tentu tidak bersih dan mataku infeksi,

jang berasal dari gadis itu. Dan sekarang......sekarang......kaulihat aku ini ! !"

,,Aah, kasihan. Bos, kasihan, kasihan," kataku seperti ajam berkotek. ,,Aku merasa kasihan padamu." Dan

memang sesungguhnja aku kasihan kepadanja. Aku tawanannja. Dia berkelujuran diluar, telah melepaskan

hawa-nafsunja pada seorang perempuan latjur, sedang aku dikurung dalam sel jang dingin dan tak pernah

diberi kesennpatan sekalipun memegang tangan isteriku .....dan aku....kasihan kepadanja.

Ketika Bos menjusup pergi sambil mengeluh dan merintih, aku gembira, karena Bos tidak mengatakan padaku

bahwa gadis itu adalah salah-seorang anggota partaiku. Hal jang demikian dapat meruntuhkan persahabatan

kami. Ketika aku tak dapat lebih lama lagi menelan kesepian, kegelapan dan keadaan kotor, maka aku mulai

bermain dengan Gatot. Aku berhasil mendapat buku wajang. Wajang ini adalah bentuk seni jang paling

populer di Indonesia. Dengan menggunakan bentuk-bentuk dari kulit jang memberikan bajangan pada lajarputih

maka dalang menggambarkan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, kisah-kisah Hindu klasik dari

masa lampau. Ini adalah drama keramat dari Indonesia.

Gatot kusuruh membatja buku ini. Aku sudah hafal semua kisah-kisah itu. Semendjak ketjil aku mengagumi

tjerita wajang. Sewaktu masih di Modjokerto aku menggambar-gambar wajang dibatu-tulisku. Di Surabaja

aku tidak tidur semalam suntuk sampai djam enam esok paginja mendengarkan dalang mentjeritakan kisahkisah

jang mengandung peladjaran dan sedikit bersamaan dengan dongeng kuno di Eropa. Setelah Gatot

dengan tekun mempeladjari buku itu, aku menjuruhnja, ,,Sekarang letakkan buku itu dan tjeritakan kembali

dengan suara keras apa jang sudah kau batja tanpa melihat kebuku."

,,Djadi Bung meminta aku memerankan bagian-bagiannja ?"

,,Ja," aku berteriak kembali. ,,Djadi dalang." Pertjakapan kami dilakukan dengan suara keras sekali, karena

sel kami terpisah empat meter djauhnja dan setiap satu meter dibatasi oleh dinding-batu jang padat.

Gatot mulai. Aku mendengarkan sambil menahan napas, sehingga ia sampai pada bagian jang mengisahkan

pahlawan kegemaranku, Gatotkatja. ,,Gatotkatja lalu berhadapan dengan Buta," teriak Gatot. ,,Dia kalah

dalam pertarungan dan dia djatuh. Gatotkatja dikalahkan sementara."

,,Ja," aku berteriak jakin. "Tapi itu hanja untuk sekali. Dia akan bangkit lagi. Dia akan menang sekali lagi.

Engkau tidak bisa membiarkan pahlawan djatuh. Tunggulah saatnja."

Gatot Mangkupradja melandjutkan, menguraikan pertempuran. Achirnja ia sampai pada: ,,Gatutkatja sudah

bangkit lagi. Gatutkatja sudah berdiri. Dia membunuh Buta itu."

Oooooo ! Aku gembira ! Aku berteriak tak terkendalikan. ,,Haaa ! Aku tahu itu. Bukankah sudah kukatakan ?

Seorang pahlawan jang hanja mau mengerdjakan jang baik tidak pernah kalah untuk selama-lamanja."

Kelakuan kami dengan melakonkan wajang ini tidak hanja menjenangkan dan menghiburku, akan tetapi ia

djuga meringankan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bajangan-bajangan hitam dikepalaku

melebur bagai kabut dan aku bisa tidur pulas dengan rasa puas akan kejakinanku, bahwa jang baik akan

mengungguli jang djahat.

Bab 11

Pengadilan

16 DJUNI 1930, berita suratkabar tentang pidato Gubernur Djendral pada pembukaan sidang Dewan Rakjat

memuat pengurnuman bahwa ,,Sukarno akan dihadapkan dimuka pengadilan dengan segera." Tanggalnja

sudah ditetapkan untuk pengadilan ini. Hanja tiga minggu sebelum aku bertemu dengan pembela-pembelaku

jang kupilih sendiri: Sujudi S.H., ketua P.N.I. tjabang Djawa Tengah, jaitu tuan rumah dimana aku

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 55 dari 109

ditangkap; Sartono S.H., seorang rekan dari Algemeene Studieclub jang lama dan tinggal di Djakarta dan

mendjadi Wakil Ketua jang mengurus soal keuangan partai; Sastromuljono S.H., seorang kawan dan patriot

jang tinggal di Bandung. Tidak dengan bajaran. Dan memang tidak ada uang untuk membajar. Para

pembelaku bahkan menanggung pengeluaran mereka masing-masing.

Dalam pertemuanku jang pertama dengan Sartono aku mengatakan, ,,Terlintas dalam pikiran saja bahwa

mendjadi kewadjibankulah untuk mempersiapkan pembelaanku sendiri."

,,Bung maksud dari segi politik?"

,,Ja, sedang tanggung-djawab Bung mempersiapkan segi juridisnja."

Ia kelihatan memikirkan soal itu. ,,Saja tahu," ia mengerutkan dahi, ,,bahwa dalam kedudukan Bung sebagai

Ketua Partai, bagian Propaganda Politik, tak seorangpun jang sanggup mempersiapkan pokokpokok persoalan

seperti Bung. Akan tetapi menurut pendapat Bung, apakah prosedur ini lazim dalam pengadilan ?"

Aku memandang dalam kemata kawanku jang kelihatan suram memikirkan soal ini. Ia kelihatan seperti

memerlukan lebih banjak bantuan daripada jang kuperiukan. Aku menempatkan sebelah tanganku keatas

bahunja untuk menjenangkan hatinja. ,,Sartono," kataku, ,,bukan maksud saja untuk membanggakan diri

saja. Akan tetapi ketika saja masuk bui, begitulah jang kuputuskan. Kalau sudah nasib saja untuk

menahankan siksaan, biarkanlah saja. Bukankah lebih baik Sukarno menderita untuk sementara daripada

Indonesia menderita untuk selama-lamanja ?"

,,Saja masih berpikir apakah ini djalan jang paling baik agar Bung bebas dari tuntutan hukum," katanja

dengan sedih.

Ia tahu dan aku tahu, bahwa aku takkan bisa bebas. Kami di zinkan untuk bertemu antara empat mata

disuatu ruangan tersendiri selama satu djam dalam seminggu. Tiada seorangpun jang mendengarkan kami,

djadi akulah jang pertama harus mengadjak untuk membitjarakan apa jang terselip dalam pikiran kami

berdua. ,,Bung tahu betul," aku mulai dengan lunak, ,,bahwa semuanja hanja akan berpura-pura sadja.

Berita bahwa kepada saja sudah didjatuhkan hukuman, telah menetes dari kawan-kawan kita di Negeri

Belanda. Sekalipun informasi jang demikian tidak dikirimkan kepada saja, tapi saja tahu bahwa pengadjuan

kedepan pengadilan ini hanja sandiwara sadja. Bung pun tahu. Mereka harus menghukum kita. Terutama

saja. Saja adalah biangkeladinja."

,,Ja," keluhnja, ,,Saja sudah membatja berita pers disuratkabar.",,Seperti misalnja kepala berita harian

'Sukarno PASTI dihukum' dan 'Tidak mungkin membebaskan Sukarno dari tuntutan kata para pembesar.' Saja

tahu. Sajapun membatjanja." Sartono membuka katjamatanja, membersihkannja lalu memakainja kembali.

,,Semendjak tanggal 29 Desember suasana hangat dari masjarakat disini dan di Negeri Belanda tidak hentihentinja

menghasut," aku menjatakan, ,,Kedua negeri ini menoleh padaku untuk buka suara. Aku tidak dapat

menjerahkan hal ini kepada orang lain. Ja, memang ada Bung dan pehasehat-penasehat lainnja, akan tetapi

saudara-saudara mempunjai segi-segi hukumnja sendiri untuk diadjukan. Tinggal dua minggu lagi kedepan

pengadilan."

,,Saja tjepat-tjepat datang kemari, segera setelah mendengar kabar," ia minta maaf, ,,Akan tetapi polisi

mempersulit persoalannja. Nampaknja untuk beberapa waktu seakan-akan saja sendiri berada dalam bahaja

penahanan."

Aku melihat kepadanja dengan mata berlinang karena terimakasih. ,,Sartono, saja menghargai segala

usahamu. Namun, tjara ahli hukum bekerdja tidak menjimpang dari ketentuan hukum. Dia sangat terikat

untuk mendjalankan hukum. Suatu revolusi melemparkan hukum jang ada dan madju terus tanpa

menghiraukan hukum itu. Djadi sukar untuk merentjanakan suatu revolusi dengan ahli hukum. Kita

memerlukan getaran perasaan kemanusiaan. Inilah jang akan saja kemukakan."

Aku menjediakan kertas dari rumah. Tinta dari rumah. Sebuah kamus dari perpustakaan pendjara.

Pekerdjaan ini sungguh meremukkan tulang-punggung. Aku tidak punja medja untuk dapat bekerdja dengan

enak. Selain daripada tempat-tidur, satu-satunja perabot jang ada dalam selku adalah sebuah kaleng

tempat-buang-air. Kaleng jang menguapkan bau tidak enak itu adalah perpaduan dari tempat buang-airketjil

dan tempat melepaskan hadjat-besar. Ia terbagi dua untuk masing-masing keperluan itu. Perkakas jang

buruk ini tingginja sekira dua kaki dan lebar dua kaki. Setiap pagi aku harus menjeretnja dari bawah tempattidur,

kemudian mendjindjingnja kekakus dan membersihkan kaleng itu.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 56 dari 109

Malam demi malam dan tak henti-hentinja selama sebulan setengah aku mengangkat kaleng itu keatas

tempat-tidur. Aku duduk bersila dan rnenempatkannja dihadapanku.

Ia kualas dengan beberapa lapis kertas sehingga tebal dan aku mulai menulis. Dengan tjara begini aku

bertekun menjusun pembelaanku jang kemudian mendjadi sedjarah politik Indonesia dengan nama

,,lndonesia Menggugat'. Dalam buku ini aku mengungkapkan setjara terperintji penderitaan jang

menjedihkan dari rakjatku sebagai akibat penghisapan selama tiga setengah abad dibawah pendjadjahan

Belanda. Thesis tentang kolonialisme ini, jang kemudian diterbitkan dalam selusin bahasa dibeberapa negara

dan jang diguratkan dengan kata jang bernjala-njala, adalah hasil penulisan diatas kaleng tempat-buangair

jang bertugas ganda itu.

18 Agustus 1930, setelah delapan bulan meringkuk dalam tahanan. perkara ini dihadapkan dimuka

pengadilan. Setjara formil aku dituduh melanggar Pasal 169 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan

menjalahi pasal 161,-171 dan 153. Ini adalah 'de Haatzaai Artikelen' jaitu pasal-pasal pentjegah penjebaran

rasa bentji. Setjara formil aku dituduh ,,mengambil bagian dalam suatu organisasi jang mempunjai tudjuan

mendjalankan kedjahatan disamping........ usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda............"

Gedung pengadilan jang terletak di Djalan Landraad penuh sesak oleh manusia. Udara didalam terasa

menjesakkan. Langit-langit papan jang berwarna suram bahkan menambah pekatnja kesuraman dari udara

jang melemaskan dalam ruang pengadilan itu. Ketika aku memulai pidatoku tiada satupun terdengar suara.

Tiada satupun jang bergerak. Tiadaa gemerisik. Hanja putaran lembut dari kipas-angin diatas kepala

terdengar merintih. Sambil berdiri diatas bangku-pesakitan jang ditinggikan aku menghadap kemedja-hidiau

hakim dan aku mulai berbitjara. Aku berbitjara berdjam-djam. Pokok-pokok dakwaan terhadap Belanda

kukemukakan menurut jang sesungguhnja. Setelah hampir mendekati achir, ketenanganku jang biasa

melebur mendjadi pernjataan keketjewaan. Aku teringat kembali ketika terpaksa berhenti sebentar dan

berusaha menguasai pikiranku. Kemudian aku mempersihkan kerongkonganku lalu mentjetuskan perasaan.

,,Pengadilan menuduh kami telah mendjalankan kedjahatan. Kenapa ? Dengan apa kami mendjalankan

kedjahatan, tuan-tuan Hakim jang terhormat ? Dengan pedang ? Dengan bedil ? Dengan bom ? Sendjata kami

adalah rentjana, rentjana untuk mempersamakan pemungutan padjak, sehingga rakjat Marhaen jang

mempunjai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani padjak jang sama dengan orang

kulitputih jang mempunjai penghasilan minimum 9.000 setahun.

,,Tudjuan kami adalah exorbitante rechten, hak-hak luarbiasa dari Gubernur Djendral, jang singkatnja

setjara peri-kemanusian tidak lain daripada pengatjauan jang dihalalkan. Satu-satunja dinamit jang pernah

kami tanamkan adalah suara djeritan penderitaan kami. Medan perdjoangan kami tak lain daripada gedunggedung

pertemuan dan surat-suratkabar umum.

,,Tidak pernah kami melanggar batas-batas jang ditentukan oleh undang-undang. Tidak pernah kami

mentjoba membentuk pasukan serdadu-serdadu rahasia, jang berusaha atas dasar nihilisme. Kami punja

modus operandi ialah untuk menjusun dan menggerakkan kekuatan kami dalam tjara-tjara jang legal.

,,Ja, kami memang kaum revolusioner. Kata 'revolusioner' dalam pengertian kami berarti 'radikal', mau

mengadakan perobahan dengan lekas. Istilah itu harus diartikan sebagai kebalikan kata 'sabar', kebalikan

kata 'sedang'. Tuan-tuan Hakim jang terhormat, sedangkan seekor tjatjing kalau ia disakiti, dia akan

menggeliat dan berbalikbalik. Begitupun kami. Tidak berbeda daripada itu..,Kami mengetahui, bahwa

kemerdekaan memerlukan waktu untuk mentjapainja.

Kami mengetahui bahwa kemerdekaan itu tidak akan tertjapai dalam satu helaan nafas sadja. Akan tetapi

kami masih sadja dituduh, dikatakan 'menjusun suatu komplotan untuk mengadakan revolusi berdarah dan

terluka, agar kami dapat merebut kemerdekaan penuh ditahun 30'. Djikalau ini memang benar,

penggeledahan massal jang tuan-tuan lakukan terhadap rumah-rumah kami akan membuktikan satu tempat

persembunjian sendjata-sendjata gelap. Tapi, tidak sebilah pisaupun jang dapat diketemukan.

,,Golok. Bom. Dinamit. Keterlaluan ! Seperti tidak ada sendjata jang lebih tadjam lagi daripada golok, bom

dan dinamit itu. Semangat perdjoangan rakjat jang berkobar-kobar akan dapat menghantjurkan manusia

lebih tjepat daripada ribuan armada perang jang dipersendjatai lengkap. Suatu negara dapat berdiri tanpa

tank dan meriam. Akan tetapi suatu bangsa tidak mungkin bertahan tanpa kepertjajaan. Ja, kepertjajaan,

dan itulah jang kami punjai. Itulah sendjata rahasia kami.

,,Baiklah, tentu orang akan bertanja, 'Akan tetapi sekalipun demikian, bukankah kemerdekaan jang engkau

perdjoangkan itu pada suatu saat akan direbut dengan pemberontakan bersendjata ?'

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 57 dari 109

,,Saja akan mendjawab: Tuan-tuan Hakim jang terhormat, dengan segala kedjudjuran hati kami tidak tahu

bagaimana atau dengan apakah langkah terachir itu akan dilakukan. Mungkin djuga Negeri Belanda achirnja

mengerti, bahwa lebih baik mengachiri kolonialisme setjara damai. Mungkin djuga kapitalisme Barat akan

runtuh.

,,Mungkin djuga, seperti sudah sering saja utjapkan, Djepang akan membantu kami. Imperialisme bertjokol

ditangan bangsa kulitkuning maupun ditangan bangsa kulitputih. Sudah djelas bagi kita akan kerakusan

keradjaan Djepang dengan menaklukkan semenandjung Korea dan mendjalankan pengawasan atas Manchuria

dan pulau-pulau di Lautan Pasifik. Pada suatu saat jang tidak lama lagi Asia akan berada dalam bahaja

penjembelihan besar-besaran dari Djepang. Saja hanja mengatakan, bahwa ini adalah kejakinan saja

djikalau ekor daripada naga raksasa itu sudah memukul-mukul kekiri dan kekanan, maka Pemerintah Kolonial

tidak akan sanggup menahannja.

,,Oleh karena itu, siapakah jang dapat menentukan terlebih dulu rentjana kemerdekaan dari negeri kami,

djikalau kita tidak tahu apa jang akan terdjadi dalam masa jang akan datang. Jang saja ketahui, bahwa

pemimpin-pemimpin P.N.I. adalah pentjinta perdamaian dan ketertiban. Kami berdjoang dengan

kedjudjuran seorang satria. Kami tidak menginginkan pertumpahan darah. Kami hanja menghendaki

kesempatan untuk membangun harga diri daripada rakjat kami.

,,Saja menolak tuduhan mengadakan rentjana rahasia untuk mengadakan suatu pemberontakan bersendjata.

Sungguhpun begitu, djikalau sudah mendjadi Kehendak Jang Maha-Kuasa bahwa gerakan jang saja pimpin

akan memperoleh kemadjuan jang lebih pesat dengan penderitaan saja daripada dengan kebebasan saja,

maka saja menjerahkan diri dengan pengabdian jang setinggi-tingginja kehadapan Ibu lndonesia dan mudahmudahan

ia menerima nasib saja sebagai pengorbanan jang harum-semerbak diatas pangkuan persadanja.

Tuan-tuan Hakim jang terhormat, dengan hati jang berdebar-debar saja, bersama-sama dengan rakjat dari

bangsa ini siap sedia mendengarkan putusan tuan-tuan Hakim !"

Ketika aku dibawa kembali kerumah pendjara, wakil penuh dari Pemerintah menundjukkan keramahannja

dengan mengulurkan tangan kepadaku. Esok paginja sebuah suratkabar menulis tentang kedjadian ini dengan

djudul ,,Meester ir. Kievet de Jonge kelihatan berdjabatan tangan dengan pengatjau kotor". Sesudah tiap

sidang jang banjaknja 19 kali itu, maka ada seorang Belanda jang berani memuat tulisantulisan

disuratkabarnja Het Indische Volk mengenai perlakuan jang sungguh-sungguh tidak adil terhadapku. Dengan

semakin hangatnja tadjuk rentjana jang dibuatnja, maka kerut dahi rekan-rekannja semakin dalam. Mr. J.E.

Stokvis banjak kehilangan kawan karena persoalanku.

Dimalam akan didjatuhkan putusan pengadilan, enam orang kawan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pergi

kerumah Dr. Sosrokartono, seorang ahli kebatinan jang sangat dihormati di Bandung. Kemudian ditjeritakan

kepadaku, bahwa keenam orang itu ngin menenangkan pikirannja dan sungguhpun hari sudah lewat malam,

mereka datang djuga kerumah ahli kebatinan itu, tanpa ada perdjandjian terlebih dulu. Sesampai disana

seorang pembantu membukakan pintu dan menjampaikan, ,,Pak Sosro sudah menunggu- nunggu" dan

mengiringkan mereka masuk, dimana telah tersedia dengan rapi enam buah korsi dalam setengah lingkaran.

Kawan-kawanku itu tentu heran. Dengan tidak bertanja terlebih dulu akan maksud kedatangan mereka, ahli

kebatinan itu hanja mengutjapkan tiga buah kalimat: ,,Sukarno adalah seorang Satria. Pedjoang seperti

Satria boleh sadja djatuh, akan tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunja tidak lama lagi."

Dihari berikutnja Gatot Mangkupradja, Maskun, Supriadinata dan Sukarno didjatuhi hukuman. Hukuman

Sukarno jang paling berat. Aku dikenakan empat tahun kurungan dalam sel dengan ukuran satu setengah kali

dua seperempat meter. Empat tahun lamanja aku tidak melihat matahari.

Pembela-pembelaku naik banding ke Rand van Justitie, akan tetapi pengadilan tinggi ini tetap berpegang

kepada keputusan hukuman. Tidak lama setelah itu kami dipindahkan kedalam lingkungan dinding tembok

jang tinggi dari pendjara Sukamiskin.

Bab 12

Pendjara Sukamiskin

DELAPAN bulan lamanja aku berada dalam penahanan keras. Jang dapat kulihat hanja pendjaga selku. Kalau

tawanan-tawanan lain tidak ada lagi dipekarangan, aku baru dibawa keluar sarangku selama setengah diam

pagi dan sekali lagi setengah djam diwaktu sore. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk berbitjara

dengan Gatot. Belanda dengan sengadja memisahkan kami.

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 58 dari 109

Aku tidak pernah mendapat perlakuan jang kedjam. Sesungguhnja aku selalu diperlakukan terlalu baik. Kalau

tadinja pedjabat pemerintah selalu mentjatat segala gerak-gerikku, maka sekarang petugas pendjara selalu

mendjaga supaja aku tidak mengadakan protes terhadap segala sesuatu. Perlakuan jang berlebih-lebiban

demikian itu sama sadja hebatnia dengan kekedjaman, oleh karena jang terachir ini masih memberi

kesempatan untuk berhubungan dengan manusia.Karena mereka kuatir aku akan berhubungan dengan kawankawan

senasib dan merusakkan tjara mereka berpikir, aku dipekerdjakan dekat Direktur pendjara. Dengan

demikian pendjagaan terhadap diriku lebih diperkuat. Aku dipekerdjakan dipertjetakan dimana aku

membanting-tulang memeras keringat dalam puluhan rim kertas untuk didjadikan buku-tjatatan. Aku

menjeret kertas itu mengempanja, memuat dan membongkar mesin-penggaris-dan-potong jang besar dan

penuh gemuk itu. Mulai dari matahari terbit aku membuat garis diatas kertas. Sehari penuh, hari berganti

hari, kerdjaku tidak lain dari membuat garis-garis itu. Pekerdjaan jang membosankan untuk orang seperti

Sukarno. Sehari-hari hanja membuat garis.

Diwaktu djam makanpun dianggap terlalu berbahaja untuk mentjampurkan ,,Sukarno orang berbahaja"

dengan orang Indnnesia lainnja. Aku ditjampurkan dengan orang Belanda hukuman tingkat tinggi, seperti

mereka jang dihukum karena penggelapan uang djabatan atau korupsi. Satu-satunja jang dapat kubitjarakan

dengan Belanda kelas tinggi ini adalah mengenai makanan atau keadaan tjuatja. Para petugas tetap

mendjaga agar aku tidak membitjarakan soal-soal politik.

Di Sukamiskin aku membiasakan diri makan tjepat. Bahkan sekarangpun, kalau aku mengadakan djamuanmakan

kenegaraan, aku sudah selesai makan sebelum setengah dari para tetamuku dilajani. Tjoba pikir,

kami semuanja ada kira-kira 900 orang. Kamar-makan jang berukuran ketjil itu hanja mempunjai 25 medja

kaju, masing-masing memuat sepuluh orang. Kami makan setjara bergiliran. Gong berbunji, setiap orang

masuk dengan membawa piring aluminium, tempat sajur alumimum, tjangkir dan sendok. Enam menit

kemudian kelompok ini berbaris menudju kran-air diluar untuk mentjutji alat makannja dan sementara itu

rombongan 250 orang jang lain berbaris masuk. Enam menit kemudian rombongan jang lain lagi. Tak ubahnja

seperti membuat barang dalam pabrik sadja setjara berurutan.

Kami mandi menurut waktu. Aku diberi waktu enam menit untuk rnembersihkan seluruh badan, penuh

dengan minjak dari kepaia sampai kekaki jang melekat ditangan, kaki dan pipi. Setiap enam menit giliran

jang lain. Dan kami ada setengah lusin orang jang berebut air dibawah satu pantjoran.

Banjak kebiasaan-kebiasaan siang dan malam dalam bui masib terbawa-bawa olehku dalam 35 tahun ini. Aku

sudah terbiasa berbaring diatas tempat jang keras dan tipis, begitupun sekarang Sebagai Kepala Negara aku

tidak tidur diatas alas sutera dan kasur empuk. Sesungguhnja aku sering turun dari tempat-tidur jang enak

dan menggeletak diatas lantai. Aku lebih enak tidur dengan tjara begitu.

Setelah beberapa bulan dalam pengasingan ini, aku dibolehkan menerima kue dan telor dari luar. Makanan

ini mula-mula diperiksa dengan teliti oleh pendjaga. Sungguhpun demikian, berita masih dapat lolos dengan

pengiriman makanan ini, oleh karena sebelum masuk tahanan aku sudah mengatur tanda-tanda, sehingga

djikalau terdjadi sesuatu jang tak dapat dihindarkan, maka orang jang paling dekat kepadaku masih dapat

mengadakan hubungan. Dalam hal kabar buruk Inggit mengirimkan telor-asin. Ini terdjadi beberapa kali.

Akan tetapi jang kuketahui hanjalah bahwa ada kabar buruk. Hanja itu. Dan ini pulalah jang membikinku

seperti orang gila, karena tidak mengetahui bala apa jang telah menimpa. Rupanja sudah mendjadi sifat

manusia untuk bertahan terhadap kesulitan. Inilah saat-saat jang menjiksa diriku.

Isteriku diberi kelonggaran untuk berkundjung hanja dua kali dalam seminggu dan surat-suratku selalu

diteliti. Djadi, saluran informasi jang paling banjak bagiku adalah buku-buku agama jang diperkenankan

dibawa dari luar. Aku mengakali suatu tjara dengan menggunakan lobang-lobang djarum. Umpamakan Inggit

mengirimiku Quran pada tanggal 24 April. Aku harus membuka Surah 4 halaman 24 dan dengan udjung-djari

aku meraba dengan teliti. Dibawah huruf-huruf tertentu terdapatlah bintik bekas lobang djarum. Tjaranja

seperti huruf braille. Dibawah huruf A terasa bintik ketjil. Dibawah huruf N sebuah bintik lagi dan seterusnja.

Dengan djalan demikian aku dapat mengetahui isi berita dihari-hari selandjutnja.

Kalau isteriku membawakan telor biasa, aku meneliti kulitnja teriebih duiu sebelum memakannja. Satu

tusukan peniti berarti ,,kabar baik". Dua tusukan ,,seorang kawan ditangkap". Tiga tusukan berarti

,,Penjergapan besar-besaran. Semua pemimpin ditangkap''.

Ibu dan bapakku tidak pernah datang. Mereka tidak akan sanggup memandangi sianak-sajang terkurung

dalam kandang jang sempit, jang pandjangnja hanja limabelas ubin dan lebar duabelas ubin itu. Mereka

tidak akan sanggup melihat aku dikeluarkan seperti binatang jang digiring untuk diangin-anginkan. Kakakku

Sukarmini datang dua kali, ia bekerdja dengan semangat jang bernjala-njala untuk P.N.I. Kami menggunakan

gerakan tangan atau lain-lain sebagai tanda pemberitaan. Kalau ia menarik telinganja, menjilangkan djarinja

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 59 dari 109

aku mengerdipkan mata, ataupun menggerakkan salahsatu tangan jang kelihatannja kosong sadja atau

menggerakkan mukanja, semua ini membawa artinja sendiri-sendiri. Ia bisa banjak berbitjara dengan djalan

ini.

Ketika pertamakali melihatku ia surut memandangi wadjahku. Selain dari berat badanku jang semakin

berkurang, iapun kaget melihat kulitku. Dua kali ia datang, dua kali pula ia memberikan komentar jang

sama. ,,Karno, kau sudah djadi hitam!"

,,Memang," aku tersenjum lesu. ,,Aku sudah djauh lebih hitam dari biasa."

,,Kenapa begitu ?" ia berteriak. ,,Kau diapakan oleh mereka ?"

,,Tidak diapa-apakan, tapi aku jang mernbikin kulitku begini." djawabku. ,,Dua kali dalam sehari kami diberi

kesempatan keluar sel selama beberapa menit. Ada jang menggunakan kesempatan ini untuk berdjalandjalan

atau gerak-badan atau bermain seperti main bola. Ada lagi jang duduk-duduk berteduh dibawah

pohon."

,,Kau bagaimana !" tanjanja.

,,Aku berbaring-baring ditanah untuk meresapkan kedalam tubuhku chasiat dari sinar matahari jang

membakar.''

,,Aku tak pernah melihatmu berdjemur begitu.",,Memang selama ini tidak. Sebetulnja aku pusing karena

terlalu banjak tjahaja matahari. Tapi aku harus mengeringkan tubuhku. Sel itu sangat dingin, gelap dan

lembab, djadi inilah satu-satunja djalan untuk memanaskan tulang-tulangku jang didalam sekali."

Kekedjaman jang paling hebat jang dapat rnengganggu pikiran manusia adalah pengasingan. Sungguh hebat

akibatnja ! la dapat menggontjangkan dan membelokkan kehidupan orang. Aku menjaksikan kedjadiankedjadian

jang memilukan hati Aku menjaksikan kawan setahanan mendjadi gila karena sjahwatnja. Dengan

mata kepalaku sendiri aku melihat mereka melakukan ,,onani". Pemuasan nafsu terhadap diri sendiri. Aku

mengetahui dan telah menjaksikan akibat jang menakutkan daripada pengasingan terhadap laki-laki jang

normal.

Dihadapanku laki-laki melakukan pertjintaan dengan laki-laki lain. Seorang Belanda jang tjerdas dan

potongan orang gede-gede membanting-tulang seperti budak dibagian benatu pendjara. Aku sedang berada

dekatnja ketika pendjaga pendjara menjampaikan kepadanja bahwa ia akan dipindahkan bekerdja ketempat

jang lebih tjotjok dengan pembawaan mentalnja daripada pekerdjaan membudak jang telah dilakukannja

begitu lama. ,,Kami akan dipindahkan tuan besok," kata pendjaga itu. ,,Mulai dari sekarang tuan tidak perlu

lagi membungkuk dibak-uap dan tangan tuan tidak akan mengelupas lagi dalam air jang mendidih. Karena

kelakuan tuan jang baik, tuan diberi pekerdjaan ringan dirumah-obat."

Belanda itu mendjadi takut. Mulutnja bergerak gugup. ,,0 tidak. teriaknja sambil menggapai tangan

pendjaga itu. ,,Tidak ......... tidak......ach, tidak. Djangan aku dipindahkan kesana."

Pendjaga jang keheranan itu menjangka orang tahanan itu salah dengar. ,,Tuan tidak mengerti," kata

pendjaga mengulangi. ,,Ini suatu keringanan. Keringanan untuk mengerdjakan jang lebih mudah."

,,Djangan........ djangan," orang tahanan itu membela pendiriannja. ,,Pertjajalah padaku, aku tidak mau

keuntungan ini. Kuminta dengan sangat, biarkanlah aku bekerdja dibagian benatu. Biar bekerdja keras."

,,Kenapa ?" tanja pendjaga tidak pertjaja.

,,Karena," bisiknja, ,,Tempatnja tertutup disini dan aku selalu dilingkungi orang sepandjang waktu. disini aku

bisa berhubungan rapat dengan orang-orang disekelilingku. Sedang dirumah-obat aku tak mendapat

kesempatan ini dan tidak akan bisa menggeser pada laki-laki lain. Djangan.......djangan pindahkan aku

kesana. Inilah akibat pengurungan terhadap manusia.

Sungguh banjak persoalan homoseksuil diantara orang kulitputih. Seorang Belanda berambut keriting, dengan

pundaknja jang lebar dan sama seperti laki-laki lain jang bisa dilihat dimana-mana, telah didjatuhi hukuman

empat tahun kerdja berat. Kedjahatannja, karena bermain-main dengan anak-anak muda. Tapi walaupun

dihukum berkali-kali untuk menginsjafkannja, namun nampaknja ratusan anak laki-laki jang berada

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 60 dari 109

disekelilingnja adalah satu-satunja obat bagi penjakitnja, wallahu'alam. Hukumannja telah habis dan dipagi

ia meninggalkan pendjara, kukira dia bisa baik lagi.

Sebulan kemudian dia menonton bioskop. Dia duduk dibangku depan dikelilingi oleh delapan atau sembilan

anak-anak muda. Orang kulitputih berambut pirang dan berbadan besar duduk dikelas kamhing jang

disediakan untuk orang Bumiputera tentu mudah diketahui orang. Terutama kalau perhatiannja tidak

terpusat kepada film. Djadi, kembalilah ia mengajunkan langkah menudju bui. Pendjara bukanlah obatnja. Ia

kembali keselnja jang lama sebelum keadaannja berobah.

Djenis manusia jang begini berkumpul disuatu tempat dikota. Suatu hari terdjadi ribut-ribut disebuah hotel

dan polisi datang. Seorang pemuda kedapatan terbaring dilantai disalahsatu kamar menangis dan mendjerit.

Ia dalam keadaan telandjang dan mendjadi apa jang disebut pelatjur. Langganannja adalah tiga orang

Belanda berbadan tegap dan kekar. Apakah jang mendjadi sebab dari kegemparan ini ? Anak pelatjur itu

kemudian menerangkan sambil tersedusedu, ,,Mula-mula jang satu itu dari Korps Diplomatik ingin dengan

saja, lalu kawannja. Sekarang jang ketiga mau dengan saja lagi. Saja tjapek. Saja katakan, saja tidak

sanggup lagi dan apa tindakannja ? Dia memukul saja !"

Orang kulitputih itu dimasukkan kesel dibawahku. Disini ia berusaha lagi menawarkan kegemarannja itu.

Pada waklu tidak ada orang disekelilingku, kutanjakan hal in kepadanja. ,,Kenapa?" tanjaku. ,,Kenapa

engkau mau bertjinta denganku ?" Dan ia mendjawab, ,,Karena disini tidak ,ada perempuan."

Aku mengangguk, ,,Memang benar. Aku sendiri djuga menginginkan kawan perempuan, tapi bagaimana bisa

..........

"Kemudian ia menambahkan, ,,Jah, apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?"

,,Ooooh," kataku terengah. ,,Kau sakit !"

Sudah tidak ragu lagi bahwa, kehidupan dalam kurungan menghantjurkan, merobek-robek kehendak jang

normal daripada daging. Ja, bahkan Kitab Indjil menjatakan, bahwa seorang Laki-laki akan melekat. pada

isterinja. Aku senang berada dalam usia jang masih muda dan berkembang dalam kehidupan ini; seorang jang

kuat dan perasa ketika pintu-besi menutup dibelakangku. Badanku ditawan. tapi semangatku mendjeritdjerit

didalam. Uratsjarafku berteriakteriak oleh siksaan dikesunjian malam. Keinginan biasa untuk

memuaskan diri jang dimiliki oleh laki-laki atas karunia Tuhan jang Maha-Pemurah, tidak padam-padamnja,

hanja disebabkan oleh karena seorang hakim memukulkan palu dan berkata, ,,Perkara ditutup !"

Setiap hari Natal orang-orang dari Bala Keselamatan menjumbangkan makanan jang dibungkus untuk orang

tahanan jang diserahkan oleh lelaki dan perempuan berpakaian sopan jang tidak akan membangkitkan berahi

kami orang kurungan. Diminggu terachir tahun 1930 seorang perempuan tua djelek-kotor lagi gemuk jang

berumur lebih dari 60 tabun terhujung-hujung masuk selku menjampaikan kemurahan hatinja. Ia

memberikan roti Natal. Aku sadar bahwa aku berada dalam keadaan parah, ketika wanita gemuk seperti babi

itu kelihatan indah diruang-mataku. Selama satu saat dalam perdjoangan batin, maka dalam pikiranku ia

adalah wanita paling tjantik jang pernah kudjumpai.

Aku dikurung dengan sungguh-sungguh di Sukamiskin dengan perlakuan jang sama dengan pelanggar hukum

berkebangsaan Belanda, supaja aku tidak ,,meratjuni" udara masjarakat tahanan Indonesia. Sukamiskin

adalah tempat bagi pendjahat-pendjahat besar dan terbagi dalam tiga kelas. Mereka jang terkena satu tabun

pendjara, termasuk Gatot, Maskun dan Supriadinata. Kemudian terdapat kelas untuk hukuman dari satu

sampai sepuluh tahun dan kelompok jang terbesar mendjalani hukuman lebih dari sepuluh tahun. Ada

seorang pembunuh jang satu medja denganku, akan tetapi dia hanja dikenakan duapuluh tahun. Dan tidak

dikenakan seumur hidup, karena jang dibunuhnja hanja seorang Indonesia. Jang seorang lagi dihukum 15

tahun bersama-sama dengan saudaranja karena perampokan bersendjata dan melakukan kekedjaman diluar

peri-kemanusiaan.

Nomor selku 233. Menaiki tangga-besi ditingkat kedua disudut. Seluruh blok itu dikosongkan buatku.

Tetanggaku jang terdekat adalah seorang pembunuh jang merampas seorang wanita, kemudian

membunuhnja dengan tga orang anaknja.

Kawanku jang paling rapat ialah seorang Indo, bapaknja Belanda totok dan ibunja seorang Indonesia dari

Priangan. Setiap kali mendekatiku ia selalu mentjoba memperlihatkan keramahannja. ,,Kawan" ini jang

sangat sajang kepadaku dihukum karena membunuh ajahnja jang selalu menjiksa ibunja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar