Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Selasa, 01 Februari 2011

Menaklukkan Sebuah Gua Tak Berujung

Ada hutan di dalam gua raksasa Vietnam. Sebuah gedung pencakar langit bisa diletakkan di dalamnya. Ujung gua itu pun tidak terlihat.
Oleh MARK JENKINS
Foto oleh CARSTEN PETER

"Melewati cakar anjing, awas ada dinosaurus," kata sebuah suara dari dalam kegelapan. Aku mengenali aksen Inggris Jonathan Sims yang tegas tetapi tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan. Lampu di helmku menyorotinya, dengan cambang lebat berwarna abu-abu melingkar keluar dari helm bututnya, ia duduk sendirian di dalam kelam di dekat dinding gua.

"Lanjutkan, bung," erang Sims. "Hanya mengistirahatkan pergelangan kakiku yang nyeri."

Kami berdua telah menyeberangi sungai bawah tanah Rao Thuong yang bergemuruh dengan menggunakan tali dan mendaki bilah dinding batu kapur setinggi 6 meter hingga mencapai tumpukan pasir. Aku meneruskan perjalanan sendirian, mengikuti sorot lampu helm menyusuri jejak kaki berusia satu tahun lamanya. Pada musim semi tahun 2009, Sims merupakan salah seorang anggota ekspedisi pertama yang masuk ke dalam Hang Son Doong, atau "gua sungai gunung," di sebuah daerah terpencil di Vietnam tengah. Tersembunyi di dalam Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang yang liar di dekat perbatasan dengan Laos, gua itu merupakan bagian dari jaringan 150 atau lebih gua, banyak di antaranya yang belum dijelajahi, di Pegunungan Annamite.

Selama ekspedisi pertama, tim menjelajahi Hang Son Doong sepanjang empat kilometer sebelum dinding kalsit berlumpur setinggi 60 meter menghentikan langkah mereka. Mereka menamakannya Tembok Besar Vietnam. Di atasnya, mereka bisa melihat dengan samar celah terbuka dan secercah cahaya, tetapi mereka tidak tahu ada apa di sisi lain. Setahun kemudian, mereka kembali lagi - tujuh penjelajah gua Inggris militan, beberapa ilmuwan, dan serombongan kuli—untuk memanjat dinding, bila hal itu bisa dilakukan, mengukur panjang lorong dan meneruskan perjalanan, jika memungkinkan, hingga mencapai ujung gua tersebut.

Jalur itu menghilang di hadapanku ditelan reruntuhan—batu sebesar bangunan yang jatuh dari langit-langit dan menghantam lantai gua. Aku mendongakkan kepala namun tinggi gua itu menelan cahaya lampu helmku yang kecil, seolah-olah aku sedang menatap langit malam tanpa bintang. Aku sudah diberitahu bahwa kini aku sedang berada di dalam ruangan yang cukup besar untuk memarkir sebuah pesawat Boeing 747, tapi saya tidak bisa memastikannya; kegelapan terasa bagaikan kantong tidur yang dikatupkan di sekeliling kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar