Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Selasa, 01 Februari 2011

Cindy Claudia: Hidayah Dari Bulan dan Bintang










Kamis, 08 Januari 2009 10:56 WIB
Allah SWT memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Begitulah yang terjadi pada diri Cindy Claudia Harahap, putri sulung dari musisi veteran Rinto Harahap. Saat usia belasan tahun, Cindy terombang-ambing hidup di tengah-tengah keluarga Muslim dan non-Muslim. Keluarga ayahnya non-Muslim sementara keluarga dari ibu beragama Islam. Suatu saat, sekitar tahun 1991, penyanyi kelahiran Jakarta, 5 April 1975 ini sedang tiduran tengah malam di atas rumput halaman asrama di Australia.

Saat itu, Cindy bersama sahabat karibnya yang juga artis papan atas Indonesia, Tamara Blezinsky, sedang menempuh pendidikan di St Brigidf College. Setiap hari mereka ngobrol karena hanya mereka berdua orang Indonesia. Mereka juga mempunyai kondisi yang sama tentang orang tua. Suatu malam Cindy benar-benar diperlihatkan keagungan Allah. Ketika memandang ke langit yang cerah terlihat bulan sabit yang bersebelahan dengan bintang yang indah sekali.

''Saya bilang sama Tamara, kayaknya saya pernah lihat ini di mana ya, kok bagus banget. Kayaknya lambang sesuatu, apa ya?'', kenang penyanyi dan pencipta lagu ini. Tamara menjawab kalau itu lambang masjid. ''Jangan-jangan ini petunjuk ya kalau kita harus ke masjid,'' jawab Cindy selanjutnya. Ia memang jarang sekali melihat masjid selama di Australia. Cindy pun berfikir dan mengajak Tamara masuk Islam.

''Suatu hari saya terpanggil untuk memeluk agama Islam,'' kata sulung tiga bersaudara. Setelah kembali ke Indonesia, Cindy dan Tamara pun lama berpisah. Saat kemudian bertemu di Jakarta, ternyata mereka sudah sama-sama menjadi mualaf. Pelantun tembang melankolis ini mengungkapkan inti dirinya masuk Islam lebih pada panggilan jiwa dan hati. Karena, lanjutnya, orang memeluk agama itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, tergantung masing-masing orang.

Selain dari diri sendiri adakah pihak lain yang mempengaruhi? Cindy mengatakan selain mamanya juga Mas Thoriq (Thoriq Eben Mahmud, suaminya). Dari awal saat pacaran, Cindy banyak belajar tentang Islam dari Thoriq, laki-laki keturunan Mesir. Mereka sering berdiskusi dan Thoriq pun menjelaskan dengan bijaksana dan kesabaran. Menurut Cindy, Thoriq tidak pernah memaksanya bahkan dia sering membelikan buku-buku tentang Islam.

''Terkadang kayak anak TK dibelikan juga buku cerita yang bergambar. Tapi justru jadi tertarik, sampai akhirnya saya dibelikan Alquran dan benar-benar saya baca apa artinya,'' tutur artis yang menikah 4 juli 1998. Cindy melisankan Dua Kalimat Syahadat di hadapan seorang guru agama Islam SMA 34 Jakarta. ''Di sebuah tempat yang sangat sederhana, tepatnya di mushalla kecil sekolah itu, saya mulai memeluk Islam,'' katanya.

Dalam proses mempelajari Islam, istri mantan pilot Sempati ini mengakui tidak menghadapi banyak kendala yang berarti, cuma memang harus menyesuaikan diri. Cindy sudah terbiasa melihat ibadah keluarganya yang beragama Islam. Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah sering ikut-ikutan puasa.

Dalam belajar mengaji, Cindy mendatangkan ustad ke rumah. Pada awalnya memang ada kesulitan, tapi akhirnya bisa berjalan lancar. Cindy mengatakan, keluarganya sangat toleran terhadap agama karena pada dasarnya semua agama itu sama, mengajarkan yang baik hanya caranya yang berbeda-beda. ''Papa pernah bilang apapun agama yang saya putuskan untuk dianut itu terserah.

Yang penting dilaksanakan dengan sungguh-sungguh,'' ujar artis yang sedang syuting sinetron untuk Ramadhan mendatang. Sebelumnya, Cindy sempat berfikir menjadi Muslimah sepertinya repot sekali. Kalau mau masuk masjid untuk shalat, misalnya, harus wudhu dan harus pakai mukena dulu. ''Mau shalat saja harus repot. Apalagi ada bulan Ramadhan yang harus puasa.

Saya sempat berfikir kalau Islam agama yang repot,'' ujar ibu dua anak bernama Sabrina Aisya Putri dan Aprilia Omar Syarif ini. Setelah mempelajari Islam dengan benar, Cindy menyadari itulah kelebihan Islam bila dibandingkan dengan agama lain. ''Kalau kita hendak menghadap Allah, kita harus benar-benar dalam kondisi yang bersih.

Bersih jiwa dan bersih diri,'' tuturnya. Cindy mengungkapkan, alangkah bahagianya kita sebagai umat Islam dikasih bulan ramadhan, di mana kita diberi kesempatan untuk membenahi diri. ''Menurut saya, bulan Ramadhan itu bulan bonus dan setiap tahun saya merasa kangen dengan Ramadhan''.

Selama ini Cindy selalu berusaha membagi waktu sebisa mungkin tidak meninggalkan ibadah. ''Kalau kita ada waktu ya ibadah harus dilakukan. Cuma saya tidak munafik, sebagai manusia masih harus berusaha agar ibadah tidak bolong dan tetap lancar,'' penyanyi yang sudah menelorkan enam album ini menuturkan. Ia mengakui bila jadwal syuting padat, ibadah shalat suka terlewatkan.

Tapi bila sedang berada di rumah, bersama suami menunaikan shalat jamaah. Cindy pun sejak dini memperkenalkan kepada anaknya kehidupan agama dengan memasukkan anak pertamanya ke TPA (Tempat Pendidikan Alquran) di masjid dekat rumah. Cindy mengisahkan beberapa bulan setelah menikah diberi hadiah pernikahan oleh mertua berupa umrah bersama suami.

Ia merasa sangat berkesan saat pertama melihat Ka'bah karena sebelumnya hanya disaksikan lewat televisi atau gambar saja. Waktu itu, Cindy berangkat umrah bulan Ramadhan dan ia sedang hamil enam bulan. Cindy mengaku justru bisa menunaikan ibadah puasa di sana yang tadinya di Jakarta tidak bisa puasa. ''Alhamdulillah, sampai di sana tidak ada kendala atau kejadian buruk apapun,'' kata penyanyi yang sedang mempersiapkan album bernuansa dakwah.


DATA PRIBADI
Nama: Cindy Claudia Harahap
Kelahiran: Jakarta, 5 April 1975
Nama ayah: Rinto Harahap
Anak: Sabrina Aisya Putri, Aprilia Omar Syarif, Suami: Thoriq Eben Mahmud
Menikah: 4 Juli 1998
Pendidikan: - High School, St Brigidf College, Australia - Universitas Indonesia Esa Unggul (sampai semester III)
Sinetron: - Bidadari yang Terluka
Album: - Aku Sayang Padamu - Berdua - Cuma Buat Kamu - Mengapa Sampai Berpisah - Salahkan Aku (Penulis c12/
Dokumentasi REPUBLIKA/30 Agustus 2002)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar