Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Jumat, 28 Januari 2011

Kata Takwa Dibalik Tahu Khas Kota Kediri

Kediri - Tahu kuning khas Kota Kediri, entah apapun mereknya, dalam penyebutannya tak jarang dibarengi kata takwa. Kata ini dipilih tak berkaitan dengan kualitas keimanan pembuatnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, melainkan menjadi penanda yang berarti aroma.

Penggunaan kata takwa di belakang tahu dapat ditemukan hampir di semua merek dagang jajanan khas Kota Kediri tersebut, diantaranya LYM yang diproduksi oleh Liem Djang Yen.

"Takwa itu diambil dari bahasa Cina, artinya aroma. Sejak dulu sampai sekarag ya tetap digunakan, karena itu yang membedakan tahu produksi kami dengan yang dijual di jalanan," ungkap Liem saat berbincang dengan
detiksurabaya.com di tempat produksi di Jalan Yos Sudarso, Kediri, Selasa (30/11/2010).

Terkait asal muasal penggunaan kata takwa, Liem mengungkapkan, tak lepas dari keinginan pencetus industri tahu memudahkan konsumen dalam mengenali kualitas. Dari kata takwa yang berati aroma, konsumen akan diarahkan menggunakan indera penciumannya dalam melihat kualitas tahu khas Kota Kediri.

"Kalau warna jelas sudah kuning. Nah aromanya bisa dicium dan itu khas sekali. Gurih sebelum dirasakan di lidah," ungkapnya.

Hingga saat ini kata takwa bisa dijumpai hampir di setiap merek dagang tahu khas Kota Kediri. Meski tak jarang hal ini mengundang pertanyaan calon konsumen, produsen tak memiliki keinginan untuk merubahnya, termasuk dengan makna aslinya, aroma.

http://surabaya.detik.com/read/2010/11/30/074340/1505329/475/kata-takwa-dibalik-tahu-khas-kota-kediri

Goa Selomangleng, Tempat Pertapaan Puteri Raja Erlangga


Kediri - Peninggalan Kerajaan Kediri di wilayah kota tidak hanya dari sejumlah peninggalan benda purbakala di Museum Airlangga. Goa Selomangleng di bagian bawah Gunung Klotok diyakini sebagai tempat pertapaan puteri Sri Aji JayabayaRaja Erlangga, Dewi Kilisuci, hingga mengantarkannya menjadi Nyi Roro Kidul.

Goa Selomangleng tepatnya berada di sisi timur Goa Selomangleng, dengan tampilan terdiri atas cekungan tak begitu dalam dan memiliki 2 pintu yang saling terhubung di
dalamnya. Berbeda pada perwujudan goa pada umumnya yang hanya bebatuan cadas, di bagian dinding Goa Selomangleng terdapat relief, termasuk di bagian pintunya.

"Yang di pintu itu Prabu Lono Seladono, dia dari Ponorogo dan dulu menjadi pengawal
setia Dewi Kilisuci," kata juru kunci Goa Selomangleng, Kanirin (80) menggambarkan
relief di bagian pintu kepada
detiksurabaya.com yang menemaninya, Kamis (27/1/2011).

Di bagian dalam Goa Selomangleng, masih kata Kanirin, juga terdapat cekungan di kanan dan kirinya. Konon itu adalah lokasi Dewi Kilisuci bertapa, sampai mengantarkan menjadi Nyi Rodo Kidul, penguasa laut selatan.

"Dulu cekungan ini bisa terhubung langsung ke laut selatan, tapi sekarang sudah tidak lagi," sambungnya tanpa menjelaskan alasan hilangnya kemampuan magis di cekungan dalam tersebut.

Karena keberadaan Dewi Kilisuci sebagai mantan penghuninya, Goa Selomangleng saat ini dipercaya sebagai tempat yang juga mujarab untuk pemanjatan permintaan, tentnya sesuai dengan kepercayaan pelakunya. Itu dibuktikan dengan terus adanya pengunjung yang melakukan hal tersebut, yang bahkan tidak hanya dari kota dan Kabupaten Kediri.

"Ya namanya berusaha, boleh saja. Tapi mintanya tetap kepada Gusti (Allah), disini
hanya pelantarnya saja," tegas Kanirin.

Keistimewaan Goa Selomangleng sebagai lokasi pertapaan Dewi Kilisuci juga dibenarkan dalam catatan sejarah. Dosen Ilmu Sejarah UNP Kediri Zainal Afandi mengatakan, Dewi Kilisuci adalah puteri Raja Erlangga, sosok yang memecah wangsa Dharma Wangsa menjadi Panjalu dan Jenggala, cikal bakal berdirinya Kerajaan Kediri yang memiliki tak larut dalam urusan dunia, dengan memilih mengasingkan diri dalam pertapaan. Dewi Kilisuwi menolak menerima tahta dari ayahnya dan memilih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan cara melakukan tapabrata.

"Kalau sekarang, dia itu lelaku makrifat. Tidak ingin larut dalam urusan dunia, termasuk rebutan tahta kerajaan dan memilih mengabdikan dirinya untuk kepentingan
agama," terang Zainal.

Zainal juga mengatakan, Goa Selomangleng konon juga menjadi tempat pertapaan Raja Erlangga, sesaat setelah membelah kerajaannya menjadi Panjalu dan Jenggala, serta menyerahkan tahta ke anak-anaknya tersebut.

Sementara informasi yang beredar, dalam perjalanan waktu Goa Selomangleng juga dikenal sebagai lokasi pertapaan favorit sejumlah petinggi bangsa, diantaranya proklamator Ir Soekarno atau Bung Karno

http://surabaya.detik.com/read/2011/01/27/171344/1556078/475/goa-selomangleng-tempat-pertapaan-puteri-raja-erlangga


Mengungkap Rahasia Dibalik Julukan Kota Tahu untuk Kediri

Kediri - Selain dikenal sebagai penghasil rokok terbesar di Indonesia, Kota Kediri juga dikenal sebagai Kota Tahu. Sebutan kota tahu untuk Kota Kediri tak lepas dari sejarah masuknya warga Cina ke Indonesia pada tahun 1900 silam.

Dari ribuan orang yang datang ke Indonesia, beberapa diantaranya ke Kediri. Saat itu belum terjadi pemisahan kota dan kabupaten.

Dari beberapa orang yang ke Kediri, 3 diantaranya dikenal sebagai pelopor pembuatan tahu, yaitu Liem Ga Moy, Bah Kacung dan Kaou Loung. Hingga saat ini penerus dari 3 orang tersebut masih mempertahankan usaha yang dirintis leluhurnya, kecuali Kaou Loung.

"Di Jalan Patimura dulu masih ada, tapi sekarang sudah gak buka. Gak tahu kenapa, yang jelas sekarang dari generasi pertama yang masih bertahan hanya anak turun ayah saya dan Bah Kacung," kata Liem Djang Yen, salah seorang anak lelaki Liem Ga Moy kepada
detiksurabaya.com, yang menemuinya di lokasi produksi, Jalan Yos Sudarso, Kediri, Selasa (30/11/2010).

Liem Djang Yen yang memiliki nama Indonesia Bambang Suyendro mengungkapkan keputusan ayahnya membuat tahu di Kediri tak lepas dari penilaian air di lokasi rantau memiliki kesamaan dengan di Cina. Dalam proses pembuatannya, tahu yang diklaim sebagai makanan khas bangsa Cina dan bernama tofu itu diyakini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Jenis air dianggap sangat berpengaruh terhadap hasil akhir.

"Ayah saya mulai membuat tahu ini pada tahun 1948 di Pesantren (Kecamatan Pesantren), setelah hampir 20 tahun bermukim di Tawang, Wates. Kisaran tahun 1950 usaha ayah saya semakin maju, tapi tetap belum bermerek," ungkap Liem menjelaskan.

Kualitas yang terjaga tetap apik menjadikan tahu produksi Liem Ga Moy, semakin dikenal, begitu juga dengan Bah Kacung dan Kaou Loung. Kondisi ini menjadikan karya mereka semakin dikenal dan turut mengangkat nama Kota Kediri hingga berujung pada disematkannya sebutan Kota Tahu.

"Saya katakan tadi, bangsa Cina yang masuk ke Indonesia, hanya di Kediri yang membuat tahu. Kalau terus sekarang Sumedang menyebut dirinya kota tahu, itu pengembangan dari sini," tutur Liem.

Hingga saat ini sedikitnya 20 merek tahu kuning ada di Kota Kediri, yang keseluruhannya dikelola dan dijalankan oleh WNI keturunan Cina. Mereka mengaku merupakan anak keturunan 3 tokoh pencetus industri tahu di Kota Kediri.

http://surabaya.detik.com/read/2010/11/30/065328/1505308/475/mengungkap-rahasia-dibalik-julukan-kota-tahu-untuk-kediri