Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 10 November 2010

BILA ANAK ANDA TUTUP MULUT...



Mungkin Anda sedang sangat frustrasi karena sesuatu yang tidak beres terjadi pada anak Anda namun ia bersikap diam seribu bahasa. Anda ingin menolongnya, tetapi ia membentengi dirinya sedemikian rupa. Semakin Anda menekannya, semakin teguh pula pertahanan yang dibuatnya. Mungkin sikapnya ini membuat Anda naik darah. Namun ingatlah bahwa anak Anda tak akan bersikap lebih baik jika Anda memarahinya, jadi tetaplah tenang.

Carilah waktu yang tepat untuk dapat berdua dengan anak Anda dan membicarakan masalahnya. Tunjukkan bahwa Anda benar-benar ingin membantunya. Berilah pengertian kepada anggota keluarga yang lain bahwa Anda butuh dukungan mereka untuk mengusahakan ketenangan dalam rumah. Dengan demikian anak Anda pun akan merasa aman untuk menceritakan masalahnya.

Jangan berkata, "Ceritakan semuanya sekarang juga. Semakin cepat kau menyelesaikan masalah ini, semakin cepat pula kita dapat kembali bersikap normal." Bersikaplah lebih simpatik dengan berkata, "Mama tahu masalah ini sulit buatmu, tapi yakinlah kau akan merasa lebih baik setelah menceritakannya pada Mama." Berikan penguatan melalui sentuhan Anda, seperti merangkul bahunya supaya ia merasakan kepedulian Anda terhadapnya. Dengarkanlah penuturannya dengan sabar. Ia tak akan mau banyak bercerita jika Anda sendiri banyak berkomentar atau menasihati.

Bersabarlah untuk menunggu sampai anak Anda benar-benar siap menceritakan masalahnya. Jika Anda menekannya dengan berkata," Cepatlah! Ibu masih punya banyak kesibukan yang jauh lebih penting daripada duduk-duduk di sini denganmu." Tak perlu diragukan lagi, ia tak mungkin mau membuka mulut.

Bila anak Anda sudah mulai membuka pembicaraan, ingatlah bahwa semakin sabar Anda mendengarkan penuturannya tanpa interupsi, maka semakin banyak pula informasi yang bisa Anda peroleh.

Jika Anda merasa telah mendengar seluruh ceritanya, jangan memberi perintah yang "harus dilaksanakan" kepadanya, tapi berilah saran jalan keluar. Lalu berilah kesempatan kepadanya untuk memutuskan apakah ia akan menerima saran Anda, atau mungkin ia dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

Sekali anda berhasil menyelesaikan masalah bersama-sama, kecil kemungkinan ia akan tutup mulut lagi bila mendapat masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar