Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 10 November 2010

Bila si Kecil Sulit Diatur

Bila si Kecil Sulit Diatur


Dunia seperti terbalik ketika "malaikat mungil" Anda berubah menjadi si "penentang kecil". Tidak mau makan, mogok mandi, selalu berkata tidak, dan selalu ingin menuruti kemauannya sendiri. Bagaimana harus menanganinya?

Masa-masa menentang pada anak balita banyak terjadi di usia 2-3 tahun. Itulah sebabnya dikenal istilah terrible two-three untuk menggambarkan betapa sulitnya menghadapi anak-anak di usia ini. Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin mengajak Anda untuk memahami proses perkembangan yang terjadi pada rentang usia ini.

Secara fisik, mereka sudah mampu berjalan. Mereka dapat berjalan ke mana pun mereka suka, termasuk ke tempat-tempat berbahaya. Mereka sangat gembira telah memiliki ketrampilan yang baru ini sehingga bukan hanya berjalan, tetapi mereka mulai berlarian, melompat, atau memanjat.

Mereka juga sudah dapat berbicara. Bayi mungil yang pendiam sekarang sudah mampu mengkomunikasikan keinginan dan perasaannya, termasuk protes, komentar maupun ejekan.

Perkembangan intelektual mereka menuntun pada ketertarikan untuk melakukan "eksperimen" kecil. Timbul rasa ingin tahu, "Apa yang akan terjadi bila gelas dijatuhkan dari meja?", atau "Seperti apa bunyi kaleng yang dipukulkan pada kursi?". "Eksperimen" yang sama terkadang dilakukan berulang kali, karena menimbulkan kesenangan tersendiri.

Kemampuan intelektual mereka juga membuat mereka dapat meniru tingkah laku orang lain. Tidak jarang, tingkah laku yang negatif justru lebih menarik untuk ditiru.

Orangtua yang Siap
Orangtua terkadang tidak siap dengan perkembangan yang terjadi pada diri anak. Mereka cenderung masih menganggap anak mereka sebagai bayi mungil yang dulu mereka kenal. Anak berubah sesuai dengan perkembangannya, sedangkan konsep dan cara pengasuhan orangtua tidak berubah.

Kesenjangan inilah yang biasanya menjadi pusat masalah. Orangtua cenderung mudah tergelincir pada penilaian bahwa anak mereka terlalu banyak bergerak, bandel, tukang buat onar, atau tukang melawan, karena membandingkan kondisi anak yang sekarang dengan kondisi anak pada waktu bayi.

Padahal bila dicermati, kondisi anak usia 2-3 tahun -seperti yang dijelaskan di awal- bernilai positif. Aktivitas fisik seperti berjalan, berlari, atau melompat, sangat bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan fisik, menguatkan otot, dan melatih koordinasi motorik kasar.

Anak yang banyak berbicara sebenarnya sedang melatih pemahaman bahasa, ketrampilan komunikasi, dan memperkaya kosa kata mereka. "Eksperimen-eksperimen" yang terarah, bermanfaat untuk mengenal lingkungan dan memahami konsep-konsep baru, seperti konsep sebab-akibat, pecah, sakit, besar-kecil, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, ketertarikan mereka untuk meniru tingkah laku orang lain dapat dijadikan kesempatan untuk mengajarkan teladan sikap dan tingkah laku yang baik. Perkembangan itu perlu dipandang positif. Tidak perlu risau akan perubahan yang terjadi. Gunakan perkembangan yang baru ini sebagai kesempatan membimbing dan meningkatkan diri anak.

Mandiri vs Ragu dan Malu
Ditinjau dari aspek kepribadian, anak usia 2-3 tahun sedang mengembangkan kemandirian. Kemampuan fisik yang bertambah membuat mereka ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Perhatikanlah, buah hati Anda mulai merebut sendok saat disuapi, ingin memasang sendiri plester di kakinya, atau ikut memegangi sisir saat disisir rambutnya.

Apabila orangtua mendukung kemandirian ini maka anak akan berhasil mengembangkan kemandiriannya. Dukungan yang tepat dari orangtua adalah mengajarkan ketrampilan sehari-hari (seperti makan, berpakaian, menyisir, mandi), memberi kesempatan pada anak untuk mencoba ketrampilan barunya dan memberikan penghargaan atas setiap usaha kemandirian anak.

Sebaliknya bila orangtua senantiasa menghambat kemandirian anak, tidak mengajarkan ketrampilan yang mendukung kemandirian, atau mencela setiap usaha anak untuk mandiri, maka anak niscaya akan tumbuh menjadi anak yang pemalu atau ragu dalam bertindak. Jadi, apakah orangtua harus selalu membenarkan tindakan anak? Tentu saja tidak.

Seorang anak yang sedang mengembangkan kemandirian seringkali mengekspresikan diri dalam bentuk negativism, di mana ia selalu mengambil posisi menentang, selalu menolak, atau berkata tidak. Oleh sebab itu, orangtua juga perlu menerapkan kedisiplinan dengan porsi yang tepat.

Jangan terlalu ketat, yang dapat membuat anak menjadi malu dan ragu untuk bertindak. Juga jangan terlalu lemah sehingga membuat anak sama sekali tidak malu dan ragu untuk berbuat salah. Dengan bijaksana orangtua perlu menentukan kapan seorang anak diberikan kesempatan untuk mencoba dan kapan ia perlu dilarang.

Harapan yang Realistis
Apabila ingin membentuk tingkah laku anak, hal pertama yang perlu Anda evaluasi adalah apakah harapan yang Anda buat adalah harapan yang realistis, sesuai dan penting. Jika tidak, maka anak akan sulit memenuhinya, lalu Anda menjadi tidak puas, kecewa, bahkan merasa gagal sebagai orangtua.

Harapan yang realistis adalah yang sesuai dengan usia dan karakteristik anak, pola kehidupan keluarga, standar sosial, karakteristik orangtua, faktor kesehatan dan keselamatan, serta kejadian sehari-hari.

Contoh harapan yang tidak realistis, dan aspek yang tidak dipertimbangkan, seperti di bawah ini.

- Duduk diam di suatu seminar
- Rentang atensi (usia) dan karakteristik
- Tidur pukul 20.00, sementara kedua orangtua masih asyik ngobrol di depan TV
- Pola kehidupan keluarga
- Orangtua bersikeras agar anak mengenakan pakaian model tertentu
- Minat anak
- Tidur di kamarnya sendiri, padahal sedang sedih karena tadi siang anjingnya mati tertabrak
- Kejadian sehari-hari
- Mengajak anak ke mal seharian sehingga ia capek dan sulit diatur
- Stamina (usia), kesehatan, karakteristik anak.

Setelah menetapkan harapan yang realistis, tugas orangtua adalah menyampaikan dengan jelas harapan Anda tersebut. Daripada berkata, "Jangan nakal", lebih baik katakan, "Duduklah di sini dengan tenang."

Peran orangtua selanjutnya adalah menolong anak untuk memenuhi harapan tersebut. Jika Anda ingin ia minum sendiri, letakkan gelas di tempat yang dapat ia jangkau. Sebaliknya tempatkan barang-barang pecah belah di luar jangkauan, bila Anda menghendaki ia tidak memecahkan koleksi Anda. Bentuk pertolongan lainnya adalah dengan memberikan contoh atau bersama-sama mengerjakan hal tersebut, misalnya bersama-sama membereskan mainan.

Rutinitas juga dapat menolong si kecil untuk memenuhi harapan dan peraturan yang Anda buat. Rutinitas akan membentuk kebiasaan, di mana anak terbiasa melakukan suatu tingkah laku dengan otomatis. Misalnya dengan mengatur letak penyimpanan mainan, waktu makan atau waktu tidur yang sama.

Prinsip dasar dari pembentukan tingkah laku adalah tingkah laku yang mendatangkan konsekuensi menyenangkan akan diulangi. Sebaliknya yang mendatangkan konsekuensi tidak menyenangkan akan menghilang. Jadi, pada saat si kecil berhasil memenuhi harapan, berikanlah penghargaan, dan berikanlah sanksi apabila ia melanggarnya.

Yang perlu diperhatikan dalam menerapkan sanksi adalah segera menjatuhkan sanksi setelah terjadi pelanggaran, melakukannya dalam keadaan tenang, disertai penjelasan tentang aturan yang dilanggar dan akibatnya. Sanksi dapat berupa konsekuensi logis, misalnya anak akan mendapatkan makanan yang sudah dingin bila mengulur-ulur waktu makan.

Atau beberapa bentuk sanksi lainnya, seperti mengacuhkan, menegur, menghilangkan hak (seperti melarang nonton TV), dan disetrap (time-out). Di sisi lain, orangtua juga tidak boleh lupa memberikan penghargaan setelah anak melakukan tingkah laku yang diinginkan. Penghargaan dapat berupa hadiah sosial (perhatian, senyum, pujian, pelukan), hadiah barang (makanan, mainan), atau hadiah aktivitas dan kebebasan (tamasya, boleh main, nonton TV, tidur lebih lama). Prinsipnya, apapun yang paling disukai anak akan berperan sebagai hadiah.

Yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan peraturan dan semua konsekuensinya perlu dijalankan dengan konsisten. Artinya, tingkah laku yang tidak dapat dibenarkan akan selalu dianggap salah, dan diberikan konsekuensi negatif oleh semua orang yang terlibat dalam pengasuhan. Untuk itu kedua orangtua, pengasuh, atau pihak lain yang terlibat perlu memiliki kata sepakat dalam menjalankan pengasuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar