Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 10 November 2010

CHILD ABUSE

Child-abuse, istilah ini rasanya sudah semakin awam saja di telinga orang Indonesia. Kalau dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diterjemahkan sebagai "perlakuan yang salah / kejam terhadap anak", yang sering dilakukan oleh orang lain dan umumnya dilakukan oleh orang dewasa. Orang dewasa ini bisa orang tuanya, saudara kandungnya atau siapapun. Kalau kita sering mendengar istilahnya, apakah kita tahu tindakan apa saja yang termasuk child-abuse tersebut? Mungkin kita berpikir paling-paling tindakan memukul (menyakiti secara fisik) yang termasuk dalam child-abuse. Padahal banyak tindakan yang dapat dikategorikan sebagai child-abuse tersebut antara lain, physical abuse ( perlakuan kejam secara fisik ), physical neglect ( kelalaian, kealpaan secara fisik ), sexual abuse (perlakuan yang salah yang menyangkut masalah seksual) dan emotional abuse ( perlakuan salah yang menyangkut masalah perasaan / emosi).

Physical abuse adalah tindakan yang dilakukan dengan niat untuk menyakiti fisik anak seperti : memukul, menendang, melempar, menggigit, menggoyang-goyang, memukul dengan sebuah objek, menyulut tubuh anak dengan rokok, korek api , menyiram anak dengan air panas, mendorong dan menenggelamkan anak di dalam air, mengikatnya, tidak memberi makanan yang layak untuk anak dsb.

Sedangkan physical neglect adalah tindakan yang tersangkut dengan masalah tumbuh kembang anak seperti : tidak menyediakan rumah dan memberi pakaian yang layak, mengunci anak di dalam kamar atau kamar mandi, meninggalkan anak di dalam periode waktu lama, menempatkan anak di dalam situasi yang membahayakan dirinya.

Sexual abuse merupakan tindakan-tindakan yang menyangkut masalah seksual seperti : mencium atau menyentuh organ kemaluan anak, menyuruh anak menyentuh alat vital orang lain, bersanggama dengan anak, memperlihatkan anak materi-materi pornografi, memperlihatkan alat vital kepada anak, memaksa anak untuk membuka pakaiannya, memaksa anak untuk berhubungan seks dengan orang lain, menjadikan anak objek pornografi seperti di dalam internet atau video, menceritakan anak cerita jorok.

Yang terakhir adalah emotional abuse. Ini terjadi apabila orang dewasa mengacuhkan, meneror, menyalahkan , mengecilkan dsb yang membuat anak merasa inkompeten dan tidak berharga. Di Indonesia, karena banyaknya warga yang hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa disadari sering melakukan child-abuse terhadap anaknya sendiri.Contohnya, anak-anak yang bekerja di termal-termal di tengah laut ataupun anak bayi yang dipinjam untuk mengemis. Apa boleh buat, untuk mereka urusan child-abuse adalah urusan kesekian. Urusan perut adalah prioritas pertama. Kita pun yang umumnya berpendidikan ada kalanya secara tak sadar atau jika tak mampu mengendalikan diri, sering juga memukul anak sendiri dengan maksud agar si anak mengerti mana yang benar mana yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar