Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Jumat, 12 November 2010

Albert Einstein pun "Autis"

CIRI-CIRI & PENANGANAN AUTISME

KETIKA putranya, Ikhsan (8) lahir pada tahun 1991, tak ada kelainan menyertainya. Baru pada perkembangan selanjutnya, bayi itu memerlukan pengawasan ketat karena ia alergi terhadap makanan, cuaca dan obat, sehingga harus menjalani terapi dan diet ketat. Ketika Ikhsan berusia sekitar 18 bulan, ibunya, Dyah Puspita, merasa ada sesuatu yang berbeda dengan putranya. Perkembangan bicara dan bahasanya tidak menunjukkan kemajuan berarti, dan ia tampak asyik dengan dirinya sendiri.

Saya merasa ada tameng yang membatasi Ikhsan dengan dunia kami. Saat ia berusia sekitar 18-24 bulan, meski tidak rewel tetapi ia cenderung sulit dipegang baik secara fisik maupun psikis. Ia juga tak mau dipeluk, kontak matanya terbatas, pandangannya kerap menerawang, sering memasukkan benda ke dalam mulut dan ia tampak tertekan di tengah keramaian," cerita Dyah pada Seminar Autisme dan Penanganannya di Jakarta, Sabtu (31/7).

Mengetahui anak laki-lakinya berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Dyah pun berusaha mencari tahu apa penyebab dan bagaimana mengatasinya. "Saya sampai berhenti bekerja, karena saya ingin dia tahu bahwa saya adalah ibunya. Saya ingin ia sadar bahwa dunia luar sangat menarik, bahwa dunianya amat sepi dan tak bermakna. Saya sampai memberhentikan semua orang yang bekerja di rumah, agar ia hanya pergi kepada saya bila memerlukan sesuatu," kata Dyah yang juga psikolog itu.

Ikhsan tak sendirian, penyandang autisme infantil dalam 10 tahun terakhir ini, menurut perkiraan dr Melly Budhiman, psikiater anak dan Ketua Yayasan Autisme Indonesia, meningkat luar biasa. "Bila 10 tahun yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat menjadi satu per 500 anak. Sayangnya, jumlah profesional yang mendalami bidang autisme tak sebanding dengan peningkatan jumlah penyandangnya. Ini menyebabkan sering terjadi kerancuan dalam menegakkan diagnosis."

Di sisi lain, bila seorang anak sejak dini sudah diketahui menyandang autisme, penanganan dan terapinya bisa lebih terarah, sehingga kemungkinan si anak untuk bisa hidup "normal" pun jauh lebih besar. Berdasarkan pengalaman pribadinya, Dyah mengatakan," Intervensi dini amat penting, bahkan dapat menjadi penentu masa depan anak. Meski literatur menjelaskan bahwa autis adalah masalah seumur hidup, tetapi dengan tata laksana dan intervensi dini yang berkelanjutan, tanpa terputus, dapat membuat si anak tak tampak lagi perilaku dan ciri autisnya."

Pembicara lainnya, dr Rudy Sutadi, Direktur Program Klinik Intervensi Dini Autisme - Jakarta Medical Center, mengutip hasil penelitian yang dilakukan Lovaas tahun 1987 di AS yang menggunakan metode modifikasi perilaku 40 jam seminggu selama dua tahun terhadap 19 anak autis berusia di bawah empat tahun dengan IQ rata-rata 60, ternyata 47 persen berhasil mencapai fungsi kognitif normal.

"Saat ini anak-anak tersebut sudah berusia belasan tahun, 47 persen tampak normal. Penampilan mereka tidak dapat dibedakan dengan sebayanya, baik dari sudut keterampilan sosial maupun akademik. Sementara 42 persen memperoleh kemajuan pada berbagai bidang, tetapi tidak cukup untuk mengikuti secara penuh di kelas reguler, dan hanya 11 persen yang ditempatkan di kelas untuk anak retardasi mental."

Gangguan perkembangan

MENURUT Melly, austisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang komunikasi, interaksi dan perilaku yang luas dan berat. Gejala autis mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan terganggunya fungsi otak. "Autisme bisa terjadi pada siapa saja, tak ada perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik maupun bangsa. Perbandingan antara pria dan perempuan penyandang autisme diperkirakan 3-4 banding satu," ujarnya.

Gejala penyandang autisme antara lain bayi cenderung menghindari kontak mata, dengan ibunya sekalipun; senang melihat mainan yang berputar dan digantung di atas tempat tidur; terlambat bicara dan bahasanya tak dimengerti orang lain; tak mau menengok bila dipanggil namanya; cenderung tak mempunyai rasa empati; suka tertawa-menangis-marah tanpa sebab yang nyata; dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar.

Gangguan perilaku pada anak autis bisa berlebihan dan kekurangan. Perilaku berlebihan misalnya hiperaktif, melompat-lompat, lari ke sana-sini tak terarah, berputar-putar atau mengulang-ulang gerakan tertentu. Sedang perilaku kekurangan seperti bengong, tatapan matanya kosong, bermain dengan monoton, kurang variatif dan biasanya dilakukan secara berulang-ulang.

Gejala-gejala tersebut tidak harus ada pada setiap anak autis. Pada anak autis yang berat mungkin semua gejala itu ada padanya, tetapi pada penyandang autisme ringan biasanya hanya terdapat sebagian saja dari gejala-gejala tersebut.

Mengenai faktor penyebabnya, lebih lanjut Melly menyatakan, ini disebabkan adanya kelainan pada struktur sel otak, yaitu gangguan pertumbuhan sel otak pada saat kehamilan trimester pertama. "Pada saat pembentukan sel-sel otak tersebut berbagai hal bisa terjadi sehingga menghambat pertumbuhan sel otak, misalnya karena virus (rubella, tokso, herpes), jamur (candida), oksigenasi (perdarahan), dan keracunan dari makanan."

Akibatnya, fungsi otak jadi terganggu, terutama fungsi yang mengendalikan pemikiran, pemahaman, komunikasi dan interaksi. Oleh karena itulah, penyandang autisme biasanya sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. "Secara medis kelainan yang terdapat di otak penyandang autis itu tidak bisa disembuhkan," kata Melly.

Harapan bagi anak autis

BERBICARA mengenai Tatalaksana Perilaku atau Applied Behavior Analysis (ABA) atau metode Lovaas, Rudy mengatakan, terapi yang di Indonesia mulai dipraktikkan sejak tahun 1997 ini, memberi harapan bagi anak autis, karena dapat menyebabkan anak autis mampu mencapai tingkatan yang sebelumnya merupakan hal mustahil. "Mereka dapat mengikuti sekolah reguler, berkembang dan hidup mandiri di masyarakat, tanpa menampakkan gejala sisa autis," kata Rudy yang juga Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia.

ABA atau Tatalaksana Perilaku adalah ilmu yang menggunakan perubahan perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran nilai-nilai yang ada di masyarakat. "Terapi ini menggunakan prinsip belajar-mengajar untuk mengajarkan sesuatu yang kurang atau tidak dimiliki anak autis. Misalnya anak diajar berperhatian, meniru suara, menggunakan kata-kata, bagaimana bermain. Hal yang secara alami bisa dilakukan anak-anak biasa, tetapi tidak dimiliki anak penyandang autisme," tutur Rudy.

Semua keterampilan yang ingin diajarkan kepada penyandang autis diberikan secara berulang-ulang dengan memberi imbalan bila anak memberi respons yang baik. Pada awalnya imbalan bisa berbentuk konkret seperti mainan, makanan atau minuman. Tetapi sedikit demi sedikit imbalan atas keberhasilan anak itu diganti dengan imbalan sosial, misalnya pujian, pelukan dan senyuman.

Dalam terapi ini terdapat lebih dari 500 tugas individual yang perlu diajarkan kepada anak autis. Pengajarannya berlangsung sekitar dua tahun, secara intensif selama 40 jam per minggu. "Anak-anak yang maju pesat, umumnya dapat masuk kelas prasekolah dalam 6-12 bulan setelah diterapi. Tetapi hasil terbaik umumnya pada mereka yang terapinya sudah dimulai sebelum usia tiga tahun."

Untuk keberhasilan yang optimal, Rudy menyarankan agar selain tenaga terapis yang berpengalaman dan sabar, orangtua serta anggota keluarga lainnya diharapkan juga terlibat dalam proses ini. "Mereka bisa menggunakan waktu luang di luar terapi untuk mengembangkan kemampuan anak, misalnya dengan mengajaknya ke taman, pergi ke mal, mengunjungi keluarga dan sebagainya. Hal-hal yang biasanya dianggap kecil ini, bisa mambantu anak autis untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. Selain itu, dengan cara ini seluruh hari anak menjadi bagian dari proses terapi, dan orangtua pun menjadi bagian integral dari terapi itu."

Selain terapi Tatalaksana Perilaku, menurut Melly, ada beberapa terapi lain yang umumnya diterapkan pada penyandang autisme. Namun apa pun terapi yang dipilih orangtua, keberhasilannya antara lain tergantung dari berat ringannya gejala, umur si anak (umur yang paling baik untuk terapi antara dua sampai lima tahun, di mana sel otak masih bisa dirangsang membentuk cabang-cabang baru), kecerdasan anak, kemampuan bicara dan berbahasanya.

Salah satu terapi bagi anak autis adalah terapi medikamentosa, misalnya dengan memberi beberapa vitamin terutama dari jenis vitamin B (B6, B15) dalam dosis tinggi. Terapi megavitamin ini pada sebagian anak berefek baik.

Ditambahkannya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan autisme infantil, tetapi dapat dipakai obat untuk menghilangkan gejala yang tak diinginkan seperti hiperaktif, agresif, menyakiti diri sendiri dan epilepsi. "Obat memang tidak menyembuhkan, tetapi hanya mengurangi gejala autismenya dan menimbulkan perilaku yang lebih terarah," tutur Melly.

Namun diingatkannya, bahwa penyandang autisme itu biasanya unik, artinya setiap individu mempunyai gejala dan memerlukan penanganan masing-masing. "Vitamin atau obat yang bagus untuk penyandang autisme yang satu, belum tentu bagus pula hasilnya bagi penyandang autisme lainnya," Melly menambahkan. cp

Harapan "Sembuh" bagi Penyandang Autis

AUTISME tergolong sebagai penyakit yang kompleks dan berat, dan karena itu dianggap tak bisa disembuhkan. Kondisi autis pada seseorang akan menetap. Perkembangan otaknya dalam berperilaku (behaviour) akan terhenti pada saat gejala itu pertama kali muncul. Bila tidak mendapat penanganan yang benar, baik melalui terapi perilaku maupun pengobatan, jangan harap ia akan "sembuh" dengan sendirinya.

"Saya sulit melukiskan perasaan saya ketika saya dan istri saya menyadari ada kelainan pada putri kami, Patricia," tutur Harry Sugianto (37), warga Solo. "Ketika itu dia baru berumur 18 bulan. Ia mulai menunjukkan gejala tidak mau merespons panggilan mamanya. Tatapan matanya selalu menghindar, dan seterusnya. Setelah membaca berbagai informasi, wah, ketahuan anak saya termasuk autis."

Ia lalu berusaha memeriksakan ke dokter anak, ke psikiater, dan sebagainya. Tetapi tak ada perkembangan yang berarti. Upaya lewat paranormal pun dilakukan, namun hasilnya nol. Ia mendengar tentang klinik terapi autisme di Semarang, cabang dari Surabaya.

Harry kemudian mengirim anaknya untuk mengikuti terapi pelatihan di klinik Yayasan Agca Cabang Semarang. Ia harus melajo (ulang-alik) Solo-Semarang setiap hari. "Yah, demi anak, apa pun kami lakukan. Tetapi lama-kelamaan terasa capek, begitu pula bagi anak kami," tuturnya.

Dalam waktu 1,5 bulan, Patricia mengalami perkembangan cukup berarti. Setelah berhenti mengikuti terapi di Semarang, Harry tergugah untuk mengumpulkan orangtua yang senasib di sekitar Kota Solo. Ia berhasil merangkul sebanyak 12 orangtua yang anaknya autis. Lalu mereka bersama-sama mendirikan klinik autis Nathanisa yang merupakan cabang Yayasan Agca Centre.

Metode Lovaas

Dr Handoyo MPH, pendiri Yayasan Agca Centre, menjelaskan terapi perilaku yang diterapkan di kliniknya menggunakan metode Lovaas (O Ivar Lovaas PhD). Handoyo yang putra bungsunya, Agil (kini 5 tahun) mengidap autisme, terpacu untuk melakukan berbagai upaya penyembuhan bagi anaknya. Agil sempat diupayakan di Yayasan Autisma Asa Jakarta, lalu di Laboratorium Tumbuh-Kembang RS Kandang Menjuangan Jakarta.

Setelah membaca berbagai literatur dan metode mengenai autisme, ia memutuskan melatih sendiri putranya dengan metode Lovaas, karena terbukti efektif. Metode ini menuntut ketelatenan dan kesabaran terapis (pelatih). Sistemnya one on one, bahkan untuk terapi pertama dibutuhkan tiga pelatih untuk satu pasien. Selain itu diperlukan alat-alat peraga khusus yang harus diciptakan dan dibuat sendiri.

Tahapan pertama pelatihan meliputi latihan kepatuhan serta kontak mata. Kemudian disusul melatih inisiatif, kemampuan bahasa (kognitif) atau berbicara. Lalu latihan kemampuan ekpresif, latihan kemampuan yang disebut preakademik seperti menyangkut konsep warna, bentuk, angka, waktu. Dan terakhir melatih kemampuan bercerita (memory recalling).

Tidak ada ukuran, berapa lama seorang anak autis harus menjalani terapi perilaku, mengingat perbedaan kondisi masing-masing. "Terapi terhadap penyandang autisme bisa dikatakan seumur hidup," tuturnya.

Seorang anak autis yang mengikuti terapi itu di Surabaya sekarang bisa bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) untuk anak biasa. Tetapi ia harus tetap didampingi oleh orangtuanya, atau sistem shadowing. Begitupun di waktu senggang, ia harus menjalani terapi termasuk oleh orangtuanya.

Istilah "sembuh" bagi seorang autis adalah bila ia sudah mandiri, bisa melakukan sesuatu (pekerjaan) sendiri. Pada kondisi autisme tertentu, bila "tembok" (gangguan) di otak berhasil digempur, ia akan berlaku seperti orang normal. Silakan heran, bila ada seorang penyandang autis berhasil meraih gelar doktor (PhD) di UCLA, Amerika Serikat!

Obat secretin

Dr Rudy Sutadi DSA menginformasikan, dewasa ini tengah diteliti oleh para ahli di AS tentang pengobatan secretin bagi pengidap autisme. Percobaan pada seorang anak autis, Parker Beck (3,5) tahun 1997 menunjukkan, suntikan secretin membuahkan hasil yang amat mengesankan.

Secretin adalah hormon yang dikeluarkan oleh usus halus sebagai respons terhadap makanan. Reseptor secretin juga terdapat pada hipokampus yaitu bagian otak yang berhubungan dengan memori dan belajar. Namun belum ada kesimpulan tentang peran secretin di otak; apakah berperan pada fungsi belajar, bicara, atau kognitif.

Sejauh ini belum ada kepastian tentang efektivitas pemberian secretin terhadap penyandang autisme. Dalam beberapa kasus, pemberian secretin punya efek langsung pada sistem saraf pusat. Namun 30 persen penderita autis yang mendapat secretin memberikan respons negatif. Mereka menjadi hiperaktif dan agresif. Padahal harga obat secretin mencapai 200 - 300 dollar AS per sekali suntik. (asa)

Albert Einstein pun "Autis"

SIAPA yang menyangka, banyak tokoh-tokoh besar yang masa kecilnya diidentifikasi mengidap autisme. Sebut saja nama fisikawan besar Albert Einstein, juga perupa jenius dan akbar Leonardo da Vinci serta Michelangelo. Tetapi gejala autisme pada tokoh-tokoh dunia itu tak lagi terlihat pada masa dewasa. Mereka bahkan menjelma menjadi orang-orang istimewa pada zamannya.

Jangan keliru persepsi, "autisme" bukanlah kondisi membanggakan, tetapi justru sebaliknya. Seorang autis berarti abnormal, karena ia mengalami gangguan perkembangan pervasif pada aspek bahasa, kognitif, sosial, dan fungsi adaptif.

Bila anak yang normal pada usia 18 bulan sudah bisa mengucapkan sepatah-dua patah kata dan merangkainya, anak autis tidak mampu. Oleh karena itu orangtua harus waspada, bila anaknya sampai usia 2,5 tahun belum bisa bicara. Maklum, usia di bawah tiga tahun merupakan "usia emas" bagi seorang anak untuk menandai apakah ia autis atau tidak.

Umumnya, penyandang autis memperlihatkan perilaku yang tidak wajar dibanding anak-anak lain. Anak autis terkesan tidak acuh, menyendiri, individual, pendiam. Mereka umumnya tak mampu bereaksi terhadap sesuatu dalam lingkungannya. Bahkan mereka tak bisa berkomunikasi secara paling sederhana sekalipun, seperti "kontak mata" dengan orangtuanya, orang yang paling dekat secara emosional.

Sebagian mereka bahkan tak punya memori, tak bisa mengingat apa yang telah terjadi, atau yang dia lakukan sebelumnya. Anak-anak autis hidup dalam dunianya sendiri. Mereka umumnya melakukan gerakan yang sama diulang-ulang, hingga berjam-jam. Atau memperlakukan suatu barang-misalnya mainan mobil-mobilan-tidak pada fungsi yang lazim.

***

AUTISME mendapat bahasan secara mendalam dalam Simposium Autisme Masa Anak di Kota Solo, pekan lalu (12/7), yang diadakan dalam pertemuan ilmiah Ikatan Dokter Ahli Jiwa Indonesia (IDAJI). Tiga pembicara adalah dr Ika Widyawati SpKJA dari Bagian Psikiatri FK-UI Jakarta, dr Rudy Sutadi DSA Wakil Ketua Yayasan Autisma Indonesia, dan Dra Dyah Puspita SPsi, psikolog yang anak lelakinya mengidap autisme.

Menurut dr Ika, fenomena autisme relatif baru bagi masyarakat kita. Sayangnya, masih sedikit informasi yang tersebar di masyarakat, padahal populasi penderita autisme diperkirakan amat banyak.

Tak ada angka populasi jumlah penderita autisme di Indonesia, mengingat lemahnya sistem pendataan di sini. Tetapi prevalensi autisme di dunia terakhir mencapai 15 sampai 20 per 10.000 kelahiran, atau 0,15 - 0,2 persen. Ini meningkat tajam dibanding 10 tahun lalu yang hanya dua sampai empat per 10.000 kelahiran. Bila merujuk data di atas, di Indonesia akan lahir 6.900 anak penyandang autisme per tahun.

Itu mungkin bisa jadi gambaran serius kondisi autisme di masyarakat, bila orangtua tidak waspada. Harus diingat, secara empiris terbukti autisme tidak pandang bulu. Kaya atau miskin, terpelajar atau tidak, semuanya bisa saja terkena autisme. Dan bila tidak secara dini diatasi, kondisi autis itu akan menetap.

Dr Handoyo MPH, mantan Direktur RSU Pare (Kediri) yang kini mendirikan Yayasan Agca di Surabaya-yang bergerak dalam klinik pelatihan autisme-bahkan menyebutkan bahwa penyandang autisme yang tidak mendapat penanganan secara dini akan menjadi permanen.

"Banyak orangtua tidak tahu anaknya mengidap autisme. Dan bila dibiarkan berlarut akan makin parah, atau menjadi gila autis seperti yang acap kita lihat di jalanan. Itu karena kondisi perkembangan otaknya terhenti, stagnan. Bahkan banyak di antara orangtua yang terpaksa memasung anaknya sendiri karena disangka gila, padahal mengidap autisme," papar Handoyo yang anak bungsunya juga autis.

***

DOKTER Ika menjelaskan, autisme adalah kondisi otak yang secara struktural tidak lengkap, atau sebagian sel otaknya tidak berkembang sempurna, ataupun sel-sel otak mengalami kerusakan pada masa perkembangannya. Melalui pemeriksaan dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada penyandang autisme, sekitar 30-50 persen mempunyai kelainan pada serebelum (otak kecil).

Penelitian dalam bidang neurologis dan genetika menemukan kerusakan yang khas pada sistem limbik (pusat emosi) yaitu bagian otak yang disebut hipokampus yang berhubungan dengan fungsi belajar dan daya ingat, serta amigdala yang mengendalikan fungsi emosi dan agresi. "Penyandang autis umumnya tak bisa mengendalikan emosinya. Mereka acap kali agresif, atau sebaliknya pasif seolah tak punya emosi," katanya.

Dr Rudy Sutadi menyebutkan, kelainan neurobiologis pada otak disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa teori menyebutkan tentang pengaruh obat-obatan tertentu, atau karena benturan pada kandungan. Saat ini belum bisa dipastikan gen mana yang berhubungan dengan autisme. Kemungkinan hal ini melibatkan beberapa gen secara kompleks. "Autisme terbukti bukan kelainan mental. Autisme bukan karena buruknya pengasuhan orangtua, atau faktor psikologis pada masa perkembangan anak," tambah Rudy.

Orang sering salah mengira bahwa autisme identik dengan retardasi mental atau idiot. Memang pengidap autisme kadang menunjukkan retardasi mental (75-80 persen), atau kelemahan pada fungsi saraf motorik yang ditunjukkan pada kelemahan otot-otot tertentu. Oleh karena itu, prognosa tentang kelainan tersebut amat penting untuk menentukan langkah-langkah penanganannya.

Dr Ika menyebutkan, selain banyak orangtua yang tidak memahami gejala autisme pada anaknya sendiri, kalangan profesional-yakni para dokter, dokter anak, bahkan psikiater-pun banyak yang belum mengerti tentang autisme.

Mereka biasanya memberikan prognosa bahwa anak (yang autis) itu hanya mengalami kelambatan dalam perkembangan bicara. Kadang kala mereka, bahkan, disamakan dengan penyandang retardasi mental. Anak autis pun lantas dimasukkan di sekolah luar biasa (SLB) yang khusus melatih bicara (speech therapy). Tentu saja tidak pas. (asa)

PENGALAMAN ORANGTUA MEMENANGKAN ANAK AUTIS

MENGHADAPI situasi yang menimpa anak kesayangan kurang sempurna, tidak jarang membuat orangtua terutama seorang ibu tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi, jika pengetahuan dan informasi mengenai hal itu tidak dimiliki.

Begitu pula yang terjadi pada orangtua yang memiliki anak autis seperti yang akhir-akhir ini banyak ditemui. Tidak jarang, anak penderita tak terdeteksi dini sehingga penanggulangan tidak bisa sedini mungkin.

Walau demikian, kasih sayang dan upaya menanggulangi dengan baik untuk mengurangi beban penderitaan seorang anak harus dilakukan. Tidak cukup hanya dengan meratapi dan berlarut-larut dalam kesedihan.

Perjuangan dan pengorbanan orangtua, harus diberikan. Bagi anak penderita autisme setidaknya tersedia terapi yang bisa memberi kemajuan untuk bisa hidup normal. Penyembuhan total memang masih perlu waktu panjang, karena penelitian ahli belum menemukan cara yang tepat menuntaskan penyakit autisme.

Perjuangan dan pengorbanan orangtua seperti yang diharapkan, bisa disimak dari upaya Ny Debbie R Sianturi, SE Ak yang tekun berupaya memulihkan kondisi anaknya yang menyandang autisme. Setidaknya, Joshua anak keduanya yang kini berusia tiga tahun dua bulan, mengalami banyak kemajuan.

Hasil yang dicapai hingga kini, memang belum menunjukkan Joshua bebas dari autis yang disandang. Tetapi, kemajuan yang dialami ternyata membuat kedua orangtuanya percaya bahwa anak kesayangannya itu akan berhasil dalam hidupnya.

PENDERITAAN Joshua dan kedua orangtuanya sama sekali tidak diketahui ketika ia lahir di rumah sakit bersalin St. Margaret's Private Hospital, Sydney, Australia. Bahkan, dengan usia kandungan yang cukup umur dan berat 4,1 kg, membahagiakan kedua orangtua-nya yang mengalami masalah kekurangsuburan sebagai suami istri.

Joshua Ephraim lahir sebagai anak kedua lima tahun kemudian setelah kakaknya Naomi. Kekurangsuburan pasangan suami istri itu menyebabkan mereka harus berobat ke beberapa dokter ahli di Jakarta maupun di Sydney untuk memperoleh keturunan, terutama mendapatkan anak pertama dan kedua.

Riwayat kehamilan kedua Ny Debbie Sianturi, berjalan sehat dan baik, walaupun ada sedikit masalah keluarga yang membuatnya stres saat kandungan berusia 7-8 bulan. Dalam proses kelahiran, karena posisi bayi yang sulit, Joshua lahir melalui proses vakum yang cukup berat mengakibatkan kepalanya memanjang sesudah kelahiran. Bentuk kepala baru dapat kembali agak normal tiga jam sesudah kelahiran.

Akibatnya, Joshua sering sekali menangis selama dua tahun pertama sesudah kelahiran. Dia menangis terus menerus kalau dilepas dari gendongan atau pelukan. Ia juga tidak mau tidur tanpa dipeluk erat dalam satu bulan pertama sesudah kelahirannya.

Menurut dokter anak di St. Margaret's Hospital, hal ini sangat mungkin terjadi akibat post-trauma kelahiran dengan vakum yang cukup berat, yang mengakibatkan dia merasa sakit di bagian kepalanya. Namun tidak ada dokter yang memberi jawaban pasti hubungan antara proses vakum yang berat dengan kelainan autism yang disandang Joshua.

Baru pada usia satu tahun sembilan bulan, Joshua dibawa ke psikiater anak, Dr Melly Budhiman, Sp. KJ, karena keterlambatan dan kemunduran kemampuannya berbicara dan tingkat keacuhan pada lingkungan yang, serta kontak mata yang kurang bila diajak berkomunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar