Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 27 Oktober 2010

FLU TIDAK MEMERLUKAN ANTIBIOTIK

Flu, atau influenza, merupakan penyakit virus yang menyerang alat pernafasan atas dan datang mendadak. Ia paling sering timbul sewaktu perubahan musim atau cuaca. Dalam bentuk yang lengkap ia disertai demam, batuk dan pilek-bersin, juga rasa pegal di otot dan tulang. Kadang-kadang dibarengi dengan sakit kepala, diare atau mual. Yang jelas, flu harus dibedakan dari pilek biasa atau pilek alergis.

Flu maupun pilek biasanya tidak perlu diobati dengan antibiotik, karena virus tidak mempan antibiotik. Antibiotik hanya kadang-kadang dibutuhkan bila terdapat komplikasi infeksi dengan kuman; dan hal ini hanya terjadi sekitar 5% dari semua kasus. Ironisnya, menurut statistik hampir semua penderita yang berobat ke dokter diberi antibiotik, karena mungkin dokter tidak yakin terhadap ilmunya sendiri. Hal ini menimbulkan masalah besar karena pemakaian antibiotik menjadi sangat berlebihan. Ini bisa menyebabkan kekebalan kuman dan membuat kuman tubuh yang jinak menjadi ganas. Padahal transformasi ini sudah bisa terjadi dalam 3 hari. Akibatnya infeksi virus justru terkomplikasi dengan kuman dan flu malah justru berkepanjangan.

Sebenarnya flu memerlukan pengobatan yang sederhana saja. Penderita harus beristirahat dan mengurangi aktivitasnya, termasuk bicara banyak. Olah raga sebaiknya dihentikan sementara. Bila disertai demam, penanggulangannya bisa dilihat di rubrik ini bulan lalu. Bertentangan dengan pemahaman yang luas beredar di masyarakat, sejak lama penelitian telah membuktikan bahwa antibiotik itu tidak mempercepat penyembuhan flu. Sebaliknya pemberian obat sederhana saja, yang mengurangkan simtom pilek, batuk dan panas, akan mengurangi gejala dan mengurangi penderitaan.

Obat untuk flu perlu mengandung campuran obat demam (parasetamol, ibuprofen), komponen pilek (efedrin, pseudo-efedrin, atau fenilpropanolamin) untuk mengeringkan hidung, dan komponen obat batuk (dekstrometorfan atau noskapin). Bila gejalanya hanya disertai demam maka tidak perlu makan semua komponen.

Bagaimana bila hanya pilek? Cukup pilih obat bebas yang mengandung komponen pilek saja; bila dicampur dengan komponen antihistamin (CTM, misalnya) masih diperbolehkan. Pemilihan obat kombinasi tergantung kecocokan individual. Sedangkan membeli antibiotik sendiri di pasar betapa pun tidak dapat dibenarkan. Soalnya antibiotik digolongkan dalam obat berbahaya, karena harus dikontrol pemakaiannya (hanya untuk yang benar-benar memerlukan). Para dokter yang telanjur salah kaprah tentang penggunaan antibiotik diimbau untuk tidak melakukannya lagi. Alangkah baiknya kalau mereka mau beralih ke cara pengobatan yang rasional.

Efek samping antibiotik selain dapat menimbulkan masalah resistensi, efek sampingan yang serius, bahkan kadang-kadang dapat menimbulkan kematian. Makan obat yang mubazir karena tidak efektif dan dapat menimbulkan reaksi yang berbahaya sebenarnya bertentangan dengan pertimbangan manfaat/risiko dalam prinsip pengobatan. Bila seluruh masyarakat terus melakukan kekeliruan itu, maka risikonya menjadi sangat besar. Resistensi kuman akan menyebabkan hilangnya keampuhan antibiotik pada saat ia benar-benar diperlukan.

Bagaimana dengan tambahan berbagai obat lain? Vitamin dan pengencer dahak tidak mutlak diperlukan dan perlu dinilai secara individual. Yang perlu diingat, dengan atau tanpa antibiotik flu akan sembuh dalam beberapa hari hingga seminggu. Namun bila tidak, sebaiknya konsultasikan kepada dokter keluarga anda. Yang perlu ditentukan ialah apakah demam yang diderita itu tidak disebabkan oleh penyakit lain atau apakah obatnya perlu diubah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar