Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Rabu, 27 Oktober 2010

HUBUNGAN ANTARA MENANTU PEREMPUAN DAN MERTUA PEREMPUAN

Entah kenapa dimana dan kapan saja hubungan menantu perempuan dengan mertua perempuannya selalu digambarkan penuh konflik bagaikan hubungan kucing dan anjing, alias selalu digambarkan tidak akur. Jarang sekali digambarkan ibu mertua yang rukun dengan menantu perempuannya. Padahal, banyak juga menantu perempuan dan mertua perempuannya yang rukun-rukun saja.

Kenapa hubungan mereka sering kali digambarkan penuh konflik? Alasannya sederhana saja. Ibu mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya. Selain itu sebagai Ibu kandung, sering kali ia merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya. Setelah bertahun-tahun membesarkan dan mendidik tiba-tiba saja anak lelakinya "dirampas" oleh si pendatang baru, seorang perempuan yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupan anaknya. Si Ibu merasa kehilangan. Apalagi kalau anaknya itu anak lelaki satu-satunya atau anak kesayangannya. Keadaan ini bertambah runyam jika sebelum menikah si putra adalah pencari nafkah utama (mungkin suami telah meninggal sehingga sang putra lah yang bertugas mencari uang). Sebelum menikah, mungkin sang putra lah yang selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan ibu kandungnya. Ibu kandungnya pun yang bertugas mengurus segala keperluan putranya tersebut. Tetapi ketika menikah, segala perhatian itu tentu saja ditumpahkan kepada istri dan anaknya. Si ibu merasa terhempas dan diacuhkan. Karena perasaan-perasaan itulah maka sering kali Ibu mertua bersikap "sinis", "galak" dan selalu mengeritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai menantu perempuanyya itu dinilainya kurang. Ya, masakannya, sikapnya. Semua menurut ibu mertua tidak memenuhi kualifikasinya. Keadaan bertambah parah jika Ibu dan menantu perempuan tinggal bersama di dalam satu rumah. Apalagi tinggal di rumah milik suami atau suami masih tinggal di rumah orang tuanya. Urusan dapur pun menjadi masalah. Si Ibu mertua tidak mau "daerah kekuasaannya" diinvasi oleh menantu perempuanyya karena ia merasa dialah yang berkuasa di sana. Dia lah yang tahu selera makan anaknya.

Sementara itu istri merasa bahwa ibu mertua itu kadang suka ikut campur urusan rumah tangga mereka, selalu mengeritik pekerjannya, tidak pantas untuk anak lelakinya lah dan sebagainya. Apalagi jika ditunjang oleh sikap suami yang tidak mendukungnya. Misalnya mengeritik masakan istri tidak seenak masakan ibunya. Sikap Ibu mertua juga makin menjadi-jadi lagi jika dulu perkawinan anaknya tersebut tidak direstui olehnya. Misalnya karena perbedaan status, ekonomi atau lainnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi ibu mertua untuk "menjatuhkan" menantu perempuannya itu. Malangnya dalam kasus seperti ini sering kali menantu perempuan lah yang menjadi pihak yang "kalah". Akibatnya menantu perempuan sering mengeluh, bahwa hidup dengan mertua perempuan bagaikan hidup dengan ibu tiri (mengapa ibu tiri stereotypenya kejam?)

Tetapi mengapa konflik ini jarang terjadi antara menantu lelaki dan mertua perempuan atau mertua lelaki walau bukannya tidak ada. Orang-orang tua dulu sering mengatakan bahwa, anak lelaki akan keluar rumah. Sementara anak perempuan akan selalu kembali ke rumah. Selain itu, menantu lelaki karena kodratnya sebagai pencari nafkah maka ia lebih sering berada di luar rumah. Karena lebih sering berada di luar rumah maka sumber-sumber penyebab konflik bisa dihindari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar